Indonesia
NovelToon NovelToon
Putaran Takdir

Putaran Takdir

Status: tamat
Genre:Beda Usia / Anak Yatim Piatu / CEO / Romantis / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nadiaayasha

"Kau tahu, kau itu benar-benar bajingan!" umpat Ghania dalam mabuknya.

"Aku melakukan kesalahan?" tanya Natha.

"Eum, kau selalu membuat hatiku berdebar, membuat pipiku tiba-tiba terasa panas. Kau selalu menyebut milik kita, rumah kita, milikmu. Apa kau menggodaku? Hah?" ujar Ghania, tak sadar.

"Eum, aku menggodamu. Apa kau tidak tahu? Aku sudah menggodamu sejak awal. Apa kau tidak sadar?" tanya Natha, masih membelakangi Ghania yang berada di meja makan.

"Tidak, kau selalu mengatakan hal itu dan hal ini, tapi tidak pernah jelas. Apa kau bahkan menyukaiku? Hmm?" tanyanya sok serius.

"Tidak, aku tidak menyukaimu," jawab Natha singkat.

"Kenapa? Apa karena aku hanya anak kecil? Karena aku 11 tahun lebih muda? Apa—"

"Tidak, aku tidak menyukaimu,... tapi aku mencintaimu,"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadiaayasha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Tumpangan Pulang

Acara malam itu pun selesai setelah semua lukisan terjual. Tasya dan Alea sudah lebih dulu pulang bersama orangtua masing-masing, begitu pula dengan Ghania yang masih menunggu sang kakak yang sedang pergi menyelesaikan beberapa pekerjaan yang sangat mendesak di kantor.

Sebenarnya, kakaknya sudah menyuruhnya untuk pulang lebih dulu, tapi Ghania bersikeras untuk pulang bersama. Daniel pun hanya bisa memintanya menunggu sementara ia akan menyelesaikan urusannya dengan terburu-buru. Tapi sudah hampir 2 jam ia menunggu sang kakak belum kembali juga.

Drrtt drrtt

Getar ponsel Ghania menampilkan panggilan telepon dari 'My Lovely Brother', yang tak lain adalah Daniel kakaknya.

"Halo, kak. Kakak udah selesai kerjaannya?" tanya Ghania.

"Sayang, maaf ya, kayaknya kakak ga bisa pulang malam ini. Udah malem, biar kakak suruh supir jemput kamu ya," ucap Daniel dari telepon dengan nada bersalah.

"Oh, kerjaannya masih banyak ya? Ya udah gapapa kak, Ghania cari taksi aja," balas Ghania.

"Udah malem, Ghan, kayaknya taksi juga udah ga ada," timbal Daniel.

"Ada kok, kak. Tenang aja,"

"Ya udah kalo gitu,..."

Tin tin tin

Suara klakson mobil menghampiri Ghania.

"Itu suara siapa, sayang?" tanya Daniel.

"Kak, nanti Ghania telpon lagi kalo udah di rumah ya. Bye," ucap Ghania kemudian menutup panggilan telepon itu.

"Apakah Anda tidak melihat saya sedang menelpon? Sangat tidak sopan membunyikan klakson sekencang itu," kesal Ghania.

"Oh, maafkan ketidaksopanan saya, nona. Saya tidak tahu Anda sedang menelpon," jawabnya.

"Lalu, apakah Anda mau menerima tawaran saya?" tanyanya.

"Tidak, terima kasih, Tuan Natha. Saya bisa kembali dengan taksi," jawab Ghania kemudian berjalan ke arah jalan besar untuk mencari taksi.

Namun, entah kenapa malam itu tidak ada satupun taksi yang lewat, entah mungkin karena hari yang sudah larut jadi tidak ada taksi yang mengarah ke arah sekolah.

Natha yang sejak tadi masih mengikuti Ghania menggunakan mobilnya kemudian turun dari mobil dan menghampiri Ghania.

"Sudah kukatakan tadi, sebaiknya kau ikut denganku. Ini sudah malam, kalaupun kau mendapatkan taksi itu tetap tidak aman," ucap Daniel kemudian berdiri di sebelah Ghania dengan kedua tangan di kantong celananya.

"Aku bersamamu juga belum tentu aman. Lebih baik menelpon supir," ucap Ghania kemudian membuka ponselnya untuk mencari nomor supirnya.

Namun, belum sempat ia menelpon, Natha sudah mengambil ponselnya.

"Hei, kembalikan hpku!" teriak Ghania kesal.

"Masuklah dulu," suruh Natha sambil membukakan pintu mobilnya untuk Ghania.

Dengan terpaksa, Ghania kemudian masuk ke dalam mobil, dan dengan segera Natha pun juga masuk ke dalam mobil.

"Sekarang balikin hpnnya," pinta Ghania.

"Ga mau," jawab Natha iseng.

"Kamu mau nya apa sih? Balikin cepat," ucap Ghania semakin kesal.

"Aku balikin kalau kamu panggil aku kakak. Panggil Kak Natha," iseng Natha.

"Ga mau," jawab Ghania kesal.

"Ya udah, hp kamu jadi punyaku," ucap Natha dengan ekspresi mengejek.

Ghania menghembuskan nafas kasar. "Kak Natha, tolong balikin hpnya," ucap Ghania dengan senyuman terpaksa.

Natha tersenyum puas karena berhasil mengusili Ghania, ia pun kemudian memberikan ponselnya kembali. Ghania yang kemudian ingin membuka pintu mobil, berniat untuk turun dan menunggu supir, malah kesulitan membuka pintu mobil itu.

