Indonesia
NovelToon NovelToon
Ternyata Aku Pewaris Ilmu Medis Kuno

Ternyata Aku Pewaris Ilmu Medis Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Balas Dendam / Penyelamat
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Arif Wicaksono, pewaris ilmu medis kuno dan ketua organisasi rahasia Biro Akasa, turun gunung hanya untuk dihina dan ditolak mentah-mentah saat menagih janji perjodohan dari Keluarga Baskoro. Namun, nasib justru membawanya bertunangan dengan Shinta Liem, gadis bawel berenergi Yin murni penawar racun di tubuhnya, sekaligus memulai perjalanannya membuat orang-orang sombong yang meremehkannya berlutut menangis darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Sinar matahari pagi menyinari halaman depan kediaman Keluarga Liem dengan sangat cerah.

Udara pagi ini terasa sangat segar dan sejuk, sangat kontras dengan hawa kematian yang sedang menyelimuti rumah Keluarga Baskoro.

Di teras depan yang luas, sebuah kursi kayu jati beralas bantal empuk sudah disiapkan.

Arif duduk bersandar di kursi itu dengan sangat santai menyilangkan kakinya.

Di tangan kanannya terdapat secangkir teh hijau hangat yang baru saja diseduh oleh pelayan.

Sruput.

Arif meminum teh itu pelan-pelan sambil menikmati hembusan angin pagi.

Di belakangnya, Nana berdiri dengan anggun memakai setelan jas kerja berwarna krem.

"Tuan Arif, satpam di pos depan baru saja melapor," ucap Nana membuka percakapan.

"Mobil Keluarga Baskoro sudah memasuki kawasan perumahan ini dan akan tiba dalam dua menit."

Arif hanya tersenyum tipis mendengar laporan tersebut.

"Bagus, suruh semua pelayan dan tukang kebun berkumpul di halaman depan sekarang," perintah Arif datar.

"Buka gerbang utamanya lebar-lebar, kita akan menyambut tamu agung kita hari ini."

Nana mengangguk hormat dan segera memberikan instruksi kepada kepala pelayan melalui alat komunikasi.

Tidak lama kemudian, puluhan pekerja rumah Keluarga Liem berkumpul berbaris di halaman.

Mereka saling berbisik bingung, tidak tahu ada acara apa pagi-pagi begini harus berkumpul di luar.

Tap. Tap. Tap.

Shinta berjalan keluar dari pintu utama dengan wajah mengantuk dan rambut yang sedikit berantakan.

Gadis itu memakai piyama tidur bergambar kelinci pink kesukaannya.

"Ada apa sih ini pagi-pagi ribut sekali di depan?" keluh Shinta mengusap matanya.

"Kak Nana tidak berangkat ke kantor? Lalu kenapa si udik ini duduk santai di sini seperti raja?"

Arif menoleh dan menatap penampilan Shinta yang berantakan dari atas ke bawah.

"Pakaianmu itu jelek sekali Nona cerewet, kau terlihat seperti anak TK yang baru bangun tidur," ledek Arif santai.

Shinta langsung melotot dan rasa kantuknya hilang seketika.

"Hei! Ini piyama mahal tahu! Kau saja yang seleranya kampungan!" balas Shinta tidak terima.

"Sudah, sudah, kalian ini kalau bertemu pasti bertengkar terus," lerai Nana sambil tersenyum geli.

"Shinta, duduklah di kursi sana, sebentar lagi akan ada pertunjukan yang sangat menarik."

Shinta mengerutkan kening bingung, tapi dia tetap menarik kursi dan duduk di sebelah kakaknya.

"Pertunjukan apa? Ada topeng monyet yang lewat di depan rumah ya?" tanya Shinta asal tebak.

Brummm! Ciiiit!

Suara mesin mobil mewah terdengar mendekat dan berhenti tepat di depan gerbang utama Keluarga Liem yang terbuka lebar.

Itu adalah mobil sedan hitam keluaran terbaru milik Rizki.

Namun kali ini tidak ada iring-iringan puluhan pengawal seperti kemarin pagi.

Hanya ada satu mobil itu saja yang datang dengan sunyi.

Pintu penumpang bagian belakang terbuka dengan sangat pelan.

Tap.

Seorang wanita berpenampilan sangat mengenaskan turun dari mobil tersebut.

Rambutnya acak-acakan tidak disisir, wajahnya pucat pasi, dan matanya sangat bengkak karena menangis semalaman.

Pakaian yang dikenakannya kusut dan kotor, jauh dari kesan elegan seorang pewaris keluarga kaya.

Itu adalah Hana Baskoro.

Di belakangnya, Rizki menyusul turun dengan wajah menunduk menahan rasa malu yang luar biasa.

Rahang Rizki masih terlihat bengkak kebiruan akibat tamparan keras Arif kemarin.

"I-itu kan Nona Hana dari Keluarga Baskoro! Ya ampun, kenapa penampilannya seperti gembel begitu?" bisik salah satu pelayan terkejut.

Shinta juga langsung menutup mulutnya karena syok melihat kondisi musuh sosialitanya itu.

"Hana? Kenapa dia datang ke sini dengan keadaan begitu?" tanya Shinta pada kakaknya.

Arif meletakkan cangkir tehnya ke atas meja kecil di sampingnya.

"Tonton saja harimau betina, kau akan melihat bagaimana harga diri orang sombong dihancurkan," jawab Arif dingin.

