Sheeva terpaksa menerima perjodohan yang direncanakan kedua orang tuanya. Suatu hari, dia memergoki Amaar tengah bercumbu mesra dengan seorang perempuan yang tak lain adalah sekretaris calon tunangannya itu. Merasa terhina, dia melabrak mereka dan mengancam akan memberitahu Damian bahwa pria pilihannya itu adalah lelaki berengsek. Namun, Amaar bersikap santai seakan tak merasa takut sebab tahu jika Damian tidak mudah percaya begitu saja tanpa ada bukti nyata.
Sheeva yang kesal pergi meninggalkan ruangan CEO dan meluapkan keluh kesahnya itu kepada Azam, sopir pribadi gadis itu. Akibat sering bertemu membuat benih cinta muncul di hati keduanya. Hingga akhirnya mereka memutuskan menjalin kasih di belakang orang tua dan calon tunangan Sheeva.
Lalu, bagaimana perjalanan cinta mereka? Akankah berakhir bahagia walau banyak ujian datang menghadang? Apakah orang tua Sheeva setuju saat mengetahui bahwa putri mereka menjalin kasih dengan seorang sopir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon senja_90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Insiden
Amaar yang melihat foto di ponsel Amora seketika terkejut. Sungguh, dia tidak menyangka jika Amora akan mengetahui dirinya tadi pergi menemui Sheeva. Namun, yang semakin membuatnya tidak mengerti adalah bagaimana bisa Amora mendapatkan foto itu.
"Jelaskan semua ini sekarang!" ucap Amora dengan nada tingginya.
Amora sungguh tidak peduli jika nanti kekasihnya itu akan marah karena yang terpenting untuknya saat ini adalah penjelasan dari semua foto itu. Walaupun tidak terlalu mesra, tetapi tetap saja dia merasa cemburu. Pertunangan antara Sheeva dan Amaar telah batal, tapi untuk apa Amaar kembali pada Sheeva? Amora sungguh tak habis pikir akan hal itu.
Amaar menatap bingung sekaligus heran ke arah Amora. Dia tak suka ketika Amora berteriak meminta penjelasan padanya. Padahal tanpa menggunakan nada tinggi seperti itu pun, Amaar akan tetap menjelaskannya.
"Kenapa kamu terlihat marah seperti itu? Aku akan tetap menjelaskannya. Jadi kamu tidak perlu khawatir seperti itu," kata Amaar tenang seperti biasanya.
Amaar mengatakan hal itu sebab dirinya merasa benar dan tidak melakukan kesalahan. Dia memang bertemu dengan Sheeva. Namun, untuk membicarakan hal yang penting, apalagi untuk Amaar.
"Jangan bertele-tele seperti ini, Amaar. Cepat jelaskan sekarang juga!" teriak Amora lagi.
"Apa ini alasan kamu mengelak aku hamil dan tidak mau bertanggung jawab? Lagi-lagi karena Sheeva?"
Amora benar-benar kesal sekarang. Amarahnya pun sedang tidak terkendali karena terlalu kesal melihat foto Amaar juga Sheeva. Terlebih Amaar yang tidak mau bertanggungjawab.
Amaar berdecak sebal mendengar perkataan Amora yang baginya cukup keterlaluan. Dia juga merasa aneh dengan sikap Amora kali ini. Pasalnya biasanya dia tidak akan pernah bersikap seperti ini padanya. Perihal anak yang ada dalam kandungan Amora, dia memang belum mempercayainya.
Tatapan tajam yang Amora perlihatkan membuat emosi dalam diri Amaar semakin membara. Kekesalannnya karena tingkah Sheeva yang menolak untuk kembali kepadanya dan sekarang ini karena tingkah Amora. Semua itu membuat Amaar semakin merasa kesal. Belum lagi ketika memikirkan tentang papanya, benar-benar membuat kepala Amaar terasa semakin pening.
Amaar melangkah mendekat ke arah Amora yang sedang berdiri dengan tangan yang bersedekap di dada. Tatapan tajam dan penuh intimidasi Amaar layangkan pada Amora.
"Jangan terlalu seenaknya padaku, Amora. Kamu tentu tahu jika aku tidak akan segan untuk melakukan sesuatu yang tidak pernah kamu sangka," bisik Amaar pelan, tetapi menusuk tepat di telinga Amora.
Amora sendiri yang mendapatkan perlakuan seperti itu seketika terdiam membisu. Jantungnya berdetak tidak keruan sekarang ini. Dia merasa merinding sekaligus terintimidasi akan tatapan yang Amaar berikan padanya.
Suara Amaar yang berat nan tegas membuat ketakutan dalam diri Amora kian membesar. Namun, sebisa mungkin Amora menyembunyikan rasa takutnya. Dia tidak ingin Amaar mengetahui kalau sekarang ini dirinya sedang merasa ketakutan.
