Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Tanpa Restu

Cinta Tanpa Restu

Status: tamat
Genre:Romansa / Tamat
Popularitas:33.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mailiyana

Anindya Zahra Sakhi, Saat berusia 5 tahun ibunya meninggal dunia akibat kecelakaan tunggal. Beberapa bulan kemudian, Ayah Zahra membawa seorang wanita cantik bersama anak laki-laki berumur 10 tahun dan mengenalkannya sebagai calon ibu sekaligus abang tirinya.

Seiring berjalanannya waktu, Zahra kecil semakin dekat dengan Haris dan menganggap Haris sebagai abangnya kandungnya. Sampai usia remaja pun hubungan persaudaraan mereka sangat erat. Haris selalu menjadi pelindung bagi Zahra yang memiliki sifat manja dan selalu merasa ketergantungan terhadap Haris.

Sampai akhirnya, saat usia mereka mulai beranjak dewasa. Perasaan Haris terhadap Zahrapun berubah, timbulah benih-benih cinta Haris terhadap Zahra. Bukan lagi cinta seorang abang ke adik, tapi lebih dari itu.

Apakah Haris akan mengutarakan rasa cintanya terhadap Zahra? Bagaimanakah Respon Zahra jika mengetahui perasaan Haris yang sebenarnya? Dan bagaimana dengan kedua orang tua mereka yang pasti akan menentang hubungan terlarang tsb?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mailiyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 // PERASAAN TAK MENENTU

💕HAPPY READING💕

Pagi itu Zahra sudah rapi dan bersiap akan pergi kuliah. Saat dimeja makan, ia mendapati Haris dan Mamanya tengah sarapan dengan saling mengobrol. Melihat kedatangan Zahra, membuat Haris berhenti sejenak berbicara dan malah memfokuskan pandangannya kearah Zahra yang sudah terlihat anggun dengan gamis berwarna biru toscanya.

"Ehemmm... Ma, coba lihat. Apakah sudah lama Zahra berpenampilan seperti ini?" tanya Haris kepada Mamanya dengan sebuah senyuman khasnya yang sudah tergambar diwajah tampannya itu.

"Setelah kamu pergi kerja jauh, semenjak itulah Zahra berubah." jawab Elisa seadanya.

"Wow... Berarti kepergian Haris membawa pengaruh yang baik dong bagi Zahra." celetuk Haris lagi. Sedangkan Zahra, sama sekali tidak berkutik meskipun sedang dibicarakan. Ia tampak serius mengambil nasi goreng yang sudah dihidangkan dimeja makan.

"Kamu ada kuliah pagi ini?" Haris bertanya ke Zahra.

"Iya," Jawab Zahra dengan singkat dan padat. Entah kenapa moodnya pagi ini kurang baik, bawaannya kesal dan ingin marah. Tapi, tidak tahu mau marah dengan siapa. Zahra hanya bisa beristighfar didalam hati untuk mengusir rasa kesal dan marahnya itu.

"Mau bang Haris antar?" tawar Haris. Saat itu mereka sudah tinggal berdua di meja makan. Mama mereka sudah beranjak kedapur.

"Ngak usah bang, Zahra pergi pakai motor saja" jawab Zahra.

"Pakai motor? Emang kamu bisa?" tanya Haris merasa tidak yakin adiknya itu bisa bawa motor sendiri. Karena setahu Haris, Zahra tidak bisa mengendarai sepeda motor. Sejak dulu Zahra selalu diantar oleh supir ataupun dirinya jika mau ke sekolah.

"Alhamdulilah, sudah bisa." sahut Zahra dan dengan terus melanjutkan makannya.

"Siapa yang ngajarin kamu naik motor?" Haris terus - terusan bertanya yang sebenarnya Zahra merasa kurang nyaman diintrogasi seperti ini.

"Aisyah." jawab Zahra akhirnya.

"Oohh... Tapi, untuk hari ini biar bang Haris aja yang antar kamu ke kampus." putus Haris akhirnya yang langsung di tanggapi dengan pandangan protes oleh Zahra.

"NGAK, BANG!!!," kata Zahra setengah berteriak. Zahra pun tidak tahu mengapa ia tiba - tiba mengeluarkan suara yang melengking seperti itu dan sudah dapat dipastikan pasti suaranya terdengar sampai kedapur.

"Kamu kenapa, Zahra?" tanya Haris dengan gurat kebingungan dikeningnya.

"Kenapa ini? Kok teriak - teriak?" Tanya Mama mereka yang kembali lagi ke ruang makan. Benar dugaan Zahra bahwa suara teriakannya terdengar sampai kedapur.

"Entah Ma, Haris cuman mau nawarin diri untuk antar Zahra ke kampus. Tapi, entah kenapa Zahra malah berteriak bilang Ngak mau." jelas Haris.

