Cinta tanpa halangan restu atau kesenjangan sosial, membuat kisah cinta Devina dan Danar begitu mudah. Apalagi cinta keduanya berlabuh pada ikatan pernikahan, menjadikan kehidupan Devina dan Danar semakin semakin bahagia. Tanpa menunggu waktu lama, buah hati yang diharapkan pun lahir ke dunia. Namun di sinilah, awal mula penderitaan dimulai. Bayi yang mereka cintai, mengidap penyakit kelainan. Penyakit yang menimpa bayinya, disebabkan hubungan Danar dan Devina yang miliki. Di sinilah mulai terkuak rahasia keduanya. Penyakit kelainan apa yang menimpa bayi malang tersebut? Rahasia apa yang menyebabkan kemalangan bayi tersebut? Apa sebenarnya hubungan Devina dan Danar? Bagaimana kisah cinta mereka selanjutnya setelah terkuaknya sebuah rahasia? Inilah kisah cinta Devina dan Danar. Menjadikan cinta mereka telah salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zyvaraku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Tersadar
Menunggu hingga lima jam lamanya, akhirnya kini Devina sudah tersadar kembali. Mengerjapkan mata perlahan dan menatap sekeliling ruangan yang menurutnya asing. Ruangan bernuansa putih, Devina tau ia masih berada di rumah sakit. Devina mengingat ia melahirkan anaknya secara operasi. Tubuhnya masih lemah. Danar yang sudah rapi penampilannya, masih setia berada di samping istrinya. Sedangkan orang tua mereka saat ini masih pulang terlebih dahulu.
"Kamu sudah sadar, sayang?" tanya Danar dengan binar mata yang bahagia melihat istrinya tersadar.
"Eemmhh, Mas Danar!" lirih Devina menoleh ke suaminya.
"Iya, sayang. Ini aku. Apa yang kamu rasakan? Apa kamu butuh sesuatu, sayang?" tanya Danar cemas
"Haus" jawab Devina dengan lirih.
Danar yang mengetahui istrinya haus, langsung mengambil air minum yang berada di meja samping brankar itu. Dengan telaten Danar memegangi gelas untuk istrinya minum. Setelah ranjang brankar itu dinaikkan sedikit bagian kepala. Sehingga memudahkan Devina untuk minum.
"Terima kasih, Mas." ucap Devina setelah minum dan merebahkan diri lagi di brankar tersebut. Dirinya masih merasa lemah.
"Iya, sayang. Ada lagi yang kamu butuhkan, sayang?" tanya Danar sambil menggenggam tangan istrinya kembali.
"Di mana anak kita, Mas? Dia baik-baik aja kan? Aku ingin melihatnya." cecar Devina setelah mengingat anaknya yang baru ia lahirkan.
Namun Danar tertegun mendengar pertanyaan sang istri tentang anak mereka. Danar bingung saat ini untuk bisa menjelaskan kepada istrinya. Karena Danar tidak ingin melihat istrinya merasa cemas dan khawatir. Danar tau, Devina belum pulih pasca operasi melahirkannya. Ditambah lagi, Devina kehabisan banyak darah setelah melahirkan.
"Mas? Anak kita baik-baik aja kan?" Devina mengulangi lagi pertanyaannya. Devina menatap bingung pada suaminya yang diam saja.
"Ah,, iya sayang. Anak kita sedang berada di ruang inkubator. Tapi anak kita baik-baik aja, sayang. Kamu tidak usah khawatir ya!" jawab Danar dengan tenang.
"Kasihan anak kita, Mas! Dia masih harus berjuang untuk hidupnya. Aku Ibu yang gak berguna, Mas. Aku yang membuatnya begini." ucap Devina sedih dengan isakan tangis. Devina menyalahkan dirinya sendiri atas yang terjadi pada anaknya.
"Tidak, sayang! Itu bukan salahmu. Tidak ada yang salah di sini. Anak kita hanya masih lemah saja, sayang!" jelas Danar sambil merengkuh sang istri membawanya dalam dekapan.
"Maafkan Mama, Nak! Maafkan Mama!" ucap Devina dengan isakan tangis yang menyayat hati.
"Antarkan aku ke sana, Mas! Aku ingin melihatnya. Aku ingin menemaninya." lanjut Devina yang masih berada dalam pelukan suaminya.
"Iya, sayang. Nanti kita ke sana. Tapi kamu harus pulih dulu, sayang. Kamu masih terlalu lemah. Aku tidak ingin kamu kenapa-napa sayang!" jelas Danar menenangkan sang istri yang masih terisak dalam pelukannya.
"Aku sudah baik-baik saja, Mas! Lihat! Jadi antarkan aku sekarang, Mas!" ucap Devina memohon pada suaminya sembari melepaskan diri dari pelukan suaminya.
