Riza, Dian dan Indra melakukan perjalanan bersama dengan luka hatinya masing-masing. Riza yang memiliki kehidupan sempurna tiba-tiba terpuruk karena papanya terlibat kasus suap dan patah hati ditinggalkan sang kekasih. Dalam perjalanannya ia dipertemukan dengan Dian -seorang gadis miskin yang berjuang untuk memperoleh pendidikan tinggi- dan Indra -seorang anak konglomerat yang terbuang dan hidup sebagai peneliti lingkungan. Mereka memutuskan untuk melakukan perjalanan bersama mencari makna cinta yang sesungguhnya.
Bagaimanakah mereka berjuang mengatasi konflik dan masalah dalam perjalanan mereka? Apakah sebuah perjalanan mampu menyembuhkan luka? Adakah kebersamaan melahirkan cinta atau malah menorehkan luka baru bagi sang pencinta?
Marilah kita bicara cinta dari sudut pandang yang berbeda
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya-senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Indra
Dian tertegun ketika mereka berhenti di sebuah rumah besar 2 lantai yang bercat putih tulang. Ada pos Satpam di sebelah pagar tinggi dari besi yang didesain dengan motif mirip kayu.
"Anda telah sampai. Lokasi yang anda tuju berada di sebelah kiri." Begitu bunyi suara lembut yang memandunya dari google maps.
Riza juga sama tertegunnya. Dia kira akan menjemput Indra di tempat kost. Tapi rumah besar di hadapannya tak tampak seperti tempat kost. Apakah ini rumah orang tua Indra?
"Alamatnya sama dengan yang diberitahu Indra. Memang ini rumahnya."
"Nggak nyangka ya, Cak. Mas Indra kelihatan orangnya sederhana banget. Ternyata dia anak orang kaya." Dian menggeleng-gelengkan kepalanya. Sungguh takjub melihat rumah besar yang baginya seperti istana megah berarsitektur klasik. Atapnya tampak menjulang karena mengadopsi atap rumah joglo.
Seorang petugas keamanan rumah membuka sedikit pintu gerbang, mengintip, lalu menghampiri mereka yang masih meragu.
"Selamat sore. Ada perlu apa anda berhenti di depan rumah majikan kami?"
"Selamat sore, Pak. Apa betul ini rumah Indra? Saya Riza, temannya dari Surabaya."
"Ya, betul. Anda sudah ada janji dengan den Indra?"
"Ya. Tentu saja."
"Den Indra tidak sedang ada di rumah. Silakan masuk! Kalian bisa menunggu di teras. Saya akan menghubungi den Indra. Mungkin sebentar lagi den Indra pulang." kata bapak berusia separuh baya itu sebelum membalikan tubuh untuk membuka lebih lebar pintu gerbang yang tinggi dan kokoh itu.
Petugas keamanan itu masih kelihatan sedikit ragu namun ia memutuskan untuk memberi kesempatan keduanya paling tidak memasukan mobil ke halaman rumah yang luas itu dan menunggu Indra di beranda rumah.
Tak lama setelah mobil jeep mereka masuk, terlihat ada orang yang mengendarai motor matic besar masuk ke halaman. Itu Indra.
"Hai, selamat datang Riza dan Dian. Wellcome to Yogya." sapa Indra sambil tersenyum riang. Ia masih berada di atas motor maticnya.
"Hai."
Dengan cepat Indra turun dari motor maticnya lalu berjalan menghampiri Riza dan Dian yang telah berada di beranda rumahnya.
"Masuk yuk!" ajak Indra setelah menyalami keduanya. Ia merangkul bahu Riza dan membukakan pintu rumahnya untuk mereka.
"Gimana? Nyasar nggak kalian?"
"Enggak."
"Ini rumah kami. Aku tinggal hanya dengan bunda."
Dian tersenyum.
"Sebenarnya aku punya adik, tapi sekarang sedang kuliah di luar negeri. Dia ambil kuliah bisnis di Harvard university seperti saudara-saudaraku yang lain. Hanya aku yang kuliah di universitas negeri sendiri dan ambil jurusan kehutanan yang tidak populer. Kalau saja bapak presiden kita yang sekarang bukan lulusan fakultas kehutanan, barangkali pamor jurusanku bakal tenggelam terus hahahaha. Bagaimana dengan kamu Di? Kamu baru lulus SMU kan?"
"Dia sudah diterima di fakultas ekonomika dan bisnis lewat jalur SNPTN di Surabaya, Ndra." jawab Riza.
"Wuih, keren."
"Iya. Tinggal nunggu biayanya aja belum kumpul." jawab Dian malu-malu.
Indra mengernyitkan dahi.
"Masih cari beasiswa?"
Dian mengangguk.
"Agak susah memang kalau tahun pertama cari beasiswa. Tapi kalau kamu mau nanti aku coba bantu ajukan ke perusahaan yang peduli mahasiswa baru."
Dian tersenyum. Alhamdulillah dapat informasi beasiswa lagi dengan berteman. Semoga saja ada rejekinya.
