Gara
Si pria tampan yang kehilangan ingatannya karena penyakit mental yang di deritanya.
Dalam benaknya ia merasa ada sesosok gadis yang pernah ia cintai san menenangkannya ketika penyakit mentalnya kambuh. Tapi gadis itu menghilang bagai di telan bumi.
Suatu ketika kakak laki lakinya menitipkan pacarnya kepada Gara. Ketika penyakitnya kambuh, gadis itu datang dan menenangkannya.
Siapa gadis itu?
Apakah dia adalah orang yang sama dengan sosok di masa lalu Gara?
Bagaimana caranya agar pria itu bisa tau, sementara ia masih kehilangan ingatannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_paintart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
"Anak sama mokap nggak ada bedanya" Ucap Mia setelah keluar dari rumah Devan
"Ya gimana mau beda? Namanya emak sama anak" Sahut Devan.
"Terus, yang anak kecil itu siapa sih? Kok dia manggil lo.. Papa? " Tanya Mia.
"Jangan jangan itu an- mmmppphh.. " Belum sempat Mia menyelesaikan kalimatnya, tangan Devan langsung membekap mulutnya itu.
"Dia keponakan gue. Jadi jangan sembarangan kalo ngomong" Ucap Devan lalu melepaskan bekapannya.
"Trus.. Kenapa manggil lo papa? " Tanya Mia lagi.
"Ya mana gue tau.. Gue iya iyain aja kali. Namanya juga anak kecil" Ucap Devan sembari duduk di kursi putih halaman belakang rumahnya.
"Hah... Jadi tadi lo kemana sih? " Tanya Mia.
"Lo nggak tau kalau Gara itu impersonate lagu? " Tanya Devan balik.
"Terus... "
"Ya tadi itu seharusnya dia tampil di Kafe Love Star. Eh karna nggak ada persiapan, jadi digantiin deh. Lo tau nggak siapa yang gantiin Gara? " Ucap Devan misterius.
"Siapa emang? "
"Drio" Satu nama yang mampu membuat Mia membulatkan matanya.Kepalanya menoleh ke arah Devan yang duduk di sampingnya.
"What? Drio yang sok kull itu bisa nyanyi juga? Hahahaha" Mia melepaskan tawanya hingga tanpa sadar tangannya terus menepuk nepuk pundak Devan.
"Dasar cewek aneh" Ucap Devan kesal.
"Hahaha.. Biarin gue aneh" Gadis itu kini memasukkan kacang disco kedalam mulutnya.
Keduanya terdiam sejenak. Hanya suara kacang disco renyah yang di kunyah Mia.
"Btw.. Lo suka ya sama Gea? " Tanya Mia tiba tiba.
"Hah? Pertanyaan macam apa itu? " Devan memalingkan wajahnya.
"Gue bisa bantuin lo buat dapetin Gea" Ucap Mia santai.
"Serius? " Ucap Devan antusias. Ia mendekatkan kepalanya kearah wajah Mia.
"Iiihhh.. Apaan sih lo? Nggak usah deket deket" Ucap Mia kesal sembari mendorong wajah Devan dengan telapak tangannya.
"Nggak gratis" Lanjut Mia lalu memasukkan kacang disco kedalam mulutnya.
"Iya gue tau. Apa gantinya"
"Hmmm... Gue mau ngekos di rumah lo. Gimana? " Ucap Mia. Pria disampingnya melototkan mata ke arah Mia.
"Yang bener aja lo" Ucap Devan.
"Gimana sih? Kan gue cuma mau ngekos doang di rumah lo.. Lo nggak kasian ama gue? Rumah gue jauh lagi di Cirebon. Gue kan mau ikut tapak tilas, masak gue harus bolak balik ke Cirebon" Mia mengerucutkan bibir nya.
"Siapa bilang nggak boleh? " Suara Mayra yang tiba tiba terdengar membuat dua insan itu terlonjak kaget.
"Mama? "
"Tante? "
Mayra tersenyum.
"Kompak banget sih. Kalian itu cocok loh" Ucap Mayra.
