Indonesia
NovelToon NovelToon
The Little Bride

The Little Bride

Status: tamat
Genre:Terpaksa Menikahi Murid / Teen / Beda Usia / Tamat
Popularitas:28.6k
Nilai: 5
Nama Author: Deichi

Ada bermacam alasan sepasang anak Adam bersatu dalam pernikahan. Entah karena saling mencintai, perjodohan atau kecelakaan. Namun berbeda bagi pasangan Aksa dan Nayyara yang notabene guru dan murid. Karena sebuah kesalahpahaman, mereka dipaksa menikah oleh Eyang yang super konservatif.

Tanpa memberi kesempatan kepadanya untuk membela diri, Eyang ngotot menikahkannya dengan sang guru demi menghindari zina berkelanjutan. Lantas apakah sanggup Nayya yang seorang siswi SMA menikahi lelaki julid macam Adhyaksa Andaru? Dapatkah Tom and Jerry rukun dan menjadi rekan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deichi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 20 | Let Her Go

Sesuatu yang berongga itu terletak di hatinya. Sepenggal kalimat yang didengarnya adalah trigger sekaligus ancaman yang meluluhlantakkan kewarasannnya. Ketika Nayya berpikir segalanya akan berjalan baik-baik saja dan sesuai rencana, ia justru overthinking menyikapi perkataan Aksa yang seolah ingin menyakitinya dengan seburuk perlakuan dan bahkan lebih buruk dari pembunuhan.

Sebetulnya apa yang Nayya inginkan tentang hubungan mereka? Seandainya dia tidak memancing lebih dulu dan mencoba menerima Aksa sebagai suami, bukankah dia tidak akan menemui kendala dan segalanya akan ringan dilalui? Jalan pikir manusia terkadang setumpul pisau tak terasah. Saat seharusnya dia memilih yang mudah, ia justru membuatnya menjadi susah.

Ia dan Aksa bukan pula saudara sedarah yang haram menikah. Namun, dia yang mendambakan Aksa kembali seperti sedia kala seolah mendukung pikiran sesatnya tentang brother complex yang mungkin telah mewabah. Sungguh sekonyol itu dirinya bila akal sehatnya melemah. Mau sekuat apa ia menolak mentah-mentah, pada akhirnya dia tetap terjebak pada perasaan yang entah.

Sama halnya ketika dia berharap pada si pria untuk sudi mengupaskan kulit lobster untuknya seperti yang sering dilakukan. Sejatinya dia tahu itu hanyalah doa yang tak terkabulkan. Aksa memang menuruti semua maunya, namun pria itu tak acuh akan dirinya. Bahkan di saat duduk berhadapan seperti sekarang, Aksa malah sibuk menjelajahi dunia sendiri dengan bermain ponsel dan menyedot kopi.

“Kak, lobsternya nggak habis, aku udah kenyang makan burger,” adunya yang mulai bosan diabaikan.

Pria itu hanya melirik tanpa melepaskan ponsel di tangan. Tidak perlu diperjelas lagi pun sebetulnya Aksa peka apa yang Nayya inginkan. Namun reaksinya yang sedatar papan, membuktikan bahwa dia tak mau menghiraukan. “Nggak papa, nanti aku makan.”

Nayya menghidu napas dalam-dalam. Tidak pernah ia segundah ini hanya karena ingin diperhatikan. Bukan jawaban itu yang ia angankan, sebaliknya dia berharap Aksa bertindak sesuatu yang membuatnya merasa dianggap. Seperti yang lalu-lalu ketika pria itu mengekspresikan love language-nya dengan act of service alias tindakan.

“Kak?”

“Hm.”

“Kenapa kita begini?” Mata mereka saling berbenturan pada waktu yang bersamaan. “Apa kesalahanku nggak termaafkan? Apa kita akan terus seperti ini?” tanyanya putus asa.

“Apa kamu sudah mengerti di mana letak kesalahan kamu?” Tatapan Aksa yang intens memalingkan wajah Nayya ke arah lain. “Bukannya kamu mau kita seperti ini? Harusnya kamu senang karena aku mewujudkan mimpimu.”

Bersama Aksa, Nayya merasa seperti dibaca luar dan dalam. Apa sejelas itu sikapnya hingga Aksa dengan mudah mendeteksi?

“Aku tau aku salah karena punya hubungan dengan orang lain saat statusku udah nikah. Kakak boleh hukum aku, tapi jangan diemin aku kayak gini.”

Nayya menolak gengsi untuk mengakui betapa ia kehilangan semenjak dijauhi. Sesuatu yang tak mampu ditahan harus dikeluarkan. Terhadap Aksa dia berani berterus terang, kebersamaan mereka selama ini bahkan telah menumbuhkan afeksi tanpa disadari.

“Kalau kamu minta dipahami, semestinya kamu juga ikut berkontribusi. Paling enggak jagalah hati kamu, jangan melakukan hal yang nggak diperbolehkan agama saat kamu sudah menjadi istri. Aku nggak melarang kamu berteman dengan siapa pun, tapi sepantasnya kamu bisa lebih membatasi.” Kali ini Aksa menampilkan raut serius, berikut atensi yang terpusat pada si gadis yang menatap lurus.

“Sekarang aku nggak akan mengekang kamu. Aku bebaskan kamu mau melakukan apa asalkan kamu nggak lupa sama Tuhan. Aku pernah muda dan paham remaja seusia kamu masih pengin bersenang-senang dan penasaran dengan hal-hal baru. Aku tau kamu belum kepikiran menikah apalagi mengemban tanggung jawab sebagai istri dan ibu rumah tangga. Maaf kalau selama ini aku sangat egois terhadap kamu. Mulai sekarang kamu bebas,” pungkas pria itu sembari membenamkan jemari ke dalam saku varsity. Sisa es americano yang masih setengah pun dia habiskan hingga tandas.

