Anya, seorang siswi di salah satu SMA favorit di Jakarta yang sedang dikagumi oleh Banyu, kakak kelas 1 tingkat dari dia.
Awalnya, Anya tidak pernah menanggapi Banyu, tapi karena Banyu terus mendekatinya, akhirnya dia mencoba menerima walaupun masih ada penolakan dari dalam hatinya.
Hingga pada suatu hari, Banyu mengungkapkan semua isi hatinya kepada Anya. Akankah Anya menerimanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UnNy Ayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Malam Keakraban
Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Hari ini, tepat jam 9 pagi, Anya dan teman-teman satu program studi akan berangkat ke Bandung untuk kegiatan Malam Keakraban. Oh ya, Anya dan Aisyah ini masuk ke program studi Dokter Spesialis Ilmu Bedah.
Setelah semua mahasiswa dan mahasiswi dari program studi Dokter Spesialis Ilmu Bedah datang, mereka langsung berangkat. Kegiatan Malam Keakraban kali ini akan berlangsung selama 3 hari 2 malam. Mereka akan melakukan kegiatan ini di salah satu villa yang berada di Bandung.
Perjalanan kali ini diperkirakan akan memakan waktu sampai 7 jam. Anya dan Aisyah memilih duduk di seat bagian tengah, tepat di samping tempat duduk Bian. Ya, Bian memang sengaja mengambil seat di dekat Anya dan Aisyah.
Sepanjang perjalanan, Anya dan Aisyah tak henti-hentinya bercerita. Mereka saling bertukar pengalaman sewaktu masih kecil dulu. Anya pun sesekali tertawa saat mendengarkan cerita lucu Aisyah semasa kecilnya. Sampai akhirnya, Anya sadar kalau Bian sedang asyik memandanginya yang tengah ngobrol dengan Aisyah. Bian pun tersenyum kepada Anya. Anya yang menyadari dirinya sedang diperhatikan oleh Bian, mulai agak membelakangkan badannya. Tepatnya, dia menyembunyikan wajahnya di balik badan Aisyah.
Aisyah yang menyadari perubahan sikap Anya pun langsung menoleh ke belakang. Dia lalu tersenyum, seraya tahu apa yang membuat Anya tiba-tiba bersembunyi di balik badannya.
"Kenapa, Nya? Salah tingkah ya karna dilihatin terus sama Bian?", tanya Aisyah.
"Apaan sih!"
"Nah itu muka kamu jadi merah gitu", kata Aisyah sambil terus tersenyum dan menggoda Anya.
"Masak sih?"
"Kamu suka juga ya sama Bian?"
"Enggak, Syah. Jangan ngaco deh", kata Anya.
"Lah kenapa? Tuh si Bian sampai nggak kedip. Mandangin kamu mulu".
"Biarin aja. Belum tentu juga dia lagi mandangin aku", jawab Anya.
"Anya, Anya. Eh, tapi. Ngomong-ngomong kamu udah punya pacar belum sih?"
"Emmm... Kamu taukan laki-laki yang waktu itu nganterin aku kuliah?"
"Yang mana?", tanya Aisyah.
"Ah, masa lupa sih. Yang pas kita ketemu di depan kampus itu".
"Oh iya, inget. Itu pacar kamu?"
Anya lalu mengangguk.
"Aku udah 2 tahun lebih pacaran sama dia", jawab Anya.
"Widih, udah lama juga ya. Udah nggak ada kesempatan dong buat Bian", kata Aisyah sambil nyengir.
"Aisyah......"
"Iya, iya. Maaf".
"Tapi meskipun udah lama sama dia, aku ngerasa ada yang beda gitu".
"Apanya yang beda? Sikap dia sama kamu?", tanya Aisyah.
"Bukan. Tapi hati aku", jawab Anya pelan.
"Lah kenapa?"