"Mia mau ngekos di rumah ini? Nggak papa, nggak usah bayar deh. Asal kalian nggak ngelakuin yang macem macem, tante izinin kamu buat tinggal disini. Tapi.. Bareng Juna juga.. " Ucap Mayra lalu tersenyum.
"Tante serius bolehin Mia tinggal disini? Padahal tadi Mia cuma ngusilin Devan doang. Eh ternyata tante orangnya baik banget, beda ama yang ini nih" Ucap Mia sembari melirik kearah Devan.
"Asbun aja lo yah, gue juga baik kali" Ucap Devan narsis.
"Nggak papa kok Mia, sekalian jagain si Devan" Ucap Mayra.
"Ahaha tante bisa aja. Tapi serius tan, bareng Juna juga? " Tanya Mia.
"Juna yang minta, mau gimana lagi? " Ucap Mayra.
"Tapi kita harus sekolah juga ma" Ucap Devan tak setuju.
"Juna bakal dianter sore terus paginya di jemput kok. Jadi kalian tenang aja, waktu sekolah kalian nggak bakal terganggu" Ucap Mayra santai.
"Oh iya, Mia satu sekolah kan sama Devan? " Tanya Mayra.
"Iya tante, tapi kita nggak sekelas" Ucap Mia antusias.
"Hah? Sejak kapan kita satu sekolah?" Tanya Devan kaget.
Pletak..
"Lo aja yang nggak sadar kalau kita satu sekolah" Ucap Mia setelah menjitak kening Devan. Fikiran pria itu bertraveling jauh. Sejak kapan bocah di sampingnya itu satu sekolah sama dia?
Mayra hanya menggeleng menyaksikan tingkah dua remaja sekolah di depannya itu.
***
"Pasti ada petunjuk tentang keluarga gue di sini" Ucap Gara sembari mengobrak abrik laci di depannya.
"Foto? " Tangannya bergerak mengambil foto itu. Lalu membaliknya.
-First day, Regina-
"Apa maksudnya? "
"Siapa ya cewek ini? "
Gara terus menatapi foto itu. Siapa sosok gadis kecil itu? Pria kecil sebelahnya sudah pasti dirinya.
"Gue harus cari petunjuk lain. Makin penasaran aja" Gumam nya sendiri.
Gara kembali membuka laci laci yang ada di seluruh ruangan apartemen nya. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah kotak kecil di atas lemari bajunya.
"Gue baru sadar kalau ada kotak di sini" Ucap nya lalu mulai menyelidiki kotak itu.
"Hah.. Dikunci lagi. Devinisi jadi detektif, mencari tau identitas diri sendiri" Pria itu tertawa kecil setelah mendengar ucapannya itu.
"Dimana ya kuncinya? Hmm.. "
"Ya udah, kita cari tau hal lain dulu. Devan bilang gue itu impersonate lagu, berarti suara gue bagus dong" Gara tersenyum lagi, jari telunjuk dan jempolnya mengusap usap dagunya bangga.
"Gue penasaran, kenapa di dalam kulkas banyak banget bahan makanan? Gue kan cowok, apa gue adalah seorang koki? " Tanya nya penasaran.
"Terus, kenapa banyak sketchbook di atas meja belajar gue? Apa gue juga bisa ngelukis? " Kali ini pria itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Eh, kayaknya ada yang aneh deh. Gue nggak pake kacamata dan penglihatan gue baik baik aja. Terus kenapa kemaren gue pake kacamata? " Kali ini pria itu merasa semakin frustasi. Bahkan dia tidak mengenali siapa dirinya.
Plak...
Setelah memukul keningnya, pria itu berjalan menuju meja belajarnya guna mengecek sketchbook nya itu. Kenapa baru kepikiran sih?
"Eh, kok lukisan nya bagus banget ya? Berarti gue emang udah profesional dong" Ucap nya narsis. Tangannya membuka selembar demi selembar sketchbook yang di pegangnya.
Namun ia terhenti ketika melihat sebuah lukisan wajah seorang gadis.
"Ini... "
Seketika ingatannya bertraveling ke 2 hari yang lalu.
