Masa lalu dari kedua orang tuanya membuat seorang pemuda berusia dua puluh tahun harus mengalami banyak kejadian buruk dalam hidupnya, dialah Kaivalya Rajasa Danendra yang merupakan putra dari Rajasa Danendra.
"Aku inginkan jadi putra Sagara Danendra"
"Kamu tepatlah putra Rajasa nak..."
"Aku tidak ingin darahnya, darahnya membuatku tak bisa menjadi keturunan murni Sagara, aku hanya terus di sebut sebagai keturunan darah mati!"
Keturunan darah mati, itulah julukan Kaivalya dari para mahluk halus yang dia temui. mampukah dia melepaskan bayangan Rajasa dari dalam darahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cantika tumbang
"Iya pak ustadz" jawabnya lemah
Sagara lalu mengoleskan sirih hitam miliknya pada tangan Heru dan pada luka luka di tubuh Heru, luka Itu tidak langsung sembuh tapi terlihat sudah tidak mengeluarkan darah lagi. Setelah di pastikan Heru aman di kelilingi Shafeea, Mustafa, Aariz dan Arthayasa, Sagara meminta Kaivalya pergi untuk membantu Icang juga Suga.
"Ssttt..."
"Lawan Cantika, dia sedang berusaha menyerap energimu, kamu pasti bisa karena kamu bukan orang yang lemah, kamu cucu dari seorang Leo Akbar Pranaya" ucapnya Sagara saat Cantika memegangi kepalanya dan mendengar bisikan makluk itu yang mengatakan kalau Zaheer bisa dia dapatkan dengan bantuan makhluk itu.
"Astagfirullahaladzim, bismillahirrahmanirrahim"
Cantika kembali konsentrasi pada Heru, dia menyalurkan energinya pada Heru agar tidak pingsan selama Sagara melakukan rukiyah, Heru juga tidak mau jauh dari Shafeea yang mau tidak mau harus berada di samping Heru.
"Kamu pikir hanya kamu yang bisa mempengaruhi manusia? Kami juga bisa" sinis Kaivalya
"Hhhrrr.... Kalian hanya kebetulan bisa saja, dan aku tidak akan pernah menyerah!" Jawab makhluk itu
Makluk itu mengayunkan tangan panjangnya pada Icang, Suga dan Kaivalya, dan dengan sigap pula tiga sosok berbeda itu bisa menghindar. Kaivalya sempat terkejut dengan refleks tubuhnya yang terasa ringan padahal dia tidak pernah belajar melawan ataupun menyerang Makhluk gaib manapun, tapi dia sadar kalau dirinya sekarang juga di bantu oleh sosok Baharuddin yang selalu membisikkan banyak hal pada Kaivalya
"Gerakannya cukup gesit meski dia punya tangan yang begitu panjang" ucap Icang
"Mungkin kita harus menyerangnya secara langsung Om, bersamaan" ucap Kaivalya
"Kita coba serang dia secara bersamaan" jawab Icang
"Hhaaaaa...!"
Belum sempat Icang menyerang, sosok itu sudah lebih dulu menyerang Cantika yang sedang membelakangi mereka dengan sisa energi miliknya
"Aakhh!"
"Cantika!"
Mustafa menangkap tubuh Cantika yang di serang secara tiba tiba oleh makhluk itu, punggung Cantika terlihat terluka karena di serang dari belakang oleh makhluk itu, bahkan seragam sekolahnya juga robek di bagian belakang.
"Makluk Sialan! Beraninya Lo serang teman gue!" umpat Kaivalya
Srak. Srak.
Kaivalya melempar sirih merah, Icang melempar sosok itu dengan tombak miliknya dan Suga menyerang sosok itu dengan batu api miliknya.
"Aakhhh hahahha!"
Makhluk itu kepanasan saat Kaivalya melempari dia dengan sirih merah miliknya, bahkan tubuhnya terbakar, tapi dia tertawa karena dia berhasil menyerang Cantika, Cantika sekarang terlihat tak sadarkan diri dengan tubuh yang membiru.
"Aku tidak rugi meskipun harus mati!" teriaknya sebelum tubuhnya habis menjadi abu
"Bagaimana ini? Opa masih merukiyah Heru" Tanya Aariz
"Kita bawa ke UKS saja, Om Icang apa bisa bantu kami?" Tanya Kaivalya
"Aku akan memberikan sedikit energiku pada Cantika, dia yang harus melawan energi makhluk itu sendiri, karena tubuh Cantika menyimpan banyak kesedihan" jawab Icang memegang ubun ubun Cantika
"Buka pagar gaibnya, makhluk itu sudah musnah" ucap Suga juga membantu Cantika.
