Aurora Sabrina White, hanya seorang remaja perempuan biasa yang sedang fokus duduk di bangku kelas sepuluh SMA untuk menyelesaikan pendidikannya. Dalam kesehariannya, ia mendapati teman-temannya yang kerap menjalin hubungan satu dengan yang lainnya lalu ber-status sebagai sepasang kekasih. Tapi di balik itu semua, ia tak pernah memiliki keberanian dan keyakinan untuk memulai hubungan dengan orang lain sejak lama. Hingga suatu hari, tepatnya saat ia menginjak hari kedua di tahun pertamanya, terdapat anak laki-laki baru di kelasnya yang bernama Arthur Benjamin Smith. Entah mengapa Aurora merasa seperti itu bukanlah pertemuan pertamanya dengan Arthur, sebaliknya Arthur pun juga merasakan hal yang sama, namun mereka berdua tak bisa mengingat kapan dan dimana mereka pernah bertemu. Apakah itu semua hanya asumsinya saja atau memang sebuah kenyataan? Jika memang takdir memutuskan untuk mempertemukan mereka kembali setelah sekian lama. Akankah Arthur dan Aurora memanfaatkan momen tak terduga tersebut sama seperti sebuah Sychrodestiny?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Johana Agustin Choandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAGIAN 20: RASA CEMBURU
Beberapa saat kemudian, Arthur sudah berada duduk bersama teman-teman Claire, Lauren, Christopher dan juga Leonardo.
“Oiya Thur, dari cerita anak-anak, kamu keliatannya sudah dekat banget ya sama Aurora?” tanya Christopher.
“...” Arthur terdiam, matanya mendadan fokus memperhatikan Aurora dan Theodoric yang duduk tak jauh dari mejanya.
“Arthur?” tanya Christopher lagi.
“E-Eh iya sorry sorry...a-aku emang udah dekat sama Rara, karena dulu aku sama dia sempat jadi teman satu SD pas dulu di Ausie, plus dia juga pernah jadi salah satu customer pas aku buka jasa hacker,” jelas Arthur sambil tersenyum kecil dan sesekali menyendok makanannya.
“Woah serius?” tanya Claire.
“Iyaaa.”
“Pantesan!” ketus Lauren.
“Oooo...bagus deh kalau gitu,” ujar Christopher.
“Ngomong-ngomong ada pemandangan yang jarang banget kita lihat nih gais,” ujar Leonardo tiba-tiba.
“Pemandangan apa By?” tanya Lauren pada Leonardo menggunakan panggilan kesayangan.
“Itu Lau, Aurora sama Ka Theo, akhirnya setelah sekian lama Rara mau juga ke kantin bareng dia,”
“Maksudnya?” tanya Arthur pada Leonardo.
“Iyaaa jadi dulu gini Thur, pas masa-masa SMP si Rara emang sudah sering banget diajakin pergi ke kantin sama Ka Theo, sampai ratusan cara sudah dia lakuin, tapi ya namanya Rara, dia susah banget, bahkan kita-kita aja sahabatnya sudah sering ngasih tau buat nerima ajakannya. Sampe akhirnya pas SMA sekarang dia baru mau...” jelas Leonardo sambil sesekali meneguk segelas es teh manis di tangannya.
“...” Arthur terdiam.
“Ya untunglah, semoga aja mereka cepat jadian, habis kasian tiap kali ngeliat perjuangan Ka Theo, ya ga si?” tanya Claire.
“Iyaaa parah—“
“K-Kalau gitu aku duluan ke kelas ya, aku baru inget ada tugas yang harus dikumpulin habis ini,” ujar Arthur tiba-tiba sambil terburu-buru membawa piring bekas makan di tangannya.
“Oh okeee-okeee...” ujar Lauren, mewakili teman-teman yang lain.
Dengan cepat Arthur segera berjalan kembali menuju kelas, ia tak mengerti kenapa tubuhnya tidak betah berada lama-lama dalam pembicaraan tersebut.
Ia tahu persis apa yang sedang dirasakannya.
Cemburu.
Hanya satu kata tersebut yang dapat medeskripsikan betapa kacau pikirannya sekarang.
Saat sampai di kelas, Arthur segera membereskan semua barang-barangnya ke dapam tas, ia tahu betul pikirannya tak akan fokus dengan pelajaran saat ini.
Tanpa berlama-lama ia segera menitip pesan pada sekretaris kelas dengan alasan kurang enak badan, lalu segera pergi meninggalkan lingkungan sekolah.
Di sisi lain Aurora yang sedang makan satu meja dengan Theodoric di kantin, terus menerus memikirkan Arthur.
“Bagaimana jika Arthur marah karena ia tak membalas pesannya sejak tadi malam?” pikir Aurora.
“Ra...makasi ya, setelah sekian lama akhirnya kamu mau makan bareng lagi sama aku...” ujar Theodoric sambil menatap Aurora.
“...” tapi tak ada jawaban keluar dari mulut gadis tersebut.
“Ra?” tanya Theodoric.
“E-Eh iya sorry sorry Ka, tadi aku kepikiran soal pelajaran di kelas, biasa lah...” ujar Aurora yang tak menyadari ucapan Theodoric.
Beberapa menit sampai menjelang bel istirahat selesai berbunyi, Aurora dan Theodoric terus berbincang-bincang sampai akhirnya mereka berdua kembali di depan kelas Aurora.
“Okeee Ra, nanti tinggal kabarin di chat aja ya, kalau bisa si pulang bareng,” ujar Theodoric.
Kaka jangan lupa mampir juga ya di karyaku yang berjudul MENIKAH DI ATAS PERJANJIAN. 🤗🤗