"Aku dan Sheeva memang bertemu, tapi tidak ada yang kami lakukan. Kami hanya berbicara sebentar dan itu juga karena hal penting yang mana mengharuskan kami untuk membahasnya. Aku sama sekali tidak melakukan apa pun dengannya. Jadi, jangan terlalu berpikir buruk padaku," tutur Amaar lagi. Kali ini raut wajahnya terlihat cukup santai.
Amora sendiri masih terdiam membisu. Sudut kecil hatinya masih merasa tidak percaya dengan apa yang Amaar katakan padanya.
Amora mendongak, menatap tepat ke wajah Amaar yang memasang wajah datar. Amora memandang Amaar dengan raut wajah yang sulit diartikan. Setelahnya, dia terkekeh pelan lalu menggeleng.
"Kamu yakin hanya berbicara berdua dengan Sheeva. Lalu kenapa kamu terlihat begitu mesra dengannya? Aku tidak mungkin salah lihat, 'kan? Apalagi di foto itu kalian terlihat begitu mesra. Jadi tidak salah jika aku berpikir hal yang tidak-tidak tentang kalian? Apalagi kamu tidak mau tanggung jawab padaku," kata Amora pelan. Bahkan sangat pelan hingga terdengar seperti bisikan.
Amaar yang mendengar perkataan Amora semakin meradang. Dia sungguh tidak menyangka jika Amora akan mengatakan hal itu padanya. Dia tidak pernah mengira jika Amora tidak mempercayai dirinya.
"Sepertinya kamu memang harus diberikan pelajaran. Kamu terlalu lancang, Amora. Aku sudah mengatakan yang sejujurnya, tapi kamu malah tidak mempercayainya. Kamu benar-benar keterlaluan, Mora!" bentak Amaar. Pada akhirnya, pria itu tidak bisa menahan amarahnya lagi.
Amarah yang sedari tadi ditahannya kini meluap juga. Semua itu karena Amora yang terus saja menuduh dirinya melakukan sesuatu yang tidak-tidak dengan Sheeva. Padahal bukan seperti itu kenyataannya.
"Tapi di foto itu terlihat jelas, Amaar! Kamu bersikap romantis pada Sheeva!"
Amora sama sekali tidak gentar walau mendengar bentakan yang Amaar berikan. Dia sudah telanjur kesal juga kecewa pada Amaar. Tangan Amaar bergerak untuk mengusap pipi Amora pelan, tetapi terasa menakutkan untuk Amora. Seluruh tubuh Amora terasa membeku, dia tidak dapat menampik jika dirinya merasa gemetar karena perlakuan Amaar sekarang.
Keberanian yang sedari tadi memenuhi dirinya kini hilang entah ke mana. Keberanian itu telah berubah menjadi ketakutan yang amat sangat. Tatapan serta sentuhan yang Amaar lakukan benar-benar membuat Amora mati kutu. Embusan napas Amaar yang dapat Amora rasakan semakin membuat wanita itu ketakutan.
"Jangan berucap dengan nada tinggi seperti itu padaku, Amora! Kamu benar-benar keterlaluan hari ini. Aku tidak akan melepaskan kamu! Aku akan memberikan pelajaran agar kamu tidak berani untuk melalukan hal ini padaku lagi!"
Setelahnya, dengan kasar Amaar mendorong tubuh Amora hingga membentur meja dan terjatuh ke lantai. Semua itu Amaar lakukan tanpa sadar. Dirinya terlalu dikuasai emosi hingga tidak bisa menahan dirinya lagi.
"Amora bangun! Jangan tutup matamu, Mora!" teriak Amaar.
Setelah itu, Amaar bergegas membawa Amora ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Amora segera ditangani. Sedari tadi, Amaar tidak henti menyalahkan dirinya sendiri, karena dia yang tidak bisa menahan emosi hingga menyebabkan Amora terjatuh dan pendarahan.
Ketakutan menyelimuti hati Amaar, apalagi saat melihat bagaimana raut wajah pucat dan kesakitan yang Amora perlihatkan. Sungguh, hati Amaar benar-benar tidak karuan sekarang.
Amaar menghela napas lega saat dokter mengatakan jika janin yang ada di kandungan Amora baik-baik saja. Terlintas dalam benaknya kalau Amora dan bayi dalam kandungannya tidak terselamatkan. Amaar bisa-bisa disalahkan dan itu menjadi beban tambahan bagi dirinya.
"Astaga, kepalaku semakin pening karena semua ini."
Sementara itu, Sheeva yang mendengar kabar buruk yang menimpa Amora ikut prihatin atas apa yang terjadi pada temannya itu. Sebagai seorang teman yang baik, wanita cantik itu pun meminta Azam untuk mengantar dirinya ke rumah sakit
Sheeva memang berencana untuk membesuk Amora. Namun, seketika Sheeva menyesal karena kehadirannya ke rumah sakit justru menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.
...***...
jangan pisahin mereka
biarkan mereka bersatu
bagus ceritanya
Azam bukan orang miskin, sudah
tua berpikir seperti bocah,
nantinya sama amar mau bahwa
sudah berselingkuh dan celap celup
sana sini