Indonesia
NovelToon NovelToon
Bias Rasa

Bias Rasa

Status: tamat
Genre:Obsesi / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Tamat
Popularitas:20.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mandanisa 0112

Bias-bias menjelma mengusik rasa. Jika sesuatu yang menakutkan itu hadir, itu adalah bertemu dengan Iyash Wiyahasa Ardhana. Bagi Marissa, Iyash adalah beruang kutub dari Alaska. Selain dingin, Iyash juga memandangnya seperti mangsa. Mangsa dari setiap kemarahannya.

Kisah ini dibuat untuk melengkapi potongan puzzle yang hilang. Dan Yang belum tahu kisah Iyash sebelumnya, bisa temukan cerita lengkapnya dalam novel yang berjudul Behind The Lies.

*cover by Rhy Nadia*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mandanisa 0112, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makan Malam

Pertemuan dengan Kak Edgar membuka jalan pikiranku. Aku baru sadar kalau dia memiliki hak yang sama dengan Kak Iyash. Mungkin dia sedang memperjuangkan apa yang seharusnya dia dapatkan sejak dulu. Aku masih merasakan kesepian itu saat dia memelukku tadi.

“Kenapa melamun?”

Aku mengerjap saat Nenek bertanya demikian.

“Ayo makan. Nggak baik makanan didiamkan kayak begitu.”

Aku mengangguk. Kulihat semua orang sibuk mengumpulkan makanan ke atas piring mereka masing-masing. Ada menu wajib orang Indonesia, nasi putih ditemani acar ikan mas, tempe bacem, sambal terasi, oseng labu siam dan kerupuk. Kurasa ini benar-benar nikmat. Aku segera menciduk nasi, mengambil sepotong ikan mas bagian perut sampai ke ekor.

“Loh, kenapa cuma setengah? Ambil semuanya,” kata Nenek.

“Dia tidak suka kepala ikan,” sahut Kak Iyash. Seketika aku menoleh pada pria disamping kananku itu, entah dia tahu dari mana.

“Kamu sama Iyash sama aja,” kekeh Nenek.

Aku tersenyum kikuk.Entah apa yang sama.

“Ya sudah ambil yang lain,” ucap Kakek.

Aku lekas mengambil satu potong tempe bacem dan satu sendok oseng labu siam. Lalu mulai menyantapnya. Perutku lapar, jadi aku mengabaikan semua orang termasuk Kak Edgar dan Kak Iyash.

“Yash, kamu nggak makan?” tanya Nenek Alma.

“Pakai tangan kiri susah, Nek.”

Seketika aku berhenti mengunyah, sedangkan tanganku tertahan di depan mulut.

“Tapi, kamu harus makan. Sini Nenek suapin.”

“Nggak, nggak usah. Nenek makan aja,” kata Kak Iyash.

Aku termenung dan merasa malu sendiri. Apalagi kulihat piring Kak Iyash masih kosong.

“Makan bareng Icha aja,” kataku sembari menggeser piring ke dekatnya. “Biar Icha yang suapin, Nek.”

“Kamu yakin?” tanya Nenek.

“Iya. Sebentar Icha cuci tangan dulu. Biar nanti bisa pakai sendok.” Aku bangkit, namun Kak Iyash menahanku.

“Kenapa harus cuci tangan? Kamu keberatan kalau saya makan langsung dari tangan kamu?” tantang Kak Iyash.

Aku tergemap. “Nggak masalah.”

“Ya udah cepat, saya lapar,” kata Beruang itu datar.

Aku duduk kembali. “Dasar melunjak,” gumamku sembari mencomot nasi beserta satu cubit tempe bacem.

“Ngomong apa kamu?” tanya pria itu.

“Nggak. Cepat makan.” Aku menjejalkan nasi tersebut ke dalam mulutnya, kemudian kutambahkan secubit ikan mas, dan potongan labu siam. “Kunyah yang lama.”

Aku menghela napas, lalu kembali mengisi perutku. Tak peduli tanganku barusan bekas mulut Kak Iyash. Mau bagaimana, aku lapar. Untung aku bukan orang yang jijikan.

