Seorang gadis cantik yang bernama Ruby Sterling sedang duduk termenung di atas sebuah jembatan.
Dia sangat putus asa, kemana lagi dirinya harus mencari biaya pengobatan untuk Neneknya yang sedang berjuang menahan rasa sakit.
Ruby hanya tinggal dengan Neneknya, dia tidak punya keluarga atau kerabat. Di mana lagi dia harus meminta bantuan?
Dia bekerja sebagai Karyawan di sebuah Supermarket dengan gaji yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.
Ruby sangat bersedih, saat dia ingin menyerah, seseorang datang menghampirinya dan memberinya sebuah buku Novel.
"Ketulusan! Kerja sama! Menolong! Adalah kunci untuk kembali!"
Ruby menatapnya dengan bingung, orang itu pergi begitu saja setelah mangatakan kalimat yang tidak dia mengerti.
Orang itu berbalik dan kembali berkata "Jika kamu berhasil, maka semuanya akan baik-baik saja!"
Ruby hanya diam mematung, Siapa dia? Apa maksud dari perkataannya? Apa yang akan baik-baik saja? Apa yang harus dia lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Tiba di Perkebunan
Ruby berhasil mendapatkan satu mobil truk di salah satu showroom. Dia tidak cuman membawa mobil truk saja, tapi dia juga mengambil semua isinya seperti sepeda listrik dan beberapa kendaraan lainnya.
Jack menyetir truknya, suara mobil yang berderu tentu memancing para zombie yang bersembunyi. Tapi, karena jalan para zombie lambat, mana mungkin bisa mengajar sampai ke perkebunan.
Sedangkan di mobil Van, Dokter Wili yang menyetir, dan Manda yang duduk di sampingnya. Ruby dibelakang bersama dengan Tisa dan beberapa anak kecil lainnya.
Mereka semua bertanya-tanya, di mana letak pangkalan keluarga Ruby? Hampir dua jam lamanya mereka berkendara di jalan yang sepi.
Saat mulai memasuki jalan menuju perkebunan, Ruby meminta Dokter Wilian untuk menghentikan mobilnya.
"Siapa mereka?" tanya Dokter Wiliam melihat beberapa orang sedang menghadang mereka.
"Oh itu orang-orang kita." balas Ruby sambil turun dari mobil. "Kalian nggak perlu turun!"
Ruby menghampiri mereka sambil membuka maskernya. Mereka tidak mengenali mobil Van nya, karena saat itu dia sudah pergi.
"Ini aku!" kata Ruby.
"Astaga. Ternyata Nak Ruby!" ucap seorang pria paruh baya sambil menurunkan senjatanya.
"Tadi kami hampir kami lepaskan tembakan!" katanya sambil menghela nafas lega. Untung saja Ruby keburu turun.
"Maaf yaa. Kami sedang patroli di sini!" jelas seorang pemuda. Dia juga pekerja di kebun itu.
"Bukan masalah. Sekarang, kita memang harus sangat waspada." balas Ruby sambil menatap sekitar. "Itu, kalian sedang bangun apa?"
"Oh itu, kami sedang membangun menara pengintai!" jelasnya.
"Menara pengintai? Bagus juga, apa ini rencana Ayahku?"
"Benar. Tuan meminta kami membangun menara pengintai di beberapa sudut, dan mengatur jadwal patroli kami!"
"Oh ternyata seperti itu!" Ruby mengagguk mengerti, Ayahnya sangat bisa dipercaya menjadi seorang pemimpin. "Kalau begitu, aku lanjut jalan, ada banyak orang di mobil!"
"Ya Nak. Kami juga mau lanjut patroli!"
Ruby berbalik dan kembali ke mobil, di sana sudah ada beberapa yang turun karena penasaran, kenapa mobil tiba-tiba berhenti.
Jack sudah menjelaskan kepada mereka, tapi orang-orang itu masih juga penasaran.
"Ayo kita lanjut jalan!" sahut Ruby memaklumi rasa penasaran mereka.
Mereka semua segera naik dan melanjutkan perjalanan. Mereka makin tidak sabar lagi, saat Jack mengatakan di tempat mereka berhenti tadi sudah masuk wilayah milik keluarga Ruby.
Dua puluh menit berlalu, mereka akhirnya tiba di luar tembok yang begitu tinggi. Di depan pintu gerbang, ternyata juga sedang membangun sebuah pos pemeriksaan.
"Ayo turun. Kita sudah sampai!" kata Ruby sambil menghirup udara yang begitu bersih. Tidak ada bau busuk yang begitu menyengat.
"Waahh.. Sudah lama sekali aku nggak datang ke sini. Terakhir kali, sebelum Sila lahir!" sahut Dokter Wiliam yang begitu terkejut melihat perkebunan yang makin luas.
"Ya. Sudah lama sekali kan. Nggak di sangka, kita akan tinggal di sini!" sela Manda.
Ruby meminta mereka berkumpul, dia tersenyum melihat wajah mereka yang tampak begitu penasaran, tapi juga ada rasa takut.
"Kalian jangan takut! Tanah luas ini milik keluargaku, kami berkebun dan menanam banyak tanaman. Tembok ini sengaja dibuat tinggi, karena kami sekeluarga biasa datang untuk berlibur!" ujar Ruby.
