Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem: Karir Mingguan

Sistem: Karir Mingguan

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Fantasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rachmat Rachimullah

### KARIR MINGGUAN

Reyhan hanyalah pria biasa dengan kehidupan yang stagnan. Sampai suatu malam, sebuah sistem misterius muncul dan mengubah hidupnya.

**[SISTEM KARIR MINGGUAN TELAH AKTIF.]**

Setiap minggu, Reyhan akan mendapatkan profesi yang berbeda—kurir, guru, pedagang, mekanik, programmer, hingga pekerjaan yang tak pernah ia bayangkan.

Setiap profesi memiliki misi dan batas waktu tujuh hari.

Jika berhasil, **reward luar biasa** menantinya.

Awalnya Reyhan mengira semua ini hanya keberuntungan.

Namun semakin banyak profesi yang ia jalani, semakin ia menyadari bahwa semuanya saling terhubung.

**Sistem itu tidak sedang memberinya pekerjaan.**

Sistem sedang mempersiapkannya untuk menjadi seseorang yang jauh lebih besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Resep Rahasia

Hari ketiga, Reyhan bangun dengan tekad baru: memperbaiki semua kesalahan kemarin. Sebelum berangkat ke pasar, dia menelepon Dimas lagi.

"Dimas, boleh nanya lagi nggak? Kemarin nasi goreng saya keasinan parah sampe ada yang minum air terus."

"Waduh, Pak. Emang Bapak masaknya sambil nangis ya, kok asin banget?"

"Ya nggak lah, Dim. Ini serius, saya butuh saran."

"Hehe, becanda, Pak. Kecapnya kebanyakan kayaknya. Bapak takarannya pake apa?"

"Feeling doang. Kira-kira aja tuang."

"Nah itu masalahnya, Pak. Feeling Bapak beda-beda tiap hari kali, kadang lagi galau tuangnya jadi banyak."

"Sialan kamu, Dim. Ini serius."

"Iya, iya. Pake sendok takar, Pak, biar konsisten. Jangan kira-kira, ini bukan masak sambil dengerin curhat."

Reyhan tertawa mendengar sindiran halus muridnya sendiri itu. "Oke, oke. Makasih ya, konsultan cilik."

"Siap, Pak Bos Nasi Goreng."

Di pasar, Reyhan membeli sendok takar kecil, sesuatu yang tidak pernah terpikirkan olehnya sebagai kebutuhan penting seorang pedagang.

"Bu, sendok takar yang paling murah mana ya?" tanyanya ke penjual peralatan dapur.

"Ini, Dek, lima ribu aja."

"Ambil ini aja deh, Bu."

"Buat apa emang, Dek? Jarang anak muda beli beginian."

"Buat nasi goreng, Bu. Kemarin keasinan parah, ada pembeli sampe protes."

Ibu itu tertawa. "Wah, berarti Dek ini tukang kira-kira ya. Untung baru keasinan, bukan kepedesan sampe pembelinya lari."

"Iya nih, Bu. Doain lancar aja."

"Aamiin. Tapi Dek, jangan lupa juga, nasinya jangan yang baru mateng. Pake yang udah agak dingin."

"Loh, kok Ibu tau juga soal nasi goreng?"

"Ya iyalah, Dek, saya jualan di pasar udah dua puluh tahun, masa nasi goreng aja nggak tau."

Sore itu, Reyhan memasak nasi lebih awal, mengikuti saran ibu pasar. Bu Sari lewat dapur, memperhatikan dengan heran.

"Lho, Mas Reyhan, ini nasi buat besok apa buat sekarang? Kok dimasak dari sore-sore banget?"

"Buat nanti malem, Bu. Katanya kalau nasinya didinginkan dulu, hasilnya lebih bagus."

"Oh, bener itu. Tapi jangan lupa juga, kecapnya jangan langsung tuang banyak-banyak di awal. Cicip dulu."

"Kenapa, Bu?"

"Soalnya kalau kebanyakan, susah dikurangin lagi, Mas. Kecap itu bukan air, nggak bisa dituang balik ke botolnya."

Reyhan tertawa. "Bener juga, Bu. Ilmu dapur ini ternyata dalem banget filosofinya."

"Halah, Mas ini kebanyakan nonton drama Korea kayaknya, sampe masak nasi goreng aja dibikin filosofis."

"Nggak juga, Bu. Cuma lagi butuh semangat aja."

"Ya udah, semangat, semangat! Nanti kalau laris, saya minta dikasih gratis sekali-kali ya."

"Siap, Bu, pasti."

Malam itu di lokasi jualan, Reyhan mempraktikkan semua tips barunya. Pak Herman memperhatikan dari kejauhan.

"Mas, hari ini kayaknya lebih tenang. Nggak kayak kemarin, panik kayak lagi lomba lari estafet."

"Iya, Pak. Udah pake takaran, nggak kira-kira lagi."

"Bagus. Kunci dagang itu konsisten, Mas. Kayak saya jaga gerbang, tiap hari sama aja gayanya, biar orang percaya."