Lalu Anya menceritakan semua kisah cintanya dengan kak Banyu dari waktu masih SMA sampai saat ini. Ya, Anya masih saja merasa bahwa dia hanya sayang kepada kak Banyu sebagai kakaknya. Tidak ada perasaan lebih yang dia rasakan, meskipun hubungan ini sudah terjalin cukup lama.
Anya juga meminta saran kepada Aisyah apa yang harus saat ini Anya lakukan. Ingin sekali Anya mengakhiri hubungan ini sebelum menyakiti kak Banyu lebih dalam lagi, tapi di dalam hati Anya masih saja belum ikhlas jika harus berpisah dengan kak Banyu. Entah perasaan apa yang sedang ia rasakan saat ini.
"Hmmmmm, kalau menurut certia kamu itu, kayaknya kak Banyu sayang banget ya sama kamu", kata Aisyah.
"Ya begitulah, Syah. Aku sebenarnya ngerasain itu juga".
"Terus kok bisa sih kamu nggak nyimpen rasa sama dia? Padahal, pengorbanan dia ke kamu udah banyak loh".
"Aku juga nggak tau, Syah. Aku bingung mesti gimana".
"Ya, kalau menurut aku sih, mendingan ikutin kata hati kamu aja. Soalnya, kalau udah menyangkut kata hati tuh, pasti enggak ada kebohongan lagi".
"Aku udah lama pengen putus, tapi masih belum bisa".
"Alasannya?"
"Ya belum bisa aja. Nggak tau kenapa."
"Jangan gitu, Nya. Kasihan kak Banyu. Kalau udah nggak sayang, putusin aja."
Anya menghela nafas pelan. Dia tidak ingin memikirkan itu terlebih dahulu, karena dia ingin fokus ke acara Makrab ini dulu.
...****************...
Tak terasa, 4 jam sudah berlalu. Rombongan Anya pun berhenti di sebuah restoran untuk istirahat makan siang dan sholat Dzuhur. Satu per satu mahasiswa dan mahasiswi yang berada di dalam bus mulai turun dan mulai antri untuk mengambil menu makanan pada siang hari ini.
Saat yang lain mulai antri untuk mengambil menu makan siang, Aisyah dan Anya justru memutuskan untuk sholat Dzuhur terlebih dahulu. 15 menit kemudian, mereka pun bergabung dengan teman-temannya yang sebagian sudah selesai makan.
"Syah, kayaknya aku nggak makan aja deh", kata Anya.
"Lah kenapa?", tanya Aisyah.
"Ummm... nggak papa sih. Aku makan cemilan aja deh", jawab Anya.
"Jangan gitu, Nya. Kita masih lama lho sampai villa nya. Isi perut dulu, entar kamu sakit lagi kalau nggak makan", kata Aisyah.
"Tapi aku nggak bisa makan udang, Syah. Aku alergi", bisik Anya.
Ya, ketika Anya dan Aisyah kembali ke dalam restoran, satu-satunya lauk yang tersisa hanyalah udang crispy dengan ca kangkung. Anya memang tidak terlalu suka dengan kedua menu tersebut, itulah kenapa dia memilih untuk tidak makan.
"Ini masih ada ca kangkung. Makanlah dikit, buat ganjel", lanjut Aisyah.
"Aku juga nggak begitu suka sama ca kangkung", kata Anya.
"Yah, tau gitu tadi kita makan dulu aja".
"Udah nggak papa. Kamu buruan ambil, aku tunggu di bangku sebelah sana ya?", kata Anya sambil menunjuk bangku yang terletak di bagian ujung bagian tengah.
Anya lalu duduk di bangku itu yang kemudian disusul oleh Aisyah yang sudah membawa makanan di piringnya. Tak berapa lama setelah Aisyah datang, tiba-tiba ada yang menyodorkan sesuatu dari belakang Anya. Anya pun spontan menoleh. Dia melihat Bian sedang berdiri di belakangnya sambil menyodorkan sebuah kotak makan berwarna biru tua.
"Ini apa?", tanya Anya.