"Kalau kita tinggal di dalam, zombie-zombie itu nggak bakalan bisa masuk!"
"Benar. Apa tembok besar ini mengelilingi satu area?"
"Heheh kalian bisa keliling kalau penasaran!" kata Ruby. Dia tidak bisa menjelaskan semuanya.
Penjaga di pos segera meminta mereka untuk berbaris dan melakukan pemeriksaan. Suhu di bawah normal akan dipisah untuk melakukan pemeriksaan lanjutan.
Ruby juga hanya bisa menurut, agar mereka bisa melihat, kalau dirinya saja harus mentaati peraturan yang ada.
Suhu di atas normal juga di pisah, mungkin dia sakit demam atau yang lainnya, maka harus segera dilakukan pemeriksaan lanjutan.
Itu semua ide yang diusulkan oleh Dokter Mira. Karena dari berita yang beredar dari awal adalah sakit demam dan bapil. Tapi, setelah jadi zombie, suhunya malah turun ke 25 derajat.
Jika ada suhu tubuh yang tidak normal, maka mereka perlu melakukan karantina selama 3 hari atau paling lama 7 hari.
"Kalau begitu, tunggu beberapa menit! Kami baru saja tiba, di luar sana sangat panas!" kata Ruby.
Penjaga pos setuju, mereka akhirnya duduk di dalam sambil makan dan minum. Penjaga itu juga adalah para pekerja di perkebunan, untuk sementara waktu mereka bertugas sebagai penjaga pos.
"Waah.. Baru beberapa hari nggak jumpa, Tante sudah berganti alih profesi!" ucap Ruby bercanda pada seorang wanita.
"Hehehe kamu ini.. Tapi kata Tuan, ini hanya sementara, nanti ada yang menggantikan!" ujarnya.
"Loh kenapa? Apa tante nggak rela berpisah dengan kebun sayur?" tanya Ruby.
"Ya begitulah! Tante kan sudah tinggal di pondok bertahun-tahun, dan sekarang harus berjaga di sini, rasanya sangat kaku dan canggung!"
"Hmm ya juga sih..!" kata Ruby setuju. "Kalau begitu, tante kenalan dulu sama mereka. Siapa tau ada diantara mereka yang mau menggantikan tugas Tante!"
"Eh benar juga." balasnya dengan mata berbinar. "Tapi nanti saja, setelah kalian bersih-bersih dan istirahat, kalian semua terlihat sangat kelelahan!"
"Emm baiklah.!" kata Ruby setuju. Bukan cuman lelah, tapi mereka juga lapar dan ingin segera mandi.
Tiba-tiba pintu gerbang terbuka, Ayah Ruby keluar menggunakan mobil Offroad andalannya.
Dia turun dan menghampiri Ruby dan yang lainnya. "Syukurlah, kalian pulang dengan selamat!" ucapnya sambil ingin memeluk Ruby.
"Ayah! Badanku kotor!" tolak Ruby sambil mundur beberapa langkah.
Tuan Edward mana peduli, dia begitu mengkhawatirkan anaknya di luar sana. Dia memeluk Ruby dengan erat.
"Baju bisa dicuci!" ucapnya setelah melepas pelukannya. "Oh salah, demi keselamatan kita semua, jika pakaiannya sudah terkena darah zombie, harus segara dibuang dan dibakar, nggak boleh dipakai lagi!"
Mereka semua terkejut, mereka hanya bawa saru ransel saja. Mana sempat membawa baju satu lemari, kalau harus dibakar, mungkin hanya bisa dipakai selama dua Minggu saja.
"Ayah! Jangan membuat mereka takut!" sahut Ruby. "Mending Ayah sapa mereka dulu,!"
"Perkenalannya nanti saja setelah kalian bersih-bersih. Kalian juga nggk perlu khawatir untuk masalah pakaian. Kita bisa mencarinya diluar sana.!"
"Baik Tuan!" Mereka tampak segan dengan aura Ayah Ruby yang begitu berwibawa.
Setelah melakukan pemeriksaan, mereka semua berhasil lolos, tidak ada yang perlu melakukan karantina.
Saat masuk gerbang, mereka semua sangat terkejut, betapa luasnya halaman di dalam tembok tersebut.
Mereka kembali disambut oleh seseorang, dan meminta mereka untuk segera mandi di pancuran air sebelum masuk ke kamar mandi umum.
Ruby sampai tercengang dibuatnya, baru berapa hari dia pergi, perubahannya begitu besar. "Ayahku, emang bisa diandalkan!"
Di halaman itu sudah ada beberapa bangunan yang sementara dibangun. Mungkin milik keluarga Dokter Mira yang akan selesai lebih dulu.
"Setelah bersih-bersih, untuk sementara waktu kalian bisa istirahat di pondok itu, karena pembangunan tempat tinggal masih sementara diproses!"
"Bukan masalah! Nggak ada zombie saja, kami sudah sangat bersyukur!" ucap Mohan.
"Bagus! segeralah bersih-bersih karena Tuan ingin menyampaikan sesuatu!"
"Baik!"
.
.
.
next ka...
next ka...
next ka
next ka
next ka
next ka..
lebih seram dr cerita horror...next ka...
next ka