Indonesia
NovelToon NovelToon
Happiness Is The Best Healer

Happiness Is The Best Healer

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Light Novel
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: Nerill

Tak peduli siapapun dirimu, di manapun kau berada, dan apapun yang kau lakukan untuk menjalani hidup, kau pasti akan menemukan kebahagiaan. Hal yang disebut-sebut tak dapat dibeli oleh uang ini, mereka datang dengan beribu-ribu cara, bahkan termasuk dengan cara yang mungkin tak pernah kau bayangkan sebelumnya.

Kau akan berpikir bahwa dunia ini nyatanya benar-benar singkat. Kau, aku, bahkan dia, kita hidup di dunia yang amat sangat sempit. Walaupun begitu, segala yang kita kerjakan, kita perjuangkan, dan kita jaga, seluruh perjalanan hidup kita akan jadi bermakna karenanya.

Kaito, seorang pria yang bekerja sebagai tenaga kesehatan dalam ranah kemiliteran, secara tidak sengaja telah menemukan arti kehidupan bagi dirinya dalam keseharian masa liburannya. Seolah tak diharapkan, hal itu nyatanya berasal dari sosok gadis SMA berambut hitam panjang yang awalnya sempat menjadi sosok misterius baginya.

Lewat pertemuan yang tak terencanakan, berujung Keduanya yang menemukan obat terbaik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nerill, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembalilah!

Segala peristiwa yang telah terjadi hari ini, membuat malamku jadi terasa lebih panjang. masih dengan jaket kulit yang selalu kupakai ketika bepergian, aku mengendapkan kedua tanganku dalam-dalam ke saku agar mereka tak berinteraksi dengan kejamnya hawa malam di Miyako.

Sinar lampu LED yang menjadi bingkai merek rumah sakit ini turun ke atasku, membuat sebagian rambut hitamku mengilap sebab terpantul cahaya.

Jarum pendek baru saja melewati angka 10, sementara jarum panjang sedang menunjuk tajam ke arah 3, pertanda pergantian hari akan segera datang cepat atau lambat. Pun, segini malamnya, hanya kudapati beberapa mobil saja yang melintasi jalanan depan rumah sakit dalam kurung waktu 5 menit terakhir.

Aku hanya terpaku dalam posisiku duduk, senantiasa memegangi ponsel yang baru saja mati sebab kehabisan baterai, bersender dalam keheningan. Seluruh wajahku saat ini terasa seakan mengeras, kecuali di bagian dahi serta pelipis yang masih bertahan dengan kehangatannya. Aku tak ingin bergerak, atau bahkan untuk sekedar menyentuh bagian bangku yang tak terduduki pun aku enggan. Sebab besi yang terpapar AC akan begitu luar biasa dingin sensasinya.

Ketika memilih untuk menetap di kawasan Jepang utara, aku memang mau-tak-mau siap menghadapi iklim yang garang. Terlebih ketika musim panas dan juga dingin seperti sekarang ini. Walau nyatanya masyarakat sekitar sudah terbiasa, tetap, tiap manusia punya metabolisme tubuh yang berbeda satu sama lain. Aku sendiri tak terlalu tahan dengan suhu dingin. Aku ini adalah dokter yang cinta kehangatan.

Aku sempat membeli minuman elektrolit kaleng di vending machine sekitar setengah jam lalu. Kini kalengan itu sudah tinggal seperlima lagi cairan di dalamnya. Aku senantiasa berjuang menghematnya untuk saat-saat kedepan.

Seperti yang kujelaskan sebelum ini, bahwasanya aku tidak sedang sendirian di sini. Atau lebih tepatnya, di jejeran bangku besi ini. Ada satu lagi sosok di sampingku yang berada selisih satu kursi, yakni gadis ber-yukatta oranye dengan motif bunga, dengan riasannya yang sudah nyaris tak tampak lagi, serta dengan kondisi rambut serupa denganku, di mana sama-sama tersinari lampu LED milik bingkai merek rumah sakit, yakni Hisoka-san. Ia adalah sosok yang bahkan baru seminggu ini kukenal.

Kalau kulihat wajahnya sepanjang waktu, sejak di parkiran mobil dekat dermaga, setelah ia mengetahui kabar ayahnya yang pingsan mendadak, hingga sekarang, ketika ayahnya yang terbaring di rumah sakit, terlelap seribu bahasa dan terdiagnosis mengidap penyakit jantung kardiomiopati, ia senantiasa kalut. Irama kakinya yang terhentak tak beraturan, uap napas yang terlihat jelas keluar, pun dengan tak beraturan, ialah perlambang kerisauanya saat ini.

