Raihan Anak kecil yang malang karena harus mengurus Adiknya yang masih bayi setelah ditinggal oleh Ibunya yang berselingkuh sehingga menyebabkan Ayahnya meninggal Dunia.
Setelah dewasa, Raihan jatuh cinta kepada Adik yang telah ia besarkan dan memutuskan untuk menikahinya karena Raihan tidak mau kehilangan Aisyah.
Apakah Raihan dan Aisyah akan tetap bersama, ataukah ada fakta lain tentang status mereka yang sebenarnya.
Baca kisah selengkapnya dalam "Cinta Terlarang"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rini Antika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 ( Kepercayaan Aisyah )
Raihan pulang ke rumahnya setelah selesai mengantarkan sayuran pesanan Bu Ima, dan Raihan sudah berencana untuk menanyakan kepada Aisyah tentang pendapatnya untuk mengantar jemput Ratna bekerja di Pasar.
"Assalamu'alaikum Sayang," ucap Raihan saat masuk ke dalam rumah.
"Wa'alaikumsalam. Ayah sudah pulang ya?" ujar Aisyah dengan mencium punggung tangan Raihan, dan Raihan membalas Aisyah bukan dengan mencium keningnya melainkan bibir Aisyah yang selalu terasa manis untuknya, sehingga Aisyah merasa malu.
"Ayah kok nakal sekali sih?" ujar Aisyah dengan memeluk tubuh Raihan yang selalu ia rindukan.
"Nakal sama Istri sendiri boleh dong. Oh iya, keadaan kamu gimana sayang, apa sudah lebih baik?" tanya Raihan dengan mengelus serta mencium perut Aisyah.
"Alhamdulillah, kami baik-baik saja Yah. Sekarang Aisyah udah gak terlalu pusing."
"Alhamdulillah kalau begitu. Sekarang sebaiknya kita makan siang dulu yuk, kasihan bayi kita pasti sudah lapar," ajak Raihan dengan mengeluarkan nasi bungkus pemberian Bu Ima dari kantong keresek.
"Yah, gimana warung Bu Ima rame gak?' tanya Aisyah.
"Dagangannya masih belum habis sayang, makanya Bu Ima merasa aneh karena kalau ada Aisyah di sana, dagangan pasti selalu habis bahkan sebelum Dzuhur," jawab Raihan.
"Kasihan juga Bu Ima. Kalau begitu besok Aisyah ke warung lagi buat bantuin Bu ima."
"Memangnya Aisyah sudah baik-baik saja? Kakak tidak mau kalau Aisyah sampai merasa kecapean."
"Aisyah sudah merasa baikan kok Kak, jadi Kakak gak perlu khawatir. Oh iya, apa Kakak sudah mendapatkan lowongan pekerjaan untuk Ratna?" tanya Aisyah.
"Sudah sayang, tapi Ratna mau bekerja asalkan Kak Raihan yang mengantar jemputnya."
"Ya sudah kalau begitu Kakak antar jemput Ratna saja," ujar Aisyah.
"Memangnya Aisyah tidak marah atau cemburu gitu kalau Kakak membonceng perempuan lain?" tanya Raihan.
"Aisyah percaya sama Kak Raihan, dan Aisyah yakin kalau Kak Raihan tidak akan berbuat macam-macam di belakang Aisyah. Kita juga banyak hutang budi sama Bu Ima Kak, beliau sudah sangat baik kepada kita. Anggap saja ini adalah balas budi kita terhadap Bu Ima, semoga saja dengan merasakan susahnya mencari uang, Ratna bisa berubah menjadi lebih baik lagi," ujar Aisyah yang di Amini oleh Raihan.
"Terimakasih ya sayang atas kepercayaannya, Kak Raihan janji tidak akan pernah mengecewakan Aisyah," ujar Raihan dengan membawa Aisyah ke dalam pelukannya.
......................
Keesokan paginya, Raihan dan Aisyah berangkat menuju warung Bu Ima, dan Ratna sudah terlihat berdandan dengan menor juga mengenakan pakaian seksi.
"Kamu mau ke kondangan ya Ratna?" sindir Raihan yang melihat Ratna dandan terlalu berlebihan.
Raihan dan Aisyah mengucapkan Salam serta mencium punggung tangan Bu Ima ketika melihatnya.
"Nak Raihan maaf ya kalau Ibu merepotkan," ucap Bu Ima, karena tadi malam Raihan sudah memberitahukan Bu Ima lewat telpon tentang Aisyah yang mengijinkannya untuk mengantar jemput Ratna.
"Tidak apa-apa Bu, Ratna sudah Raihan anggap sebagai Adik kandung Raihan sendiri. Kalau begitu kami pamit dulu ya. Sayang, Ayah pergi dulu ya, Sayang Ayah gak boleh nyusahin Ibu," ucap Raihan dengan mengelus serta mencium perut Aisyah yang sudah semakin membesar.