Grace di bawa ke UKS terlebih dahulu untuk di tangani dokter di sana yang sekarang sudah terbangun tepat setelah pagar gaib di hilangkan, semua murid juga sudah terbangun dan hanya berpikir kalau mereka tertidur karena kelelahan setelah acara do'a selesai Heru juga di bawa ke UKS setelah ayahnya datang dan memeluknya karena khawatir.
"Bagaimana anak saya dokter?" tanya ayah Heru yang bernama Hardi.
"Heru terluka cukup dalam, tapi tidak sampai melukai urat nadinya, nanti bisa di bawa ke rumah sakit atau mungkin bisa konsultasi dengan psikiater, Heru menggigit tangannya sendiri dan tidak bisa di tenangkan teman temannya" jawab Gio
"Kami akan membawanya ke Smith hospital setelah ambulans datang Cantika juga sepertinya harus di bawa ke sana" ucap Zaki
"Papa, Heru tidak mau tinggal dengan dia pa, mama memang sayang Heru tapi saat mama tidak ada, dia selalu membuat Heru tertekan secara mental" ungkap Heru memohon
"Iya, papa akan bicara dengan mama kamu nanti, kamu jangan khawatir kamu akan tinggal dengan papa, kita akan tinggal di rumah lama kita, rumah Oma kamu, papa sudah mendapatkan rumah itu kembali" jawab Hardi membuat Heru bahagia.
"Cantika, kamu pasti bisa melawan energi jahat itu, lawan Cantika" bisik Mustafa
"Cantika sedang berperang dengan pikirannya sekarang makanya dia belum bangun, kita hanya bisa menunggu, sesuai apa yang di katakan Om Icang, Cantika harus melawan energi itu dengan keinginannya sendiri" ungkap Aariz
"Apa anak saya kerasukan?" tanya Hardi
"Iya pak, anak bapak kerasukan tadi, tapi untungnya bisa di tolong karena dia hampir berlari ke jalan raya untuk menabrakkan tubuhnya pada kendaraan yang lewat" jawab Zaki
"Innalilahi nak kenapa kamu tidak bilang papa kalau kamu selama ini tertekan tinggal dengan mereka" ucap Hardi mengusap punggung Heru yang terdapat luka karena di hantamkan ke lantai lapangan yang berupa semen.
"Maafkan Heru pa" ungkap Heru kembali terisak.
"Terima kasih, terima kasih karena kalian sudah menolong dan menjaga anak saya" ungkap Hardi
"Sama sama Om, Itu sudah kewajiban kami menolong teman kami" jawab Kaivalya
"Eungh..."
"Cantika, kamu mau sesuatu?" tanya Kaivalya sama Cantika sudah mulai sadar.
"Papa...."
"Papa kamu sedang dalam perjalanan ke sini, kamu bisa bangun?" tanya Mustafa dan Cantika menggelengkan kepalanya.
"Sakit, badanku sakit semua dan dingin" jawabnya
"Bagaimana ini?" tanya Kaivalya
"Nak, katakan pada Cantika kalau seseorang yang lebih kehilangan darinya juga ada di tempat ini, apa yang Cantika rasakan tidak ada apa apanya di banding dia" bisik Baharuddin
"Maksudnya?" tanya Kaivalya
"Katakan saja, dan biarkan Cantika memejamkan matanya agar dia bisa melihat orang itu" jawab Baharuddin
Kaivalya melakukan apa yang di katakan Baharuddin, setelah di bisikkan kata kata itu oleh Kaivalya, Cantika tiba tiba saja memejamkan matanya dan secara tak sadar dirinya sudah berada di sebuah kelas yang di khususkan untuk anak anak jalanan dan anak anak dari rumah sakit Smith yang tidak bisa sekolah karena ikut orang tuanya untuk berobat.
"Kamu murid di sini atau murid di gedung utama?" tanya seorang lelaki yang duduk di samping Cantika
Cantika menatap lelaki itu, wajahnya tampan dan berusia sekitar tiga puluh tahun, tubuhnya tinggi dan dia terus di peluk seorang anak berusia tujuh tahun yang terlihat mirip dengannya.
"Saya mahasiswa di Smith university, ke sini untuk acara do'a, tapi kenapa saya tiba tiba di sini ya" gumam Cantika
"Kamu berjalan dengan tatapan kosong tadi, dan tiba tiba duduk di sini" jawab lelaki itu.
"Begitu ya..."
"Nama kamu siapa?"
"Cantika, Cantika Zaidan Pranaya"