Aku yang entah sebagai apanya di sini, tujuanku ikut ke rumah sakit tengah malam begini sebenarnya hanya ada dua. Satu, aku hadir di sini demi sesama mitra militerku Tuan Arashi (meski beliau sudah tidak). Aku perlu menunjukkan rasa empatiku pada Tuan Arashi, terlepas dari bagaimana masyarakat menilai dirinya. Toh, kami sudah kenal dekat sejak lama. Dan kedua, kehadiranku di samping Hisoka. Malam ini juga aku akan jadi penjelas di tengah kebuntuan batinnya.

Kenyataan yang sulit pudar dari pikiranku, yakni kenyataan bahwa Hisoka merupakan anak dari Tuan Arashi. Ya, gadis ceroboh nan gegabah ini ternyata adalah anak dari salah satu tokoh yang dulunya sempat disegani masyarakat! Kenyataan yang hampir mustahil untuk kuterima. Yah ..., walau begitu pun, mau bagaimanapun lagi, aku mendengar jelas anak itu memanggil Tuan Arashi dengan sebutan ayah, begitu histerisnya ketika masih di parkiran dermaga. Belum lagi sang istri dari Tuan Arashi yang mengatakan pada Hisoka bahwa ayahnya bla bla bla, itu semua adalah bukti absolut bahwa gadis ini adalah anaknya. Mereka bertiga adalah keluarga.

Hah ....

Kejadian di vila ....

Saat di mana aku bertingkah konyol, merasa jemawa akan posisiku, lalu menyindir gadis itu dengan kalimat sarkas nan skak mat.

^^^"Kalau begitu, berarti mulai sekarang kita bertetangga, ya!"^^^

Hari-hari berlalu, dan semakin aku mengingatnya, aku jadi merasa jengah pada diriku sendiri. Padahal niatku hanya ingin bercanda padanya. Kau tahu kan, remaja cenderung suka dengan candaan serta obrolan ringan.

T..Tapi, yah, mungkin aku telah salah pengertian dengan hal itu. Aku juga sadar bahwa aku bukan orang yang punya kemampuan baik dalam mencairkan suasana.

Boro-boro mendapat gelak tawa atau mencairkan suasana, berhari-hari setelahnya, ia tidak pernah datang lagi. Semakin jelas bahwa gazebo itu punya arti penting baginya, jauh dari apa yang kupikirkan. Dan secara tidak langsung, aku telah menjauhkan dirinya dari gazebo berharganya itu.

Oleh sebab rasa bersalah ini, aku berniat untuk menebus kesalahanku padanya: jika aku tidak bisa mendekatkannya lagi pada hal yang berharga baginya, setidaknya aku harus bisa lebih baik lagi dalam memperlakukannya kedepan.

"Anu ...."

Terlebih, dengan mentalnya yang sekarang benar-benar kacau.

"Namamu ..., Hisoka, kan?"

...----...

...Kebahagiaan Adalah Obat Terbaik...

...----...

"Hisoka ... -san ...."

"Aku yakin kau masih mengingatku."

Sudah pasti, sih ....

"Aku tahu hari ini adalah hari yang begitu berat bagimu."

"Aku merasakan ... apa yang kau rasakan. Aku turut bersimpati." Aku menatap celah antara kedua kakiku di bawah sana, berusaha agar jarak itu tidak berubah-ubah dalam tempo yang tak menentu.

"Yang ingin kusampaikan adalah, hendaknya kita berharap yang terbaik untuk beliau, untuk ayahmu. Semoga bisa cepat pulih dan kembali beraktivitas kembali seperti semula."

Aku memasukkan handphoneku ke dalam saku celana, sekilas mengusap wajahku yang semakin kedinginan, lalu kembali berbicara.

"Soal kejadian di dermaga, kau tak perlu khawatir. Semuanya terjadi secara kebetulan," tuturku, sembari menoleh padanya.

"Aku kebetulan saja sedang berada di dekat parkiran dermaga, ketika kulihat, Ibumu yang panik sedang menahan tubuh ayahmu agar tidak jatuh dari mobil."

"Ah, benar juga. Ibumu mungkin sudah cerita soal diriku dalam ambulans, bahwa aku kenal dengan ayahmu, bukan?"

"Maka dari itu, aku di sini hendak minta maa—"

"Belum."

Aku kaget bukan main saat ia tiba-tiba menyela percakapan. Wajahnya memang tak sekalipun membelok padaku, namun suaranya cukup tangguh untuk membuat lidahku berhenti berujar.

"Aku tidak tahu apa-apa." Ia senantiasa berucap cuek. Tatapannya kosong menghadap lantai teras rumah sakit di depan kami.