"Duduk yang benar, ga usah kemana-mana biar aku antar pulang," ucap Natha sambil mulai menjalankan mobilnya.

"Aku bisa nunggu supirku."

"Aku ga izinin," jawab Natha.

"Memangnya kamu siapa? Aku ga butuh izin kamu. Turunin cepat," perintah Ghania.

"Ga," ucap Natha singkat.

"Atau aku lompat nih," ancam Ghania.

"Coba aja," tantang Natha.

Ghania yang takut itu mengurungkan niatnya, ia akhirnya hanya duduk tenang sambil melihat ke arah Natha yang sedang menyetir.

Natha itu sebenarnya tidak terlihat seperti pria berusia 27 tahun, wajahnya sangat tampan dan terlihat awet muda seperti Daniel kakaknya, bahkan bisa dibilang masih cocok mengenakan seragam SMA. Namun tetap saja, keduanya sudah tua.

"Ketampananku bisa terkikis jika kau terus memandangiku seperti itu," ucap Natha sambil tetap fokus menyetir.

"Aku tidak sedang memandangmu, aku sedang berhati-hati jika nanti kau mau menculikku," jawab Ghania dengan serius.

"Kau pikir aku berani menculikmu? Kakakmu itu petinggi kepolisian, menculik adik kesayangannya sama dengan bunuh diri," jawab Natha sambil tetap fokus menyetir.

"Benar juga, kakakku itu kan sangat hebat. Dia akan membunuhmu jika kau macam-macam padaku," ucap Ghania baru menyadari hal itu.

"Karena itu, tenanglah. Aku tidak akan melukaimu. Jadi berhentilah menatapku," kata Natha.

"Cih, kau pikir aku mau menatapmu? Aku pun tidak sudi," kesal Ghania kemudian memalingkan wajahnya.

Natha hanya tersenyum menanggapi sikap kekanak-kanakan Ghania itu.

"Ah, benar juga. Aku belum bilang dimana rumahku," ucap Ghania baru ingat.

"Aku tahu dimana rumahmu. Lagipula, teruslah memanggilku 'kau' dan aku akan benar-benar menculikmu. Meskipun kakakmu membunuhku, aku punya banyak nyawa," kata Natha.

"Cih, yang benar saja," ucap Ghania.

"Bersikaplah sopan. Kau seharusnya tahu aku sangat mampu untuk menculikmu," ucap Natha lagi.

"Ya sudah, iya. Maaf, Om Natha," jawab Ghania.

"Kakak. Atau aku akan..."

"Iya, iya, Kak Natha," potong Ghania.

Setelah percakapan itu, keduanya hanya terdiam satu sama lain sampai mereka tiba di depan gerbang rumah Ghania.

"Saya pamit dulu, terima kasih tumpangannya, Kak," ucap Ghania.

Namun saat ia akan membuka pintu mobil, ia tampak kesulitan karena Natha sengaja mengunci pintunya.

"Kok susah banget sih? Kamu kunci pintunya ya?" ucap Ghania kesal.

"Aku sudah mengantarkanmu, lalu apa balasanku?" tanya Natha sambil menyeringai.

"Apa lagi yang kau mau? Aku sudah berterima kasih. Apa kau butuh uang?" tanya Ghania kesal.

"Apa aku terlihat seperti seseorang yang butuh uang?" tanya Natha.

Ghania menggeleng.

"Lalu apa maumu?" tanyanya.

"Berikan kontakmu," ucap Natha sambil memberikan ponselnya.

"Apa kau ini semacam pedofil atau sesuatu?" tanya Ghania dengan ekspresi takut dan heran.

"Hanya menanyakan kontakmu, aku tidak mengajakmu melakukan bisnis lucu tengah malam atau semacamnya, Nona kecil. Apa yang sebenarnya kau pikirkan tentangku," jawab Natha santai.

"Apa kau gila?!"

Natha hanya menanggapi dengan senyum geli.

"Berikan aku kontakmu, lalu aku akan pergi."

"Seperti seorang pemeras saja, kau ini sangat pemaksa dan tidak sabaran," gumam Ghania.

"Teruslah memanggilku 'kau' dan aku akan benar-benar menculikmu."

Ghania yang sudah tidak tahan lagi, langsung meraih ponsel itu dan mengetikkan beberapa angka di sana kemudian memberikannya pada Natha, kemudian membuka pintu mobil yang telah dibuka Natha dan segera keluar. Baru ia akan masuk menuju gerbang, ponselnya berdering menampilkan sebuah nomor yang tidak dikenal. Ghania pun mengangkatnya.

"Simpan nomor ku, selamat malam Ghania kecil," ucap Natha yang sontak membuat Ghania menoleh. Natha melambaikan tangannya, menutup telepon, kemudian pergi.

Begitu masuk rumah, Ghania langsung pergi menuju kamarnya. Ia menyempatkan diri untuk berendam air hangat agar dapat tidur dengan nyaman. Sembari berendam, ia terus mengingat obrolannya dengan Natha tadi.

"Cih, yang bener aja. Kakak apaan? Lebih cocok dipanggil kakek," ucap Ghania.

Setelah puas berendam, Ghania pun melanjutkan beristirahat.

1
Iren Nursathi
makin seruuuuu lanjut thor
HozukiHaku_02
Halo nadiaayasha, mau feedback-an dengan saya? Bisa membantu kakak mendapatkan lebih banyak popularitas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!