Ruang tamu rumah Indra cukup besar. Sofanya juga besar-besar. Dian belum pernah melihat sofa sebagus itu. Plafon rumahnya cukup tinggi. Mungkin sekitar 4 meter tingginya. Ada hiasan lampu kristal yang tergantung dengan elegan di tengah ruangan. Seperti rumah orang kaya yang dilihatnya di televisi atau konten youtube yang memamerkan arsitektur dan interior rumah-rumah megah orang yang super kaya.
"Silakan duduk! Aku tinggal cuci muka dan ganti baju dulu sebentar ke atas ya."
Riza tampak terbiasa dengan suasana rumah itu. Hanya Dian yang tampak norak. Ia memperhatikan detail interior dan barang-barang yang menghias rumah itu dengan pandangan takjub. Karpet yang diinjaknya begitu lembut. Dian belum pernah melihat barang-barang bagus seperti itu. Orang kaya di kampungnya juga tidak memiliki barang-barang sebagus barang di rumah Indra.
Seorang perempuan cantik setengah baya muncul dari sebuah kamar di sebelah kiri ruang tamu. Perempuan itu menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan remeh. Entahlah. Mungkin karena penampilan Dian terlalu lusuh.
"Eh, ada tamu. Temannya Indra?"
"Iya, Tante."
"Sepertinya baru kali ini ke sini ya?"
"Benar. Kami dari Surabaya, Tante. Mau penelitian bareng Indra."
"Oohh. Ke hutan-hutan?"
Riza tersenyum.
"Indra memang suka hutan sejak dulu gara-gara pernah diajak ayahnya ke perkebunan sawit kami yang di Jambi dan Bengkulu. Para penjaga kebun suka mengajaknya berburu babi hutan di hutan sekitar perkebunan. Sejak SMU dia sudah aktif jadi pencinta alam."
Riza manggut-manggut. Dian pun ikut manggut-manggut. Padahal bundanya Indra lebih suka bicara dengan hanya menatap Riza. Dian sama sekali tak dipedulikannya. Itulah sebabnya Dian lebih suka jadi pendengar saja. Takut tuan rumah tidak berkenan dengan dirinya yang hanya remah-remahan krupuk.
"Kamu juga jurusan Kehutanan?"
"Bukan, Tante."
"Pencinta alam?"
"Saya dan Indra akan melakukan penelitian kolaborasi. Penelitian saya lebih ke mendalami aspek sosial dari perhutanan rakyat, Tante. Berbeda dengan yang dilakukan Indra yang konsen pada aspek lingkungan hidup. Hasil penelitian kami ke depannya akan dikolaborasikan agar pemerintah dan stakeholder tahu arti penting hutan dan bagaimana cara menjaga kelestarian hutan tanpa menganggu aspek sosial ekonomi masyarakat sekitar hutan."
Kini bunda Indra yang manggut-manggut.
"Mereka akan training 3 hari untuk penelitian kami di sini, Bun. Boleh kan kalau selama training mereka tinggal di rumah kita?" Tiba-tiba Indra muncul dengan kaos oblong dan celana selutut. Dia terlihat lebih segar dan santai turun dari tangga.
"Ohya? Silakan! Kebetulan besok Bunda mau ke Jakarta."
"Kenapa mendadak, Bun?"
"Bunda diundang pesta ulang tahun mami Chou. Kalian teruskan saja ngobrolnya, Bunda mau ke belakang dulu." ucapnya ramah, tapi masih terlihat memandang Dian dengan tatapan sinis, penuh curiga.
Akh, memang bingung bagaimana harus bersikap di depan perempuan kaya. Mungkin ada banyak manner yang Dian tidak pahami. Konon kabarnya orang orang kaya itu punya banyak aturan dan sopan santun yang berbeda dengan orang kebanyakan. Bahkan kata orang sampai ada lembaga pendidikan khusus yang memberikan kursus mahal soal hal tersebut. Tentu saja Dian tak pernah tahu. Jangankan menginjakan kaki di pusat pendidikan etika, waktu hidupnya selama hanya habis untuk bekerja agar hari ini bisa makan dan belajar agar bisa melanjutkan pendidikan formal setinggi yang ia mampu.
Seorang asisten rumah tangga datang membawakan mereka camilan dan satu teko bening air teh yang masih ngebul. Asapnya menghantarkan wangi teh melati yang segar.
"Minum dulu, Yuk!" ajak Indra sambil menuang teh ke dalam cangkirnya.
"Kalian menginap di sini ya selama pelatihan. Ada banyak kamar nganggur di sini. Rumah ini baru selesai direnovasi beberapa bulan lalu karena bundaku memutuskan tinggal di Yogya setelah ayahku meninggal. Sebenarnya aku nggak setuju bunda buat rumah sebesar ini. Mubazir karena kenyataannya kami jarang ada di rumah. Bunda masih sering ke Jakarta buat mengawasi bisnis pusat kecantikannya. Sedangkan aku lebih suka jalan-jalan keliling Indonesia." ujar Indra santai. Enak sekali hidupnya. Kelihatannya tidak ada beban, santai namun terarah.
asli kecewa