Indonesia
NovelToon NovelToon
Mafia Cacat Untuk Amira

Mafia Cacat Untuk Amira

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Anak Genius / Orang Disabilitas
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Seumur hidupnya, Amira tidak pernah benar-benar dianggap sebagai bagian dari keluarganya. Sebagai anak yang lahir dari hubungan terlarang, ia selalu menjadi sasaran kebencian kakak tirinya. Bahkan lelaki yang dicintainya memilih kakaknya sendiri hanya karena Amira bukan anak sah keluarga itu. Ketika fitnah demi fitnah membuat ayahnya ikut membencinya, Amira akhirnya mendapat "hadiah" dari keluarganya—sebuah perjodohan dengan Kaizar, pewaris keluarga mafia paling ditakuti. Kaizar bukan pria biasa. Ia lumpuh, memiliki luka yang membekas di wajahnya, dingin, kejam, dan tidak mengenal belas kasihan. Bagi keluarga Amira, perjodohan itu adalah cara untuk menyingkirkan putri yang selama ini mereka anggap sebagai aib. Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik kekejaman Kaizar, tersimpan luka yang jauh lebih dalam. Dan ketika semua orang memilih takut kepadanya, Amira justru menjadi satu-satunya perempuan yang berani mendekat, memeluknya, lalu berkata, "Sabar... kamu tidak sendirian."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Hari yang selama beberapa minggu terakhir hanya terdengar seperti rencana akhirnya tiba.

Pagi itu, rumah Kaizar sudah dipenuhi orang. Beberapa pelayan berjalan cepat membawa perlengkapan, penata rias keluar-masuk kamar Amira, sementara dari halaman terdengar suara kendaraan para tamu yang mulai berdatangan.

Amira duduk di depan cermin dengan rambut yang sedang ditata. Gaun putih yang dipilihnya tergantung tidak jauh dari sana, menunggu untuk dikenakan.

Ia memandangi bayangannya sendiri. Hari ini ia akan menikah. Bukan dengan pria yang pernah ia bayangkan akan berdiri di sampingnya selama sisa hidup. Melainkan dengan Kaizar.

Pria yang beberapa waktu lalu bahkan belum dikenalnya. Anehnya, ketika memikirkan nama itu sekarang, Amira tidak lagi merasa asing.

"Sudah selesai, Nona."

Suara penata rias membuat Amira tersadar. Ia berdiri dan melihat hasil riasannya melalui cermin.

"Bagaimana?"

"Sudah sangat cocok."

Amira mengangguk, lalu pandangannya kembali tertuju pada gaun putih yang sudah disiapkan.

Salah seorang pelayan membantu mengenakan gaun tersebut. Beberapa saat kemudian, Amira berdiri di depan cermin dengan pakaian lengkap.

Untuk beberapa detik, ia hanya diam. Pintu kamar kemudian diketuk.

"Amira?" Suara itu membuatnya langsung menoleh.

"Kaizar?"

"Ya."

Amira berjalan mendekati pintu. Ia baru hendak membukanya ketika salah seorang pelayan mengingatkan, "Nona, jangan terlalu dekat. Tuan Kaizar menunggu di luar."

Amira tertawa kecil. "Benar juga."

Ia membuka pintu sedikit.

Kaizar sudah berada di depan kamar dengan kursi rodanya. Ia mengenakan setelan hitam yang membuat wajahnya terlihat semakin tegas.

Tatapan pria itu berhenti pada Amira. Untuk beberapa saat, Kaizar tidak mengatakan apa-apa.

Amira menjadi salah tingkah. "Kenapa diam?"

Kaizar masih menatapnya. "Kau..."

"Aku kenapa?"

"Berbeda."

Amira menunduk melihat gaunnya. "Jelek?"

"Bukan."

Kaizar menggeleng. "Kau terlihat seperti pengantin."

Amira tertawa kecil. "Memang hari ini aku pengantin."

"Aku tahu."

"Terus kenapa kelihatan kaget?"

Kaizar mengalihkan pandangan sejenak. "Mungkin karena aku baru sadar hari ini benar-benar datang."

Amira menatapnya. Kalimat itu membuat candaan di bibirnya menghilang.

"Aku juga."

Mereka saling memandang. Tidak ada lagi percakapan ringan seperti biasanya.Hari ini terasa berbeda. Kaizar kemudian mengulurkan tangannya. Amira mendekat dan menggenggamnya.

"Ada yang ingin kau katakan?" tanya Amira.

Kaizar menatap jemari mereka. "Kalau kau ingin membatalkan semuanya, katakan sekarang."

