Indonesia
NovelToon NovelToon
Harta, Tahta, Biduanita

Harta, Tahta, Biduanita

Status: tamat
Genre:Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Keluarga & Kasih Sayang / Romansa / Tamat
Popularitas:13.6k
Nilai: 5
Nama Author: dee Irma

Kakek akan menyerahkan tampuk kekuasaan pada cucu tercinta, dengan syarat, dalam satu bulan mendapatkan seorang istri.
Jika tidak berhasil, maka tampuk kekuasaan akan jatuh pada pamannya, yang memiliki istri bertabiat buruk.
Dan yang lebih parahnya, sang kakek tetap akan menikah Rama dengan gadis pilihan sang kakek.
Pertemuan dengan biduan secara tak sengaja, membuat Rama memiliki ide untuk menyusun rencana brilian melancarkan permintaan kakeknya.
Namun, ternyata beberapa hal terkuak saat Rama berusaha menjalankan misinya itu.
Rahasia apa saja yang akan terbongkar?
Bagaimana hubungannya dengan sang biduan?

Ikuti kisah mereka di sini...

Update setiap hari...

cerita hanya fiksi, karangan penulis semata.

😘😘


Ikuti kisah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dee Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejadian Buruk Risma

"Wah... Kamu datang juga. Kami kira kamu main main, kita dapat job manggung untuk mengisi acara di sini. Apalagi keluarga Herlambang, keluarga pengusaha dan sosialita."

Ucap Akbar sambil menyambut Gendis yang berjalan menuju ke tempat teman bandnya berkumpul.

"Iya. Yang penting kita dapat job. Dan kita harus menampilkan yang terbaik untuk acara besok." Sahut Gendis.

Akbar mengangguk.

Mereka segera naik ke panggung dan Akbar, Eka, dan Satya mulai memainkan alat musik mereka, lalu Gendis mulai mengeluarkan suara merdunya.

Dari sudut ruangan, bar khusus pengunjung hotel milik keluarga Rama. Rama menatap Gendis dengan kagum.

"Hei, Lo di sini?" Sapa Dimas sambil menepuk bahu keponakannya itu.

"Nemenin istri latihan." Sahut Rama sambil menyesap minumannya.

Dimas ikut duduk di samping Rama sambil memesan segelas minuman pada seorang bartender.

"Tumben turun, biasanya ngendon di ruangan mulu." Sindir Rama sambil tersenyum menatap pamannya itu.

"Kak Silvi bekerja terlalu rajin, aku sudah untuk mengikutinya. Jadi dia kasih aku kerjaan di luar hotel. Kak Silvi, memintaku mengurus kafe sambil memasarkan produk kopi dari kebun kita sendiri." Sahut Dimas.

"Jadi Lo ga ngurus hotel lagi?"

"Masih. Tapi bagian restoran saja. Sejak, Papa memberikan bagian pada kita masing masing, Kak Silvi memintaku untuk fokus mengurus perkebunan dan restoran. Lalu Kak Silvi memberi saran untuk membuat kafe, baik yang besar maupun yang model street food gitu, supaya dapat menjangkau banyak konsumen. Jadi selain sebagai produsen kopi, aku juga dapat menjadi tempat untuk pemasaran produk perkebunan sendiri."

"Mas Rama... Bisa tolong antar aku?" Gendis menghampiri Rama dengan raut wajah cemas.

"Ada apa?"

"Kak Risma.."

"Iya, kenapa?" Tanya Rama penasaran.

Gendis yang terlihat panik, menggerakkan tangannya cepat sambil gelisah.

"Kak Risma dipukuli sama suaminya." Ucap Gendis.

"Apa? Ayo!" Ajak Rama. Kini raut wajahnya juga terlihat cemas.

"Gue ikut!" Susul Dimas mengikuti Rama dan Gendis.

"Ayo, kalian ikut kami saja!" Teriak Rama sambil menoleh ke arah Satya, Akbar, dan Eka.

Ketiga lelaki itu segera berlari kecil mengikuti Rama, dan ketiganya masuk ke mobil Rama.

Dimas mengikuti di belakang mobil yang dikendarai oleh Rama menuju kediaman Risma.

"Kak Eka, belokannya yang sebelah mana ya? Yang di dekat perempatan atau yang di depan lagi?" Tanya Gendis sambil mengamati jalan.

"Yang di depan lagi. Nah, itu, belokan itu, maju dikit, ada gang masuk dikit." Tunjuk Eka dari jok belakang.

"Aku tuh sudah bilang, kenapa nggak pisah saja sama suaminya, kalau sering begini." Keluh Gendis prihatin.

"Iya, kita kita kan sebagai cowok, juga sebagai teman Risma, juga sudah sering mengingatkan. Tapi, katanya dia itu dijual oleh bapaknya pada Ali preman itu. Katanya buat Nebus hutang." Sahut Akbar.

