Gadis cantik yang sejak bayi sudah tinggal di panti asuhan, tumbuh tanpa mendapat kasih sayang orangtua, dan ibu panti yang seharusnya menjadi orangtua pengganti untuk Arabella justru menjadikannya budak dan terus menyiksanya. Ia tidak bisa pergi kemanapun untuk menghindari penyiksaan ibu panti karna dia tidak punya siapapun lagi. Walaupun ibu panti sudah menyiksanya setidaknya ia sudah di rawat sejak bayi dan di beri makan sampai sekarang. Sudah 25 tahun Arabella tinggal di panti asuhan dengan semua penderitaan yang ia rasakan. Tapi ia punya mimpi ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia harus bahagia. Sampai akhirnya bukan kebahagiaan yang ia dapat justru ia malah di jual oleh ibu panti kepada mafia kejam bernama Jerome Bagaimana keadaan Arabella selanjutnya, apa penyiksaannya akan berlanjut di tangan mafia kejam tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ferina Anggraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berterimakasih
"Tidak, aku tidak pernah merayu gadis manapun. Yang aku katakan adalah kebenaran".
Arabella yang belum pernah merasakan ada di posisi ini merasa sangat canggung. Ia bahkan merasa aneh dengan perasaannya sendiri..
"Apapun itu, aku sangat berterimaksih pada tuan, karena sudah menyelamatkan saya dari pak josep".
"Kamu jangan memanggil saya tuan, saya kan pernah bilang nama saya Jerome".
"Ahhh iya tuan Jerome".
"Ihhhh". Jerome mencubit hidung Arabella.
Arabella langsung meringia memagangi hidungnya
"Gemes tau gak hahah".
"Aduhhh".
"Makanya jangan bikin aku gemes terus, panggil Jerome aja ya, coba panggil".
"Jerome".
"Nah itu pintar". Jerome mencubit pipi merah Arabella.
Jerome sering menyentuk pipi dan hidung Arabella, bukan tanpa alasan ia memang gemas dengan kepolosan Arabella.
"Dah tentang orangtua kamu itu, apa kamu tau nama mereka".
"Nama? Aku tidak tau".
"Nama saja kamu tidak tau, bagaimana aku bisa mencarinya".
"Tapi kamu sudah berjanji".
"Iya tapi pasti akan sulit sekali mencari orang tanpa nama, tanpa alamat saja sudah sulit".
"Tapi aku punya ini". Arabella mengeluarkan kalung pemberian orangtuanya.
"Apa ini?".
"Kalung yang di temukan di dekat surat bertuli Arabella di saat Marion menemukanku saat bayi".
"Boleh aku lihat"
"Ini". Arabella memberikan kalung itu pada Jerome.
"Biasanya kalau kalung pemberian itu ada tanda pengenalnya, coba aku cek".
Jerome memutar-mutar kalung Arabella, ia mencari sesuatu yang akan memudahkannya dalam pencarian.
"Kalung ini tidak ada tanda apapun".
"Ya memang tidak ada".
"Oke aku pinjam kalungnya, nanti aku sebarkan fotonya, jika orangtuamu melihatnya ia pasti akan langsung menghubungi nomor telepon yang akan aku sertakan"
"Apa bisa seperti itu".
"Ya kita coba saja. Kan tidak ada salahnya mencoba".
"Baiklah".
"Sudah sampai, ayo kita turun"
Mereka pun sampai di kediaman Jerome yang sangat megah dan mewah.
Saat baru sampai Arabella langsung di sambut dengan semua pelayan di rumah Jerome.
"Selamat datang nona, semoga cepat sembuh". Ucap salah satu pelayan.
"Terimakasih". Balas Arabella.
Arabella mulai memasuki rumah Jerome dan semua pelayan menunduk, karena merasa tidak enak, Arabellapun ikut menunduk.
"Apa yang kamu lakukan, angkat kepalamu" ucap Jerome.
Arabella pun langsung mengangkat lagi kepalanya, ia tersenyum kepada semua pelayan hingga semua pelayan merasa senang.
"Kenapa senyum-senyum kaya gitu". Jerome sangat aneh melihat tingkah Arabella itu.
Tanpa rasa ingin di hormati, Arabella terus tersenyum pada semua pelayan. Pelayan yang biasanya selalu mendapat perlakuan kurang enak dari manjikannya pun sangat senang dengan sikaf ramah Arabella.
Jerome pun mengajak Arabella naik ke atas. Ia ingin Arabella beristirahat dan akan memanggilkan dokter untuk memeriksanya.
"Kamu istirahat ya dokter akam segera datang". Ucap Jerome.
"Aku sudah sehat, aku tidak merasakan sakit".
"Ujung bibirmu masih lebam, itu harus di obati dulu".
"Baik lah".
"Aku akan mandi dulu untuk membersihkan diri"
Tanpa rasa ragu Jerome membuka baju dan celananya di depan Arabella.
"Ahhj apa yang kamu lakukan". Arabella menutup matanya dengan kedua tangan mungilnya
"Aku bilang aku mau mandi".
"Tapi kenapa membuka baju di sini".
"Kamu lupa, ini kamarku, aku bebas melakukan apapun".
"Tapi biarkan aku keluar dulu".
"Jangan, kamu harus tetap di sini, dan buka matamu".
"Aku tidak mau".
"Aku tidak pernah menerima penolakan, lepaskan tanganmu dari wajahmu, atau aku akan melakukan hal yang tidak kamu suka".
Arabellapun perlahan melepaskan tangannya dari wajahnya. Tapi matanya masih terpejam, melihat tingkah konyal Arabella Jerome pun tertawa.
"Gadis bodoh, ahahha".