--
"Ah,bukannya ini gambaran gue yang kemaren ya? Hmm.. "
"Berarti waktu masih dirumah sakit, gue emang udah tau kalau gue itu pinter ngelukis? "
"Ya udah deh, itu emang keahlian gue. Sekarang gue mau cari tau, seberapa besar keahlian gue dalam memasak" Ucapnya lalu beranjak menuju dapur.
Sesampainya di dapur, Gara terdiam menatapi sayurang yang sudah ia siapkan di atas meja.
Ia bingung harus ngapain.
"Apa nggak ada buku rssep gitu? " Tanya nya sembari membuka laci laci di dapurnya.
"Nah, ketemu"
"Kayaknya ini enak. Capcay kentang goreng? Namanya rada aneh ya" Pria itu terkekeh sendiri.
Setelah memutuskan makanan apa yang akan dibuatnya, ia pun memulai ritual memasaknya dengan bantuan resep dari buku yang tergeletak di atas meja.
Tak lama ia berkutat, suara bel apartemen nya berbunyi. Pria itu berdecak kesal.
"Siapa sih? Ganggu aja" Ucapnya kesal. Sebelum beranjak menuju pintu apartemen nya, tak lupa ia mengecilkan api kompornya agar masakannya tidak gosong.
Ting...
"Siap- pa.. " Gara terdiam sejenak.
"Ra Rani.. Kamu ngapain kesini? " Pria itu tampak gagu ketika melihat sosok di depannya.
"Emang gue nggak boleh kesini? " Tanya gadis itu dengan nada kesal.
"Ya boleh aja sih" Ucap Gara.
"Terus.. Sampe kapan gue harus berdiri di depan pintu gini? " Pertanyaan Rani membuat Gara panik tujuh keliling, ia pun segera menyingkir agar Rani bisa masuk kedalam apartemen nya.
"Lo lagi masak? " Tanya Rani ketika indera penciumannya mencium wangi makanan yang sepertinya.... Enak..
"Eh, iya gue lupa kalo lagi masak. Lo duduk dulu aja di sofa, gue mau lanjut masak" Ucap Gara lalu menunjukkan senyuman khas nya.
Rani mengedarkan pandangannya. Ia tidak mengikuti perkataan Gara untuk menunggu di sofa. Gadis itu milih untuk melihat lihat lukisan yang terpajang di dinding.
Ketika ia terhenti pada sebuah lukisan, matanya tanpa sengaja menangkap sebuah foto yang tergeletak di atas laci kecil.
Tangannya mengambil foto itu. Dahinya mengernyit.
"Gue kayak pernah liat foto ini" Gumamnya. Lalu membalikkan foto itu.
"First day Regina? " Ucap nya pelan.
Tak lama kemudian, Gara muncul dari arah dapur.
"Ran, lo mau cicipin nggak masakan gue? " Ucap Gara antusias. Rani mengangguk,tangannya meletakkan foto itu kembali pada posisinya. Lalu mengikuti Gara menuju dapur.
"Lo pinter masak juga? " Tanya Rani setelah duduk di kursi meja makan.
"Gue juga nggak tau sih. Cuma kalau di liat dari isi kulkas, kayaknya sih iya" Ucap Gara sembari meletakkan mangkuk berisi Capcay kentang goreng yang di masaknya tadi.
Rani terdiam sejenak setelah memasukkan masakan Gara kedalam mulutnya.
'Enak.. ' Bathinnya.
"Gimana? Enak nggak? " Tanya Gara was was.
Rani hanya diam, ia memasang reaksi sebiasa mungkin. Kalau ngerjain cowok di depannya ini, kayaknya seru juga.
"Hmm... Menurut gue.. " Rani sengaja menggantungkan kalimatnya.
Sementara pria itu di buat bertanya tanya, apa nggak enak ya? Pikirnya.
***
Hola...
Hari ini tidak ada bonus dulu😁😁
dan mon maap karena telat up terus🥲🥲
Tidak panjang panjang..
Karena besok puasa..
Author mohon maaf lahir dan bathin ya Readers kuuu...
Kalau ada salah tolong di maafin, karena author juga seorang manusia yang tak luput dari kekhilafan🙏🙏
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang melaksanakannya😊😊
jangan lupa mampir di novel ku ya kak "Gadis Pejuang Bisnis Kecantikan MLM"