"Iya, sayang! Kita tunggu dokter dulu, ya! Kita pasti akan ke sana. Kamu tenang ya, sayang!" jawab Danar sambil menangkup wajah istrinya dan memberikan kecupan di keningnya.
Devina hanya mengangguk dan sedikit tenang. Setelah melihat Devina mulai tenang, Danar langsung memencet tombol merah di samping brankar yang tersedia sebagai panggilan urgent untuk dokter atau perawat yang bertugas. Tak lama seorang dokter dan perawat datang dan berjalan ke arah mereka.
Dokter segera memeriksa kondisi Devina dan melakukan pemeriksaan menyeluruh. Danar masih setia mendampingi istrinya di sebelahnya. Devina menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan dokter saat memeriksanya. Keluhan yang dirasakan atau rasa sakit pada luka sayatan di perutnya pasca operasi sesar. Setelah memeriksa kondisi pasien dan memastikan tidak ada hal serius yang membahayakan, dokter dan perawat yang mendampingi undur diri.
"Kamu sudah dengar kan, sayang? Kita akan segera menemui anak kita. Tapi kamu harus bilang kalau ada sakit yang kamu rasakan. Jangan ditahan ya, sayang?" ucap Danar dengan lembut.
"Iya, Mas. Hanya sedikit nyeri saja di perutku. Aku masih bisa menahannya." jawab Devina meyakinkan.
"Baiklah! Tapi kamu makan dulu ya, sayang! Setelahnya minum obat. Dan kita akan menemui anak kita." ucap Danar dengan tatapan lembutnya. Devina mengangguk sebagai jawaban.
Dengan telaten dan sabar, Danar menyuapi istrinya. Devina sungguh merasa bahagia. Karena dicintai sebegitu besar oleh suaminya.
"Nama anak kita siapa, Mas?" tanya Devina di sela makannya.
"Sesuai yang pernah kita sepakati, sayang. DAFFIN KAMA ADIJAYA. Putra tersayang kita." jawab Danar dengan senyuman yang mengembang.
"Aku suka Mas! Putra kesayangan Danar dan Devina." ucap Devina tersenyum.
Setelah menghabiskan makanan dan minum obatnya, Devina bersama Danar pergi ke ruangan inkubator tempat anaknya berada. Dengan kursi roda yang didorong Danar, Devina duduk dengan santai. Devina belum jika untuk berjalan. Karena pasca operasi sesar, tubuhnya masih terasa berat jika untuk berjalan. Devina mesti belajar berjalan terlebih dahulu jika ingin sehat total.
Di luar ruangan inkubator yang dibatasi dinding kaca tembus pandang, keduanya tengah menatap makhluk mungil yang sedang terpejam di dalam alat inkubator. Devina menahan tangis haru dan sedihnya melihat kondisi sang putra. Beberapa selang menempel di tubuh bayi tak berdosa tersebut.
Devina memang belum mengetahui kondisi sang putra sebenarnya. Tapi Devina merasa ada yang tidak beres setelah melihat kondisi anaknya tersebut. Namun Devina sekuat tenaga menahan tangisnya. Ia tidak boleh lemah. Hal serupa juga dirasakan oleh Danar. Putra kesayangannya yang baru lahir harus menderita seperti ini. Danar sudah mengetahui apa yang dialami putranya. Ia tidak menyangka jika putranya harus merasakan hal seperti itu. Baginya itu menyakitkan. Namun, Danar belum mampu berkata jujur kepada Devina.
"Kasihan sekali Daffin, Mas! Badannya masih begitu kecil tapi harus merasakan sakit seperti itu. Aku ingin sedih melihatnya, Mas! Putraku, Mama di sini, sayang!" ucap Devina bergetar menahan tangis pilu.
"Sabar, sayang! Kita harus kuat, sayang! Demi Daffin." jawab Danar tercekat. Kelu rasanya saat mengucapkan bahwa ia dan istrinya harus kuat. Sejatinya ia pun amat terpukul.
"Ini salahku, Mas. Andai aku bisa lebih hati-hati dan tidak jatuh di kamar mandi, pasti Daffin akan baik-baik saja. Dia tidak akan terlahir seperti ini." sesal Devina begitu dalam.
"Sayang, jangan katakan itu lagi! Ini semua bukan salahmu, sayang! Ini sudah takdir kita. Putra kita anak yang kuat. Dia pasti akan cepat sehat dan segera berkumpul bersama kita." ucap Danar sambil jongkok mensejajarkan dirinya dengan istrinya.
Devina semakin terisak mendengar ucapan suaminya. Devina sungguh merasa bersalah yang menimpa anaknya. Devina tidak mengetahui bahwa kemalangan yang menimpa anaknya bukan akibat insiden tersebut.
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu wajib searchnya pakek tanda kurung dan satu novel lagi judulnya Caraku Menemukanmu
semakin menarik ceritanya thor.. tp mana kelanjutannya?? jangan di php in ya. ditunggu updatenya thor. yang semangat nulisnya💪💪