Indonesia
NovelToon NovelToon
Library'S Notes

Library'S Notes

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Teen School/College / Persahabatan
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Almaya Archerry

"Apa alasanku untuk tetap bertahan hidup?"

Seorang gadis kutu buku tak sengaja mengetahui sebuah rahasia. Lelaki dingin itu membencinya sejak awal bertemu. Ancaman mengekang gadis itu kalau berani membeberkan rahasianya.

Kinara dan Raffan selalu adu mulut setiap kali berjumpa. Kinara memegang rahasia Raffan, sedangkan Raffan malah membencinya. Apa jadinya kalau benang takdir melakukan sesuatu pada mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almaya Archerry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

OBROLAN DI UKS

Joue membelalak kala ia melihat Raffano masuk begitu saja untuk menemui sahabatnya. Sialnya ia tak boleh membuat keributan di dalam UKS. Oleh karena itu, ia mengikuti dalam diam di belakang Raffan.

“Dia nggak bakal macam-macam sama Kinara, kan?” pikirnya cemas.

Di depannya, Kinara masih terbaring tidur karena saking lemas kondisi tubuhnya. Sahabatnya itu sudah ditangani oleh petugas kesehatan yang ada di sini. Kini, ia hanya butuh istirahat untuk memulihkan kembali tenaganya.

Di samping ranjang pasien ada sebuah kursi kosong. Di situlah Raffan duduk, ia juga menaruh apa yang ia beli di meja nakas. Lelaki itu duduk tegap bersandar di kursi dan diam menatap Kinara.

Ia tak berbuat apapun dan hanya menatap gadis yang tengah tertidur itu. Sesekali ia menghela napasnya. Hal itu membuat Joue bingung, ia pikir lelaki itu akan membangunkan atau menyentuh sahabatnya meski seujung jari.

“Apa gue terlalu berburuk sangka?” pikir Joue. Meski begitu, ia tetap berada di sana dan mengawasi.

Sampai akhirnya setelah beberapa menit, Joue merasa lelah berdiri tanpa terjadi apa-apa. Ia memutuskan untuk duduk di ranjang kosong di sebalah Kinara. Ia dan temannya itu terbatas satu tirai yang cukup tebal.

Ia tak bisa melihat bayangan Kinara dan Raffano, tetapi masih bisa mendengar suara napas lelaki itu. Joue bersedekap tangan sembari bersiap memasang telinganya tajam. Ia benar-benar penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Raffano pada sahabatnya.

“Sial, aku tidak bisa melihat mereka sedang apa,” batinnya.

Hingga ia hampir ketiduran di sana sebelum akhirnya ia mendengar suara decitan ranjang di sebelah. Sementara itu, Kinara mengernyit saat matanya terpejam pertanda ia akan segera bangun. Raffan masih di sana dan menunggu gadis itu sadar sepenuhnya.

“Kinara, kamu sudah mendingan?” tanya lelaki itu pelan. Ia takut kehadirannya membuat gadis itu terkejut dan takut.

Kinara yang baru membuka matanya itu beranjak mengganti posisinya. Ia berusaha untuk duduk bersandar setelah kepalanya sudah tidak pusing lagi. Hal yang Raffan takutkan benar terjadi, gadis itu membelalak terkejut melihatnya.

“Lo ngapain di sini?” tanyanya lalu reflek memeluk dirinya sendiri.

Raffano menghela napas melihat sikap defensif gadis itu. “Sepertinya kamu salah paham. Aku belum lama duduk di sini dan diam di tempat sambil menunggu kamu bangun,” ujarnya.

“Iya, terus ngapain lo di sini? Nanti kalau ada yang lihat kita bagaimana?! Gue nggak mau ada kesalah pahaman lagi gara-gara lo, Fan,” sahut Kinara.

Raffano menghela napas, “baru bangun sudah marah-marah.” Ia menggelengkan kepalanya kemudian beranjak mengambil sesuatu yang ia bawa tadi.

“Minum dulu,” ujarnya sembari menyodorkan botol minum yang tadi ia beli di kantin.

Kinara menerimanya meski ia ragu. Kerongkongannya sedang haus setelah bangun tidur. Raffano tersenyum tipis melihat pemberiannya diterima oleh gadis itu.

“Sudah mendingan, kah?” tanyanya sekali lagi dan gadis itu mengangguk.

Ia mengeluarkan sebungkus vitamin, “ini buat kamu, aku rasa kamu butuh ini juga,” ucapnya.

Kinara melongok melihatnya. “Gila, ini vitamin yang mahal itu, kan?! Satu bungkusnya setara uang sakuku selama seminggu!” batin Kinara.

“Lo dapat ini dari mana?” tanya Kinara dengan tatapan penuh selidik.

“Apotek mamaku ada kayak gitu, jadi aku ambil aja,” jawab Raffan jujur. Ia mengangkat tangannya, “aku jujur. Aku sudah bilang mama juga,” katanya dengan wajah polos seperti anak kecil.

Kinara menelan kecut dalam batinnya, “aduh gue jadi nggak enak begini. Harusnya tadi gue tanya baik-baik bukan malah mencak-mencak ...!” batinnya merutuk.

“Nggak dimarahin? Ini benaran atau cuma dipinjamin aja?” tanya Kinara memastikan.

Raffano menatapnya datar, “hah? Memangnya ada pinjamin vitamin? Itu aku kasih benaran, lho,” ujarnya tidak paham pemikiran Kinara.

