Indonesia
NovelToon NovelToon
Suami Cadangan

Suami Cadangan

Status: tamat
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Teman lama bertemu kembali / Tamat
Popularitas:12.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mahlina

Silfia Anjani, harus menerima pil pahit mana kala pernikahan yang ia impikan kandas di saat hari pernikahan.

Nandita Anjani, kaka kandung dari Silfia ternyata tengah mengandung 2 bulan, dengan pria yang tidak lain adalah calon suami Silfia.

Apa kah Silfia akan merelakan Wahyu Nugroho menjalani rumah tangga dengan Nandita, dan melabuhkan hatinya pada pria yang akan menjadi suami cadangan?

Cowok di larang komentar

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berstatuskan kaka ipar

...🥀🥀🥀...

"Mau kah kau menikah dengan ku? Menjadi ibu untuk anak anak ku? Menghabisi sisa hidup kita berdua sampai kita menua?"

"Jangan seperti ini, beruang! Aku tidak pantas di perlakukan seperti ini, kau bangun lah!" Silfia meraih bahu Teddy yang masih berlutut di hadapannya.

"Aku akan bangkit, jika kau mau menerima lamaran ku ini Fia!" seru Teddy dengan menatap Silfia dengan penuh harap.

"Tapi aku butuh waktu, beruang. Aku tidak bisa semudah itu mengatakan ia pada mu. Kau tahu kan rasa kecewa seseorang itu seperti apa? Aku hanya takut terpuruk untuk yang ke dua kalinya." ucap Silfia, dengan wajah penuh penyesalan, dengan secara tidak langsung Silfia menolak lamaran Teddy secara halus.

Silfia membatin dengan menatap Teddy dengan penuh harap, harapan agar bisa pria yang ada di hadapannya itu, bisa mengerti akan perasaannya kali ini.

Tolong mengerti lah aku, beruang... aku hanya takut mempermainkan perasaan mu, beruang. Aku takut hanya menjadikan mu pelarian dalam cinta. Meski kau cinta pertama ku, tapi aku lebih lama menjalin cinta dengan Wahyu, banyak waktu yang sudah ku habiskan dengannya berdua, kenangan indah ku bersamanya yang tidak mudah, untuk bisa ku lupakan begitu saja.

Teddy beranjak dari posisinya yang berlutut, membuat Silfia menggenggam kota kecil berwarna merah itu di tangannya.

"Kau simpan lah ini! Jika suatu saat nanti kau memakainya, bearti hati mu sudah siap untuk menerima ku!" seru Teddy dengan tatapan hangatnya.

"Tapi ---"

"Kau bisa membuangnya jika kau benar benar tidak menginginkan aku di sisi mu! Di saat itu pula aku akan menjauh dari ke hidupan mu, selamanya." terang Teddy lagi.

Mereka berdua makan malam bersama, dengan canggung. Makan malam romantis yang sudah di buat Teddy dan anak buahnya yang bekerja di restoran, kini menjadi makan malam yang terasa dingin dan sunyi.

Setelah makan malam Teddy mengantar Silfia kembali ke rumah. Selama perjalanan menuju rumah, suasana di dalam mobil begitu sunyi. Tampak ke duanya saling menyelami pemikirannya masing masing.

Sesekali Teddy menoleh ke wajah Silfia, dengan tangan yang pada setir kemudi, sebenarnya apa yang masih menjanggal dalam hati mu, Fia? Apa di dalam hati mu, kau masih mengharapkan pria brengsekkk itu meninggalkan kaka mu? Kembali pada mu? Kau sendiri yang melepaskan Wahyu untuk ke bahagiaan kaka mu, meski aku tidak tahu apa yang sebenarnya ada dalam benak mu. Tapi aku membenarkan ke putusan mu ini, Fia. Ke putusan untuk meninggalkan Wahyu. Ku harap suatu saat nanti kau dapat melihat ku yang selalu akan ada untuk mu.

