Sembilan belas tahun lalu, Jiang Lingyi dibuang dari keluarga Perdana Menteri karena sebuah ramalan yang menyebutnya sebagai pembawa bencana.
°°°•°°°
Dibesarkan di sebuah kuil terpencil, ia tumbuh dengan kemampuan yang tidak dimiliki manusia biasa: melihat roh, mengintip masa lalu seseorang, dan membaca bayangan takdir.
Kembalinya Jiang Lingyi ke ibu kota bukan hanya untuk kembali ke keluarganya, tetapi juga untuk menghentikan sebuah takdir berdarah yang selama ini menghantuinya.
Selain itu, kekuatan yang dimilikinya bukan tanpa harga.
°°°•°°°
Di tengah usahanya mengubah takdir, Jiang Lingyi harus berhadapan dengan seorang pria yang justru tidak mempercayai hal-hal mistis, Pangeran Bupati, pria rasional yang selalu menuntut bukti atas segala sesuatu.
Lantas, mampukah Jiang Lingyi mengubah takdir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Bungloon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Kediaman Jiang, Paviliun Teratai.
Cahaya mentari menyelinap masuk melalui kisi-kisi jendela. Hembusan angin membawa aroma bunga-bunga yang mekar di taman Paviliun Teratai.
Seekor kupu-kupu berwarna biru-hitam, terbang melewati kolam ikan, lalu hinggap sejenak di jendela kamar Jiang Lingyi, di mana ada dua ekor burung sedang berkicau merdu.
"Nona, nubi membawa sarapan."
Suara yang penuh semangat dan ceria itu membuat burung-burung dan kupu-kupu terbang meninggalkan jendela Jiang Lingyi.
Bersamaan dengan itu, pintu kamar Jiang Lingyi terbuka, memperlihatkan seorang pelayan muda membawa nampan berisi semangkuk bubur dan tiga buah roti daging.
"Terima kasih, Nani... Letakkan di meja, aku akan memakannya nanti." Kata Jiang Lingyi yang sedang duduk di lantai giok— sibuk membolak-balik lembaran-lembaran kertas di depannya.
Nani, pelayan muda yang di tugaskan untuk melayani Jiang Lingyi hanya bisa tersenyum dan mengangguk.
"Nubi akan melanjutkan pekerjaan, jika Nona membutuhkan sesuatu, silahkan panggil nubi."
Jiang Lingyi menoleh ke arah Nani, lalu tersenyum pada gadis yang usianya sama seperti dirinya. "Baiklah. Terima kasih, Nani."
Pintu kamar itu kembali tertutup, Jiang Lingyi kembali fokus pada lembaran-lembaran di hadapannya. Itu bukan lembaran biasa, melainkan isi dari beberapa kitab yang di berikan sang guru.
Namun, setelah ia baca bolak balik, dia sama sekali tidak menemukan informasi mengenai ilmu hitam. Lagipula siapa yang ingin mempelajari ilmu seperti itu?
Hufh...
Jiang Lingyi merebahkan tubuhnya di lantai giok. Tangan nya terangkat ke atas dan jemarinya mulai bergerak cepat menekan ruas-ruas jari nya.
Belum ada petunjuk....
Suhui yang baru muncul langsung melayang di depan Jiang Lingyi. "Ling'er, jangan paksakan dirimu... Kau sudah menemukan petunjuk kemarin, itu artinya korban lainnya tak jauh dari ibu kota, kan?"
Mendengar perkataan Suhui, Jiang Lingyi langsung bangun dan kembali memikirkan rantai pengikat jiwa yang ia lihat kemarin di kedai makan.
Benar saja, kemungkinan korban lainnya berada di sekitarnya. Tapi, siapa? Andai kemarin dirinya tak kehilangan jejak, atau setidaknya sempat melihat orang nya....
"Lingyi,"
Panggilan dari ambang pintu membuat Jiang Lingyi tersadar dari pikirannya. Melihat siapa yang datang, ia segera bangkit berdiri dan memberi salam pada.