“Aku tahu kamu butuh vitamin. Minum aja nggak apa-apa. Kalau cocok aku bawain lagi—“

Kinara melambaikan tangannya di depan Raffan. “Tidak perlu. Ini saja sudah cukup, terima kasih,” sahutnya cepat sebelum lelaki itu mengatakan banyak hal yang membuatnya sungkan.

“Lo berusaha menyuap gue atau bagaimana? Gue anti-suap, sih,” kelakar Kinara mengajak lelaki itu bercanda.

Raffano menghela napas, “kok kayaknya kamu selalu bernegatif thinking ke aku ya, Ra? Benaran aku kasih ke kamu itu,” ucapnya pasrah membuat Kinara terkikik geli.

Ia juga memberikan kantung plastik berisi makanan pada Kinara. “Aku nggak tahu kamu suka buah apa, tetapi biasanya orang sakit dikasih jeruk. Oh iya, ini juga ada camilan, permen, sama nasi kepal yang populer di kantin itu. Kalau nggak suka jangan dibuang, kasih aku aja biar aku yang makan,” jelasnya.

Kinara tak hentinya kagum melihat apa yang dibawa lelaki itu. Isinya benar-benar seperti yang Raffan bilang. Belum lagi, itu semua adalah makanan kesukaan Kinara.

Ia melihat ada dua nasi kepal dengan rasa yang sama. Gadis itu melirik Raffano dan menyodorkan makanan itu padanya. “Gue nggak habis kalau makan semuanya, bantuin,” katanya.

Raffano menghela napas dengan tersenyum tipis. “Kenapa malu-malu begitu, hm?”

Deheman terakhir lelaki itu semakin membuat Kinara berdebar. Ia mengalihkan pandangannya agar Raffan tak tahu seberapa merah pipinya saat ini. Ia merutuk dalam hati mengapa bisa berdebar tidak jelas hanya karena deheman suara Raffano.

“Kenapa, Ra?” Raffano tahu gadis itu tengah malu-malu, karenanya ia semakin ingin menggodainya.

Kinara kembali menyodorkan tangan yang memegang nasi kepal itu. “Cepat terima ini!” katanya dan membuat Raffan tertawa kecil.

“Gue tahu lo belum makan, maaf sudah marah-marah padahal lo bawain ini. Makasih ya, Fan,” lirih Kinara sembari menoleh perlahan.

Kedua bola mata Raffan sedikit melebar. Ia cepat-cepat beralih ke arah lain dan menutupi mulutnya dengan tangan. ia berpura-pura berdehem seperti ingin batuk untuk mengalihkan pikirannya.

Sayangnya, detak jantung tidak berbohong. Ia berdetak lebih cepat dari biasanya dan membuat wajahnya memanas. Bukan karena penyakitnya, tetapi karena hal lain yang terasa manis.

“Ehem, okay, sama-sama,” balasnya lirih.

“Cepat dimakan, Ra! Biar kamu cepat sembuh! Sahabatmu bisa khawatir kalau kamu lemas begini,” ucap Raffan mengalihkan suasana yang mendadak canggung.

“Ah, tadi Joue ke sini? Lo ketemu Joue?” tanya Kinara.

“Oh, namanya Joue, ya? Yang rambutnya panjang sepinggang itu, bukan? Kayaknya dia agak tomboy begitu, ya? Eh, atau aku salah? Kalau salah menduga, sampaikan maafku ya, Ra,” ujar Raffan.

Kinara terkekeh, “haha, iya benar. Dia sahabatku dari sekolah dasar sampai sekarang. Aku cuma punya dia sebagai teman, apalagi aku anak tunggal. Barulah, di SMA ini aku kenal Arika jadi punya dua teman,” jelasnya.

“Tetapi cuma dia yang dekat banget sama aku,” sambungnya dengan nada agak sedih.

Raffan tersenyum mendengarnya. “Enak ya bisa punya teman. Apalagi teman dekat awet begitu dari kecil sampai sekarang,” katanya.

“Haa, padahal sebelumnya aku nggak pernah kepikiran, tetapi sekarang aku jadi iri, hehe,” lanjutnya.

Kinara menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia seperti bisa melihat kekosongan dan kesepian di mata lelaki itu. Apalagi Raffano adalah anak tunggal yang sama seperti dirinya.

“Aku kan sudah jadi temanmu, Fan,” celetuk Kinara.

“Eh?”

“Ha?” Kinara terkejut dalam hati, “barusan gue ngomong apa?!”

1
Almaya Archerry
Halo, buat teman² yang sudah selesai baca Love Baby Wolf bisa langsung cuss baca Library's Notes, ya✌🏼
Bisa dicek di profil author 👀
Jangan lupa mampir, siapa tahu menarik dan tertarik🤭
Terima kasih atas dukungannya, semoga hari kalian menyenangkan♡
Almaya Archerry
Helmi Sintya Junaedi
ayo semangat untuk karyamu,,, semua butuh proses untuk jadi lebih baik lagi💪💪💪
Almaya Archerry: Halo, terima kasih sudah setia mengunjungi novel ini♡
Semangat dan dukunganmu sangat berarti untuk author dan karyanya, terima kasih banyak, ya✌🏼
Nantikan dan dukung terus Library's Notes sampai tamat🙌🏼
total 1 replies
Helmi Sintya Junaedi
lanjut thorrr,,, aku suka karyamu....
Almaya Archerry: Halo, maaf baru bisa menyapa teman karena author sempat hiatus dari Sep-Des😓
Terima kasih atas komentar dan dukungannya✌🏼
Nantikan terus update-an episode selanjutnya☝🏻
Semoga harimu menyenangkan, teman❤
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!