Indonesia
NovelToon NovelToon
CINTAKU MENTOK Di WANITA MALAM

CINTAKU MENTOK Di WANITA MALAM

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:27.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aquarius97

YANG SUKA ROMCOM... MERAPAT SINI✨

PLAGIAT, BISULAN SEUMUR HIDUP YA ! 👊🏻

Restu Anggoro Wicaksono selalu menjadi bahan tertawaan ketiga sahabatnya lantaran di usianya yang hampir tiga puluh tahun, pria itu belum pernah menyentuh seorang wanita.

Jangankan menyentuh, menjalin hubungan asmara saja Restu belum pernah.

Karena itulah, ia mendapat julukan si pria beku tak tersentuh.

Sampai suatu malam, ketiga sahabatnya menyusun rencana gila. Mereka kesal melihat hidup Restu yang terlalu flat.

Akhirnya, mereka bertiga nekat mengirim Restu ke kamar VIP di sebuah klub malam.

Malam itu seharusnya hanya menjadi kenangan singkat Restu bertemu wanita sewaan ketiga sahabatnya. Tapi anehnya, wanita itu justru terus memenuhi pikirannya.

Sayangnya, wanita itu tiba-tiba menghilang tanpa jejak.

Sementara Restu terjebak dalam pencarian panjang di tengah tekanan keluarga yang terus menuntutnya untuk segera menikah.

Apakah Restu bisa menemukan wanita malam itu kembali? Yuk, ikuti terus kisahnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aquarius97, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 CMDWM

"Nona Qiana, apakah hukuman satu bulan membersihkan apartemen saya kurang??!" sapa Restu sambil tersenyum smirk.

Qiana sontak berhenti mendadak, untung kakinya bisa mengerem. Jika tidak, wajahnya pasti sudah membentur dada bidang pria itu. Napasnya masih memburu setelah berlari, sementara matanya melebar tak percaya. Ia benar-benar tak menyangka bosnya itu muncul begitu tiba-tiba di hadapannya.

"Astaga, Pak, Anda mengejutkan saya!" kata Qiana sambil menunduk, tangannya bertumpu pada lutut, mencoba menstabilkan napas.

Restu menatapnya tajam, tapi di balik itu ada senyum tipis yang tak sepenuhnya ia sembunyikan. Ia lega, akhirnya Qiana muncul setelah semalam membuatnya gelisah.

"Anda darimana jam segini baru datang? Apa Anda pikir ini perusahaan milik nenek Anda?!" ujar Restu sambil menyilangkan tangan di dada, suaranya penuh wibawa tengah menginterogasi Qiana.

Qiana buru-buru meluruskan tubuhnya, lalu menunduk dalam. "Maaf, Pak... saya memang salah. Tapi saya punya alasan kenapa bisa terlambat," ucapnya pelan.

"Tadi malam, setelah selesai membersihkan apartemen Bapak, saya mendapat kabar kalau ibu saya jatuh dari tangga. Saya menginap di rumah sakit, dan pagi ini, saya terjebak macet karena berangkat dari sana... macetnya luar biasa, Pak."

"Ah, jadi seperti itu... Pantas saja semalam dia tidak masuk shift di Indomaret," batin Restu sambil menghela napas panjang setelah mendengar penjelasan Qiana.

Rasa cemas yang sejak semalam menekannya perlahan mereda.

Ia bahkan sempat takut setengah mati kalau wanita itu benar-benar pergi jauh lagi, meninggalkannya tanpa jejak.

"Baiklah, kali ini saya maklumi, Qiana. Tapi kalau sekali lagi Anda terlambat, saya akan menambah hukuman menjadi dua bulan! Jadi jangan seenaknya sendiri!" tegas Restu, sorot matanya menajam.

Qiana melotot, membayangkannya saja ia ogah.

"Baik, Pak... terima kasih!" jawabnya dengan cepat, menunduk penuh rasa lega.

"Masuklah. Saya masih ada urusan," titah Restu sedikit bergeser, memberi jalan untuknya.

Qiana pun akhirnya masuk ke dalam kantor, sementara Restu berjalan santai menuju ke mobilnya.

Hari ini ia memang membawa mobil sendiri, hanya untuk memastikan bahwa Qiana benar-benar datang. Begitu puas melihatnya, Restu pun segera pergi, meninggalkan perusahaan.

**

Meja Qiana sudah dipenuhi berkas, sementara telepon di sampingnya hampir tidak berhenti berdering. Ia terlihat sibuk luar biasa. Satu tangan memegang gagang telepon di telinga, tangan lainnya mengetik cepat di keyboard komputer. Sesekali ia menunduk mencatat sesuatu di sticky notes kuning di depan monitor.

"Baik, saya catat ya, Pak. Nanti akan saya teruskan ke bagian keuangan," ujarnya cepat, suaranya tetap ramah meski terdengar terburu.

Saat meletakkan gagang telepon, Qiana refleks mendongak. Seketika pandangannya bertemu dengan sepasang mata seseorang yang ternyata sudah berdiri cukup lama di depan counter resepsionis.