"Kamu ada masalah, Zahra? Abang kamu kan nawarin baik - baik tapi kok respon kamu seperti itu? Mama perhatikan sejak tadi sikap kamu agak lain gitu, kamu lagi halangan ya?" tanya Elisa bertubi - tubi.

"Ngak, Ma. Maaf, bang Haris.." lirih Zahra akhirnya dengan rasa penyesalan dihatinya sebab belum mampu mengendalikan diri dari rasa amarah yang tiba - tiba saja menguasai dirinya.

"Oke, bang Haris maafin kamu. Tapi, ada syaratnya." ucap Haris kemudian.

"Apa?" tanya Zahra dengan penasaran.

"Kamu gak boleh tolak tawaran bang Haris untuk antarin kamu ke kampus hari ini." kata Haris dengan tersenyum penuh kemenangan.

"Tapi.."

"Sudahlah Zahra, kamu diantar Haris aja. Lagi pula udah lama juga kan kamu gak diantar abang kamu?" potong Mamanya yang seolah membela Haris dengan memberi ruang bagi abangnya itu untuk mengantar dirinya.

Akhirnya Zahra pun pasrah diantar Haris, padahal Zahra saat ini ingin sekali menjaga jarak dengan Haris. Karena tidak dipungkiri kata - kata Haris malam itu benar - benar mengganggu hati dan pikirannya. Dan Lagi - lagi, mampu membuat Zahra menjadi galau dan uring - uringan setelah itu. Zahra tidak ingin merasakan ini lagi sebenarnya, dia sudah tenang selama 6 bulan belakangan ini tanpa ada rasa galau dan rasa - rasa aneh lainnya.

"Kamu marah sama bang Haris ya, Zahra?" tanya Haris. Saat itu mereka sudah didalam perjalanan menuju ke kampusnya Zahra.

"Ngak kok bang, gak ada yang harus Zahra marah kan sama bang Haris." jawab Zahra.

"Iya, mungkin memang gak marah. Tapi, sikap mu yang dingin ini yang membuat Bang Haris jadi merasa lain." kata Haris.

"Kamu sepertinya Gak suka bang Haris balik lagi kesini? Iya kan?" tanya Haris yang masih terus - terusan menyudutkan Zahra.

"Entahlah Bang Haris, Zahra gak tahu!" ketus Zahra dengan melipatkan kedua tangannya di dada.

"Oke, bang Haris sudah tahu jawabannya." ujar Haris akhirnya dan kemudian mereka saling diam. Baik Zahra maupun Haris seakan enggan untuk memulai pembicaraan lagi. Meskipun dihati mereka masing - masing tidak ingin saling diam seperti ini.

Keheningan diantara mereka dipecahkan ketika terdengar bunyi deringan dari handphonenya Haris. Kening Haris berkerut saat sebuah nama muncul dilayar hpnya. Tapi, seketika itu pula Haris tampak menyunggingkan sebuah senyuman sebelum akhirnya ia mengangkat telepon dari seorang wanita.

"Halo, Assalamu'alaikum, Salwa.." Sapa Haris dengan suara yang lembut. Mendengar Haris menyebut nama wanita itu, membuat Zahra langsung menoleh kearahnya dengan tatapan lain.

"Oh, ini lagi dijalan. Kamu lagi dimana? Gak kerja hari ini?" tanya Haris lagi. Terdengar suara wanita menyahut dari ujung telepon sana, namun tidak begitu jelas tertangkap oleh telinga Zahra apa yang dikatakannya. Lagi pula Zahra tidak ingin menguping pembicaraan mereka berdua. Entah kenapa perasaan kesal plus jengkel tiba - tiba kembali merasuki jiwanya

"Mau ketemuan? Bisa... Kapan kamu mau?" Haris masih melanjutkan perbincangannya dengan Salwa, dan sekarang mereka berencana untuk ketemuan. Memikirkan dan membayangkan hal itu membuat perasaan Zahra semakin tak menentu. Cukup lama juga mereka saling mengobrol, Zahra hanya menggerutu didalam hatinya. Padahal sebelum - sebelumnya Abangnya itu paling gak suka mengangkat telepon jika sedang menyetir, tapi sekarang malah sebaliknya. Apa mungkin itu karena Wanita cantik itu yang menelponnya?

Akhirnya Haris selesai telponan dengan Salwa. Lelaki itu melirik sekilas kearah Zahra yang sedang mengarahkan pandangannya keluar jendela.

"Zahra, bang Haris ada rencana mau makan malam sama Salwa. Kamu mau ikut gak?" ajak Haris tiba - tiba. Ajakan abangnya itu benar - benar membuat hati Zahra bertambah gondok.

"Gak salah bang Haris ajak Zahra?" tanya Zahra dengan sinis.

"Apa salahnya ? Menurut bang Haris gak ada salahnya, kamu kan adik abang.." kata Haris dengan cuek.

