Retna tak pernah menyangka rumah tangga yang mati-matian ia pertahankan akan berakhir dalam satu keputusan kejam: perceraian. Atas desakan suami dan ibu mertuanya, ia diusir dari rumah, seolah seluruh pengorbanan, cinta, dan tahun-tahun yang ia jalani bersama keluarga itu tak pernah berarti.
Dengan hati hancur, Retna bersumpah tak akan lagi percaya kepada laki-laki. Baginya, cinta hanyalah pintu menuju luka yang lebih dalam.
Namun, ketika ia memilih mengunci rapat hatinya, seorang pria asing justru hadir membawa kehangatan yang belum pernah ia rasakan. Pria yang dijulukinya “Mas Bule” itu memperlakukannya dengan tulus, penuh perhatian, dan kasih sayang—perlahan menggoyahkan sumpah yang selama ini ia pegang.
Di antara trauma masa lalu dan harapan yang mulai tumbuh, mampukah Retna kembali membuka hati? Ataukah pria asing itu benar-benar hadir sebagai penyembuh luka sekaligus jodoh yang selama ini diam-diam menunggunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 - Giliran Keluargamu Retna
Perjalanan pulang dari Selandia Baru terasa berbeda bagi Retna.
Jika saat berangkat ia terus dihantui rasa takut, kini pikirannya justru dipenuhi perasaan hangat. Ia masih tidak menyangka keluarga Nathan menerimanya dengan begitu mudah—tanpa mempertanyakan masa lalunya atau menuntutnya menjadi perempuan sempurna.
Hal itu membuat Retna semakin yakin bahwa pilihannya memberi kesempatan kepada Nathan bukanlah keputusan yang salah.
Di dalam pesawat, Retna duduk di samping Nathan sambil menatap awan putih di bawah mereka.
Nathan meliriknya.
"Masih memikirkan keluargaku?"
Retna tersenyum.
"Iya. Saya tidak pernah menyangka mereka akan menerima saya seperti itu."
"Karena kamu takut mereka melihatmu hanya sebagai seorang janda?"
Retna mengangguk.
Nathan menggenggam tangannya.
"Mereka melihatmu sebagai Retna."
Retna terdiam, lalu tersenyum kecil.
"Mas beruntung punya keluarga seperti mereka."
"Aku juga merasa beruntung." Nathan menatapnya. "Tapi sekarang giliranku."
Retna mengerutkan kening.
"Giliran apa?"
"Mengenal keluargamu."
Retna langsung terdiam.
Nathan tertawa kecil melihat ekspresinya.
"Kenapa?"
"Mas serius?"
"Sangat serius."
Retna kembali menatap ke depan.
"Saya tidak tahu apakah keluarga saya akan seperti keluarga Mas."
"Aku tidak mengharapkan mereka sama." Nathan menggenggam tangannya. "Aku hanya ingin bertemu dengan mereka."
"Untuk apa?"
"Untuk meminta restu."
Jantung Retna berdebar.
"Restu?"
"Aku sudah membawa kamu bertemu keluargaku. Sekarang aku ingin melakukan hal yang sama untuk keluargamu."
Retna menunduk. Ia tidak pernah membayangkan seorang pria akan berbicara seserius itu tentang dirinya.
Arman dulu menikahinya tanpa pernah membuatnya merasa benar-benar dihargai. Kini Nathan ingin datang kepada keluarganya dengan cara yang baik—bukan diam-diam atau sekadar mengatakan cinta, melainkan menunjukkan keseriusannya.
"Mas tidak perlu melakukan semua ini hanya karena saya."
"Aku melakukan ini karena memang ingin."
Nathan menatapnya.
"Aku ingin menjadi bagian dari hidupmu. Dan keluargamu adalah bagian dari hidupmu."
Retna akhirnya mengangguk.
"Baiklah. Kita bisa menemui orang tua saya."
Nathan tersenyum lega.
"Terima kasih."
Retna tertawa kecil.
"Kenapa malah berterima kasih kepada saya?"
"Karena kamu memberiku kesempatan."
Beberapa hari setelah mereka kembali ke Bali, Retna menelepon ibunya.
"Bu."
"Iya, Nak?"
"Retna mau pulang."
"Ya sudah, kapan?"
Retna melirik Nathan yang duduk tidak jauh darinya.
"Retna mau membawa seseorang."
Ibunya terdiam.
"Seseorang?"
"Iya."
"Siapa?"
Retna menarik napas.
"Namanya Nathan."
"Nathan?"
"Iya, Bu."
"Teman?"
Retna tersenyum.
"Lebih dari teman."
Suara ibunya terdengar berubah.
"Retna..."
"Retna sedang serius dengan dia."
Ibunya tidak langsung menjawab. Kemudian terdengar suara ayahnya dari kejauhan.
"Siapa yang telepon?
Ibunya langsung berhenti.
"Retna, nanti saja bicara langsung."
"Baik, Bu."
Setelah panggilan berakhir, Nathan menatapnya.
"Bagaimana?"
"Sepertinya mereka kaget."
"Ya, wajar."
"Mas tidak takut?"
"Takut."
Retna terkejut.
"Kenapa?"
"Karena aku akan bertemu dengan orang tua perempuan yang aku cintai."
