Indonesia
NovelToon NovelToon
Salah Rahim

Salah Rahim

Status: tamat
Genre:CEO / Duda / Pernikahan Kilat / Konflik Rumah Tangga-Pernikahan Angst / Tamat
Popularitas:13.5M
Nilai: 4.8
Nama Author: alya aziz

Arman enggan untuk menikah lagi setelah kematian sang istri, namun sangat ingin mempunyai anak sebagai penerus keluarga.


Teknologi medis yang semakin canggih membuat Arman bisa saja mempunyai seorang anak tanpa harus melalui hubungan badan. Prosedur itu biasa disebut dengan inseminasi buatan. Naas, sel sp*rma Arman yang seharusnya disuntikan ke rahim seorang wanita yang telah disiapkan, malah di suntikan ke rahim Asyifa Khairunnisa.



"Aku tidak pernah melakukan zina seperti yang kalian katakan, aku tidak mungkin hamil!"


Syifa dinyatakan hamil tepat di hari pertunangannya. Sang calon suami yang sudah terlanjur kecewa memutuskan pertunangan begitu saja.


Tepat hari itu pula Arman mengetahui bahwa dokter rumah sakit tersebut telah melakukan kesalahan prosedur inseminasi buatan. Arman pun tidak tinggal diam, ia datang menghampiri Syifa di kediaman orang tuanya.



"Lahirkan anak itu untukku." Arman Alfarizi.


Langkah apa yang akan Syifa ambil selanjutny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alya aziz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.20

...Hadist riwayat Ahmad, Rasullullah bersabda:...

...Sesungguhnya orang-orang yang saling mencintai, kamar-kamarnya di surga nanti terlihat seperti bintang yang muncul dari timur atau bintang barat yang berpijar. Lalu ada yang bertanya, "Siapa mereka itu?", "Mereka itu adalah orang-orang yang mencintaikarena Allah 'Azzawajalla."...

.

.

.

"Aduh! Kalau tau seperti ini tadi naik mobil ku saja," ketus Shila saat membantu Devan mendorong motor.

Sepertinya mereka akan gagal menjenguk Arman karena kondisi yang sudah hampir malam dan mereka belum juga menemukan bengkel.

Sial bagi Shila padahal Ia sudah menyiapkan akting terbaiknya jika bertemu Arman nanti. Sekeranjang buah segar pun sudah ia beli sejak istirahat kantor tadi.

"Ini motor Ayah ku, motor ku kemarin di pakai Arman, aku tidak tau dia taruh di mana. Kalau kita naik motor ku, pasti tidak akan mogok seperti ini," kilah Devan, sebenarnya motornya jauh lebih butut dari milik sang Ayah.

"Banyak alasan, aku lelah mau menunggu taksi saja di sini."

Devan berbalik saat Shila berhenti membantunya mendorong motor. "Ini hampir magrib, kawasan ini rawan begal sama copet loh."

"Ah sial! Kenapa aku malah terjebak di sini sama orang seperti kamu."

Devan terlihat kesal ketika Shila terus saja menyalahkannya. Padahal Ia juga tidak mau hal ini terjadi, ia yang awalnya suka kepada Shila yang cantik, kini menjadi kesal sendiri karena sikap Shila tidak sesuai ekspektasinya. "Eh gorong-gorong Sudirman, ngomong lagi aku tinggal nih."

Merasa tidak terima, Shila menarik kerah baju Devan dari belakang. "Apa kamu bilang, gorong-gorong Sudirman? Eh aku ini Sekertaris perusahaan besar, cantik dan berprestasi."

"Terserah kamu, tuh di depan ada bengkel, aku mau mampir kalau kamu mau lanjut jalan, silahkan." Ia kembali mendorong motornya menunju sebuah bengkel yang berjarak sepuluh meter darinya.

Sementara Shila masih di sana mendengus kesal atas apa yang terjadi kepadanya sore ini. Ia memandangi para anak punk dan juga preman yang ada di depan sana tentu saja ia takut untuk berjalan sendiri.

Akhirnya Ia memutuskan untuk ikuti ke bengkel. Devan berdecak tak percaya ketika melihat Shila beranjak duduk di sampingnya. "Takut Bu jalan sendiri?"