"Jelas salah!!" ketus Zahra kembali membuang mukanya. Haris hanya tersenyum kecut melihat tingkah adik tirinya itu.

"Kamu tidak sedang cemburu kan, Zahra???" goda Haris yang membuat wajah Zahra langsung memanas bahkan memerah karena menahan kesal yang tidak terbendungkan lagi. Tapi, tetap ditahannya agar tidak terlihat dirinya memang sedang tidak baik - baik saja.

"Tidak ada alasan bagi Zahra untuk cemburu, bang Haris. Jadi, abang jangan kegeeran." Jawab Zahra dengan jutek. Haris hanya tersenyum tipis seraya mengangkat bahunya, dan setelah itu dia tidak lagi menggoda adiknya itu.

💕

💕

💕

💕

BERSAMBUNG...

1
Siti Zuriah
ga ada extra part nya nih thor
Ara Ramadhani
extra part dong.....
Keseruannya pernikahan mereka
Mailiyana: Oke Kak, siap
total 1 replies
Siti Zuriah
akhir nya papa adtya menyuruh haris untuk menikah dengan zahra asal papa adtya tdk memberikn persyaratan k haris
Siti Zuriah
lanjut
Siti Zuriah
smoga salwa yg membatal kn pernikahan nya dengan haris, cinta itu tdk bs d paksa kn
Siti Zuriah
yaahh... papa aditya knapa msh menyetujui haris menikah sm salwa knapa ga d batalin aja pernikahan nya dan merestui haris nikah sm zahra karna mereka kn udh ketauan bkn sedarah kn klo haris nikah sm zahra jd haris bs skalian bertanggung jwb sm perusahaan papa aditya udh gitu kn haris jg msh mencintai zahra
Siti Zuriah
semangat kaka lanjut lg
Mailiyana: Iya, terimakasih kak..
total 1 replies
Siti Zuriah
ydh zahra, haris perbaiki lg hubungan kalian dan jalin lg rasa cinta kalian sblm terlambat haris menikahi salwa
Siti Zuriah
pasti haris d larang pergi sm aditia dan jangan" haris dsrh menikah sm zahra
Nyi Arifin Bwi
lanjut Thor ..
Siti Zuriah
ayo delita km hrs ngomong jujur dan ungkap smua kebohongan elisa tentang haris k adtya klo haris itu bkn anak nya adtya dan elisa melainkn anak kandung delita
Siti Zuriah
mama elisa nafsu bngt si haris hrs tetap bertunangan sm salwa sampe hrs berbohong, itu kaka nya elisa mana si biar cpt ngbongkar kebohongan mama elisa
Siti Zuriah
sbnr nya haris itu msh ada rasa cemburu cuma dia pendam karna haris blm rahasia sbnr nya yg d simpen oleh delita smoga tante delita cpt membongkar rahasia itu dan itu yg manggil jngn" mama elisa ataw smoga tante delita yg manggil biar cpt terungkap rahasia itu
Siti Zuriah
brarti jahat jg mama elisa bnr kn haris bkn sekandung sm zahra dan haris bkn anak nya mama elisa dan papa aditia papa nya zahra jd zahra dan haris ga ada ikatan darah dan sbnr nya elisa itu punya rencana apa si sampe" haris ga boleh ada rasa k zahra dan elisa hanya setuju klo haris berhubungan dengan salwa kn kasian zahra d bikin sakit hati smoga status nya haris cpt terbongkar sm delita mama kandung nya haris agar haris dan zahra bs bersatu kembali menjalin hubungan
Siti Zuriah
eng ing eng pasti kn ini rahasia nya klo delita itu emang mama kandung nya haris ayo dong thor cpt buka rahasia besar yg delita simpen biar haris tau dan lisa bs malu akibat kebohongan nya
Siti Zuriah
waduuhh... jangan" haris bkn anak kandung mama elisa dan perempuan yg dtg itu mama kandung nya haris dan jg jangan" haris jg bkn anak kandung aditia jd elisa berbohong sm aditia nih
Diana Razma
suka sangat d tunggu thor
Mailiyana: Terimakasih kak, tunggu kelanjutannya ya..
total 1 replies
Siti Zuriah
percuma haris ingin membuka hati nya untuk salwa lg karna smua itu cuma pelampiasan haris aja k salwa karna haris kecewa dengan keadaan d keluarga nya pdhl hati haris msh ada nama zahra dan rasa cinta k zahra pun msh ada jd haris itu sbnr nya ga sungguh" ingin membuka hati nya bwt salwa
Siti Zuriah
siapa gerangan yg mengawasi zahra dan fauzal apa itu haris 🤔
Siti Zuriah
lg an si awal nya haris jg yg memberikn harapan dan rasa k zahra dan skrg haris jg yg akan menghapus harapan dan rasa d hati nya zahra itu emang memilukn bngt tp siapa tuh yg manggil zahra jangan" ade nya salwa yg manggil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!