Putri seorang pekerja kantoran yang hidup biasa-biasa saja, tetapi tiba-tiba menemukan dirinya terperangkap dalam dunia novel yang lebih gila dari kehidupan nyata.
Sebagai figuran, Putri seharusnya hanya berperan sebatas latar belakang,tetapi siapa sangka, dia adalah putri seorang mafia yang ternyata lebih suka bermain komedi ketimbang senjata.
Dalam suasana komedi yang kocak dan tak lupa juga dengan bawang yang menemani kisahnya mengajarkan kita bahwa cinta bisa ditemukan di tempat paling aneh, bahkan ditengah-tengah ketidakwarasan dan kegilaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atikany, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sertifikat Kegilaan
Aku dengan sengaja menghindari Kenzo dan kelompoknya seperti seorang ninja yang ingin mengelak dari serangan musuh.
Namun, rencana keren ku malah kandas ketika tiba-tiba aku terjebak di tengah-tengah Gemma dan gengnya, yang tampaknya bergerak layaknya badai berkecepatan tinggi.
Seolah-olah aku berada di dalam "The Matrix" versi kelas sekolah.
"Bisa enggak sih lo enggak usah ganggu Kiara?" bentaknya dengan suara yang membuat sekitar seolah-olah bergetar.
Aku cuma bisa mengunci mulutku rapat-rapat, bukan karena takut, tapi karena tiba-tiba aku teringat bahwa aku lupa membawa popcorn untuk menonton drama ini.
"Lo bisu?" sentak Angkasa, seakan-akan kita sedang berada di tengah-tengah tayangan reality show yang penuh intrik dan konflik. Situasi apa ini, miskahhh?
"Kalian jangan marah-marah ke Putri. Dia kelihatan takut," ucap Kiara dengan santainya, seolah-olah dia sedang memimpin pertemuan damai di PBB.
Hei mbak, drama ini terjadi karena Anda, lho.
"Orang kayak dia tuh sok misterius dan sok kaya," tuduh Panji dengan ekspresi detektif kelas dunia.
Aku tetap diam, bukan karena tak punya kata-kata, tapi karena sekarang ini aku benar-benar kaya, Mas Panji.
Mas Panji enggak tahu apa kalau seorang mafia punya kekayaan yang enggak bisa dibayangkan?
"Sejujurnya aku bingung dengan kalian semua. Aku enggak ganggu, jadi tolong jangan ganggu aku," pintaku dengan serius, mencoba menyelesaikan konflik dengan damai, seperti seorang diplomat yang kebetulan terjebak di taman bermain anak-anak.
"Enggak ada gunanya aku gangguin Kiara, enggak dapet duit juga," jujurku, dengan nada santai seolah-olah ini adalah pernyataan bijak tentang manajemen waktu dan prioritas hidup.
Aku berbalik, ingin cepat pulang karena merindukan kasur yang lembut dan hangat di rumah.
Namun, tiba-tiba aku dihadang oleh Gemma dan juga ketiga temannya, seakan-akan aku hendak melintas di tengah jalur gajah di kebun binatang.
"Minggir!" pintaku dengan tegas, berusaha menunjukkan kepemimpinan yang tiba-tiba muncul dari dalam diriku.
Mereka diam, tetapi tidak ada reaksi lain selain tatapan heran dan sekaligus penasaran.
"Ngapain disini? Kaka udah nunggu dari tadi?" tanya Kak Candra, yang tiba-tiba muncul entah dari mana, seakan-akan dia adalah sosok misterius yang bisa muncul di mana saja.
Kami yang masih berada di area sekolah langsung tertuju padanya, yang berjalan ke arahku dengan wajah dinginnya.
Aku langsung berpikir, "Ini kayak adegan film horor. Kak Candra muncul di tengah hari dengan senyum yang lebih dingin dari kulkas di supermarket."
Wajahnya yang tiba-tiba muncul itu menimbulkan aura misteri di sekitar.
"Ayo, pulang," ajaknya.
Karena aku hanya diam, Kak Candra tiba-tiba mengandeng tanganku dengan penuh dramatisasi, seolah-olah kami berada di tengah-tengah adegan romantis di film sepulang sekolah.
Ketika Kak Candra membuka pintu mobil, aku terpana.
Mobilnya ganti lagi. Ini seperti melihat perubahan fashion setiap musim, tapi dalam versi kendaraan roda empat. Inilah yang diharapkan dari putra mafia, selalu tampil beda sampai hal mobil.
"Masuk," ucapnya dengan ekspresi serius, seolah-olah kita sedang memasuki kendaraan antariksa dan dia adalah kaptennya yang berbicara dengan penuh otoritas.
Aku langsung masuk dengan gerakan yang agak kaku, seolah-olah aku sedang berlatih tarian yang tidak pernah kugeluti.