Silfia membatin, dengan tangan yang menggenggammm kotak merah dari Teddy, harus nya aku menjadi wanita yang paling beruntung... bisa mengenal mu Teddy, bisa di lamar dengan mu, andai dulu kau tidak menghilang dari pandangan ku. Mungkin kita tidak akan merasa secanggung ini, sekarang kau bagaikan orang asing... padahal kita sudah mengenal sejak lama. Kau harus melihat ke gagalan ku naik pelaminan, dengan *pria yang aku cintai. Cinta? Apa aku masih bisa mengatakan perasaan ku untuk Wahyu adalah cinta?

Biar pun aku menjalani hubungan dengan Wahyu, tapi di hati ku masih terpatri nama mu, Teddy. Apa ini hukuman dari Tuhan untuk ku, karena dalam diam menghianati hubungan ku dengan Wahyu.

Cinta pertama ku! Kenapa di saat cinta pertama ku datang kembali, menginginkan ku, aku justru tidak menerimanya? Apa aku ini terlalu bodoh? Terlalu naif untuk membuka lembaran baru di waktu yang singkat ini? Wahyu dan ka Dita berhak bahagia, apa lagi ada benih yang akan tumbuh di rahim ka Dita.

Harusnya bisa memperkuat hubungan mereka, bisa membuat mereka menjadi keluarga yang bahagia, lalu aku? Apa aku tidak pantas untuk bahagia? Bagai mana aku menghadapi cemoohan orang orang? Menghadapi ejekin teman di kantor? Apa aku bisa berdiri sendiri, berjalan dengan kepala tegak? Atau aku akan berjalan menunduk, mengurung diri di dalam kamar untuk beberapa hari*?

"Jangan diam saja, Fia! Katakan lah sesuatu!" Teddy memecah ke sunyian di antara mereka. Membuat Silfia tersadar akan dari lamunannya.

"Apa yang harus aku katakan lagi, beruang? Aku sudah mengatakannya kan!"

"Jangan diam saja Fia. Pikirkan kembali perkataan ku, aku bukan lah Wahyu yang bisa merubah ubah perasaan ku dengan mudah, aku ya aku. Jangan kau sama kan sifat dan tingkah laku ku, dengan pria yang sekarang berstatuskan kaka ipar mu itu Fia!" ucap Teddy dengan tegas.

"Maaf beruang... mau tidak mau... pikiran ku pasti ke arah itu. Aku tidak ingin menyamakan mu dengan Wahyu, tapi pikiran buruk ku selalu mengarahkan ku ke sana. Aku ingin mempercayai mu, tapi sulit bagi ku!" ucap Silfia dengan jujur.

Teddy menoleh sesaat pada Silfia, dan kembali fokus pada setir kemudinya, bagai mana caranya aku bisa meyakinkan mu Fia? Bagai mana caranya aku bisa membuat mu membuka hati untuk ku, Fia!

"Hati hati!" ucap Silfia saat Teddy akan meninggalkan rumahnya.

"Kau istirahat lah! Masuk lah ke dalam rumah!" ucap Teddy dengan dingin.

Silfia memasuki pagar rumah yang menjulang tinggi, Teddy tidak dapat lagi melihat punggung Silfia, saat pagar rumah kembali di tutup pak satpam.

Teddy menyeringai, "Aku harus bisa membuat Silfia yakin untuk menerima ku! Aku tidak akan mungkin, membiarkan mu serumah dengan pria yang sudah memberi mu luka. Bagai mana pun juga pandangan mu pasti akan selalu melihat kemesraan mereka berdua."

Pagi harinya saat sarapan bersama.

Di meja makan sudah nampak semua orang berkumpul untuk menikmati sarapannya. Dengan bertambah dua orang baru yaitu je dua orang tua Wahyu. Namun di sana belum nampak pengantin baru. Wahyu dan Nandita.

"Ayo silahkan di nikmati hidangannya, pak besan!" seru Radi pada Eko, orang tua Wahyu.

Biar pun Radi tidak menyukai tingkah laku Wahyu, tapi untuk orang tua Wahyu. Radi masih bisa menjaga emosinya. masih bisa menghargai perasaan besannya itu.