Qiana sontak berdiri, terperanjat.

Matanya melebar seakan tidak percaya, namun sosok di depannya masih diam, menatapnya dengan tatapan tenang.

Buru-buru Qiana mendekat hingga berdiri tepat di hadapan pria itu. "Mas Angga…" gumamnya lirih, matanya berbinar dengan tangan yang refleks menyentuh lembut lengan Restu alias Angga.

"Lea… benarkah ini kamu?" Restu pura-pura terkejut, sambil membetulkan letak kacamatanya.

Qiana mengangguk cepat. "Ya ampun, Mas. Apa kabar?"

"Aku baik. Kamu sendiri bagaimana, Lea?" tanya Restu balik, sorot matanya terlihat berbinar

"Lea juga baik, Mas. Oh ya, Mas ngapain di sini?"

Restu tersenyum samar, sambil membetulkan kacamatanya lagi. "Iya, Lea. Aku ke sini karena diminta Pak Niko. Katanya, dia mau bantuin aku melamar kerja di perusahaan ini."

"Oh, begitu... Baiklah, Lea hubungi pihak HRD dulu ya, Mas. Mas silakan duduk dulu di sana," ucap Qiana ramah, menunjuk kursi tunggu tak jauh dari counter resepsionis.

Restu mengangguk patuh, sedangkan Qiana kembali ke meja kerjanya dan segera menelpon Andira dari bagian HRD.

Setelah mendapat konfirmasi, ia bangkit lalu menghampiri Restu.

"Mari, Mas, Lea antar," ujar Qiana ramah sambil berjalan lebih dulu.

Sepanjang perjalanan menuju ruang HRD, Restu menjaga perannya sebagai Angga yang culun dan pendiam.

Justru Qiana yang lebih banyak bicara, matanya berbinar tiap kali melirik ke arahnya.

"Lea seneng banget bisa ketemu Mas lagi," katanya dengan senyum ceria. "Nanti pas istirahat kita ketemu ya, Mas! Lea pengen ngobrol banyak," tambahnya antusias.

Restu hanya mengangguk, senyum tipis terukir di bibirnya setiap kali mendengar celotehan Qiana. Ada rasa hangat yang tak bisa ia sembunyikan, ternyata Lea nya masih seperti dulu yang mampu menerimanya apa adanya.

Begitu tiba di depan pintu ruang HRD, Qiana berhenti dan berbalik menatapnya. "Silakan, Mas. Semoga sukses, yah!" ucapnya tulus, penuh semangat.

"Baik, terima kasih atas bantuannya, Lea," balas Restu pelan, menatap Qiana lebih lama sebelum akhirnya melangkah masuk.

Ketika akan kembali ke mejanya, Qiana berpapasan dengan Aviva. Namun, dahinya mengernyit ketika melihat penampilan wanita sexy itu tidak seperti biasanya.

Qiana ingin bertanya, namun ia urungkan. Ia sedikit tidak suka dengan perempuan tersebut yang menurutnya terlalu arogan.

...ΩΩΩΩΩΩΩ...

1
Miu.Nuha
lha trus itu nama Angga gimana coba? palsu?? hadeehhhh 😭 rumit...
Miu.Nuha
walah, nama bin ny min2 kok badas bngt 😅 memang dia punya identitas tersembunyi nih...
Miu.Nuha
iya itu...
tanggung jawab nikahin /Grin/
Miu.Nuha
min2 yg disuruh tanggung jawab 🤧
gara2 kamu min, pak bos ini ngejomblo smpe puluhan tahun, untung blm karatan...
Miu.Nuha
ih Oma ih, jgn jadi kayak kakeknya Alex bisa nggak sih... oma bikin aku marah /Scream/
Miu.Nuha
emang iya sih sama lumut yg licin bisa bikin kepeleset, tpi parutan kambil juga bikin jariku berdarah /Scream/
Miu.Nuha
jgn lupa bawain oleh2 buat Oma ya /Applaud/
Miu.Nuha
eheheh mumet juga akhirnya 😭
wis buka kertu aja semuanya, Res... biar gk makin puyeng...
Miu.Nuha
oma ih tantruman 😭
sogok diajak hiling dulu kali ya biar redem marahnya...
Miu.Nuha
nah, gini nih orang tua yg bener...
heran deh ortu2 zaman now #eh, jaman novel maksudnya...
Miu.Nuha
jelasin aja lah, jgn ambil pusyang 😅
Miu.Nuha
haha.. o iya 😅
Miu.Nuha
omamu berasa masih muda, ngga
centik banget dan tengil, hehe...
Filan
Restu, ga yakin nih si Nadine ga ganggu lagi.
Filan
terlalu penasaran atau obsesi
Filan
Dia udah kesambet sih ya...
Miu.Nuha
masa lalu gk usah dibuka lagi...
Miu.Nuha
ber oh ria /Facepalm/
oh ah oh eh oh uh...
Miu.Nuha
akal2an Oma 😅
Miu.Nuha
ih kenapa pula ini Oma 🤭
apa oma kecewa Restu gk nikah2, hehe...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!