"Tugasmu mengambil hati anakku, bukan hatiku."
Aqeel Hafshan, seorang Mafia yang menjadi incaran para penjahat di dunia kriminal. Demi melindungi istrinya, Aqeel merahasiakan keberadaan istrinya dan menyembunyikannya di negeri asal sang istri, Indonesia.
Aqeel tidak mau memiliki anak dari siapapun, termasuk dari Maura, istrinya. Saat Maura hamil, Aqeel menyuruh istrinya menggugurkan anaknya. Karena mendapati penolakan dari sang istri, Aqeel yang kesal memutuskan untuk tidak pernah melihat wajah sang anak, sampai sang anak berusia 5 tahun.
Maura hilang secara misterius dan dikabarkan terbunuh. Setelah terpuruk selama dua tahun Aqeel memutuskan untuk menjadi Daddy yang baik untuk Aqilah, putrinya yang sudah dia telantarkan selama tujuh tahun karena benci dengan kehadiran seorang anak.
Karena Aqilah kecil kesepian, Aqeel ingin mencarikannya seorang Ibu. Hanya seorang Ibu untuk Aqilah, tanpa Aqeel nikahi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olla304, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
"Kenapa aku kesal melihat perutmu membesar?"
Aqeel mencibir kesal, tatapannya tajam ke arah perut Maura yang bulat.
"Maksudmu, aku tidak terlihat seksi lagi?" Maura tersenyum tipis. Tangan mungilnya mengusap perutnya dengan lembut.
"B*ngs*t kecil yang menumpang di sini\, membuatmu tidak seksi." Aqeel menjetikkan jemarinya di perut Maura. Tatapan lelaki itu begitu tajam.
Tangan Aqeel sudah mengepal, Yudhistira yang khawatir sengaja mengerem mendadak agar Aqeel mengurungkan kelakuannya. "YUDHIS!" Aqeel berteriak kesal saat lelaki itu dan istrinya terjungkal. Kepala Maura menabrak kaca mobil dan Aqeel menindih perut bulat Maura menggunakan tubuh besarnya. Yudhis terlihat merasa bersalah dan takut, niatnya membantu Maura dan kandungannya, lelaki itu malah memperumit semuanya.
"Kamu tidak apa-apa?" Aqeel terlihat takut perut Maura kempes karena tertindih. Lelaki itu refleks mengusap perut Maura. Yudhis yang terlanjur ketakutan berhenti di tempat dan tidak melajukan kembali mobil.
Maura mengulum senyum, sebenarnya Aqeel tidak membenci bayi ini. Lelaki itu cukup perhatian.
"Tidak apa-apa."
"Kamu ingin membunuh istriku, hah?!" Aqeel berteriak keras membuat Yudhis merinding. Lelaki bertato itu masih meneriakinya. Aqeel menarik kerah baju Yudhis membuat lelaki itu tercekik. Aqeel menubrukkan kening lelaki itu ke setir mobil, sontak membuat Maura menjerit. "HENTIKAN! Suamiku!" Maura menahan tubuh jangkung Aqeel yang baru saja hendak mengulangi benturan. Yudhis terlihat mengalah. Dia bisa saja melawan meskipun belum tentu menang, tapi Yudhis sangat berhutang-budi kepada Aqeel.
"Sabar, tenangkan dirimu." Maura berusaha membujuknya. Aqeel terlihat patuh, apalagi sentuhan halus Maura yang mengusap dada bidangnya membuat lelaki itu luluh. Yudhis berusaha bangkit, kepalanya berdarah membuatnya pening. Yudhis meraih setir, hendak melajukannya kembali.
Mata Aqeel masih menyala-nyala membuat Maura khawatir. Wanita itu mengencangkan pelukannya ke tubuh besar Aqeel, menciumi leher dan rahang bawahnya. Aqeel tidak jadi marah, lelaki itu menutup matanya, seperti menikmatinya. Tangan besar Aqeel mencari-cari sesuatu yang bisa diremuk. Pinggang Maura diremuknya kuat sambil memejamkan mata, menghayati kecupan Maura.
Tangan Aqeel berpindah ke perutnya membuat Maura menelan ludah. Remukan Aqeel sama kuatnya di sana. Maura meraih tangan Aqeel hati-hati lalu dipindahkannya ke tempat lain.
"Kamu tidak bosan di sana terus?" Aqeel menghela napas kesal, mata lelaki itu terbuka. Peluh membasahi keningnya. Aqeel memang suka jika bibir Maura ada di rahang dan lehernya. Tapi Aqeel memiliki banya tempat untuk dijamah.
"Pipi?" Maura bertanya.
"Dimana saja, asal semuanya kebagian." Maura mengulum senyum. Dikecupnya pipi Aqeel yang dialiri keringat dingin. Maura sedikit mengendus aroma keringat dan rasa asin yang singgah di bibirnya.
Setelah memastikan semua situasi membaik, Yudhistira menancap gas dan mulai melajukan mobilnya kembali. Untung ada Maura, jika tidak mungkin Yudhis sudah babak belur dihajar di dalam mobil lalu ditinggalkan begitu saja di sana dalam keadaan pingsan.
Sesampainya di rumah, Alif dan Bu Nata menunggu ketakutan. Pasalnya mereka mengira Maura menghilang dan mencarinya ke sini. Baru saja hendak pergi, mobil yang dikendarai Yudhis sudah ada di perkarangan rumah. Bu Nata nyaris saja menangis saat melihat Maura baru saja turun dari mobil Aqeel. Wanita tua itu hendak menghamburkan diri ke pelukan Maura tapi tidak mungkin. Aqeel begitu lengket dengan wanita itu.
Bu Nata meneliti perut Maura dan ekspresi wajahnya. Takutnya Aqeel benar-benar nekat membawa Maura ke tempat aborsi. Masih berisi dan Maura terlihat baik-baik saja. Bu Nata menghela napas lega. Dia pikir, Aqeel langsung menyeret Maura ke rumah sakit untuk melakukan aborsi atau membunuh bayi itu sendiri saat mereka bertemu.
"Letakkan ini di dapur, untuk makan siang Maura nanti." Aqeel memberikan bungkusan makanan kepada Bu Nata. Bu Nata mengangguk dan menerimanya, wanita itu tergesa menuju dapur. Saat melewati Alif, Maura meliriknya lalu tersenyum menenangkan, mengisyaratkan kepada Alif kalau dia baik-baik saja. Alif terlihat lega, menjadi tegang saat Yudhistira menatapnya tajam. Lelaki itu mendekati Alif yang langsung gugup. Yudhis menatap sekujur tubuh Alif dari atas sampai bawah.
"Apa hubunganmu dengan Nyonya Maura?"
Alif menoleh kesal, "apa maksudmu? Jangan menuduh kami ada serong."
Yudhis menyipitkan mata, "awas saja, kalau kamu berani suka dengan Nyonya Maura. Tuan Aqeel tidak segan akan membunuhmu dan seluruh keluargamu. Kamu tahu sendiri siapa dia."
Alif membuang napas kesal. "Aku tahu siapa aku, dan aku tahu itu tidak pantas. Jangan menuduh sembarangan."