"Ayah, Ibu..."
Jiang Feng masuk dengan langkah tenang, di susul Shan Rui yang masuk dengan senyum hangat.
"Bagaimana perasaan mu, nak? Apa kau sudah sarapan?" Tanya Shan Rui. Tapi sorot wanita itu memicing memperhatikan semangkuk bubur yang belum tersentuh sama sekali.
"Kenapa belum di makan? Apa buburnya tidak enak? Atau kau ingin makanan yang lain? Ibu akan memberi tahu bagian dapur agar—"
"Tidak, jangan..." Cegah Jiang Lingyi cepat. "Semua makanannya enak, hanya saja aku belum lapar."
"Lingyi, jika kau tidak suka dengan makanannya—"
Jiang Feng segera menahan sang istri yang hendak kembali berkicau, Shan Rui segera menatap sang suami yang juga sedang menatapnya, ia pun, menghela napas pelan dan diam.
Jiang Feng beralih menatap sang putri dan beberapa lembar kertas di lantai.
"Lingyi," panggil nya pelan. "Ada yang ingin kami bicarakan padamu."
"Kami berencana mengadakan perjamuan untukmu. Kakek dan nenekmu sudah setuju. Bagaimana juga, semua orang harus tahu jika kau cucu pertama keluarga Jiang." Jelas Jiang Feng dengan suara tetap tenang. Ekor matanya melirik reaksi sang putri kehati-hatian.
"... Kami ingin meminta pendapat mu terlebih dahulu." lanjut nya.
Perjamuan ini bukan hanya untuk memberi tahu semua orang jika putri nya telah kembali, cucu pertama keluarga Jiang. Tapi juga untuk memperkenalkan Jiang Lingyi pada dunia.
Jiang Feng telah mendengar keributan di pasar saat Jiang Lingyi dan Jiang Fielin berbelanja, katanya, putrinya itu di hina dan di rendahkan. Bahkan ia sempat mendengar para pelayan dan orang-orang di sekitar kediaman mempertanyakan siapa— putrinya?
Jadi, dengan perjamuan ia berharap orang-orang akan berhenti menghina putri nya. Tapi kembali lagi, melihat sikap Jiang Lingyi yang pendiam dan misterius, ia khawatir putrinya tidak akan nyaman dengan perjamuan ini dan dia juga khawatir hubungan mereka yang telah membaik ini akan kembali bertembok.
Perjamuan?
Jiang Lingyi terdiam sesaat, keningnya berkerut menimbang, tapi kemudian ia mengangguk menyetujui. "Baik...."
Sebenarnya dia bukan seseorang yang suka keramaian, tapi... Mungkin dengan adanya perjamuan ini dia bisa mendapat info tentang korban selanjutnya. Jika perlu si pelaku juga ikut hadir, jadi dia bisa langsung menghancurkan akar permasalahan.
Jiang Feng dan Shan Rui yang sudah tegang sejak tadi, menghela napa lega, keduanya lalu saling berpandangan. Mereka pikir Jiang Lingyi akan menolak, tapi syukurlah jika setuju.
Namun sebelum suasana itu bertahan lama, pintu kamar kembali terbuka dengan keras. "Tunggu —!!"
Jiang Fielin yang sejak tadi menguping pembicaraan dari luar, reflek memunculkan diri setelah mendengar persetujuan sang kakak.
"Jika begitu bukankah kita harus membeli pakaian baru?!" Serunya tanpa basa basi, bola matanya berbinar penuh semangat.
Shan Rui ingin memarahi Fielin yang lagi-lagi menguping. Tapi ia urungkan saat mendengar ide sang putri. "Itu ide bagus. Beli beberapa perhiasan dan aksesoris juga!"
"Lihat kakakmu..." Shan Rui berjalan mengelilingi Jiang Lingyi dengan tatapan penuh penilaian. Sangat sederhana, bahkan hiasan rambut tak ada, hanya pita hijau muda yang mengikat rambut.
