Siapa sangka. Mutiara Alea, gadis cantik, anak tunggal kaya raya, idola semua anak laki-laki di SMA Karya Bakti malah jatuh cinta pada Dio, anak baru yang sering dibully karena porsi tubuh yang agak berisi dan warna kulit yang gelap. Dio sadar bahwa dia tidak pantas untuk Mutiara, namun Mutiara kekeh dan ingin selalu bersama Dio. Akankah Mutiara dan Dio bisa bersama dalam balutan cinta dan kasih sayang? Atau kisah mereka akan berakhir begitu saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cokelat Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peduli atau Cinta?
Panas matahari menyengat kulit. Tanah tampaknya retak dan kering keronta, seolah-olah berteriak meminta air hujan. Namun, alam layaknya bersekongkol dengan Mutiara. Dia tidak perlu capek-capek mencari Kenzo, karena dia sendiri yang datang menghampiri Mutiara.
“Halo Mutiara cantik, cintaku, pujaan hatiku,” sapa dengan nada menjijikkan.
Plak!
Satu tamparan keras tepat mengenai pipi kanan Kenzo. Semua orang sangat terkejut. Bahkan suara-suara berisik di kantin seketika diam hening, hanya terdengar.
“Kok lo nampar gue sih, Ra? Salah gue apa coba?” tanya Kenzo seraya menahan malu, karena semua pandangan siswa lain mengarah pada mereka.
“Emang kenapa... lo nggak terima? Lo pantas mendapatkan itu!” balas Mutiara.
“Apaan sih, Ra! Gue nggak ngerti maksud lo apaan. Gue cuman mau ngobrol baik-baik sama lo, tapi lo malah nampar gue,” debat Kenzo.
“Halah... nggak usah banyak bacot deh lo! Gue udah muak sama kelakuan lo yang tengil, belagu, banyak gaya, dan selalu sepele dengan semua orang,” geram Mutiara semakin menjadi-jadi.
“Ra... kok lo kasar banget sih! Udah deh, mending kita cabut aja yok, Ra,” lirih Lili dengan raut wajah cemas.
“Nggak... gue nggak bakalan pergi sebelum manusia belagu ini tau kesalahan. Dan biar dia tau rasanya di permalukan di depan umum. Siapa suruh lo bully anak orang hah? Lo pikir dengan kekayaan dan jabatan orang tua, lo bisa enaknya sama orang lain,” seru Mutiara dengan emosi menggebu-gebu.
Keadaan semakin memanas, di tambah dengan jumlah siswa yang semakin banyak, memenuhi seisi kantin.
Mereka kepo dengan permasalahan yang sedang terjadi. Mereka harus melihat dan mengabadikan momen ini, karena jarang-jarang Mutiara mau berkelahi di depan umum, hanya karena membela seseorang.
“Cukup... cukup, Mutiara! Kalian ini seperti anak-anak aja. Ini sekolah, mending kalian dua selesaikan di luar sekolah! Yang lain semuanya bubar, kalian berdua ikut saya ke ruangan BK,” tegas Bu Wati yang segera datang menyudahi keributan yang terjadi.
“Kan gue bilang apa! Lo sih, nyari gara-gara di sini. Lihat akibatnya, sekarang masalah lo jadi meleber kemana-mana kan. Lagian ngapain sih lo ngurusin orang lain, biasanya juga lo bodo amat. Ah.. dasar goblok,” bisik Lili seraya mencubit Mutiara.
“Bodo amat,” ketus Mutiara, lalu pergi meninggalkan kantin.
Sementara Kenzo hanya diam seraya menundukkan kepala. Dia bergegas meninggalkan kantin, tanpa memandang siswa lainnya. Dalam hatinya terbesit dendam dan kecemburuan yang semakin membara.
“Sialan... kurang ajar! Bisa-bisanya manusia kayak dia malah dapat perhatian besar dari Mutiara. Awas aja, gue bakalan kasi pelajaran yang lebih berat lagi sama lo... gue pastikan itu!” geram Kenzo dalam hati.
Mutiara lebih dulu tiba di ruang BK. Namun tampaknya, Ibu Wati belum masuk ke dalam ruangan. Dari balik dinding, terdengar suara Bu Wati sedang melakukan pembicaraan serius melalui Handphone.
Tokk... tokk... tokkk
Terdengar suara ketukan pintu. Mutiara langsung menoleh.
“Ohhh... ternyata si tukang bully,” sindir Mutiara dengan tatapan mengintimidasi.
Kenzo sama sekali tidak mengubris ocehan dari Mutiara. Dia langsung duduk di sebelah Mutiara seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Lo marah-marah mulu dah, kayak ibu-ibu di pasar,” ucap Kenzo sengaja mengalihkan topik untuk sementara.
“Ya suka-suka gue dong! Kok jadi lo yang heboh,” jawab Mutiara dengan cuek.