"Sudah".
"Buka matamu, atau kamu akan menyesal".
Karena takut Arabella pun membuka matanya ia melihat Jerome dengan bertelanj*ng dad* dengan hanya memakai celana pendek.
Arabella yang belum pernah melihat pemandangan itu pun sangat kikuk dan merasa aneh. Ia melihat dada bidang Jerome yang sangat gagah, tubuhnya sangat bagus karena rajin berolahraga. Dad* roti sobeknya membuat mata Arabella ternodai.
Melihat ekspresi Arabella yang sangat lucu membuat Jerome tidak tahan ingin meremas wajahnya
"Hahaha kamu sangat menggemaskan". Jerome mendekati Arabella dan mengusap rambutnya.
Dad* Jerome malah berada di depan muka Arabella, karena Arabella sedang dalam keadan duduk di ranjang.
*ya tuhan perasaan apa ini, kenapa aneh sekali, dan jantungku kenapa rasanya ingin meledak* ucap Arabella dalam hati.
Akhirnya Jerome pun selesai mengerjai Arabella dan membuatnya salah tingkah.
"Kamu akan sering melihat ini setiap hari jadi biasakan dirimu". Jerome pun memasuki kamar mandi
Arabella langsung memegangi dadanya yang hampir lepas.
"Ahhh kenapa jantungku seperti ini, perasaan yang sangat aneh".
Arabella pun menarik selimut dan menutupi wajahnya karena merasa malu dengan apa yang baru saja ia lihat.
****
Selesai mandi Jerome kembali ke kamar dan ia melihat Arabella sedang menutupi tubuh dan wajahnya dengan selimut.
"Apa lagi yang gadis ini lakukan".
Jerome mendekati Arabella dan masuk ke dalam selimut.
Merasakan ada yang menyentuhnya Arabella pun mencoba menyingkir tapi langsung di peluk oleh Jerome.
"Ini aku, jangan bergerak , kita masuk ke dalam selimut sama-sama".
Jerome memeluk Arabella. Dari belakang ia sangat nyaman dengan posisi ini, tapi sebaliknya dengan Arabella.
"Kamu akan terbiasa, nikmati saja". Bisik Jerome di telinga Arabella.
Akhirnya Arabella pun membuat dirinya senyaman mungkin, Jerome pun merasakan itu dan tersenyum.
Jerome pun memejamkan matanya dengan posisi memeluk Arabella dari belakang.
Arabella yang mulai merasa nyaman pun ikut memejamkan mata dan beristirahat bersama menunggu dokter yang belum juga datang.
Tapi tak lama pelayan rumah mengetuk kamar Jerome karena dokter sudah datang.
"Permisi tuan, dokter edward sudah datang".
"Jerome dokter sudah datang katanya".
"Aku masih nyaman, biarkan dia menunggu dulu".
"Tapi".
"Sudah biarkan, aku masih ingin seperti ini". Jerome malah makin mengeratkan pelukannya pada tubuh Arabella.
"Bagaimana ko gak di buka-buka ya, apa tuan sedang tidur"..
"Dokter di tunggu sebentar ya, tuan belum keluar kamar".
Dokter edward sudah lama menjadi dokter keluarga Jerome. Jadi ia sudah sangat biasa menunggu saat Jerome memanggilnya. Bahkan ia sampai pernah tertidur pulas karena menunggu Jerome bangun dari tidurnya saat ia demam.
Sudah setangah jam, Jerome belum juga mau bangun. Padahal Arabella sudah tidak bisa memejamkan matanya lagi saat pelayan membangunkannya.
"Gimana ya caranya agar Jerome mau bangun". Arabella memikirkan cara
"Ahh aku tau".
Arabella memiliki ide.
"Aduhhhh sakit, aduhhhh sakit sekali".
Jerome yang mendengar rintihan Arabella pun langsung bangun dan menanyakan kondisinya.
"Ada apa, apa yang sakit".
"Kepalaku sakit sekali". Arabella memegangi kapalanya yang masih di perban.
"Dimana dokter, aku akan membawakan dokter, sebentar ya". Jerome langsung bangun dari ranjangnya dan keluar dari kamarnya ia sampai tidak sadar bahwa ia hanya menggunakan celana pendek.
"Jerome tunggu". Ucap Arabella.
"Ahhh dia tidak sadar keluar kamar hanya menggunakan celana pendek hehe".
"Dimana dokter". Ucap Jerome.
Pelayan yang melihatnya langsung melotot
Melihat reaksi pelayan yang aneh Jerome pun baru sadar bahwa ia keluar kamar hanya menggunakan celana pendek.
Jerome langsung menutupi bagian celananya yang menonjol dengan tangan.
"Tutup mata kalian semua". Jerome menunjuk-nunjuk pelayan.
"Iya tuan". Para pelayan langsung menutup mata dengan kedua tangannya.
"Panggil dokter ke kamarku sekarang juga".
"Baik tuan".
Jerome langsung memasuki kamar lagi, ia melihat Arabella sedang tersenyum.
"Kenapa tersenyum, kamu senang ya melihat aku malu, kenapa kamu tidak menahanku tadi dan memberitahu kalau aku hanya pakai celana pendek".
"Aku sudah memanggilmu tadi pagi kamu tidak mendengarnya". Arabella tersenyum lagi.
"Aku pakai baju dulu, dokter akan segera datang".
"Iya terimakasih".
Saat Jerome memakai baju. Arabella terus tersenyum bukan lagi soal Jerome yang keluar hanya pakai celana pendek. Tapi karena ia merasa sangat senang Jerome sangat perduli dan memperhatikannya, padahal ia hanya berbohong.