"Baiklah," Jiang Feng hanya mengangguk setuju. "Kami serahkan tugas ini padamu, Fielin."
Jiang Fielin semakin tersenyum lebar, dia kemudian melirik sang kakak untuk melihat persetujuan. Saat melihat Jiang Lingyi mengangguk setuju, dia langsung meninju udara.
Akhirnya!!
...***...
"Gelang giok yang indah..."
"Wahh, tusuk konde mutiara itu juga bagus! Kalungnya juga!! Aku mau semua itu!"
"Yang itu juga! Dan yang itu! Bungkus semua!"
Pria tua itu tersenyum lebar sembari terus membungkus barang-barang yang di tunjuk nona muda di hadapannya.
"Dewi benar-benar turun ke bumi." Gumamnya merasa sangat bahagia.
"Adikmu benar-benar sangat baik, Ling'er," gumam Suhui yang terbang di sisi Jiang Lingyi. ekspresinya datar memandangi Jiang Fielin yang menurutnya sangat boros.
Jiang Lingyi, yang sedari tadi diam di depan kios jajanan, hanya tersenyum tipis, ia ikut menatap Jiang Fielin yang berpindah-pindah dari kios satu ke kios lainnya untuk memborong perhiasan.
Binar pada bola mata gadis itu tidak pernah redup, dua pelayan yang mengikuti Jiang Fielin sudah kewalahan, bahkan wajah keduanya tak terlihat karena setumpuk barang yang di beli Jiang Fielin.
"Mahkota ini sangat bagus," ucap Jiang Fielin mengambil sebongkah mahkota dengan permata hijau zamrud di tengah nya.
"Nona muda, selera Anda benar-benar luar biasa. Mahkota ini adalah mahkota dengan kualitas terbaik, sangat cocok untuk nona yang cantik."
Jiang Fielin terkekeh pelan. "Ini bukan untukku, tapi," ekor matanya melirik ke arah sang kakak yang juga sedang menatap ke arahnya. "... Mahkota, gelang dan cincin itu, aku akan membelinya!"
"Baiklah... baiklah...."
Kembali pada Suhui, sosok itu terlihat melayang cukup tinggi. "Ling'er, aku ingin berkeliling di sekitar sana."
Jiang Lingyi mendongakkan kepala, lalu mengangguk sebagai jawaban. Suhui langsung tersenyum lebar, sebelum akhirnya menghilang.
Melihat Jiang Fielin yang masih di jejeran kios perhiasan, Jiang Lingyi hendak menghampirinya, tapi urung saat seorang gadis kecil menarik rok hanfu-nya.
"Jiejie... Belilah kue nenek Lulu ini, kue ini sangat enak, jiejie pasti suka."
Jiang Lingyi menunduk, menatap bocah perempuan seusia Yungze menyodorkan sepiring kue-kue. Ada kue beras, kacang merah, kue bulan dan— kue kacang hijau kesukaan nya.
"Lulu, jangan tidak sopan menarik pakaian orang lain." Tegur seorang wanita tua yang membawa sekeranjang jualannya.
Lulu— bocah berusia enam tahun itu menunduk dengan rasa bersalah. "Kakak cantik, Lulu salah ... Tolong maafkan Lulu."
Tersenyum tipis, Jiang Lingyi berjongkok dan mengambil kue kacang hijau di piring Lulu dan mengusap puncak kepala nya lembut. Setelahnya, Lingyi berdiri dan menatap nenek Lulu.
"Nek, aku ingin membeli semua kue kacang hijau nya."
Nenek dan Lulu saling berpandangan, lalu tersenyum lebar.
"Benarkah?" Ulang sang nenek masih tak percaya, tapi saat melihat anggukan kecil Jiang Lingyi, ia dengan segera menyiapkan pesanannya.