Amira langsung menggeleng. "Aku tidak mau."

"Yakin?"

Amira tersenyum. "Yakin."

Ia menggenggam tangan Kaizar sedikit lebih erat. "Aku sudah memilih."

Kaizar mengangguk. "Kalau begitu, jangan lepaskan tanganku."

Amira menatapnya beberapa saat sebelum menjawab, "Aku tidak akan."

☘️☘️☘️☘️☘️☘️

Belum lama mereka berada di ruang keluarga, seorang pelayan datang dengan wajah panik. "Tuan Kaizar!"

Kaizar langsung menoleh. "Ada apa?"

"Perlengkapan untuk akad yang tadi dibawa dari gedung belum lengkap."

Amira ikut berdiri. "Belum lengkap?"

"Benar, Nona. Ada beberapa barang yang tidak ada."

Kaizar langsung meminta salah seorang anak buahnya memeriksa kendaraan yang digunakan.

"Periksa semuanya. Jangan ada yang meninggalkan tempat ini sebelum tahu apa yang terjadi."

"Baik, Tuan." Pria itu segera pergi.

Amira memandang Kaizar. "Jangan-jangan ada masalah."

"Kita belum tahu."

"Tapi ini hari pernikahan."

"Aku tahu." Nada suara Kaizar tetap tenang.

"Dan justru karena hari ini penting, aku tidak akan membiarkan kepanikan mengambil keputusan."

Amira mengangguk. Beberapa menit kemudian, salah seorang pria kembali.

"Tuan, perlengkapan yang hilang memang tidak ada di kendaraan."

"Siapa yang bertanggung jawab mengemasnya?"

Pria itu menyebut nama salah satu staf. "Hubungi dia."

Tidak lama kemudian, staf tersebut datang dengan wajah pucat. "Saya sudah mengemas semuanya, Tuan."

"Kalau begitu, di mana barang-barang itu?"

"Saya tidak tahu."

Kaizar menatapnya. Amira memperhatikan suasana yang mulai berubah. Beberapa orang mulai berbisik. Ada yang mengatakan persiapan pernikahan mereka kacau. Ada pula yang mulai mempertanyakan siapa yang bertanggung jawab.

Amira merasa tidak nyaman mendengarnya. Lalu seorang perempuan dari keluarga Abraham datang menghampiri.

"Nona Amira, apakah sebelumnya Anda mengubah susunan perlengkapan?"

Amira langsung menoleh."Tidak."

"Tapi menurut catatan yang kami terima, ada perubahan."

"Catatan?"

Amira teringat kejadian dua hari lalu..Daftar yang bukan daftar resmi. Dekorasi yang berubah. Dadanya terasa sesak. Seseorang memang sedang mengubah sesuatu.

Tetapi siapa?

"Saya tidak pernah mengubahnya," jawab Amira tegas.

Perempuan itu belum sempat membalas ketika Kaizar sudah bersuara. "Kalau begitu, jangan menuduhnya tanpa bukti."

Ruangan langsung sunyi. Kaizar mengarahkan kursi rodanya mendekati Amira.

"Periksa kembali catatan yang asli."

Pria dari keluarganya segera mengangguk. "Baik, Tuan."

Amira menatap Kaizar. "Terima kasih."

Kaizar hanya menjawab singkat. "Aku percaya padamu."

Kalimat sederhana itu membuat Amira terdiam. Ia tidak tahu mengapa tiga kata tersebut terasa jauh lebih kuat daripada semua janji yang pernah ia dengar sebelumnya.

☘️☘️☘️☘️☘️☘️

Masalah pertama belum selesai ketika sebuah mobil berhenti di depan halaman. Seorang pria turun dari dalamnya. Amira yang kebetulan berdiri dekat jendela langsung mengenalinya.

Ricki.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

"Kenapa dia datang?"

Kaizar menoleh mengikuti arah pandang Amira.

Raut wajahnya berubah. Ricki masuk ke dalam rumah dengan langkah tergesa. Begitu melihat Amira, ia berhenti. Pandangan pria itu terpaku pada gaun putih yang dikenakan mantan kekasihnya.

"Amira..."

Amira tidak bergerak. "Apa yang kamu lakukan di sini?"

Ricki menatap Kaizar sekilas sebelum kembali kepada Amira.

"Aku datang karena ingin bicara."

"Hari ini?"

"Aku tidak tahu harus bagaimana lagi."

Amira menggeleng. "Ricki, hari ini aku menikah."

"Aku tahu."

"Lalu kenapa kamu datang?"