Ratna yang mendengar perkataan Raihan yang menganggapnya hanya sebagai seorang Adik saja merasa sakit hati.
Jadi selama ini kamu hanya menganggap aku sebagai Adik kamu saja Mas? padahal aku sangat mencintaimu Mas Raihan, ucap Ratna dalam hati.
"Nak, ini catatan sama uang untuk belanja, Ibu titip Adik kamu ya. Oh iya ini juga ada keranjang supaya kamu belanja lebih mudah, biar Ratna saja yang memegang keranjangnya di tengah," ujar Bu Ima yang sengaja memberikan keranjang tersebut sebagai penghalang tubuh Raihan dan Ratna, karena Ratna pasti akan memeluk Raihan jika tidak dihalangi oleh keranjang.
"Bu, kenapa sih harus bawa keranjang segala, biasanya juga Mas Raihan gak bawa keranjang," protes Ratna.
"Sekarang kan ada kamu yang bisa bawain, jadi nanti Raihan bisa lebih mudah masukin belanjaannya. Lagian kalian juga bukan muhrim jadi harus memakai penghalang supaya kulit kalian tidak bersentuhan," jelas Bu Ima, dan Ratna terlihat cemberut, sedangkan Raihan dan Aisyah tersenyum mendengar perkataan Bu Ima.
"Bu, kalau begitu Raihan berangkat sekarang ya, Raihan titip Aisyah dan jagoan yang ada dalam kandungan Bidadari Surga Raihan," ucap Raihan dengan tersenyum, kemudian mencium punggung tangan Bu Ima, lalu mengecup kening Aisyah sebelum pergi, sedangkan Ratna langsung saja naik ke atas motor tanpa mencium punggung tangan Ibunya terlebih dahulu.
"Ratna turun gak," ujar Raihan.
"Kenapa sih Mas?" tanya Ratna dengan kesal.
"Cium dulu punggung tangan Ibu kamu, kalau kita ingin rezeki kita lancar. Kamu juga harus bersikap sopan terhadap orangtua," ujar Raihan, dan akhirnya Ratna terpaksa kembali turun dari motor untuk mencium punggung tangan Bu Ima.
Bu Ima terlihat bahagia karena untuk pertama kalinya setelah Ratna dewasa, Ratna mau mencium tangannya.
"Hati-hati ya Nak, semoga pekerjaan kalian lancar," ujar Bu Ima, kemudian Raihan menyuruh Ratna mengucap Salam juga, dan setelah itu mereka berangkat menuju Pasar.
Setelah kepergian Ratna dan Raihan, Bu Ima mengajak Aisyah untuk masuk ke dalam warung.
"Nak, makasih ya karena Aisyah sudah mengijinkan Raihan untuk mengantar jemput Ratna," ucap Bu Ima.
"Ibu tidak perlu mengucapkan terimakasih kepada Aisyah, karena seharusnya Aisyah yang mengucapkan terimakasih kepada Ibu atas kebaikan Ibu selama ini."
"Sudah seharusnya kita saling membantu, lagian Ibu juga sudah menganggap Aisyah dan Raihan sebagai Anak kandung Ibu juga. Oh iya, Aisyah udah sarapan belum?" tanya Bu Ima.
"Sudah Bu, Aisyah dan Kak Raihan sengaja sarapan dulu sebelum berangkat ke sini."
"Ya sudah kalau begitu Aisyah istirahat saja ya, kasihan Aisyah juga baru sembuh," ujar Bu Ima dengan mengantar Aisyah menuju ruang keluarga yang bersebelahan dengan warung miliknya.
"Makasih banyak ya Bu, kalau Ibu perlu bantuan, Ibu panggil saja Aisyah," ujar Aisyah dengan duduk di atas kasur lantai.
"Iya sayang, nanti kalau Ibu ingin ke kamar mandi, Ibu pasti minta tolong sama Aisyah untuk menjaga warung. Sekarang Aisyah tiduran saja, pembeli juga baru sedikit. Kalau ada apa-apa Aisyah panggil Ibu saja ya," ujar Bu Ima.
"Terimakasih banyak Bu," ucap Aisyah dengan memeluk tubuh Bu Ima. Aisyah merasa terharu dengan perhatian yang diberikan oleh Bu Ima kepadanya, karena dari kecil Aisyah tidak pernah merasakan kasih sayang seorang Ibu.
"Kenapa Aisyah menangis?" tanya Bu Ima dengan mengelap airmata yang menetes pada pipi Aisyah.
"Semenjak Aisyah kecil, hanya Kak Raihan yang menjadi Ibu sekaligus Ayah untuk Aisyah, dan Aisyah tidak pernah merasakan kasih sayang seorang Ibu. Jadi, Aisyah merasa terharu dengan perhatian yang Ibu berikan kepada Aisyah, karena mungkin seperti ini rasanya kasih sayang seorang Ibu."