Indonesia
NovelToon NovelToon
DIA YANG DATANG BERSAMA HUJAN

DIA YANG DATANG BERSAMA HUJAN

Status: tamat
Genre:Teen / Cintapertama / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:722
Nilai: 5
Nama Author: AME author

menceritakan Akira Riyuma seseorang siswa SMA yang pindah sekolah dan pergi dari rumahnya karena rumah lamanya sudah tidak sehangat dulu.
Dia anak pendiam. Dunianya yang terasa sepi.
Sampai dia bertemu Riyumi Asuma.
Gadis yang ceria dan suaranya bikin tenang, tapi entah kenapa... membuat hari-hari Akira jadi ramai.
Di antara hujan, tawa, dan tatapan yang tidak pernah Akira mengerti,
muncul satu pertanyaan di kepalanya:
apa arti sebuah keluarga,rasa yang belum pernah dia rasakan.

akira yang sudah banyak kehilangan seseorang yang berharga di hiduupnya.

apakah akira bisa menemukan kebahagiaan itu ?
apakah akira juga bisa berubah menjadi yang lebih baik dengan bantuan riyumi asuma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

FOTO TERAKHIR DI SEKOLAH

Hari-hari terakhir di sekolah selalu terasa berjalan dua kali lebih cepat. Di sepanjang koridor, riuh tawa para siswa kelas tiga mulai bercampur dengan bisik-bisik emosional tentang masa depan, menandakan bahwa masa seragam putih-abu-abu mereka benar-benar berada di ambang batas akhir.

Di setiap kelas, suasana tampak begitu sibuk menyiapkan segala hal untuk acara perpisahan sekolah. Spanduk-spanduk besar mulai dipasang di berbagai sudut, dekorasi panggung dikerjakan, dan para pengurus OSIS terlihat bekerja dua kali lipat lebih keras membalik halaman agenda demi memastikan segalanya berjalan sempurna. Kesibukan massal ini juga membuat Akira dan Yuki belum sempat bertemu seharian, tenggelam dalam urusan persiapan kelas mereka masing-masing.

Setelah mendapatkan waktu luang di tengah hiruk-pikuk itu, Akira memutuskan untuk melangkah keluar kelas. Ia berjalan perlahan menyusuri koridor sekolah, menatap setiap sudut ruangan, dinding bercat mengelupas, hingga papan pengumuman yang biasanya ia lewati begitu saja. Ia sedang menyusuri jejak kenangan—mengingat kembali tahun-tahun yang telah ia lewati di sekolah ini.

Langkah kakinya membawa Akira memanjat anak tangga demi anak tangga hingga mencapai tempat paling atas: atap sekolah.

Begitu pintu besi yang sedikit berkarat itu didorong terbuka, hembusan angin sore langsung menyambut wajahnya. Bagi Akira, tempat ini adalah sudut yang paling akan ia rindukan setelah lulus nanti. Begitu banyak ingatan yang tertanam di atas semen keras ini. Berapa banyak jam yang telah habis terbuang di sini? Canda tawa yang membahana, air mata kekecewaan yang pernah mengalir pasrah, pelukan hangat yang menenangkan, hingga waktu-waktu berharga yang kini tak akan pernah bisa diulang kembali.

Atap ini adalah tempat ternyaman bagi Akira. Di sinilah saksi bisu momen krusial dalam hidupnya—tempat di mana ia dulu pernah bersama Riyumi Asuma, tempat di mana secara perlahan seluruh ingatan masa lalunya yang sempat hilang akhirnya kembali terkumpul utuh.

Akira melangkah ke tepi atap, lalu duduk perlahan dengan menggantungkan kedua kakinya ke arah luar. Ia menyandarkan punggungnya, menikmati hari-hari terakhirnya sebagai siswa. Di bawah sana, burung-burung terbang melintasi langit, angin berhembus lembut memainkan rambutnya, dan dari kejauhan terdengar samar-samar suara tawa serta jerit haru para murid yang sedang merayakan kebersamaan mereka.

Sementara itu di lantai bawah, Yuki berjalan ke sana-kemari mencari keberadaan Akira. Ia sudah mengitari kantin, ruang ekskul, hingga perpustakaan, namun sosok cowok itu tak kunjung kelihatan. Di halaman tengah, nampak Yasiro dan Nana sedang duduk santai bersama kawan-kawan yang lain, bercengkerama mengenang masa-masa lucu selama sekolah.

Sebuah dorongan firasat akhirnya mengarahkan langkah Yuki menuju tangga paling atas. Ia mendorong pintu atap dengan pelan, dan matanya seketika menangkap punggung familiar yang sedang duduk menyendiri di tepi atap.

Senyum manis terkembang di bibir Yuki. Ia melangkah sejinjit mungkin agar jalannya tak terdengar. Dengan perlahan, Yuki mengulurkan kedua tangannya dari belakang lalu menutup mata Akira rapat-rapat.

"Tebak, siapa aku?" bisik Yuki dengan nada suara yang sengaja diberatkan.