"Ini terpaksa ya, karena di depan sana banyak preman. Mana ponsel habis baterai, hari ini benar-benar sial!"

Devan kembali tekekeh sendiri melihat sikap jual mahal Shila.

...~~...

Di sepertiga malam yang begitu pekat. Syifa terbangun hendak melaksanakan sholat tahajud, seperti biasanya. "Alhamdulillah, bisa bangun jam segini." Saat hendak turun dari ranjang, ia tersadar jika sang suami tidak berada di sampingnya.

Malam tadi, Syifa ingat Arman bilang akan bekerja lembur. Satu hari saja Arman libur maka pekerjaan akan menumpuk untuk itu karena sudah merasa lebih baik ia mengerjakan semua pekerjaannya di rumah.

"Astaghfirullah, jangan-jangan Mas Arman belum pernah tidur."

Tanpa membuang waktu, Syifa segera melangkah keluar. Untung saja ruang kerja sang suami berada tepat di samping kamarnya.

Klek.

Pintu ruangan itu terbuka, namun langkah Syifa terhenti di ambang pintu saat ia melihat sang suami sedang melaksanakan ibadah Sholat malam. Hatinya kembali tersentak, pria yang saat menikah dengannya bingung di mana arah kiblat kini mulai kembali kejalannya.

Masyaallah, sungguh sempurna ciptaan mu ya Allah. Aku tidak pernah berekspektasi tinggi jika dia benar-benar ingin kembali ke jalan mu, tapi saat ini aku bisa melihat jika dia adalah seorang hamba yang merindukan surga mu, batin Syifa.

Perlahan ia melangkah, duduk di belakang sang suami. Pandangannya fokus melihat punggung kokoh yang sedang bermunajat kepada-nya.

Entah apa yang Syifa pikiran. Tatapan begitu sendu, seolah merindu sosok suami yang tak bisa ia sentuh. Rasa itu mulai hadir dan mengusik sanubari, ia hanya bisa memeluk bayang-bayang bagai bulan yang di kekang malam.

"Syifa, kamu disini."

Syifa yang sejak tadi tenggelam dalam lamunannya sendiri, akhirnya tersadar. Ia menatap sang suami yang saat ini hanya berjarak setengah meter darinya. "Oh iya Mas, maaf tadi aku pikir Mas masih lembur ... Mas Shalat tahajud ya?"

"Istikharah dan tahajud, sudah lama aku tidak shalat malam. Doanya sampai lupa, aku sampai membuka buku dan internet," jawab Arman sambil melipat sajadahnya.

Syifa mencengkram lututnya saat mendengar pernyataan sang suami. Sebagai seorang wanita yang biasa melaksanakan ibadah shalat tersebut tentu saja ia mengerti apa makna dan tujuan ketika seseorang melaksanakannya.

"Apa Mas sedang bingung untuk memutuskan sesuatu?"

Arman kembali duduk di depan Syifa setelah selesai merapikan sajadahnya. "Aku merasa terjebak dalam satu situasi. Aku tidak tahu jalan apa yang harus aku ambil, kali ini aku mencoba melibatkan Allah di dalam masalah ku, seperti yang kamu bilang, Allah memang tidak bisa membuat aku melupakan rasa kehilangan itu tapi Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lain."

Ya Allah ada apa dengan tatapan itu, aku tidak ingin salah paham dengan situasi ini, batin Syifa.

"Apa aku boleh ... boleh tau, apa yang membuat Mas bingung untuk mengambil keputusan, pekerjaan ya?"

Bukannya menjawab Arman malah tersenyum lalu menggelengkan kepalanya. "Bukan, ini rahasia ku dan Allah. Masih dalam proses memantapkan diri, kamu kepo ya?"

Syifa tersenyum seraya menundukkan kepalanya. Andaikan pernikahan mereka ada harapan mungkin kemesraan akan terajut indah, namun ia tahu batasan hingga tidak berani berharap terlalu jauh.

