Update 5 bab dijam yang sama 12.00 WIB.
Vano Andrian, seorang aktor muda berbakat yang baru berusia dua puluh satu tahun, tewas tragis setelah meminum air beracun yang diberikan oleh kru setianya. Kematian akibat pengkhianatan itu membawanya melintasi dimensi ke Benua Dewa.
Di dunia kultivasi tersebut, jiwanya merasuki tubuh Gu Yan-Zhi, seorang pemuda lemah yang baru saja dibantai oleh sepupunya sendiri. Terperangkap dalam raga asing dengan Dantian yang tersegel rapat, Vano harus bangkit melawan takdir kejam. Berbekal insting tempur modern dan aliansi tak terduga dengan makhluk mitos, akankah Vano menuntut balas atas penderitaan Gu Yan-Zhi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bentrokan di Gua Es dan Bayangan Sekte Pedang Salju
Desiran angin badai salju di luar mulut gua menderu semakin kencang, melemparkan serpihan-serpihan es putih yang berhamburan masuk hingga ke bibir lantai batu tempat api unggun menyala. Suasana di dalam gua mendadak berubah tegang dalam sepersekian detik. Tiga orang kultivator berjubah putih dari Sekte Pedang Salju berdiri kokoh di ambang pintu, memancarkan aura dingin yang seolah mampu membekukan aliran darah siapa pun yang berdiri di hadapan mereka.
Pemimpin kelompok itu—seorang murid inti bernama Leng Jian dengan tingkat kultivasi Pemusatan Qi Tingkat Enam—menyipitkan matanya tajam. Ia mengamati Gu Yan-Zhi dari atas ke bawah, menilai penampilan pemuda berjubah hitam itu yang tampak begitu tenang tanpa sedikit pun rasa gentar menghadapi kehadiran para penguasa wilayah pegunungan utara tersebut.
"Bocah, kau tuli atau memang mencari mati?" ulang Leng Jian dengan nada suara yang semakin dingin, tangan kanannya perlahan meraba gagang pedang panjang bersarung putih yang terselip di pinggangnya. "Wilayah Pegunungan Angin Utara ini adalah teritori mutlak milik Sekte Pedang Salju. Setiap orang asing yang mendaki tanpa melaporkan diri kepada pos penjagaan dianggap sebagai penyusup atau mata-mata. Berlutut sekarang, serahkan seluruh barang bawaan kalian, dan kami mungkin akan mempertimbangkan untuk membiarkan kalian pergi dengan nyawa melayang setengah!"
Di sudut gua, Gu Ruoxi mencengkeram erat ujung jubah Gu Chen karena merasa ngeri melihat tatapan mematikan dari para pendekar sekte besar itu. Tingkat kultivasi Pemusatan Qi Tingkat Enam adalah sebuah jurang pemisah yang sangat besar jika dibandingkan dengan kekuatan mereka saat ini.
Namun, Gu Chen tetap berdiri tegak di depan Gu Ruoxi, meskipun kedua kakinya sedikit bergetar hebat menahan tekanan aura spiritual yang ditebarkan oleh Leng Jian. Ia tahu bahwa maju atau mundur, keselamatan mereka kini bertumpu sepenuhnya pada keputusan sang tuan muda.
Gu Yan-Zhi tidak bergeming sedikit pun. Ia menarik napas perlahan, membiarkan energi keemasan di dalam Dantiannya bersirkulasi secara teratur melalui jalur meridian yang telah dibersihkan. Di bahu kanannya, Hu Yijie mendesis pelan, memperlihatkan taring kecilnya dengan sorot mata amber yang menyala terang di tengah temaram cahaya api unggun.
"Wilayah terlarang?" Gu Yan-Zhi akhirnya membuka suara. Nada bicaranya begitu tenang, datar, dan sama sekali tidak mencerminkan rasa takut. Ia melangkah maju satu langkah kecil, menciptakan jarak yang lebih jelas antara dirinya dan sang murid inti sekte. "Berdasarkan hukum alkimia dan aturan pengembara di Benua Dewa, jalur pegunungan bebas adalah milik siapa saja yang memiliki kekuatan untuk melangkahinya. Sejak kapan bongkahan es dan batu karang di tempat terpencil ini menjadi hak milik pribadi Sekte Pedang Salju yang arogan?"
Wajah Leng Jian langsung menggelap seketika. Urat-urat di pelipisnya menegang mendengar jawaban yang dianggap sebagai sebuah penghinaan besar bagi harga diri sektenya. Sebagai salah satu murid berbakat di Sekte Pedang Salju, tidak pernah ada orang luar berstatus rendah yang berani berbicara dengannya dengan nada setinggi itu.
"Keparat sombong! Kau benar-benar mencari kematian dengan tanganku sendiri!" teriak Leng Jian geram.
Syuuung!