"Itu bekal aku dari rumah. Makan aja, belum aku sentuh juga", jawab Bian.
"Eh, nggah usah Bian. Makasih", tolak Anya.
"Aku tadi nggak sengaja denger obrolan kalian. Jadi, aku ambil bekal ini buat kamu", jawab Bian yang kini sudah duduk di samping Anya.
"Nggak usah, Bian. Aku..."
"Udah, makan aja. Aku nggak mau liat kamu sakit", potong Bian.
Bian lalu pergi meninggalkan Anya dan Aisyah setelah meletakkan kotak makan itu tepat di hadapan Anya. Sebenarnya Anya ragu saat mau makan, tapi Aisyah terus menyuruhnya agar mau makan bekal pemberian Bian.
"Liat tuh. Dia perhatian banget kan sama kamu?", kata Aisyah.
"Hmm.. Jangan mulai deh Syah."
"Hahahaha... Iya, iya. Bercanda", kata Aisyah.
"Apa isi bekalnya?", tanya Aisyah saat Anya mulai membuka kotak makan itu.
"Nasi ayam", jawab Anya.
"Wah, enak tuh udah bisa ngicip masakan mama mertua. Hahahahaha", ledek Aisyah.
"Syahhh.....", kata Anya sambil melirik ke arah Aisyah.
"Eh iya, aku lupa. Kamu kan udah ada kak Banyu. Hihihihi".
Anya pun lalu melahap makanan yang diberikan Bian tadi tanpa memperdulikan omongan Aisyah. Dia merasa masakan Mamanya Bian ini mirip sekali dengan masakan Mamanya. Enak dan pas di lidah Anya.
Setelah selesai ISHOMA, rombongan dari program studi Dokter Spesialis Ilmu Bedah ini melanjutkan perjalanannya lagi, karena masih butuh waktu sekitar 3 jam untuk sampai di Bandung.
Jalanan yang tadinya sudah lumayan macet pun, semakin sore rasanya semakin macet. Semakin susah untuk bergerak. Dan itu artinya, bukan 3 jam lagi waktu yang dibutuhkan untuk sampai di Bandung, tapi bisa lebih dari itu.
Anya dan Aisyah yang tadinya asyik ngobrol, perlahan mulai terdiam dan memilih untuk tidur. Wajahnya terlihat sangat lelah. Bahkan hampir semua mahasiswa dan mahasiswi yang ada di dalam bus itu juga tidur. Tak ada suara sedikitpun yang terdengar kecuali suara-suara dari kendaraan lain yang berada di luar.
Hingga akhirnya, tepat pukul 8 malam mereka semua baru sampai di Bandung. Padahal menurut jadwal, mereka harusnya sudah sampai sejak pukul 5 sore tadi, tapi karena jalanan macet parah, akhirnya mereka harus terjebak di jalan selama kurang lebih 3 jam.
Acara nonton bareng malam inipun dibatalkan oleh pihak panitia, karena rombongan tiba di villa sudah melebihi waktu yang ditentukan. Panitia menyuruh mahasiswa dan mahasiswi peserta Makrab untuk segera istirahat setelah acara makan malam selesai.
Bersambung ❤
anya penjahat sesungguhnya tapi karena dia pemeran utama wanita (sudut pandang reader dan author) jadi semua kesalahan dibela
banyu korban sesungguhnya yang tidak dianggap author
bian penghancur hubungan orang
kesalahannya anya pada banyu
*memanfaatkan banyu
*membohongi dan membodohi
*selingkuh (jelas2 selingkuh)
*dicampakkan begitu saja setelah anya dapat lelaki lain
*dll
tapi karena dia pemeran utama wanita dia bebas berbuat semuanya dan dibela oleh author dan readernya yang wanita
miris pola pikir wanita dibawa kedalam novel
sekalian mampir di "Dunia Viola" yukk.
Action + romance. Siapa tahu kecantol atau sekalian kecanduan juga gapapa
jgn lupa mampir di karyaku😊