"T-tunggu sebentar nona muda, kami akan segera bungkuskan semua."
Di sisi lain...
"Rea, Jena, bawa barang-barang ini ke kereta kita. Lalu jangan lupa barang di toko paman Ding dan bibi Muan belum kita ambil."
"Baik, Nona."
Jiang Fielin tersenyum puas, barang-barang pilihannya— semuanya sangat bagus dan berkualitas. Kakaknya pasti akan suka! Tapi tunggu....
"Di mana dia?" Ekor mata gadis itu melirik ke sana kemari mencari keberadaan sang kakak.
Dia terlalu antusias mencari perhiasan terbaik untuk sang kakak, sampai lupa jika kakaknya itu juga ikut ke pasar.
"Eh, di sana rupanya," Jiang Fielin menggembungkan pipinya, lalu berjalan menuju Jiang Lingyi berada.
Namun langkah nya langsung terhenti sesaat saat sebuah suara yang sangat ia kenali terdengar memanggil.
"Kakak penyelamat!"
Sebuah teriakkan melengking membelah keramaian pasar, membuat beberapa orang menoleh.
Termasuk Jiang Fielin yang langsung menegang, sinyal bahaya seolah berbunyi, ia hafal betul siapa pemilik suara ini tanpa perlu menoleh melihat sosoknya.
Dengan langkah cepat, ia segera menghampiri sang kakak. "Kita harus pergi!" Kata nya dengan wajah serius sembari menarik pergelangan tangan Jiang Lingyi.
Di tarik secara tiba-tiba, Jiang Lingyi yang sedang membawa kotak berisi kue kacang hijau mengerutkan kening bingung. "Linlin, ada apa?" tanya nya sembari menahan Jiang Fielin agar berhenti menariknya.
"Ada anjing gila! Kita harus pergi!"
Anjing gila?
Belum sempat mencerna apa yang di katakan Jiang Fielin, bocah itu sudah lebih dulu menarik tangannya. Membawanya berlari menerobos kepadatan pasar, membuat para pedagang dan pengunjung mengumpat.
"Fielin..." Tegur Jiang Lingyi karena mereka hampir menabrak gerobak buah, tapi bocah itu tak mendengarkan dan terus berlari.
Penasaran dengan 'anjing' yang membuat adiknya terus menarik tangannya, Jiang Lingyi menoleh ke belakang. Matanya menyipit melihat seorang gadis muda menerobos orang-orang mengejar mereka?
"Fielin! Dasar kau babi liar! Berhenti di sana!"
Ia ingat, gadis muda itu adalah gadis yang waktu itu bertengkar dengan Jiang Fielin di toko kain. Shen Yueqing. Sepupu dari Pangeran Bupati.
Tidak mau ada keributan, Jiang Lingyi nurut ikut berlari. Tapi sebetulnya mereka memang sudah banyak membuat keributan di pasar.
Haaah....
...
"Fielin! Cepat berhenti!"
"Kau pikir bisa menjauhkan ikatan persaudaraan antara aku dan kakakku? Aku akan mengejar kalian sampai ke ujung dunia!"
Jiang Fielin menggertakkan gigi di sela larinya. Shen Yueqing ini!
Sejak Jiang Lingyi menyelamatkan mereka saat di pasar, Shen Yueqing yang biasanya mencari ribut di akademi, justru berubah menjadi mencari tahu tentang sang kakak. Dari nama, makanan kesukaan, apa yang kakaknya sering lakukan. Jiang Fielin benar-benar tidak senang dengan itu. Jiang Lingyi adalah kakaknya!
Apa mereka akan terus bermain kejar-kejaran?
Jiang Lingyi menatap Jiang Fielin dan Shen Yueqing— yang masih mengejar di belakang. Mereka telah jauh dari area pasar, entah sampai kapan dirinya di tarik seperti ini.
Namun, tiba-tiba lari Jiang Fielin melambat, dan gadai itu berhenti tiba-tiba.
