Hidup seorang gadis bernama Hanin terpaksa terikat dengan pria yang merenggut kehormatannya, Setelah di satukan dengan pernikahan kontrak hidup Hanin penuh penderitaan
Namun semua itu harus dia tahan demi menyekolahkan adiknya, Karena sikap Tristan yang begitu keterlaluan membuat Hanin beberapa kali mencoba kabur meskipun selalu bisa kembali di temukan
Hidup mereka Damai hingga anak dan anak angkatnya tumbuh dewasa, namun setelah kebeneran tentang masa lalu anak angkatnya terungkap (Olivia) anak kandungnya (Kenzo) kembali mengulang sejarah lama ayah dan ibunya juga karena dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ai laelasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sedingin es
"Heh anak baru" Sashi menggebrak meja Vio
"Kau jangan berani mendekati Andrew atau kau akan berurusan denganku" ancamnya
"Aku tidak pernah mendekatinya dia yang menarikku ke sini" jawab Vio
"Berani sekali kau menjawabku"
"Kau bicara denganku lalu apa salahnya aku menjawab" ucap Vio
"Penampilanmu tidak sama dengan keberanianmu aku akui kau cukup berani"
Sashi menyiram air minumnya pada bajunya sendiri Vio melihat Andrew mendekat pantas saja dia berbuat seperti itu, Vio mengambil sisa airnya dan menyiramkannya di kepalanya membuat mereka tercengang apalagi Delina yang baru saja menjadi temannya
"Kalian sedang apa disini? " tanya Andrew pada deng Sashi
"Lihat anak baru ini berani menyiramku hanya karena aku menegurnya"
"Benarkah kau melakukan itu? " tanya Andrew pada Vio namun Vio menggeleng
"Mana mungkin aku melakukannya tanpa sebab, dia menyiramku lebih dulu karena kau membawaku kesini" Ucap Vio dengan wajah yang di buat sedih
"Kau... " geram Sashi
"Pergilah Sashi sudah aku bilang jangan mengganggu temanku, kita juga berteman untuk apa kau mengusik temanku yang lain" ucap Andrew
"Tapi aku ingin lebih dekat denganmu drew apa itu salah? kau selalu dekat dengan orang lain tapi tidak denganku"
"Ini yang membuatku tidak bisa lebih dekat denganmu kau terlalu mengekang dan ingin memiliki aku sendiri aku tidak suka, kita hanya berteman tidak lebih, ayo" ucap Andrew lalu menarik tangan Vio
"Ini biar aku yang bawa" ucap Delina membawa pesanan mereka
Vio menoleh kebelakang lalu diam diam mengangkat jari tengahnya ke arah Sashi membuatnya semakin kesal Akhirnya mereka bertiga memutuskan makan di bawah pohon yang tadi
"Mereka temanmu drew? " tanya Vio
"Bisa di bilang begitu tapi aku tidak suka pertemanan mereka yang sepertinya mempunyai circle pertemanan sendiri, aku lebih suka berteman dengan siapa saja" jawab Andrew
"Mungkin dia ingin lebih dari sekedar teman" ucap Vio
"Ya dia sering mengatakan itu, tapi aku tidak bisa berpacaran dengan siapapun aku tidak ingin mengecewakan kakakku membuang buang waktu untuk pacaran" ucap Andrew
"Kau punya kakak? "
"Ya namanya Hanin dia keluargaku satu satunya, dia ingin aku menjadi yang terbaik makanya aku selalu belajar dan belajar"
"Hanin? "
"Ya apa kau mengenalnya? "
"Ahh tidak tidak lupakan saja mungkin haninmu Hanin yang lain"
"Oh baiklah, aku ada yang harus di kerjakan setelah ini kalian nikmati saja makanannya nanti tolong kembalikan mangkuknya ke kantin ya" ucap Andrew segera berdiri
"Oh ya, terimakasih untuk teraktirannya"
"Sama sama, semoga kau betah sekolah disini.. bye" Andrew pergi