Retna langsung terdiam. Wajahnya memerah.
"Mas jangan ngomong begitu."
"Kenapa?"
"Saya jadi malu."
Nathan tertawa.
Dua hari kemudian, mereka berangkat menuju rumah orang tua Retna.
Kali ini Nathan terlihat lebih gugup. Ia beberapa kali memeriksa pakaiannya.
"Mas, kenapa dari tadi lihat baju terus?"
"Menurutmu ini terlalu formal?"
"Sedikit."
"Haruskah aku ganti?"
"Jangan. Ayah saya mungkin senang melihat Mas datang dengan rapi."
Nathan mengangguk, lalu mengambil sebuah tas.
"Itu apa?"
"Buah dan beberapa oleh-oleh. Aku tidak ingin datang dengan tangan kosong."
Retna tersenyum. Sikap Nathan semakin meyakinkannya bahwa pria itu benar-benar serius.
Ketika mereka sampai di rumah orang tua Retna, jantung Retna berdebar.
Rumah sederhana itu masih sama seperti yang ia ingat: halaman kecil, pohon yang sudah tumbuh cukup besar, dan teras tempat dulu ia sering duduk bersama orang tuanya.
Retna turun dari mobil, diikuti Nathan yang membawa beberapa barang.
"Mas, jangan terlalu tegang."
"Aku berusaha."
Retna tertawa kecil.
Mereka berjalan menuju pintu. Belum sempat mengetuk, pintu sudah terbuka.
Ibunya berdiri di sana.
"Retna..."
"Bu."
Retna langsung memeluk ibunya. Setelah itu, pandangan sang ibu beralih kepada Nathan.
Nathan membungkukkan badan dengan sopan.
"Selamat siang, Bu."
"Ini Nathan?"
"Iya, Bu."
Nathan menyerahkan buah dan oleh-oleh.
"Ini sedikit untuk Ibu dan Bapak."
Ibunya menerima dengan kedua tangan.
"Terima kasih."
Dari dalam rumah, ayah Retna muncul. Ia memandang Nathan cukup lama, seperti seorang ayah yang sedang menilai pria yang datang bersama putrinya.
Nathan kemudian mendekat.
"Selamat siang, Pak."
Ayah Retna mengangguk.
"Siang."
Mereka dipersilakan masuk. Setelah duduk beberapa saat, ayah Retna membuka pembicaraan.
"Kamu sudah mengenal Retna cukup lama?"
"Sudah, Pak."
"Dan kamu tahu dia pernah menikah?"
"Saya tahu."
"Kamu tahu pernikahannya dulu tidak berjalan baik?"
"Saya tahu."
Retna menunduk, tetapi Nathan menjawab dengan tenang.
"Dan saya tidak mempermasalahkannya."
Ayah Retna menatapnya.
"Kenapa?"
"Karena saya tidak ingin menikahi masa lalunya. Saya ingin menjalani masa depan bersama Retna."
Ruangan mendadak hening. Ibunya tampak berkaca-kaca.
Nathan melanjutkan.
"Saya tahu Retna pernah terluka dan masih memiliki rasa takut. Saya tidak bisa menjanjikan bahwa hidup kami akan selalu sempurna, tetapi saya bisa berjanji akan menghargai putri Bapak dan Ibu."
Retna menahan air mata.
"Saya datang ke sini bukan hanya sebagai pria yang sedang dekat dengan Retna." Nathan meletakkan kedua tangannya di atas lutut. "Saya datang sebagai pria yang serius ingin menikahinya."
Ayah Retna terdiam. Ibunya menatap putrinya.
"Retna, kamu yakin?"
Retna mengangguk.
"Aku yakin, Bu."
"Benar-benar yakin?"
Retna tersenyum.
"Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, saya merasa tidak takut untuk mencoba lagi."
Ibunya mengusap air mata. Ayahnya menghela napas panjang, lalu menatap Nathan.
"Kalau begitu, Bapak tidak akan menghalangi."
"Pak..."
Ayahnya tersenyum tipis.
"Bapak hanya punya satu pesan."
"Apa itu, Pak?"
"Jangan membuat Retna kembali menangis karena pernikahan."
Nathan terdiam.
"Saya akan berusaha sebaik mungkin, Pak."
"Bukan hanya berusaha." Ayah Retna menatapnya. "Jaga dia."
Nathan mengangguk.
"Saya akan menjaganya."
Retna tidak mampu menahan air matanya lagi. Ia menangis dalam diam, tetapi kali ini tangisnya terasa berbeda.
Bukan tangis karena kehilangan atau dikhianati, melainkan tangis karena akhirnya ia mendapatkan sesuatu yang sempat ia pikir tidak akan pernah ia miliki lagi.
Restu.
Keluarga yang mendukung.
Dan seorang pria yang datang dengan sopan untuk meminta izin membawa putri mereka menuju kehidupan baru.
Nathan meraih tangan Retna. Retna menggenggamnya erat.
Masa lalunya memang tidak bisa dihapus, tetapi untuk pertama kalinya Retna tidak lagi ingin menghapusnya. Dari semua luka itu, ia belajar mengenali bagaimana rasanya dihargai.
Dan kini...
Ia siap menjalani masa depan bersama Nathan.