"Iya, kalian ga ada yang naksir kak Risma apa?" Tanya Gendis sambil menoleh pada ketiga laki laki yang ada di jok belakang.

Ketiganya terdiam dan saling toleh menatap satu sama lain.

"Kami selalu menganggap Risma itu seperti kakak kami sendiri. Selai lebih tua, dia lah yang mengayomi kami bertiga. Bahkan selalu menjadi tempat curhat bagi kami jika ada masalah sama pacar." Akbar menyahut.

"Iya. Nah. Itu dia, rumah yang pagarnya putih..!" Tunjuk Eka.

Rama mencari tempat untuk memarkir mobilnya.

Setelah berhenti, semua berhambur keluar dari mobil dan langsung menuju ke rumah Risma.

"Kak Risma! Ya Tuhan, Kak!" Pekik Gendis sambil memeluk tubuh Risma yang bersimbah darah.

"Ayo, tolong! Bantu aku, angkat Kak Risma."

Dimas bergegas maju dan menggendong tubuh Risma yang lemah. Gendis menemaninya di dalam mobil Dimas.

*

"Bagaimana Dokter?" Desak Gendis saat melihat seorang dokter keluar dari ruang operasi.

"Mbak, keluarganya?" Tanya dokter tadi.

"Bukan... Eh... Iya... Kami keluarganya, Dokter." Sahut Gendis sambil menoleh ke arah ketiga teman bandnya, lalu menatap dokter itu lagi.

Dokter menghela napas sejenak.

"Saat mohon maaf. Tapi, janin yang dikandung tidak dapat tertolong, dan kondisinya, sangat lemah dan membutuhkan perawatan yang intensif. Banyak luka kekerasan dan luka pada bagian intimnya." Ucap Dokter itu.

"Tolong minta visum dia, Dokter. Dia adalah korban kekerasan suaminya." Pinta Dimas.

"Ya. Apakah bisa dibantu?" Gendis mengangguk sambil menatap dokter itu.

"Ya. Akan saya buatkan laporannya. Semoga dapat membantu."

"Terima kasih, Dokter." Ucap semua hampir berbarengan.

"Eh, Dokter?" Panggil Gendis.

Sang dokter yang hendak masuk, menoleh kembali.

Dokter itu menatap Gendis.

"Apakah kami dapat menjenguknya?"

"Tunggu lima belas menit lagi. Paduan akan dipindahkan ke ruangan pasien." Sahut dokter sambil tersenyum.

"Baik. Terima kasih." Ucap Gendis dengan sopan.

*

"Mon...??" Panggil Risma saat sadar dari obat bius operasinya.

"Ya, Kak." Gendis mendekatkan kursi di tempat tidur.

"Mon, perutku? Mana anakku? Mana? Apakah dia baik baik saja?" Tanya Risma panik saat mengetahui janinnya sudah tidak ada dalam. Kandungannya lagi.

"Akbar, Satya, Eka... Apa yang terjadi? Mana anakku?" Teriak Risma dengan panik.

"Risma.... Tenanglah! Yang penting kamu sehat dan baik dulu." Satya mendekat sambil menepuk bahu Risma.

"Tidak! Apa yang sebenarnya terjadi? Mana bayiku? Mana anakku?"

"Kak...."

Risma menoleh pada Gendis yang memanggilnya sambil tertunduk.

Gendis lalu menatap Risma dengan lembut.

"Kak, anakmu tidak dapat terselamatkan. Maaf, Kak...!"

Gendis menatap Risma yang diam terpaku usai mendengar penjelasan Gendis.

"Kak... Kak Risma?" Gendis memeluk Risma, yang langsung tangis Risma pecah saat Gendis memeluknya.

Semua lelaki yang ada dalam ruangan itu hanya bisa diam.

Dimas keluar dari kamar tempat Risma dirawat sambil diikuti oleh Rama.

"Bagaimana kejadiannya, Kak?"

Risma merenggangkan pelukan dari Gendis, dan duduk bersandar bantal.

"Aku tak tahu apa apa, aku bersiap hendak pergi ke hotel tempat kita latihan. Tiba tiba, Ali masuk ke rumah, lalu meminta jatah untuk dilayani." Risma mengambil jeda.

"Lalu aku menolaknya, dengan alasan, sedang hamil besar dan kan bekerja. Lalu dia semakin marah. Ali memukuliku, menampar, dan menendang tubuhku, lalu perutku terasa sakit sekali. Tapi Ali tak menggubrisnya. Dia... Dia tetap melakukannya, hingga perutku terasa sangat sakit dan mengeluarkan banyak darah."

Gendis mengusap lembut pundak Risma sambil menyimak setiap cerita yang dilontarkan oleh Risma.

"Lalu... Lalu dia pergi meninggalkan aku, dan aku merasakan ada yang aneh dalam perutku. Lalu aku menghubungi kamu, Mon."

