Alina harus menghadapi sebuah pernikahan yang tak pernah ia harapkan, dipikirkan saja tak pernah. Namun, jika tak ia lakukan semua kerja kerasnya akan sia-sia. Gadis itu harus menikahi seorang pria beristri yang memiliki seorang putra berusia 3 tahun.
Gila bukan?
Sangat gila. Bagaimana akhirnya kehidupan gadis 24 tahun itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Trust
...Dapatkah aku mempercayai tindakanmu?...
Suasana kamar yang semestinya sejuk mendadak panas karena tatapan nyalang Alina.
Wanita itu bersedekap, duduk di di pinggiran kasur, menatap suaminya yang menyender di kepala ranjang.
Pria itu berulah lagi.
Di mata Arkasa, Alina seperti sedang mengeluarkan api dari balik punggungnya. Menyeramkan.
Alina kesal karena pria itu yang mengikutinya dan merengek untuk ditinggal sebentar ke bawah. Padahal, dia hanya ingin menaruh pakaian basah mereka ke dalam mesin cuci.
Oh, ayolah. Siapa yang tidak kesal jika sedari tadi pria itu mengeluh pusing dan ingin segera tidur tiba-tiba membuntuti dirinya yang hanya akan menaruh baju basah di bawah.
Bukan hanya itu, suaminya itu enggan memakan sarapannya yang sudah dingin. Berakhir dengan Alina meminta Bi Mona menghangatkan kembali.
"Apa?" tanya Alina dengan nada tidak bersahabat, masih dengan tatapan tajamnya.
Arka enggan menatap istrinya itu, hatinya seperti ciut dengan kemarahan Alina pagi ini.
"Terserah, kalo gak mau. Aku gak peduli."
Arka segera menoleh ke arah istrinya yang sudah berdiri. Ia dibuat melongo, Alina tidak peduli dengan dirinya yang sakit? Tega sekali.
Terdengar suara ketukan pintu. Alina menpersilahkan masuk Bi Mona, membawakan kembali sup dan teh yang sudah hangat.
Bi Mona yang melihat keadaan di kamar itu sedang tidak baik segera keluar. Ia kasihan melihat Tuan nya yang dimarahi oleh istrinya. Namun, dia juga merasa geli sendiri. Ingin sekali tertawa, jarang sekali Arkasa dapat menampakkan sisi dirinya yang seperti itu.
Alina akan melangkahkan kakinya. Namun, mendengar suara yang membuatnya melunak. Suara perut pria itu membuat Alina menoleh. Dia merasa kasihan juga dengan suaminya itu.
Alina kembali menatap suaminya. "Masih mau makan, gak?"
Arkasa tentu langsung mengangguk, pria itu seperti akan menangis jika dilihat dengan jelas.
"Jangan pergi! Aku mohon" suara pria itu parau.
Alina menghela napas. Tidak menanggapi.
Alina menyuapkan se-sendok sup ke dalam mulut pria itu. "Pahit" komentarnya.
Alina menarik napas dalam. "Namanya juga sakit. Coba pakai nasi, ya?." Suara wanita itu sudah kembali melembut.
Arka mengangguk saja, menuruti. "Gimana?"
Arka mengangguk pelan. "Enak" komentarnya kembali setelah menelan suapan itu.
Alina tertawa, sibuk dengan sup pria itu. "Lagi?"
Pria itu ikut tertawa, mengecup bibir Alina. Sebenarnya, kalau boleh jujur dia takut jika istrinya akan marah lagi. Namun, Arka tidak tahan. Ia merindukan bibir istrinya itu.
Sabar Alina, batin Alina.
Alina kembali menyuapkan sup dengan tambahan potongan ayam disana.
"Kam-u makan juga!" ucap Arkasa yang mulutnya masih terisi.
"Telen dulu! Kebiasaan" omel Alina.
Arka menyelesaikan kunyahannya. "Makan! Aku tahu kamu belum sarapan."
Alina mengangguk. "Iya, habis ini."
"Ini sekalian, honey!." Alina mengerutkan kening, panggilan apa itu tadi?
"Gak, nanti aku ketularan" tolaknya. Menyuapkan kembali sendok penuh nasi dan kuah sup.
"Itu ada sendok lain" tunjuk Arka ke nampan di atas nakas.
Tanpa aba-aba, pria itu meraih sendok dengan sebelah tangannya. Mengambil ke dalam mangkuk nasi dengan kuah sup beserta isi lainnya.
Arkasa menyuruh Alina membuka mulutnya. Alina masih enggan untuk menerima suapan dari suaminya itu.
Arkasa nampak kecewa. Menaruh kembali sendok dengan nyaring ke dalam mangkuk.
"Daritadi juga kita ciuman, kamunya gak marah. Cuma karna aku salah, terus kamu marahin. Kamu gak maafin aku" kesal pria itu enggan menerima suapan istrinya lagi.