Aku terdiam sejenak. Setelah itu aku pun menjawabnya.

"B..Baik, maafkan aku."

"Aku dan Tuan Arashi ...," Aku mengangkat punggungku dari nyamannya senderan. Mulai saat ini aku akan serius menjabarkan apapun yang Hisoka-san hendak ketahui.

"Aku sendiri, merupakan seorang prajurit angkatan laut. Dan dengan demikian, aku tentu mengenal beliau, ayahmu."

"Aku pertama kali bertemu beliau secara langsung ketika 4 tahun lalu. Tepat pasca Tsunami Miyako."

"Aku tak begitu mengenal beliau ketika itu. Namun saat proses pembersihan kota, dalam beberapa kesempatan, aku sempat bercakap dengan ayahmu." Aku lanjut menjelaskan.

"Kami hanya mengobrol ringan, saling membantu membereskan puing-puing bersama yang lain seperti halnya sesama rekan."

"Tapi semakin hari, lewat pertemuan tidak disengaja dan juga obrolan-obrolan remeh, aku merasa bahwa kepribadianku nyatanya cocok dengan beliau."

"Entah itu aku yang bisa menyesuaikan dengan pembawaan beliau yang ringan, atau malah beliau yang bisa melonggarkan tensinya ketika menghadapiku ...." Aku menengok ke atas kanan, menghela napas sebentar lalu kembali berujar.

"Aku paham betul perihal apa yang terjadi pada ayahmu 2 tahun yang lalu di Tokyo.  Pemberhentian yang dijatuhkan pada ayahmu benar-benar membuat diriku kaget. Semua itu berlangsung begitu saja. Seakan tak ada aba-aba."

"Hisoka-san, maafkan diriku, karena aku baru bisa menjelaskan semua ini sekarang." Aku menoleh padanya. Pelan-pelan kubungkukkan leherku pertanda maaf. "Aku harap dengan ini, semuanya menjadi jelas," sambungku.

Segenap kalimatku sudah tersampaikan padanya dengan begitu jelas. Kalimat penenang, penyudah keresahannya.

Bodohnya aku berpikir begitu ....

Karena nyatanya, gadis itu tak menggubrisku sepatah pun. Yang ia lakukan hanya sebentar melirik ke arahku, lalu kembali menatap ke depan sembari menundukkan kepala.

Aku mengira akan ada air mata yang mengalir. Atau setidaknya anggukan pengiyaan, kerelaan.

"Kau ...."

"Dari mana kau tahu namaku?"

Namun yang datang dari bibirnya justru ucapan bernada heran nan mencurigai. Aku yang sedari awal berusaha tenang dan bertutur bijak, kembali dibuat gentar akan pertanyaannya yang tiba-tiba menyambar. Aku benar-benar kapok.

"A..Anu ...."

Kalau kukatakan bahwa aku mengetahuinya dari kanji nama yang tertera di bukunya,

"Apa kau pernah memata-mataiku?"

Dia akan dan pasti menudingku begitu.

"Oh, tentu tidak! Bukan begitu!" Aku membantah tuduhannya seketika. Lucunya, nada bicara yang tanpa kusadari telah mengeras ini malah mengejutkan diriku sendiri.

"Lalu? Bagaimana kau bisa tahu?" ia menanya kembali ke arahku, senantiasa merengut.

Ayolah ..., kenapa di saat-saat seperti ini dia malah seakan penasaran dengan hal lain, hal simpel seperti bagaimana aku tahu namanya. Bukankah seharusnya saat ini ia memikirkan ayahnya?

Ditambah, haruskah aku menjawab ini?

"Hah ...."

"Lewat bukumu," jawabku pelan.

"Buku?" ia lantas heran saat itu. Matanya tajam melihatku.

"Saat kau tidak sadarkan diri di gaz-ehm, di vilaku, aku bermaksud untuk mencari tahu namamu. Hanya penasaran, sebab wajahmu sungguh mengingatkanku pada seseorang yang kukenal. Oleh karena itu, kuambillah satu buku yang ada dalam tasmu, lalu kutemukan namamu." Aku menjelaskannya perlahan.

"Begitulah kira-kira."

Sejak pertama kali bertemu, akhirnya gadis itu menunjukkan kemauannya berinteraksi padaku, walau dalam bentuk yang sama sekali tak kuharapkan.

"Jadi, kau sendiri mengakui bahwa kau telah menggeledah tas milik perempuan?" balasnya, kembali menaruh curiga sepihak pada diriku.