Risma menatap Gendis.

"Kak, sudahlah lepaskan saja suamimu itu! Biarkan dia mempertangungjawabkan semua perbuatannya padamu. Dia telah membunuh anak kalian! Dia harus mendapatkan hukuman atas tindakannya ini, Kak." Bujuk Gendis sambil menatap Risma yang masih menangis sesenggukan.

"Aku memang membenci Ali. Tapi, anak ini? Anak ini tidak berdosa. Aku terlanjur menyayanginya, bahkan aku menantikannya! Tapi sekarang...."

Risma menutup wajahnya dengan kedua tangannya, sambil melampiaskan tangisnya.

"Kak, semua pasti ada jalannya."

"Aku bisa apa, Mon? Aku tak punya uang untuk menyewa pengacara." Risma menggeleng kepalanya sambil tersenyum sinis.

"Laporkan saja pada polisi, Kak! Percayalah padaku, dia harus mendapatkan hukuman." Gendis meyakinkan Risma.

Risma menatap Gendis, lalu menatap Akbar, Satya, dan Eka.

"Kami akan mendukungmu!" Ucap mereka bersamaan.

Risma menatap teman temannya dengan rasa haru.

1
Sulaiman Efendy
TU BELLA DN KOMPLOTANNYA GMNA,, KOQ GK DI JELASIN...
Sulaiman Efendy
MACAM GITU KLAKUAN LO PNGN BALIKN SAMA RAMA, TUBUH DIBAGI SAMA PRIA LAIN,, SIAPA DLU SURUH LO KHIANATI DN KHIANATI RAMA SEHARI SEBELUM PRNIKAHAN LO MA RAMA, LO MLH KABUR SAMA AKTOR KAFIR.. STELAH 5 THN LO MUNCUL KMBALI DN NGAJAK KMBALIAN.. RAMA BKN BAYU YG MSH MNCINTAI MARNI/MAYANG..
Sulaiman Efendy
PASTI SI BELLA TUU
Sulaiman Efendy
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Sulaiman Efendy
IKUTAN TRTAWA AZA😅😅😅😅😅😅😅
Sulaiman Efendy
SETELAH TUBUH LO KENYANG DICICIPI ORG LAIN, LO PNG NGAJAK RAMA BALIKAN, ENAK KAKI HIDUP LO
Sulaiman Efendy
PASTI SI BELLA MNTAN RAMA YG BERKHIANAT.. NGAPAIIN LGI DY PNGN KTEMU RAMA,, NGAJAK BALIKAN STELAH DICAMPAKKN
Sulaiman Efendy
SUDAH KELIHATAN, MSH BILANG GK SPRTI YG TERLIHAT
Sulaiman Efendy
SEMOGA BAYU GK TRPENGARUH MAYANG YG INGIN KUASAI HARTA, TN.HARTAWAN.. MAKLUMLH, KRN CINTA BUTA, BISA BIKIN ORG BUTA MATA HATI..
Sulaiman Efendy
MAYANG PSTI HAMIL ANAK BAYU, TPI DIA JEBAK DIMAS, DN MNGAKU HAMIL ANAK DIMAS..
Sulaiman Efendy
TERNYATA NMA MAYANG ADALAH MARNI,, BEKAS CALON ISTRI BAYU,, DIA JEBAK DIMAS,, KRN DIMAS LBH KAYA, MKANYA BAYU DITINGGAL.. TU PREMAN PSTI BUAT CELAKAIIN GENDIS
Sulaiman Efendy
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Sulaiman Efendy
PADAHAL PILIHAN KAKEK & PILIHAN RAMA ORG YG SAMA..
TU SI KAKEK,,UDH TAU MAYANG LICIK,, MSH SAJA TEMAKAN OMONGAN MAYANG..
Sulaiman Efendy
KIRAIIN DIMAS INCAR GENDIS JUGA, RUPANYA INCAR RISMA...
Sulaiman Efendy
GK PUNYA ANAK SAJA TU TAMAK ISTRI DIMAS, KLO PNY ANAK PSTI LBH TAMAK,, APA DIMAS JUGA IKUT2AN ISTRINYA UNTUK KUASAI SEMUA HARTA ORTUNYA....
Zuraida Zuraida
pasti big boss
love hunter
Aku belum bisa move on dari bab sebelumnya.. tapi aku nungguin bab baru.. gimana dong..
BeijingBand
author emang debest deh, pacar aja kalah nyenengin hati aku! karyamu selalu ditunggu!
HippySunshine
Gausah minder sama karya lain ya thor. Tiap karya dibuat dengan ciri khas penulisnya masing2 kok! Mangatseee~
Garden Rose
Selamat! Karya kk masuk rak buku akuuuu haha bakal aku tunggu terus nih kelanjutannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!