Ricki tampak kesulitan menjawab. "Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja."

Amira menatapnya. "Aku baik-baik saja."

"Tapi—"

"Aku tidak membutuhkanmu untuk memastikan itu."

Ricki terdiam. Kaizar yang sejak tadi berada di dekat Amira akhirnya berbicara.

"Tuan Ricki."

Ricki menoleh. "Ya."

"Kalau kau datang untuk menyampaikan sesuatu, sampaikan sekarang."

Ricki melihat Kaizar. "Aku hanya ingin bicara dengan Amira."

"Di hari pernikahannya?"

Nada suara Kaizar tetap datar, tetapi cukup membuat suasana kembali tegang.

Ricki mengepalkan tangan. "Aku masih peduli kepadanya."

Amira memejamkan mata sesaat. Bukan karena kalimat itu membuatnya bahagia. Justru karena ia sudah terlalu lelah mendengarnya.

"Aku sudah bilang kepadamu sebelumnya, Ricki. Peduli tidak berarti kita harus kembali."

Ricki menatapnya. "Tapi aku—"

"Aku memilih Kaizar."

Kali ini Amira mengucapkannya tanpa ragu.

Ricki terdiam. Kaizar memandang Amira. Ada sesuatu yang bergerak di dalam dadanya ketika mendengar perempuan itu mengatakan bahwa dirinya dipilih.

Belum sempat siapa pun melanjutkan percakapan, terdengar suara langkah dari arah pintu.

Alika muncul. "Ricki?"

Wajahnya dibuat seolah terkejut. "Kamu datang ke sini?"

Ricki menoleh. "Aku hanya ingin berbicara dengan Amira."

Alika melihat ke arah Amira, kemudian Kaizar.

"Di hari seperti ini?"

Amira mulai merasa ada sesuatu yang salah.

Bukan pada kedatangan Ricki saja. Melainkan pada cara Alika muncul tepat ketika keadaan mulai memanas.

Alika kemudian mendekati Amira. "Mir, jangan salah paham. Kakak tidak bermaksud ikut campur. Tapi kalau orang-orang melihat Ricki datang ke sini tepat sebelum akad, mereka pasti akan berpikir macam-macam."

Amira menatap kakaknya. "Aku tidak mengundangnya."

"Aku tahu."

Alika mengangguk cepat. "Tapi orang lain belum tentu tahu."

Beberapa tamu mulai berbisik. Amira merasakan wajahnya memanas. Sekali lagi, dirinya berada di tengah situasi yang tidak ia buat.

Namun kali ini, ia tidak ingin diam. "Kalau begitu, jangan biarkan mereka membuat cerita sendiri."

Amira berdiri tegak. "Karena aku tahu apa yang sebenarnya terjadi."

Alika menatapnya. Untuk sesaat, ekspresi di wajahnya berubah. Sangat singkat. Tetapi Amira melihatnya. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

☘️☘️☘️☘️☘️☘️

Suasana semakin kacau ketika salah seorang anak buah Kaizar datang membawa sebuah amplop.

"Tuan."

Kaizar menerimanya. "Apa ini?"

"Kami menemukannya di ruang persiapan."

Kaizar membuka amplop tersebut. Di dalamnya terdapat beberapa lembar foto.Amira mendekat. Begitu melihat foto pertama, wajahnya langsung berubah. Foto itu memperlihatkan dirinya bersama Ricki.

Ada beberapa foto lain. Semuanya diambil dari kejauhan. Seolah-olah seseorang sengaja mengumpulkan bukti bahwa Amira masih bertemu dengan mantan kekasihnya. Bisikan para tamu semakin terdengar.

Alika menutup mulut dengan tangan. "Ya Tuhan..."

Ricki juga terlihat terkejut. "Aku tidak pernah mengambil foto itu."

Amira menatap foto tersebut. Ia tahu dirinya tidak melakukan apa pun yang dituduhkan. Tetapi bukti palsu tetap bisa terlihat meyakinkan di mata orang yang tidak mengetahui kebenarannya.

Semua orang kemudian memandang Kaizar.

Menunggu keputusan pria itu. Kaizar membaca seluruh foto tersebut satu per satu.

Setelah itu, ia mengangkat wajah.."Siapa yang mengatakan foto ini membuktikan Amira berselingkuh?"

Tidak ada yang menjawab. Kaizar mengarahkan pandangan kepada orang-orang di ruangan.

"Foto hanya menunjukkan dua orang berada di tempat yang sama. Foto tidak menjelaskan kapan diambil, untuk apa mereka berada di sana, atau apa yang terjadi setelahnya."