Setelah merasa bisa mengontrol perasaannya ia kembali menatap Arman. "Alhamdulillah, aku ikut senang melihat Mas Arman kembali percaya kepada Allah. Apapun yang membuat Mas bingung, semoga cepat mendapatkan jawaban. Kencangin lagi sepertiga malamnya."

Perlahan tangan Arman bergerak, mengusap lembut pucuk kepala sang istri. "Dampingin Mas ya, semoga semakin taat, agar kelak bisa menjadi teladan untuk Cabay."

Deg.

Sekujur tubuh Syifa terasa bergetar, untuk pertama kalinya ia merasakan sentuhan sang suami di bagian kepalanya. Nyaman dan membuat hati semakin resah. Ingin menghindar tapi tubuhnya terasa begitu kaku seolah enggan untuk beranjak.

"Insyallah Mas. Kalau begitu aku kembali ke kamar ya, mau shalat juga takut waktunya habis." Ia segera berdiri dan melangkah keluar dari ruang kerja Arman.

Arman masih di sana, memandangi kepergian Syifa hingga menghilang dari balik pintu. Ya Allah, apa yang harus aku lakukan. Dia adalah wanita yang baik, aku tidak bisa membuatnya terluka. Hadirkan cinta itu segera, jika memang engkau menghendaki aku bersamanya, batin Arman.

~

Di dalam kamar, Syifa hendak pergi ke kamar mandi untuk berwudhu tetapi tiba-tiba saja ponselnya bergetar. Karena penasaran dan takut ada pesan penting ia pun mengecek ponselnya.

"Pesan dari nomor baru, siapa ya." Sempat merasa ragu saat hendak membuka pesan chat tersebut tetapi rasa penasarannya lebih besar. Sedetik kemudian ia nampak terkejut sampai-sampai menutup mulut dengan tangan kanannya.

Ya, siapapun yang menjawab bahwa pesan itu dikirim oleh Firman maka jawabannya, Benar.

[Assalamualaikum sang pemilik hati. Aku tahu kamu masih kesal dan marah kepadaku. Di sepertiga malam ini, melalui jalur langit Aku bermunajat meminta untuk kembali dipersatukan denganmu. Aku masih disini menunggu kamu untuk kembali.]

Bersambung 💕

Bab selanjutnya ➡️ (Doa mana yang terkuat?)

Guys! mampir ke novel keren yang satu ini ya, berikan dukungan dana tap favorit, terimakasih 🙏

1
tati st🌼🌼
terus terang aku baru tau ada karya otor di sini
pretty girl's
luar biasa
Issya Anissya
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Issya Anissya
sangat bagus sekali
Ambu Purwa
ada ada saja kamu syfa
Ambu Purwa
padahal.syfa jangan katakan dulu hamil tapi bikin kejutan donk ke suamimu
Ambu Purwa
bahagia syfa punya suami hebat
Ambu Purwa
sehat selalu ya debay
Ambu Purwa
lannht swmoga aeman lukuh
Yuningsih Nining
aiiih 🤣🤣🤣belut sawah kayak kepincut belut si devan aja
masih Utuhh ktnya sehari lemmes 🤣🤭
Yuningsih Nining
🤣🤣Gagal unboxing dach padahal abis puasa wou cm brp hari
kata syifa selamat selamat dach ahhahaaa
Yuningsih Nining
nyesal kan, nyesel kamu firman fir'aun kata devan, itu akibat gamau denger penjelasan syifa , tp yng lebih kuat syifa bln BerJodih sm kamu tp sama Arman
Ambu Purwa
biarkan waktu yg menjawab
Ambu Purwa
jawab iya arman biar firman ga ada celah masuk dengan dalih cinta
Ambu Purwa
pasti menyesal ya.ga berguna lagi wong syfa dah nikah bro
Ambu Purwa
boleh syfa bikin tuh arman jatuh cinta sampai klepek2
Ambu Purwa
semoga syfa menjadikan arman bucin 7 keliling
Ambu Purwa
shila ada maksud tertwntu dan ingin jadi nyonya arman Alhamdulilah jalan membelokkan akhirnya gagal
Ambu Purwa
memang menggemaskan
Ambu Purwa
firman kalah stak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!