"Besok hari minggu aku mengundang kalian kerumah bersama temanku yang lain, jangan lupa datang" ucap Andrew sebelum benar-benar pergi
"Aku malu" jawab Vio dan Delina bersamaan
"Aku tinggal sendiri dirumah, kau kan tertinggal pelajaran bisa belajar bersama kami besok"
"Baiklah"
"Kau kenal Andrew dimana? " tanya Delina yang sedari tadi hanya diam mendengarkan
"Di perpustakaan kota, dia menjatuhkan buku di kepalaku tapi sejak itu kita beberapa kali bertemu disana"
"Ohhh" Delina manggut manggut
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Semua staf sudah pulang tapi lagi lagi Hanin masih berkutat dengan pekerjaannya dia tidak ingin membawa pekerjaan ke rumah karena menurutnya rumah adalah tempat untuk beristirahat
"Kau belum pulang? " tanya Bayu yang baru keluar ruangannya
"Belum masih ada pekerjaan, bisakah kau membantuku? " tanya Hanin
"Dengan senang hati" Hanin bangun dan Bayu duduk di kursi Hanin
"Kau ingin buat minum? Aku mau buat kopi" ucap Hanin
"Buat yang sama saja" jawab Bayu
"Kemana Hanin? kenapa duduk disini? " tanya Tristan
"Dia buat kopi dan menyuruhku membantunya" tanpa menjawab Tristan pergi begitu saja
Di pantry juga sudah sepi bahkan cleaning servis sudah pulang, Tristan melihat Hanin membelakanginya sedang membuat kopi Tristan mendekat dan memeluk Hanin dari belakang
"Lepaskan" ucap Hanin menepis tangan Tristan
"Kau membuat kopi untuk pria lain? " tanya Tristan membalikkan tubuh Hanin
"Dia membantu pekerjaanku dan aku hanya membuatkannya secangkir kopi apa itu salah? "
"Kau bisa minta bantuanku"
"Aku segan untuk meminta bantuan atasanku, aku kira tidak ada yang harus di bicarakan aku permisi" Hanin membawa kopinya pergi
Tristan menatap punggung Hanin yang menghilang di balik pintu entah kenapa sekarang mendapat sikap seperti itu dari Hanin dia merasa tidak senang dia merutuki dirinya sendiri
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rumah sakit tempat di rawat Ressa menghubungi Janu mereka mengabarkan hari ini Ressa ingin bertemu dengan janu berkembangannya semakin hari semakin baik saja Janu juga berfikir untuk merawat Ressa di rumah saja
"Apa yang ingin kau sampaikan sayang? " tanya Janu membelai rambut Ressa
"Aku ingat semuanya" lirihnya
"Ceritalah"
"Hari itu Edward menyuruhku datang ke rooftop sebuah restauran dia bilang ingin mempertemukanku dengan seseorang tapi sampai aku disana aku mendengar mereka ribut mereka menyebut nyebut wanita bernama Hanin"
"Sesampainya aku di atas aku mendengar teriakan putraku yang sudah menghilang disana dan... dan wanita itu aku menahannya tapi dia mendorongku hingga aku tak sadarkan diri, sebelum aku benar-benar menutup mata aku melihat tatto di belakang telinganya saat dia periksa nadiku"
"Apa kau yakin? "
"Aku sangat yakin, sayangnya aku baru mengingatnya sekarang"
"Wajah wanita itu? " tanya Janu
"Aku tidak lihat dia menutupinya" lirihnya
"Sudahlah aku senang kau berangsur-angsur membaik"
"Bisakah kau membawaku pulang? "
"Aku memang akan membawamu pulang" senyumnya tercetak di bibirnya
Wanita itu kehilangan anak dan mendapatkan menjadi tekanan dari ayah Janu membuatnya tak sanggup memikirkan semuanya sendiri apalagi dia tipe orang yang tidak mau membagi masalah dengan orang lain
"Apa kita akan menemui Tristan? " tanya Ressa saat berada di mobil