"Maaf pak Radi, kami jadi merepotkan bapak dan ibu sekeluarga. Apa lagi kejadian kemarin, itu benar benar di luar perkiraan kami, pak, bu!" ucap Eko dengan segan.

"Jangan begitu, kita kan sekarang sudah menjadi keluarga besar, biar pun Wahyu tidak jadi menikah dengan Silfia. Wahyu tetap kan menjadi menantu di rumah ini!" seru Radi dengan tatapan yang sulit di artikan.

"Maaf kan perbuatan Wahyu yang sudah menyakiti mu ya, Silfia! Ibu yakin, ke salahan tidak sepenuhnya ada pada Wahyu." ucap Emi dengan yakin dengan menatap Silfia dengan tatapan teduhnya.

"Tidak usah di bahas lagi, bu... sekarang kita sarapan saja. Anggap semua angin lalu." ucap Silfia dengan menunjukkan senyum manisnya.

Silfia menelan salivanya dengan sulit, ada rasa sesak di dada, saat ia mengatakannya di hadapan orang tuanya dan di hadapan orang tua Wahyu, orang tua yang harusnya menjadi mertuanya.

Dari arah anak tangga, Nandita dan Wahyu melangkah bersama, bak pasangan yang paling bahagia. Menunjukkan kemesraan dengan tangan Nandita yang menggandeng lengan Wahyu.

"Maaf kami terlambat untuk sarapan." ucap Wahyu.

"Itu kan karena kamu, sayang! Kita jadi bangun terlambat!" ucap Nandita dengan manja.

"Kalian tidak usah banyak bicara! Jika ingin sarapan, cepat lah turun dan nikmati sarapan kalian berdua dengan tenang!" sungut Radi dengan tangan yang menggenggammm sendok dengan kencang, tatapan tajam pada Wahyu dan Nandita.

Silfia membatin, dengan menikmati sarapannya, aku harus bisa tenang Silfia, ingat ada papa dan ibu. Kau tidak sendiri, sabar. Ini akan berlalu dengan cepat. Kau bisa menghadapinya dengan mudah. Wahyu kaka ipar mu sekarang!

🥀🥀🥀 Bersambung 🥀🥀🥀

...🍂🍂🍂🍂...

Semoga kalian suka dengan ke haluan author gabut 🤭🤭

Jangan lupa like dan ti ggalin jejak komen, oke 😉

1
Rahma AR
like
lina: makasih Rahma
total 1 replies
Rahma AR
hehehe
lina: 😊😊😊🏃🏼‍♀️🏃🏼‍♀️🏃🏼‍♀️
total 1 replies
Rahma AR
semangat
lina: mksh 😊
total 1 replies
Rahma AR
salah besar mba e
lina: 😅😅🏃🏼‍♀️🏃🏼‍♀️🏃🏼‍♀️
total 1 replies
Rahma AR
semangar
lina: semangt rahma
total 1 replies
Rahma AR
bagus tuh
lina: 😅😅😅 makasih
total 1 replies
Rahma AR
semamat
lina: manget
total 1 replies
Rahma AR
like
lina: mksh rahma
total 1 replies
Lili Suryani Yahya
Acieeeeeeee
lina: mksh kk
total 1 replies
Ara Aulia
masa si itu anaknya u
lina: makasih
total 1 replies
Ara Aulia
🤔🤔 kayangnya uah yau deh
lina: makasih
total 1 replies
Rahma AR
like
Rahma AR
yes, baru.... selamat
Ara Aulia
eeet y silfia
lina: makasih
total 1 replies
Ara Aulia
baik bangt s bu bos
lina: makasih
total 1 replies
Ara Aulia
bos yg kaya gini pengertian bgt y
lina: makasih
total 1 replies
Ara Aulia
udah ketemu jodohnya bu
lina: makasih
total 1 replies
Ara Aulia
bner2 butuh waktu y sil
lina: makasih
total 1 replies
Ara Aulia
nah bner itu
lina: makasih
total 1 replies
Ara Aulia
😅😅 nguping gitu
lina: makasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!