Di perjalanan, suasana terasa sangat dingin karena tak ada percakapan yang terjadi. Hanya dentuman hembusan AC mobil yang menambah kesunyian seperti adegan dalam film horor.
"Ada masalah di sekolah?" tanya Kak Candra dengan suara serius, seolah-olah dia adalah detektif handal yang sedang mencari tahu rahasia terdalam di dalam benakku.
"Kak, bolehkan aku homeschooling aja?" pintaku tiba-tiba, mencoba menyampaikan keinginan itu dengan nada serius.
Aku pikir ini adalah jalan satu-satunya agar aku tak terperangkap dalam drama kompleks dengan para tokoh utama yang membuatku pusing.
Seakan-akan aku ingin keluar dari "season" ini dan menciptakan serial spin-off sendiri
Belum sempat Kak Candra menjawab, tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara tembakan yang diarahkan ke mobil ini.
Beruntung, mobil ini dilengkapi dengan perisai anti-peluru yang memberikan rasa aman di tengah ancaman langsung.
"Kak?" panggilku dengan suara bergetar, merinding sepanjang tubuhku.
Siapa yang tak takut dikejar-kejar seperti ini, terlebih lagi dengan suara tembakan yang semakin memperumit situasi.
"Jangan panik," pinta Kak Candra dengan wajah yang tenang, seolah-olah ini adalah situasi biasa yang bisa dihadapinya dengan mudah.
Ia terus melihat ke belakang dan ke depan secara bergantian, menilai situasi dengan cepat dan tegas.
Jantungku seakan-akan ingin copot saat Kak Candra memulai aksinya menyalip banyak kendaraan di jalan.
Kemampuan mengemudi yang sangat terampil seolah-olah membawanya melewati rintangan dengan mudah.
Adegan kejar-kejaran seperti di adegan nyata film aksi terjadi di depan mataku.
Orang-orang di belakang kami tetap mengejar dengan gigih, senjata-senjata mengancam dari segala arah, dan Kak Candra memperlihatkan kemampuan mengendari mobilnya dengan penuh ketangguhan.
Setiap tikungan dan manuver yang dilakukannya memberikan dampak dramatis, seakan-akan mobil ini memiliki kehidupan sendiri.
Mobil meluncur melalui jalanan dengan kecepatan tinggi, menghindari tembakan dan rintangan yang muncul di depan.
Aksi ini benar-benar seperti adegan film nyata, dan kemampuan Kak Candra mengemudikan mobil seolah-olah ia adalah pahlawan di dunia nyata yang terjebak dalam drama kejar-kejaran.
"Jangan takut, kita akan baik-baik saja," ucap Kak Candra dengan suara tenang yang berusaha memberikan rasa nyaman di tengah kekacauan.
"Iya, Kak," ucapku, mencoba menjaga ketenangan meski hatiku berdegup kencang.
Meski sudah percaya pada kemampuan Kak Candra, namun adegan selanjutnya sangat mengerikan—sebuah truk kontainer besar muncul di depan kami dengan kecepatan tinggi.
Dalam sekejap, Kak Candra merespon dengan keahlian mengemudi yang luar biasa.
Ia dengan cepat menghitung waktu, melihat celah sempit di antara truk kontainer dan kendaraan lain di sekitarnya.
Dengan refleks yang memukau, mobil kami meliuk dan berbelok dengan presisi yang membuat setiap orang di dalamnya menahan nafas.
Ketika mobil kami melewati truk kontainer dengan hanya selisih beberapa sentimeter, suasana di dalam mobil menjadi hening.
Hatiku masih berdegup kencang, namun sekaligus juga terkesima dengan keahlian mengemudi Kak Candra yang seakan-akan memainkan tari maut di jalanan.
Kak Candra tersenyum setelah melewati bahaya tersebut, seolah-olah itu adalah tindakan biasa baginya.
"Selamat, kita berhasil melewati itu," ucapnya dengan tenang, membuatku menyadari bahwa aku sedang berada di dalam mobil bersama pahlawan jalanan yang punya kemampuan luar biasa.
"Kakak gila!" makiku dengan nada campuran antara ketakutan dan kagum.
Tapi Kak Candra hanya tertawa santai, seolah-olah melewati kejadian tadi adalah hal yang biasa baginya. Untungnya, tak ada lagi para pengejar misterius di belakang kita.
"Baru gila," ucapnya sambil nyengir lebar. Aku masih duduk di kursi mobil, merasa lemas kayak jelly yang baru saja dilempar-lempar.
"Mungkin kita butuh sertifikat kegilaan setelah aksi tadi," tambahnya dengan candaan ringan.
ceritanya pada keren-keren koo malah nga ada kepastian malah ke gantung 😑
smngt lanjut
smngt thor lnjt
smngt lnjtt