Alina harus sabar. "Aku gak suka ayam" ucapnya menjelaskan.
Arkasa nampak masih tak percaya.
"Bohong" tuduh pria itu.
"Liat!" Alina menyendokkan kuah sup dengan nasi tanpa ayam ke mulutnya.
"Aku gak suka ayam, makanya aku gak buka mulut" jelas Alina.
"Jadi makan gak nih?"
Arka menatap sinis. "Enggak." Pria itu malah mengambil tisu kasar, membersihkan mulutnya dan bersiap kembali tidur.
Alina yang melihat, menahan lengan suaminya. "Minum teh nya dulu!" ingatkannya.
Arka nampak tidak jadi berbaring. Ia segera meraih cangkir teh itu.
Arka mendekatkan cangkir ke mulutnya, merasakan aroma minuman kecintaannya di hidung.
Aneh, ia merasa ada yang berbeda. Perutnya seperti bergejolak dengan aroma itu. Arka merasakan mual hebat menyerang. Menaruh kembali cangkir itu dan berlari ke kamar mandi.
Alina menaruh mangkuk dan menyusul suaminya panik. Mendapati pria itu memuntahkan sarapannya.
Alina mendekat, memijat tengkuk Arkasa pelan. Namun, ditepis oleh pria itu.
Apa sih maunya?
Alina dibuat kebingungan dengan keadaan suaminya. Ia sepertinya harus menelpon ayah mertuanya untuk memeriksa putranya ini.
"Istirahat dulu, aku panggil Papa!" perintah Alina sambil menyelimuti tubuh suaminya.
...■■■...
Cahaya matahari nampak pergi berganti dengan kegelapan malam yang sepi.
Alina menarik gorden jendela kamar milik putranya.
"Mami, Lion mau tidul"
Alina menoleh, tersenyum mendapati putranya sudah menguap dibalut piyama bergambar aneka hewan.
"Ayo!" ajaknya ke arah kasur besar dengan seprai bercorak tata surya.
"Mami nyanyiin, Lion ya? Kaya kemalin" pinta anak itu.
Alina menyanggupi permintaan putranya itu.
Berselang beberapa menit, Lion nampak sudah bergelut di alam mimpi. Ia merapikan selimut sampai leher anak itu, mengecup keningnya sebelum pergi keluar ruangan.
Alina membuka pintu kamar yang gelap. Sejak kejadian pagi tadi, Arkasa masih marah hingga kini. Pria itu menolak untuk sekedar bicara kepadanya.
Alina yang diberi sikap itu hanya mengikuti saja. Arka diam, dia juga diam. Namun, tetap melaksanakan kewajiban untuk mengurus suaminya itu.
Alina menyalakan lampu tidur. Menampakkan pemandangan suaminya yang telah terlelap. Tampaknya, pria itu terganggu dengan cahaya yang dihasilkan.
Mata mereka bertemu. Arkasa kembali menidurkan dirinya, enggan untuk menyapa.
Alina mengambil termometer dan juga handuk di kening pria itu yang sempat ia taruh sebelum ke kamar Lion.
"Aku cek lagi" ucapnya sekedar meminta ijin, sekalipun tidak mendapat jawaban.
"Udah turun" gumamnya.
Arkasa nampak tak peduli, masih memejamkan mata.
Suara notifikasi ponsel dari nakas menarik perhatian Alina. Terpapar di layar kunci isi pesan pendek disana. Alina mengerjap pelan. Lalu, memperhatikan suaminya yang sama sekali tidak terganggu.
My Sunny💖
Jangan lupa minum obat, aku kang...
Alina melipat bibirnya ke dalam. "Jangan paksain diri kamu kalau kamu gak mau!" ucap Alina, masih setia menatap suaminya.
Kalimat itu dimaksudkan untuk Arkasa dari Alina agar pria itu tidak memaksakan dirinya untuk bersikap baik kepada Alina. Alina tidak ingin Arkasa yang berpura-pura. Alina ingin ketulusan, bukan kebohongan.
Entah, ia tak bermaksud menuduh atau memulai pertengkaran secara langsung. Ia hanya mengungkapkan sedikit rasa di hatinya.
Alina tahu, suaminya belum sepenuhnya tidur. Ia pergi untuk menaruh termometer ke tempatnya dan handuk ke keranjang kotoran. Memilih pergi dari ruangan itu.
Berniat sekedar menjauh dari suaminya sementara. Alina memilih untuk turun ke bawah dan menidurkan diri di sofa ruang TV sendirian.
ka jgn lama3x dunk updateny
ka bikin dia bahagia dan buat arkasa nyesel seumur hidup
sama pria yf g bisa setia sam 1 hati
justri klo lo pergi menepi
arkasa akan tau kamu berharga ketimbang seliweran dpn mata tp g dianggap