Di depan gerbang, Hana berdiri mematung menatap jarak dari gerbang menuju teras tempat Arif duduk.

Jaraknya sekitar dua puluh meter melewati jalan setapak berbatu dan rerumputan.

Kaki Hana bergetar hebat, air mata kembali menetes membasahi pipinya.

"R-Rizki, aku tidak bisa melakukannya," rintih Hana memegang lengan suaminya.

"Semua pelayan Keluarga Liem melihat kita, aku sangat malu Rizki!"

Rizki mengertakkan giginya menahan amarah dan rasa malu yang sama besarnya.

"Lakukan saja Hana! Kalau kau tidak merangkak sekarang, ayahmu akan mati siang ini!" desis Rizki dengan suara serak.

"Kau mau kehilangan semua harta warisanmu dan jatuh miskin?! Cepat berlutut!"

Mendengar kata jatuh miskin, tubuh Hana langsung bereaksi.

Egonya hancur lebur terkikis oleh ketakutan yang mendalam.

Perlahan-lahan, Hana menurunkan tubuhnya ke tanah.

Bruk.

Lutut gadis arogan itu akhirnya menyentuh jalan aspal di depan gerbang rumah Keluarga Liem.

Semua pelayan yang menonton langsung menahan nafas saking terkejutnya.

Pewaris Grup Mahakarya yang terkenal sombong itu kini berlutut di depan rumah mereka!

Srek. Srek.

Hana meletakkan kedua telapak tangannya ke tanah dan mulai merangkak maju seperti seekor anjing yang menurut.

Setiap pergerakannya terasa sangat menyiksa batin dan fisiknya.

Batu-batu kerikil di jalan setapak itu menggores lutut dan telapak tangannya hingga berdarah pelan.

"Hiks... hiks..." suara isak tangis Hana terdengar memilukan memecah keheningan pagi.

Rizki berjalan kaki mengikuti istrinya dari belakang dengan kepala tertunduk dalam.

Shinta yang melihat adegan itu sampai merinding dan meremas ujung piyamanya.

Gadis itu menoleh menatap wajah Arif yang duduk diam bagaikan patung es.

Tidak ada rasa kasihan sedikit pun di wajah pemuda itu, matanya sangat datar dan mematikan.

"Dia benar-benar membuat Hana Baskoro merangkak," batin Shinta takjub dan sedikit takut.

"Pemuda udik ini ternyata punya aura raja yang sangat kejam kalau sedang marah."

Srek. Srek.

Hana terus merangkak sedikit demi sedikit mendekati teras.

Riasan wajahnya luntur oleh air mata dan keringat, membuatnya terlihat sangat menyedihkan.

Setelah lima menit yang terasa seperti di neraka, Hana akhirnya sampai di anak tangga terbawah teras.

Tepat di bawah ujung sepatu Arif.

Hana menundukkan kepalanya dalam-dalam menyentuh lantai marmer yang dingin.

"T-Tuan Arif..." suara Hana keluar dengan sangat lemah dan serak.

Arif tidak menjawab, dia malah mengambil cangkir tehnya lagi dan meminumnya dengan pelan.

Seolah-olah wanita yang sedang bersujud di kakinya ini hanyalah debu yang tidak kasat mata.

Hana menggigit bibirnya sampai berdarah karena merasa sangat diabaikan.

"Tuan Arif... tolong... tolong ampuni aku," ucap Hana lagi dengan suara sedikit dikeraskan.

"Aku minta maaf karena sudah merobek surat perjanjian gurumu."

Arif meletakkan cangkirnya hingga menimbulkan suara benturan kecil.

Trak.

"Kau bilang apa barusan? Aku tidak dengar," ucap Arif dengan nada mengejek.

"Suaramu lebih kecil dari dengungan lalat yang mau mati."

Rizki yang berdiri di belakang Hana langsung mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan emosi.

Namun dia tidak berani berbicara sepatah kata pun karena takut ditampar lagi.

Hana menarik nafas panjang dan memejamkan matanya, membuang sisa-sisa harga dirinya ke tempat sampah.

"Aku salah Tuan Arif! Aku minta maaf! Aku ini wanita bodoh yang sombong!" teriak Hana sambil menangis sejadi-jadinya.

"Tolong selamatkan ayahku! Ayahku sudah muntah darah hitam dan sekarat!"

"Aku rela melakukan apa saja asalkan kau mau ikut ke rumah kami dan mengobatinya!"

Tangisan Hana bergema di seluruh halaman rumah tersebut.

1
Was pray
Shinta itu tipe wanita keras kepala tapi ceroboh dan agak lambat berpikir
Was pray
pemimpin naga hitam jenis biji-bijian kah Thor?
Was pray
gak apa2 Shinta.. anggap aja rekreasi ke pelabuhan tanjung Priok , kamu kan wanita hebat yg gak butuh nasehat orang lain.. 🤭
Was pray
emang Arif dan Shinta kuliahnya di rumah sakit? waduh .. ambil fakultas apaan Arif nanti?
Was pray
kenapa bos preman kalau gak plontos ya botak? gak ada yg ganteng kah si bos preman Thor? 🤭🤭
Was pray
cek cek.... 👎 MC nya kuat sih... tapi mulutnya perlu dipemak ulang
Was pray
kurang didikan Budi pekerti kah Arif?
kayra lubna
Cerita yang sangat unik,ada percintaan,pengobatan,seni bela diri,sangat memuaskan hati untuk dibaca...mantaaaap👍
kiyoe: terimakasih kak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!