“Ngapain sih lo ngurusin itu si anak baru jelek itu?” tanya Kenzo dengan tatapan serius.
“Namanya Dio, bukan anak baru jelek! Lo belagu banget sih,” omel Mutiara.
“Ah... terserah lo deh! Mau namanya Dio, Dino, Doni, gue nggak peduli. Gue cuman bingung kenapa lo care banget sama dia? Lo suka sama manusia modelan kayak dia?” tanya Kenzo to the point.“Kepo banget sih, lo!” elak Mutiara.
“Gila sih, selera lo rendah banget! Apasih yang lo lihat dari dia? Udah jelek, hitam, dekil, belagu, miskin. Sementara gue... gue beda jauh sama dia, Mutiara! Apa jangan-jangan lo peduli sama dia cuma karna kasihan aja?” selidik Kenzo.
“Dengar ya! Lo nggak berhak atas hidup gue, mau gimana pun selera gue. Itu urusan gue, dan satu hal lagi ya, mau gimana pun buruknya dia di mata lo. Setidaknya dia nggak kayak lo, sombong, belagu dan suka pamer. Dan dia nggak pernah tuh jelek-jelekin siapapun termasuk lo! Walaupun lo udah berbuat jahat sama dia. Dan ingat ya nggak semua orang memandang dari harta dan kekayaan, jadi nggak usah belagu lo!” sindir Mutiara seraya melipat kedua tangannya di atas dada.
Bagaikan luka disiram dengan perasan jeruk nipis. Hati Kenzo rasanya terluka hingga terkoyak-koyak saat mendengar betapa bangganya Mutiara dengan sikap Dio. Bahkan rasanya setitik pun tak ada celah untuk Kenzo agar bisa tersimpan di hati Mutiara. Dia mulai bingung, selama ini Mutiara selalu memandangnya sebelah mata. Kenzo selalu menjadi orang jahat di mata Mutiara.
“Mau sampai kapan lo memandang gue kayak manusia menjijikkan, Mutiara? Apakah nggak ada sedikit aja di hatimu, untuk melihat semua usahaku selama ini?” lirih Kenzo dengan tatapan serius dan mulai mendekat ke arah Mutiara.Untungnya Bu Winda segera masuk ke dalam ruangan. Kenzo segera mengambil posisi awal dan membenarkan raut wajahnya.
“Jadi hukuman apa yang layak untuk dua siswa yang membuat keributan di lingkungan sekolah?” tanya Bu Winda dengan tatapan melotot seraya duduk di kursi besar berwarna hitam.
“Ayo jawab! Jangan bengong aja, tadi kalian bisa membuat kekacauan, kok sekarang malah diam-diam nggak jelas begini “ lanjut Bu Winda.
“Maaf Bu, kami berdua tidak ada niat untuk melakukan keributan di lingkungan sekolah. Saya dan Mutiara, hanya salah paham, hingga menimbulkan keributan seperti tadi Bu,” jawab Kenzo berusaha menutup-nutupi tindakan bully yang dia lakukan.
“Benarkah itu hanya kesalahpahaman?” ucap Bu Winda menatap ke arah Mutiara.
“Sebenarnya bu...” omongan Mutiara langsung terputus saat kaki Kenzo menginjak pelan punggung kaki Mutiara, seolah-olah memberikan kode.
“Benar Bu, ini hanya kesalahpahaman diantara anak muda, Bu. Maklum aja Bu, anak muda sekarang, darah panas dan darah kasmarannya sedang menggebu-gebu,” ujar Kenzo tertawa kecil.
“Baiklah... saya tidak akan memberikan hukuman. Tapi lain kali, jangan sampai keributan semacam itu terulang kembali. Dan tolong jika ada masalah internal antara kalian berdua, silahkan diselesaikan di luar sekolah,” perintah Bu Winda.
“Baiklah... untuk kalian berdua silahkan kembali ke ruangan kelas,” suruh Bu Winda seraya melemparkan senyum tipis.
“Ah... sementang-mentang dia anak investor terbesar di sekolah ini. Semua ucapannya langsung dipercaya begitu saja. Semua orang sama aja,” geram Mutiara dalam hati.
Setelah berpamitan dengan Bu Winda, Kenzo dan Mutiara segera kembali ke ruangan kelas. Saat di depan koridor kelas, Mutiara langsung mencekal lengan Kenzo.
“Urusan kita belum selesai, ingat itu!” ancam Mutiara lalu melepaskan lengan Kenzo dengan kasar.
“Urusan apalagi, Mutiara?” tanya Kenzo seraya mengernyitkan dahi.
“Nggak usah pura-pura pikun lo! Tunggu aja tanggal mainnya,” gertak Mutiara lalu pergi meninggalkan Kenzo yang tampak kebingungan.