Tanganku bergantian menyuapi kak Iyash dan diriku sendiri sampai menambah tiga kali. Ya Tuhan, saking nikmatnya. Hingga aku lupa kalau sejak tadi aku mengabaikan Kak Edgar yang duduk di sebelahku dan tanpa sadar justru aku membelakanginya.

Aku tersadar saat dia bilang, “Izin merokok.” Kemudian pria itu pergi meninggalkan meja makan setelah mendapat anggukan dari Kakek.

Aku termenung menatap punggung tegapnya yang perlahan menjauh. Sementara tanganku tertahan di depan wajah Kak Iyash. Aku tidak sadar kalau aku hampir menyuapi hidungnya. Sadar-sadar saat tangan kirinya memegang pergelangan tanganku dan mengarahkan ke mulutnya.

“Kamu nggak mikir gimana kalau nasi masuk ke lubang hidung saya?” omel pria itu sembari mengunyah.

“Maaf.” Aku kembali ke posisiku dan melanjutkan makan. Rasanya tak senikmat sepiring pertama dan sepiring kedua. Yang ketiga mungkin aku sudah kenyang, atau jangan-jangan karena aku merasa bersalah pada Kak Edgar? Bukankah aku datang untuknya?

“Marissa,” panggil Kak Iyash.

Aku menoleh dan kembali menyuapinya. “Cepat habiskan. Aku harus bicara pada Kak Edgar,” bisikku.

Namun, kurasa Kak Iyash tak peduli, justru kali ini dia sengaja membuat semuanya lama. Nenek sudah ke dapur sembari membawa piring kosong. Kakek sudah meninggalkan meja makan dan pergi entah kemana. Hanya tinggal kami berdua yang duduk di sini. Sementara aku masih harus melayani beruang yang kelaparan itu. Dua suap terakhir, tapi kurasa dia sengaja mengunyahnya lebih lama.

“Cepat, Kak,” pintaku pelan.

“Kamu sendiri yang bilang kalau saya harus mengunyahnya lama.”

“Sekarang dipercepat aja,” kataku sembari mengambil suapan terakhir. Namun, dia masih mengunyah suapan sebelumnya. Aku hanya bisa menghela napas menunggunya sampai beberapa detik lagi.

“Akhirnya tugas memberi makan beruang selesai,” kataku ketika berhasil memberikan seuapan terakhir ke mulutnya.

Aku lekas bangkit dan membawa piring bekasku ke dapur. Aku baru terpikir kalau aku baru saja makan sepiring berdua dengan pria sombong itu.

“Simpan aja, biar nanti Lastri yang cuci,” kata Nenek yang baru saja menyeduh teh.

“Nggak apa-apa, Nek. Icha aja, sekalian bersihin tangan biar nggak bau.”

“Hasa sering cerita tentang kamu.” Tiba-tiba kurasakan Nenek membelai puncak kepalaku. Aku hanya bisa tersenyum kikuk merasakan belaiannya.

“Nenek bahagia, akhirnya Iyash bisa dekat lagi dengan perempuan,” tambah Nenek. Dan tentu saja aku terkejut.

“Nek, Icha sama Kak Iyash–”

“Iya, Nenek sudah mendengar semuanya dari Hasa. Selepas shalat maghrib tadi, dia menelepon.”

Aku membasahi tenggorokan. Jangan-jangan Om Hasa bilang kalau Kak Iyash begini karena aku?

“Iyash tidak akan mengorbankan nyawanya, jika perempuan yang dia lindungi itu tidak penting untuknya.”

“Nenek berlebihan,” kataku kikuk.

“Nggak. Nenek kenal bagaimana Iyash,” kata Nenek sembari memberikan segelas teh hangat.

Aku menghela napas seraya menerimanya.

“Ini buat Iyash. Dia tidak suka teh, dia hanya minum susu. Persis seperti bayi.”

Aku menatap segelas susu di atas meja. “Bayi beruang,” dengkusku.

Nenek tertawa. “Kamu benar.” Beliau kemudian menepuk bahuku. “Berikan susunya pada bayi beruang itu.”