"Linlin, ada apa?" Tanya nya.
Jiang Fielin tidak menjawab, tubuh gadis itu sedikit menegang, pupil matanya melebar menatap hal di depan sana, sebuah jembatan batu melengkung gagah membentang di atas sungai yang lumayan lebar. Air di permukaan mungkin terlihat tenang dan menyegarkan. Tapi dia telah mendengar rumor tentang sungai itu.
Teman-teman di akademi, bahkan pelayan di kediaman telah membicarakan rumor tentang roh di sungai tersebut yang merasuki orang melewati nya, lalu membuat mereka melompat ke dalam sungai.
Kenapa aku harus berlari ke arah sini, sih!? Jiang Fielin mengigit pipi dalamnya.
"Akhirnya kau berhenti juga, babi liar!"
Mendengar suara dari belakang nya, Jiang Fielin memejamkan mata, malas sekali berurusan dengan Shen Yueqing. Tapi dia sudah tidak bisa kabur lagi.
"Fielin! Dasar kau pengecut, berani sekali memisahkan aku dengan kakakku!"
Jiang Fielin mendatarkan ekspresi, lalu menatap ke arah Shen Yueqing yang sedang menopang lutut sembari mengatur napas. Wajah rival nya itu merah dan sedikit berkilau oleh keringat.
Shen Yueqing balas menatap sengit ke arah Jiang Fielin. Padahal Fielin sering meladeninya bertengkar, meski permasalahan nya kecil, tapi begitu ia bertanya tentang sosok Jiang Lingyi, Jiang Fielin terus mengindari nya.
Namun iris coklat gadis itu beralih menatap sosok Jiang Lingyi yang berdiri di samping si babi liar, ekspresinya langsung berubah 180 derajat. Wajahnya yang sedari tadi merengut kesal, segera di gantikan dengan senyuman manis.
Menegakkan tubuh, Shen Yueqing merapikan anak rambutnya sembari melangkah anggun ke arah Jiang Lingyi. "Kakak penyelamat, akhirnya kita bertemu setelah sekian purnama. Qingqing sangat merindukan kakak."
Shen Yueqing merentangkan tangan, berniat memeluk dan mencium Jiang Lingyi, tapi yang ia dapati, bibirnya menempel pada telapak tangan kasar si babi liar Jiang Fielin.
"Babi gemuk, menyingkir dari kakakku!" Ucap Jiang Fielin mendorong wajah Shen Yueqing.
Brrr!
Shen Yueqing menyingkirkan telapak tangan Jiang Fielin di bibirnya. "Fielin! Kau yang babi liar! Aku ke sini untuk bertemu dengan kakakku!"
Mata Jiang Fielin semakin berkilat. "Kakakmu?! Dia kakakku!"
"Kakakmu kakakku juga!"
"Apa maksud mu?! Itu tidak akan!"
Jiang Lingyi memijat pelipisnya, kepalanya berdenyut menyaksikan keributan Jiang Fielin dan Shen Yueqing.
"Kalian, jangan bertengkar."
Tangannya terulur mencoba melerai. Tapi kedua gadis itu sudah terlibat aksi saling dorong.
"Babi liar!"
"Kau babi gemuk!"
"Kalian...." Jiang Lingyi menghela napas kasar, kepalanya menggeleng pelan.
Namun tiba-tiba sebuah hawa dingin menusuk punggung nya. Ia segera berbalik, matanya memicing tajam menatap sungai di bawah jembatan.
Aura di sungai itu— bola mata Jiang Lingyi melebar saat menangkap sepasang mata hitam naik ke permukaan, menatap lurus ke arah nya.
Ada roh?
Jiang Lingyi menahan napas. Tapi kemudian ia segera membuat gerakkan, tak lama matanya bercahaya samar, namun itu membuat sosok di dalam air langsung menenggelamkan diri.
Kebencian yang begitu pekat. Apakah ini sungai Yui yang di bicarakan orang-orang?