Ruangan kembali sunyi. Kemudian Kaizar menyerahkan foto tersebut kepada anak buahnya.

"Periksa sumbernya."

"Baik, Tuan."

Ia kemudian menatap Amira. "Kau baik-baik saja?"

Amira mengangguk. "Iya."

"Takut?"

Amira menggeleng. "Aku cuma marah."

Kaizar mengangguk. "Bagus."

Amira menatapnya heran. "Bagus?"

"Karena kau masih bisa marah. Berarti kau tidak menyerah."

Untuk pertama kalinya sejak masalah itu muncul, Amira merasa sedikit lebih tenang. Kaizar tidak menuntutnya menjelaskan sesuatu yang tidak ia lakukan. Ia tidak mempermalukannya di depan orang lain.

Ia hanya berdiri di sisinya. Kemudian Kaizar berkata kepada semua orang,

"Akad tetap dilaksanakan."

Beberapa orang langsung terkejut. "Tuan Kaizar..."

Kaizar mengangkat tangan, menghentikan suara tersebut. "Aku sudah memilih Amira."

Ia menatap perempuan yang berdiri di sampingnya. "Dan hari ini aku akan menikah dengannya."

Amira menatap Kaizar. Matanya mulai berkaca-kaca. Bukan karena takut. Tapi dalam hidupnya, seseorang tidak meminta dirinya membuktikan bahwa ia pantas dipercaya.

Seseorang memilih berdiri di sampingnya ketika semua orang sedang mempertanyakannya.

Kaizar mengulurkan tangan. "Amira."

Perempuan itu mendekat. "Aku di sini."

Kaizar menggenggam tangannya. "Kalau kau masih mau menikah denganku, kita lanjutkan."

Amira tersenyum. "Aku sudah bilang."

Ia menggenggam tangan Kaizar kembali. "Aku memilihmu."

Di tengah kekacauan yang belum sepenuhnya reda, mereka akhirnya berjalan menuju tempat akad. Hari pernikahan mereka memang tidak berjalan seperti yang direncanakan.

Ada tuduhan. Ada orang-orang yang berusaha membuat mereka saling meragukan. Tetapi satu hal tidak berubah.

Amira dan Kaizar tetap memilih satu sama lain.

Dan beberapa saat kemudian, di hadapan keluarga serta para saksi, sebuah janji suci akhirnya terucap.

Hari itu, Amira bukan lagi perempuan yang merasa tidak memiliki tempat untuk pulang.

Ia resmi menjadi istri Kaizar Abraham. Dan pria itu memilih tetap tinggal ketika semua orang memiliki alasan untuk pergi.

Bersambung...

1
Reni Anjarwani
lanjuttt 💪💪
Oma Gavin
semakin ricki penasaran dgn alika jgn kamu anggap kebohongan mu bisa tertutup rapat lagi bau bangkai nya sudah tercium
Yasinta Niken
lanjut ya tambah seru
ros
ceritanya menarik 👍
kaylla salsabella
makin penasaran
Oma Gavin
penasaran banget siapa ayah kandungnya alika
kaylla salsabella
la berarti yang anak kandung si amira
Yasinta Niken
lanjut tambah seru jangan putus lagi 💪💪💪
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Yasinta Niken
yang selalu mendapat yang terbaik untuk Ambar Alika anak siapa 🤭🤭🤭
Oma Gavin
akhirnya terbongkar alika anak selingkuhan ambar guma alika masih mau songong merasa kamu yg terbaik dan berhak hidup mewah ternyata kamu bukan anak ganjar
Oma Gavin
siapakah amira
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up💪
Yasinta Niken
kenapa kok putus2 saya senang ceritanya bagus 👍👍👍
kaylla salsabella
mungkin alika bukan anak kandung ganjar
Reni Anjarwani
semoga cpt terbuka rahasia yg disembunyikan ambar 🙏
Oma Gavin
fix alika anak ambar dgn dgn selingkuhan nya dan hanya amira yg sebenarnya anak kandung ganjar
Oma Gavin
kok aku curiga perusahaan ganjar milik mantan istrinya ibu amira
Oma Gavin
disaat Ganjar kritis antara hidup dan mati hanya darah amira yg bisa menyelamatkan nyawa ganjar, gimana alika kamu anak kesayangan tapi ternyata darah mu pun ngga sanggup menyelematkan ternyata kamu ngga guna jadi anak kesayangan
Yasinta Niken
saya bangga dengan kaisar Amira libas orang2 julid itu 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!