Aku tersenyum sinis sembari terus menatap susu tersebut.

“Jangan dikasih obat tidur,” sahut nenek di depan pintu dapur.

“Nenek,” rengekku tak terima. Terbesit untuk meracuninya saja belum.

Aku lekas membawakan susu itu pada Kak Iyash. Sementara Nenek membawakan teh untuk Kakek dan juga Kak Edgar yang saat ini tengah berkumpul di teras rumah. Sedangkan Kak Iyash sendiri, aku mencari-carinya ternyata dia sedang duduk di depan jendela kamarnya.

“Maaf, langsung masuk,” kataku sembari masuk ke dalam kamar karena kebetulan pintu kamar tersebut tak tertutup.

Kak Iyash tak menoleh dan hanya menatap segelas susu yang baru saja kuletakan di atas meja.

Kulihat dia sedang asyik merenung di bawah langit malam. “Waw,” komentarku kagum. “Di sini bisa jelas banget ya.”

Kak Iyash menoleh, lalu turun dari jendela, kemudian berjalan ke dekat lemari. Dia lalu mengambil teleskop beserta tiangnya.

Aku mematung melihat dia meninggikan tiang tersebut. Namun, hanya sebatas perutnya saja. Wajar karena dia sangat tinggi. Aku saja hanya sebatas dadanya. Dia lalu menoleh padaku. Namun, tak bicara apa-apa, hanya memberi isyarat dengan gerakan kepalanya.

Aku lekas menghampirinya untuk melihat keajaiban Tuhan lebih dekat. Dia memutar bagian ujung teleskop dan seketika bulan terlihat lebih besar.

Aku tersenyum menyaksikan betapa besarnya kekuasaan Tuhan. “Padahal bulannya sama ya, cuma mungkin suasananya aja yang beda,” kataku tanpa sedikitpun menjauh dari teleskop.

“Di sini lebih tenang,” sahut Kak Iyash pelan.

“Pantas Kak Edgar nggak mau pulang.” Aku menegakkan tubuh dan kulihat Kak Iyash tengah duduk di tepi jendela seperti sebelumnya.

“Bukan itu yang membuatnya tidak ingin pulang.”

“Memang apa?” tanyaku penasaran dengan isi kepalanya.

“Mungkin dia tertarik sama Rania.”

Aku tergelak sembari mendekat ke arahnya. “Nggak mungkin.”

“Kenapa nggak, Rania cantik,” katanya tanpa menatap ke arahku. Aku terdiam. Lalu kemudian dia menoleh. “Kamu suka dia, ‘kan?” tanyanya.

Aku lekas mengalihkan pandanganku darinya dan kembali membungkuk di depan teleskop. “Dia bukan bulan, sehingga tak sulit bagiku untuk menjangkaunya.” Aku baru saja membacakan satu dialog dari buku Ekspektasi yang ditulis Kak Edgar.

“Cha.” Seketika kudengar suara Kak Edgar memanggilku lembut. Aku lekas berbalik dan kulihat dia tengah berdiri di depan pintu.

“Kak.” Aku kemudian mendekat. “Icha udah baca bukunya. Bagus,” kataku antusias.

“Iya?” Kak Edgar tersenyum tipis.

Aku mengangguk.

“Makasih.” Dia membelai puncak kepalaku. Kemudian dia melewatiku dan masuk ke dalam kamar. Lalu berjalan ke dekat buku dan mengambil tasnya.

Seketika senyumku memudar. “Kak Edgar mau kemana?” tanyaku kaget.

“Aku mau pulang malam ini,” jawab kak Edgar tanpa mengangkat wajahnya dan bahkan antusiasme ataupun semangat yang kurasakan setiap membaca bukunya tak berpengaruh apa-apa untuknya.

“Loh, nggak bisa nunggu besok?”

Kak Edgar tersenyum, tapi dia menghindari tatapanku.

“Kak,” panggilku segera. Namun, Kak Edgar tetap pergi. Tiba-tiba kulihat Kak Iyash sudah berdiri di sebelahku. “Dia nggak boleh pulang malam ini,” kataku pada Kak Iyash.