Akira terkekeh pelan. Tanpa ragu sedikit pun, merasakan hangat jemari yang sangat ia kenali dan aroma parfum khas gadis itu, ia menjawab, "Yuki Kashima."

Tangannya terangkat, mengusap jemari Yuki di matanya lalu melepaskannya dengan lembut. Yuki tertawa renyah, tawa lepas yang sangat dirindukan Akira. Ia kemudian ikut mendudukkan dirinya di samping Akira, membiarkan kakinya bergoyang bebas di tepi atap yang sama.

Di atas sana, dinaungi langit sore, mereka berdua mulai bertukar cerita. Mereka mengingat kembali betapa banyaknya hal konyol, manis, dan gila yang telah mereka lakukan di bangunan sekolah di bawah mereka. Setiap sudut seolah memiliki ceritanya sendiri.

"Akira," panggil Yuki setelah keheningan singkat di antara mereka. "Ayo turun. Di bawah sebentar lagi sesi foto bersama kelas tiga mau dimulai."

Yuki berdiri lebih dulu. Ia merapikan rok seragamnya, lalu mengulurkan sebelah tangannya ke arah Akira dengan senyuman hangat. Akira menatap tangan itu sejenak sebelum menyambutnya dengan genggaman lembut. Bersama-sama, mereka berjalan turun dari atap sekolah, melangkah bersisian sambil bergandengan tangan erat.

Di halaman utama, suasana sudah sangat ramai. Sesi foto bersama para siswa kelas tiga yang sebentar lagi akan lulus berjalan riuh dan penuh haru. Kilatan lampu kamera berulang kali menyala, mengabadikan wajah-wajah muda yang kelak akan merindukan masa-masa berseragam putih-abu-abu ini.

Setelah sesi foto angkatan selesai, Akira berdiri diam menatap sekelilingnya yang masih dipenuhi kegembiraan. Tak lama kemudian, Yuki berjalan menghampirinya bersama Nana, Yasiro, Megumi, dan Najime.

Mereka berenam memutuskan untuk mengambil foto bersama. Meskipun ada sedikit rasa canggung yang tersisa di antara beberapa dari mereka karena perasaan-perasaan di masa lalu yang tak sempat terbalaskan, rasa canggung itu kalah oleh keinginan untuk mengukir kenangan manis terakhir. Mereka berdiri berjajar, melempar senyum terbaik ke arah kamera.

Saat melihat beberapa anggota OSIS berjalan membawa kamera ekskul, Yuki tiba-tiba menghampiri salah satu dari mereka dan meminta tolong dengan sopan. "Permisi, boleh tolong potretkan kami berdua?"

Anggota OSIS itu mengangguk ramah dan menyiapkan kamera. Yuki berlari kecil kembali ke arah Akira. Tanpa ragu, ia merangkul lengan Akira erat-erat, menyenderkan kepalanya di bahu cowok itu dengan senyuman paling manis, dan mengangkat sebelah tangannya membentuk pose angka dua yang ceria.

Akira yang mendadak dirangkul hanya bisa tersenyum simpul, mengalihkan pandangannya menatap ke arah Yuki dengan tatapan mata yang begitu hangat dan penuh kasih.

Jepret!

Momen indah itu berhasil ditangkap oleh lensa kamera. Sebuah foto yang begitu sempurna tercetak kemudian—menampilkan dua insan yang saling tersenyum dan saling mengasihi di tengah perpisahan yang kian dekat.

Yuki menerima foto fisik tersebut dari anggota OSIS. Setelah memperhatikannya sejenak, ia menyerahkan foto itu langsung ke telapak tangan Akira. "Simpan ini baik-baik. Bawa pergi ke Swiss nanti, supaya di sana kamu selalu ingat kalau ada aku di sini."

Akira menatap foto di tangannya, lalu mengangguk mantap sambil memasukkannya ke dalam dompet.

Hari makin sore. Akira kemudian mengajak Yuki, Nana, dan Yasiro untuk datang ke rumahnya menggelar pesta kecil perayaan kelulusan. Sesampainya di rumah Akira, mereka saling bahu-membahu menyiapkan masakan, merapikan meja makan, dan memutar musik santai. Rumah yang biasanya sepi itu mendadak penuh riuh tawa.

Ibu Akira yang baru saja pulang dari tempat kerja tampak terkejut sekaligus bahagia melihat suasana rumahnya yang hangat dan rame oleh kehadiran kawan-kawan anaknya. Beliau menyapa mereka dengan ramah dan ikut menikmati momen kebahagiaan tersebut.

Malam pun makin larut. Setelah perut kenyang dan canda tawa mereda, Nana dan Yasiro pamit untuk pulang lebih dulu. Tinggallah Yuki yang juga harus segera kembali ke rumah.

Akira mengenakan jaketnya, berjalan keluar rumah untuk mengantar Yuki pulang. Di bawah remang lampu jalanan malam dan sepoi angin yang dingin, mereka berdua berjalan bersisian menyusuri trotoar, jemari mereka saling bertaut hangat—menikmati setiap detik yang tersisa sebelum hari keberangkatan itu benar-benar tiba.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!