Dalam sekejap mata, Leng Jian menghunus pedangnya dari sarung. Kilatan cahaya putih yang menyilaukan mata melesat deras membelah udara gua, membawa serta energi es murni yang langsung menurunkan suhu ruangan secara drastis hingga air di tetesan stalaktit gua membeku seketika. Tebasan pedang itu mengincar langsung ke arah dada Gu Yan-Zhi dengan kecepatan kilat.
Bagi kultivator biasa, tebasan tingkat enam tersebut mustahil untuk dihindari atau ditangkis secara langsung.
Namun, Gu Yan-Zhi sudah mengantisipasi gerakan tersebut berkat insting tajam yang dipadukan dengan Kontrak Darah bersama Hu Yijie. Alih-alih mundur, Gu Yan-Zhi justru maju setengah langkah. Ia mengalirkan seluruh kekuatan Kitab Pembalik Langit: Pengendalian Ruang Mikro ke ujung telapak tangannya, memicu distorsi spasial tipis di udara kosong tepat di jalur lintasan pedang musuh.
Trang!
Sebuah suara dentuman logam yang nyaring berderik keras menggema di dalam gua. Bilah pedang es milik Leng Jian tiba-tiba tertahan oleh sebuah dinding tak kasat mata di udara kosong, melenceng beberapa sentimeter dari target utamanya dan menghantam dinding batu gua hingga meledakkan serpihan batu dan es berhamburan ke segala arah.
"Apa?!" Leng Jian membelalakkan matanya tidak percaya. Ia merasakan getaran balik yang luar biasa kuat menjalar melalui gagang pedangnya hingga membuat telapak tangannya mati rasa. "Teknik apa itu tadi?! Bagaimana mungkin kau bisa membelokkan arah seranganku tanpa menyentuhnya?!"
Dua orang pengikut sekte di belakang Leng Jian ikut terperanjat kaget. Mereka tahu betul seberapa mematikan jurus Pedang Salju Pembelah Jiwa milik senior mereka itu, namun seorang pemuda di tahap awal Pemusatan Qi Tingkat Dua berhasil mentahnya dengan begitu mudah.
Gu Yan-Zhi tidak memberikan kesempatan kepada lawannya untuk memulihkan keterkejutan. Sambil memanfaatkan celah dari distorsi ruang mikro yang ia ciptakan, Gu Yan-Zhi melompat maju, memusatkan seluruh energi keemasannya pada kepalan tangan kanan, lalu melancarkan hantaman telak langsung ke arah lambung Leng Jian.
Bum!
Hantaman tenaga dalam itu menghantam telak pelindung Qi Leng Jian. Meskipun sempat menahan sebagian besar benturan berkat jubah pelindung sektenya, kekuatan dorongan yang luar biasa besar membuat tubuh Leng Jian terpelanting mundur sejauh tiga meter, menabrak kedua pengikutnya hingga ketiganya jatuh berguling-guling di lantai batu gua.
Leng Jian memuntahkan seteguk darah segar yang langsung membeku di atas lantai akibat suhu dingin di sekitarnya. Ia mendongak dengan mata melotot merah, menatap Gu Yan-Zhi dengan campuran antara rasa marah, benci, dan sisa-sisa rasa takut yang mulai merayap di dadanya.
"Kau... siapa sebenarnya kau, sialan?!" geram Leng Jian sambil menyeka darah di bibirnya dengan tangan yang gemetar.
Gu Yan-Zhi berdiri tegak dengan jubah hitamnya yang berkibar tenang, menatap rendah ke arah kelompok pendekar sekte besar yang kini tidak berdaya di hadapannya.
"Siapa aku tidak penting bagi kalian," jawab Gu Yan-Zhi dingin. "Tapi jika kalian masih berniat meneruskan omong kosong tentang wilayah terlarang ini, pedang berikutnya tidak akan hanya menghantam lambungmu, melainkan mencabut nyawa kalian bertiga dari muka bumi."
Ancaman itu diucapkan dengan ketenangan mutlak yang membuat bulu kuduk ketiga pendekar Sekte Pedang Salju merinding hebat. Menyadari bahwa mereka sedang berhadapan dengan monster tersembunyi yang jauh lebih kuat dari perkiraan awal, Leng Jian menggertakkan giginya menahan malu.
"Tunggu pembalasan kami... Sekte Pedang Salju tidak akan pernah melepaskanmu!" ancam Leng Jian dengan suara terbata-bata. Ia bersama kedua pengikutnya segera bangkit terhuyung-huyung, lalu melarikan diri terbirit-birit keluar gua menerjang badai salju malam itu, meninggalkan Gu Yan-Zhi dan rombongannya dalam ketenangan kembali.
Gu Ruoxi menghembuskan napas lega yang amat panjang, sementara Gu Chen tersenyum kagum menatap punggung tuan mudanya. Di luar, badai salju masih mengamuk, tetapi di dalam gua, langkah Gu Yan-Zhi menuju puncak Benua Dewa semakin kokoh tak tergoyahkan.