“Memang kenapa kalau dia pulang malam ini?” tanya Kak Iyash.

“Nggak. Nggak boleh. Kalau dia pulang aku juga harus pulang.” Aku segera mengambil langkah. Namun, tangan kiri Kak Iyash menahan tangan kananku.

“Kamu datang dengan saya, maka pulang pun begitu,” kata Iyash.

“Terserah aku mau pulang dengan siapa,” jawabku kesal sembari melepas genggamannya. Lalu pergi menyusul Kak Edgar.

1
Sheety Saqdiyah
Luar biasa
Mandanisa 0112: makasih, Kak
total 1 replies
Rini qi
Tuhan memberi kita pasangan sesuai dengan yg kita butuhkan bukan yang kita inginkan, kita hanya perlu bersyukur karena tidak ada manusia yg sempurna
Setuju aq thor....
apa ceritanya dah tamat thor
Rini qi: oke thor ditunggu karyanya, semangat💪
total 2 replies
Rini qi
buat percaya lg susah emang kalau sdh pernah dibohongi, apalagi nama itu ada kaitannya
Aduh ilyas cari masalah aja🫣
Mandanisa 0112: Ya begitulah dia, Wkwkwk
total 1 replies
Mandanisa 0112
ini ada di cerita Behind The Lies. Iyash sama Ashila sempet deket gara2 bayi ini.
Rini qi
ternyata beneran hamil 😄
Mandanisa 0112: iya, kak. Haha, tebakannya tepat sekalee ...
total 1 replies
Rini qi
duhh.. icha baru ngerasa happy eeh... down lg,
sakit apa ne icha, apa hamil tp kalau hamil kok sakit ya perut nya🤔
Rini qi
ini x ya thor yg nmanya habis hujan terbitlah pelangi🤗
Mandanisa 0112: Bisa aja, Kakak. Hihi makasih ya udah nemenn sampai sejauh ini. Hehe
total 1 replies
Rini qi
semangat thor💪
Mandanisa 0112: makasih kaka 😘🥰
total 1 replies
Rini qi
semangat thor
Rini qi
ini mungkin salah satu faktor marisssa perasaannya selalu sensitif🥺

Semoga sehat ca
Rini qi
keras hati x marissa ini, kasihan àlisha🥺
Rini qi
semangat up thor 💪
Mandanisa 0112: maafkan baru sempat up lagi.
total 1 replies
Rini qi
😥 lanjut thor..
Rini qi: ok 👌, double2 up nya ya 😁
total 2 replies
Rini qi
double up dong kak🤭
Mandanisa 0112: Insya Allah Kak, kalau sempat nanti double up.
total 1 replies
Rini qi
jgn menyakiti diri sendiri cha...
bangkit dan balas dengan cantik
Mandanisa 0112: hihi. Tenang kak, beri Icha ruang. Akan ada kejutan untuk Kak Iyash. hahaha
total 1 replies
Dafa David
up lg dong kak..
Mandanisa 0112: siap. InsyaAllah kak. ditunggu ya
total 1 replies
Dafa David
bagus banget
Mandanisa 0112: Makasih Kak. :-)
total 1 replies
Dafa David
ica pergi aja lah.
Qirana Qirana
Gaya penulisan Kak Manda ini memang aku suka. Cara penyampaiannya yang lugas membuat orang mudah paham.. Setiap tokoh dalam ceritanya memiliki karakter yang kuat. meski sekarang menggunakan POV 1, tapi tetap berkarakter. Kak Manda ingin menyampaikan kalau Marissa ini memiliki jiwa muda yang egois, kekanak-kanakan dan keras kepala, tapi tetap memiliki batasan, Marissa mencoba cuek tapi sebenarnya dia mudah sakit hati. Good job kak. 😎
Mandanisa 0112: Waaawww ... Makasih Kak reviewnya.
total 1 replies
Mandanisa 0112
Saya sarankan baca Behind The Lies dulu, biar tahu kenapa Iyash bisa menjadi seperti Beruang kutub dari Alaska 😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!