"Aku sama sekali tak berniat buruk padamu maupun barang-barangmu, ya." Aku berusaha meyakinkannya. Kepalaku turut menggeleng kecil.

"Ayolah .... Atas semua hal yang sudah aku lakukan, apa aku masih terlihat seperti orang jahat bagimu?" Aku kemudian mengangkat kedua tanganku merentang, dengan telapak tangan menghadap ke langit. Aku berkeluh kesah.

Gadis itu mendadak diam. Sejenak setelah itu, tampaklah dirinya menelungkupkan kedua telapak tangan ke atas paha. Pandangannya tertunduk, matanya lari dariku.

"Aku tidak pernah berpikir demikian," singkatnya.

Aku serius memandanginya.

"Tapi kenapa ...."

"Kenapa harus kau?"

"Eh?" Aku sontak heran dengan ucapannya tersebut.

"Sudah cukup kau permalukan aku di gazebo itu. Dan sekarang, kau seakan tak puas dan kembali menghantuiku lagi sampai ke rumah sakit ini."

"Kota ini kenyataannya tak sekecil itu, kau tahu. Namun mengapa hanya kau dan kau yang selalu ada dalam masalahku."

"Hisoka-san ...."

Terdengar bagaimana intonasinya yang perlahan melemah. Matanya tampak hendak berderai, namun ia berusaha menahannya. Aku semakin yakin bahwa hari yang ia lalui benar-benar telah melelahkannya.

Di samping itu, mencerna serangkaian ucapannya barusan, terlihat jelas bahwa memang akulah yang telah benar-benar mengganggu dirinya. Karena bahkan hanya dalam dua kali pertemuan, ia sudah merasa bahwa aku selalu muncul dalam hidupnya.

Berusaha meyakinkan dirinya bahwa kami hanya bertemu sebanyak 2 sampai 3 kali dan itu tidak tergolong 'selalu hadir dalam hidup' adalah tindakan yang percuma. Itu hanya akan membuatnya semakin merengut. Aku paham akan hal itu.

Lagi pula, tujuanku kemari bukanlah untuk melihat gadis ini semakin terpuruk. Tidak sama sekali.

Dengan khidmat, aku berdiri dari bangku besi tempat kami duduk. Beberapa langkah aku maju ke depan, menuju tembok pembatas antara teras rumah sakit dan jalanan, masih dengan kedua tangan mendekam di saku.

"Hisoka-san, kalau boleh jujur,"

"Sejak hari di mana kau pergi dari gazebo, saban hari setelahnya aku berpikir-pikir,"

"Apa yang telah kuperbuat?" Kulihat langit di atasku, terbayang bagaimana perilakuku tempo hari.

Hisoka menoleh padaku pelan. Matanya tampak berkaca-kaca.

"Semakin kupikirkan hal itu, kemudian aku semakin sadar. Mungkin saat itu aku telah melakukan suatu hal secara berlebihan."

"Kau tidak semata-mata menganggap gazeboku sebagai tempat peristirahatan."

"Melainkan lebih, lebih, lebih berharga lagi. Aku tak tahu bagaimana cara untuk menjelaskannya lebih jauh lagi."

"Kehadiranku di sini, selain untuk menjelaskan segala yang terjadi, aku juga ingin berujar serius mengenai penyesalanku atas perlakuanku padamu kala itu."

"Aku mohon maafkan aku." Aku kembali meminta maaf sembari menoleh padanya. Hisoka kembali membuang muka.

Aku paham dalam upaya membuatnya bersedia datang kembali, itu sama saja seperti menerbangkan layangan tanpa benang. Terdengar mustahil namun tetap memungkinkan. Kenapa memungkinkan? Sebab yang menerbangkan layangan sebenarnya bukanlah benang, melainkan angin. Tinggalah diriku ini, apakah aku mampu membawakan angin lega yang bisa menerbangkan layang-layang yang bahkan tak terikat oleh satu helai benang itu.

"Aku paham, mungkin kata maaf yang terucap dariku belum cukup untuk menyembuhkan luka yang pernah kubuat padamu."

"Namun satu hal yang perlu kusampaikan,"

"Aku tak akan mempermasalahkan lagi .... Jika terdapat niatmu ingin kembali, maka kembalilah ke gazebo itu."

"Sebab kau jelas membutuhkannya, lebih dari diriku membutuhkannya."

Sontak dengan kata-kata yang keluar dari bibirku di malam ini, gadis yang sedari tadi membuang mukanya itu tak kuasa menahan pilu. Ia mengusap kedua mata yang terlihat berjatuhan air kesedihan.