Bukan merasa senang, perasaan Nayya justru makin tak keruan. Pidato Aksa yang begitu panjang namun penuh ketenangan tidak sama sekali membuatnya lapang. Ada duri yang menusuk-nusuk jantung hingga membuatnya tak sanggup menahan bendungan. Kebebasan yang diumumkan malah tak membebaskan hatinya yang tercengkeram. Ini selayaknya sinonim dari ketidakpedulian yang dikemas dalam kelembutan. Satu-satunya yang Nayya presumsikan saat ini hanyalah kemungkinan Aksa yang betul-betul akan melepaskan.

“Kakak nggak marah aku pacaran?” Seharusnya pertanyaan ini diutarakan penuh sukacita, namun suaranya malah terdengar seperti menggetarkan luka.

“Aku nggak mau merampas masa muda kamu dengan ikatan pernikahan. Do whatever you want to do.”

Sesigap mungkin Nayya menutupi wajah yang telah bercucuran air mata. Hatinya laksana dipatahkan di mana-mana. Rasa perihnya sampai menimbulkan sesak di dada. Mengapa hubungan mereka harus berujung sesuram neraka?

Apakah dengan ini Aksa bersungguh-sungguh akan menyingkirkannya dalam pernikahan mereka?

.

.

.

Begitu tiba di rumah, Nayya lebih dulu keluar dari mobil dan bergegas ke kamar mandi. Aksa kemudian mengikuti dari belakang setelah memarkirkan Lexus hitamnya di garasi. Niatnya yang hendak menuju ke lantai atas untuk mengistirahatkan badan, tahu-tahu terinterupsi oleh suara Bibi. Saat ia menengok, wanita baya itu segera memberitahu bahwa ada seseorang di luar yang menunggu di depan pintu.

Aksa pikir itu pak RT yang kerap berkunjung untuk mengganggunya perihal warga. Namun dia salah besar tatkala netranya bersirobok dengan sosok kecil yang teramat manis dan lantang memanggilnya “Papa”. Kontan saja senyum lebarnya terukir berikut mata yang berbinar menyambut hadirnya. Yang kemudian Aksa sadari gadis cilik itu tidak datang sendiri, melainkan bersama pria dewasa yang cukup ia kenali. Sorot bahagianya seketika luntur dan terganti raut tak terdefinisi.

“Lo ada perlu apa?” tanyanya langsung ke inti tanpa basa-basi.

“Pinjem toilet.”

Pria yang sama tingginya dengan Aksa tersebut nyelonong begitu saja, bahkan tanpa dipersilakan lebih dulu olehnya, ia masuk dan berkeliaran seperti di rumahnya. Aksa yang masih memproses kejadian barusan malah bengong seperti melihat sesuatu yang amat langka nan luar biasa. Atau barangkali dia ketularan virus ngelag yang dibawa si tamu yang tak lain adalah Jefrano Arka. Wah, sialan, Aksa baru sadar yang tadi itu betulan Arka, sahabat rasa saudara yang telah lama tak berjumpa.

Iya, benar, dia adalah Arka yang itu, yang merebut cintanya tapi malah berakhir dicampakkan. Jika mengingatnya, Aksa ingin sekali tertawa sepuasnya. Lagi pula Arka pantas ditinggalkan. Selain karma, Arka itu GGS; ganteng-ganteng sengklek. Mana betah Khaira dengan laki-laki rupawan tapi hobinya ngelag dan menggombal sana-sini. Awalnya Aksa tersenyum menyeringai, namun lamat-lamat matanya melotot tatkala menyadari ada hal gawat yang lebih pantas diurusi.

Aksa lantas tunggang-langgang mengejar Arka yang sudah tak terlihat mata. Tidak seharusnya ia berleha-leha saat situasi genting melanda.

“Woeeee Jepri! Bang sat, lo jangan ke sana woi! Faaak! Sialan!”

Sepanjang perjalanan hanya kata-kata serapah yang tercetus dari mulutnya. Lagian Jepri alias Jefrano itu kenapa langkahnya lebar sekali ya? Nayya kan sedang ada di kamar mandi bawah, bahaya jika mereka saling bertemu dan Arka salah mengira. Tidak! Aksa tidak akan membiarkan itu terjadi, dia bukan keledai dan dia tidak akan jatuh di lubang yang sama dua kali.

Sementara di dalam kamar mandi, Nayya yang selesai membasuh wajah sembabnya pun berlekas untuk pergi. Namun, secara tak terduga ia dikejutkan oleh pintu yang terbuka sendiri. Refleks dia berjingkat dan hampir berteriak jika saja yang di hadapannya bukanlah sosok tampan nan menyilaukan bak mentari. Kenapa Nayya merasa pria ini adalah malaikat yang turun dari langit dan bertugas menyelamatkannya dari kekejaman Aksa yang selicik Loki?

Tak ubahnya Arka yang tertegun melihat sosok di seberang yang memantulkan bayang-bayang seseorang yang telah menghilang. Kemudian Aksa datang di waktu yang tepat seperti pahlawan kesiangan. Kepanikan laki-laki itu terbungkus apik dalam gurat wajah mengerikan. Namun, perjuangannya seolah menjadi sia-sia tatkala bocah mungil yang berada di gendongan Arka menggumamkan “Mama” tepat di hadapan gadis yang bungkam menatap kehadiran mereka.

Apakah ini kiamat bagi Aksa?

.

.

.

To be continued.

1
Secret
tinggal jejak
Listya ning
Haaaaiii
Salam kenal
Semangat terus Author
Jangan lupa mampir 💜
Farldetenc: Ada karya menarik nih, IT’S MY DEVIAN, sudah End 😵 by farldetenc
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!