"Tidak kita akan pulang kerumah" Jawab Janu
"Katamu dia menikahi perempuan jahat itu? " tanya Ressa cemas
"Ini baru perkiraan Tristan saja dia banyak menemukan foto wanita itu di kamar Edward tapi kita belum bisa menyimpulkan dia atau bukan yang saat itu kau temui, kau akan mengetahuinya saat kalian bertemu"
"Tapi aku takut"
"Tenang saja ada aku, aku tidak akan membiarkanmu disakiti orang lain"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari minggu tiba teman teman Andrew datang sesuai janji mereka, begitu pun Vio dan Delina disana juga sudah ada evan dan dimas teman Andrew
"Kita belajar dimana? " tanya Evan
"Disini saja kita singkirkan dulu sofa ini" ucap Andrew mendorong sofanya ke pojok dan menggelar karpet tebal
Hanin yang baru saja turun diikuti Tristan menyapa mereka, Hanin memakai celana pendek dan kaos kebesaran serta mencempol rambutnya ke atas membuatnya nampak seperti anak seusia mereka
"Hai anak anak, mau di buatkan cemilan? " Hanin menghampiri mereka
"Itu kakakmu? " tanya Vio
"Iya apa dia Hanin yang kau kenal? " bisik Andrew
"Bukan, dia sangat cantik" pujinya
"Tidak usah kak kami sudah bawa cemilan" ucap Andrew
"Baiklah, tapi bagaimana kalau kita makan bersama aku akan memasak" ucap Hanin
"Boleh kak aku juga sangat lapar" ucap evan dan Dimas
"Kalian ini tau makan saja" ucap Andrew
"Kakakmu benar-benar cantik tapi sayang suaminya berwajah sangar" ucap dimas
"Kau mau dia dengar, dia bisa melemparkanmu dari sini" ucap evan membuat Andrew hanya geleng geleng saja Hanin pergi ke dapur diikuti Tristan kemanapun Hanin pergi, Hanin berdiri memotong sayuran di dekat kompor Tristan setia disampingnya hanya berdiri melihat Hanin
"Apa kau tidak punya pekerjaan lain? " ketus Hanin
"Tidak"
"Bisakah kau pergi ke tempat lain saja aku tidak nyaman diikuti seperti ini"
"Kau mengacuhkanku dari kemarin " ucap Tristan memeluk Hanin dari belakang
"Lepaskan Tristan ada anak anak disini"
"Kalau begitu kita ke kamar" bisik Tristan
"Aku tidak mau" Hanin menepis kasar tangan Tristan
Hanin tidak memperdulikan Tristan yang berbicara panjang lebar mengikuti arahnya kemanapun dia benar benar sudah tidak ingin mempedulikan Tristan dia tidak ingin kembali dekat dengan Tristan takut hatinya kembali menerima Tristan
pelakor akan dibuat menjijikan, murahan, tidak ada baik2 sama sekali, dilaknat, dihinakan, dipermalukan, dan akhirnya dibinasakan, tidak maaf dan ampun
pebinor akan dispesialkan melebihi pemeran utama pria, cinta akan dianggap tulus, semua perbuatannya dibenarkan, kalaupun salah akan semudah dimaafkan, tidak boleh terlalu disakiti, perasaan dijaga dan kejahatan nya akan dibela karena cinta
novelis nya wanita, pelakor wanita
begitu wanita (karena sudut pandang author terfokus pada pemeran utama wanita) jadi wanita lain yang suka suami akan dilaknat dan dibinasakan tapi semua lelaki lain yang suka pada nya akan dihargai perasannya, akan kebaperan dengan kebaikan pria lain dan selalu mecoba mengerti perasaan pria lain itu, tidak boleh dibinasakan dan disakiti
kalau kalian novelis sejati kalian pasti akan melaknat pelakor dan pebinor sama porsinya
kalau kalian novelis sejati, jika kalian beri lelaki lain yang baik pada sang istri kalian juga harus berjiwa besar memberi wanita lain yang baik pada sang suami
baru jadi novel adil