Suasana menjadi hening saat itu. Tak terdengar secercah suara pun, bahkan dari keluarnya air mata itu. Sama halnya denganku, aku memilih untuk menyudahi kata-kataku sebab aku prihatin melihat Hisoka-san yang dengan sengsaranya berusaha terlihat kuat di depanku, namun tetap kalah dari emosi yang mengitarinya.

...----...

Beberapa detik kemudian, dari arah pintu masuk rumah sakit, terdengar suaranya terbuka oleh sebab sesosok yang membukanya dari sebelah dalam. Kulihat ke arah kanan, sebab di situlah pintu itu berada. Ternyata, ibunda dari gadis itu lah yang datang. Dengan sigap, Hisoka langsung mengusap kedua matanya, berusaha menghilangkan semua titik air mata demi menyembunyikan kenyataan bahwa ia baru saja menangis.

"Ah, ternyata kalian masih di sini, ya?" Ibu itu mampir ke antara kami. Beliau melihat dengan jelas saat itu, bagaimana bentuk kami berdua yang tak diragukan lagi baru saja mengobrol.

"Bu ..., bagaimana kondisi Tuan Arashi?" Aku berjalan sedikit mendekat pada beliau.

"Tak apa. Dia sudah sadar, kok. Namun begitu, dokter bersabda bahwa kondisi fisiknya masih belum pulih total. Besok pagi sudah bisa pulang. Ibu itu menjawab pertanyaanku dengan nada yang tenang, turut dibarengi dengan senyum hangatnya.

Beliau kemudian duduk di sebelah Hisoka begitu saja. Layaknya firasat semua ibu yang tak pernah salah, ia langsung paham bahwa anaknya kala itu sedang menangis.

"Mitsuyoshi-san ...." Aku menjadi orang pertama yang beliau panggil namanya, dibanding anaknya sendiri. Namun begitu, bisa kulihat dengan jelas, salah satu lengan beliau sedang menenangkan Hisoka di sebelah sana.

"Ah, iya, Bu?"

"Terimakasih banyak, ya."

"Karena atas pertolonganmu di dermaga, Arashi tidak sampai jatuh ke tanah."

"Oh .... Tidak apa, Bu. Tidak masalah," timpalku lugas.

"Sebenarnya, ibu jadi tidak enak karena sudah membuatmu menunggu sampai tengah malam begini."

"Mitsuyoshi-san, kamu sebaiknya pulang sekarang. Biar ibu yang mengurusnya." Erat dekapan tangan beliau di pundak Hisoka, seakan-akan takkan memberikan diriku secuil kesempatan pun untuk jadi satu-satunya sosok yang bisa melipur lara di sini.

Dan karena mulai detik ini aku bukan lagi satu-satunya, aku tak punya kuasa untuk menolak. Lagi, kehalusan tutur kata beliau spontan telah membangkitkan rasa lelah yang sedari tadi berhasil kutahan.

Ini sudah kelewat larut. Aku memang harus pulang, dan menghangatkan tubuhku sampai pagi. Sebab jika tidak, aku bisa saja pusing saat pagi.

Dan satu hal lagi yang memicu diriku merasa ini adalah waktu yang tepat buat pulang, sebab semua urusanku sudah selesai di sini. Keduanya, baik bagi Tuan Arashi dan Hisoka, sudah selesai.

"Kalau begitu, saya pamit, Bu." Aku yang senantiasa berdiri, lalu menunduk hormat pada beliau. Beliau pun turut berdiri lalu membungkuk balik padaku.

Aku sempat memandang sekilas ke arah Hisoka. Sampai saat itu ia tak kunjung mengangkat kepalanya, dan kedua tangannya masih terus mengusap mata, seakan menutupi wajahnya dariku.

Aku tak bisa berbuat apa-apa, selain kemudian melangkah pergi dari mereka berdua. Melewati jalanan menurun, aku keluar dari bangunan rumah sakit, kembali menyusuri jalanan menuju vilaku. Aku kembali menghantam dinginnya malam yang berhiaskan butiran salju putih nan berkilau, seorang diri dalam derap kaki yang semakin berat 'tuk dilangkahkan.

Di tengah perjalanan, aku tak memikirkan apa-apa selain ucapan yang kuhaturkan pada gadis itu. Tiba-tiba saja terbayangkan olehku, bagaimana jadinya bila keseriusan dalam mengucapkan serangkaian kata itu pernah kupersembahkan pada seseorang yang lain sejak dulu.

Apakah mungkin dengan begitu, kami masih bisa terus bersama hingga saat ini?

Bahkan dengan kondisiku yang menyedihkan seperti ini?

To be continued ....

1
nerill
Mohon dukungannya! Terimakasih!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!