"Wah, dalem juga filosofinya, Pak," sahut Reyhan, sedikit terkesan dengan kebijaksanaan dadakan dari seorang satpam gerbang perkantoran.

"Ya iyalah, saya udah dua puluh tahun jadi satpam, filosofi doang yang saya punya, gaji mah gitu-gitu aja," celetuk Pak Herman lagi, membuat Reyhan tak kuasa menahan tawa mendengar keluhan yang dibungkus candaan itu.

Reyhan tertawa. Tidak lama, bapak berkacamata yang kemarin protes datang lagi, wajahnya agak ragu-ragu.

"Mas, saya coba lagi ya. Mudah-mudahan nggak bikin saya minum galon lagi."

"Siap, Pak. Kali ini saya jamin, saya udah nggak masak sambil bengong."

"Ya udah, saya percaya. Sekali lagi aja ya, kalau masih asin, saya laporin ke MUI."

"Lah, Pak, ini nasi goreng bukan sertifikasi halal yang dipermasalahin."

"Ya becanda, Mas. Buruan masak, saya laper."

Reyhan memasak dengan hati-hati, menuang kecap sedikit-sedikit sambil mencicipi seperti saran Bu Sari. Ia menyerahkan piring itu dengan gugup.

Bapak berkacamata itu mencicipi pelan, mengunyah, lalu mengangguk. "Nah, ini baru bener, Mas. Enak."

"Alhamdulillah, makasih, Pak."

"Tapi lain kali, kalau asin lagi, saya bawa pengacara ya."

"Pak, ini nasi goreng gerobak, bukan sengketa tanah."

Bapak itu tertawa lepas. "Saya cuma bercanda, Mas. Ini enak kok, serius."

Menjelang malam, Reyhan menghitung hasil penjualannya sambil membuka layar holografik sistem.

> [Progres Misi: Rp512.000 / Rp15.000.000]

> [Sisa waktu: 4 hari, 4 jam.]

Fajar datang lagi malam itu, seperti sudah jadi rutinitas.

"Bang, gimana? Masih kacau nggak?"

"Enggak, Jar. Udah stabil. Bapak yang kemarin komplain, malah balik lagi tadi."

"Wah, mantap. Berarti resep rahasianya udah ketemu nih?"

"Insya Allah. Tapi jangan tanya resepnya, ini rahasia dapur."

"Yah, pelit amat, Bang. Kan saya pelanggan setia."

"Pelanggan setia yang tiap malem minta gratisan, maksudnya?"

"Lah, kan saya juga bantu promosi, Bang. Tadi siang saya cerita ke temen sekelas, kata saya 'ini nasi goreng abang kos gue enak banget'."

"Terus, ada yang percaya?"

"Ada dong, satu orang malah nanya lokasinya. Katanya mau coba besok."

"Wah, makasih ya, Jar. Kamu emang tim marketing gratisan terbaik."

"Siap, Bang. Tapi tetep, saya minta diskon terus ya."

"Iya, iya, dasar."

Reyhan tertawa, mulai memasak porsi terakhir malam itu dengan gerakan yang jauh lebih tenang dibanding hari-hari sebelumnya hasil dari tiga sumber ilmu berbeda yang akhirnya menyatu jadi satu resep yang benar-benar bisa dia andalkan, plus satu tim promosi dadakan bernama Fajar yang, meski modalnya cuma mulut besar, ternyata cukup ampuh juga.

"Eh, Bang," kata Fajar sambil menunggu pesanannya, "kalo nanti Abang kaya raya dari jualan ini, jangan lupa saya ya. Jasa promosi gratisan butuh dihargai."

"Iya, Jar, nanti kalo saya kaya, kamu saya angkat jadi direktur pemasaran."

"Sip! Gaji direkturnya nasi goreng sepiring per hari ya, Bang?"

"Ogah, itu mah rugi saya."

Keduanya tertawa bersama, suasana malam itu terasa jauh lebih ringan dibanding kekacauan hari-hari sebelumnya, seolah setiap kesalahan yang sudah dilalui benar-benar berubah jadi pelajaran yang membuat semuanya terasa lebih mudah malam ini.

Belum sempat Reyhan bernapas lega, seorang perempuan muda menghampiri gerobaknya, wajahnya terlihat familiar.

"Mas, ini yang katanya nasi gorengnya enak? Temen kuliah saya," katanya sambil menunjuk Fajar.

Fajar buru-buru menelan makanannya. "Nah, ini dia, Ta. Coba deh, dijamin nggak nyesel."

"Kalo nyesel gimana, Jar?"

"Ya balikin aja piringnya ke saya, nanti saya makan lagi."

Perempuan itu ternyata namanya Rita tertawa mendengar jawaban asal Fajar. "Mas, satu porsi ya, yang pedes sedeng aja."

"Siap, Kak," jawab Reyhan, mulai memasak dengan gerakan yang sudah jauh lebih mahir dibanding hari pertama.

"Eh, Mas, katanya ini nasi goreng legendaris se-kosan ya?" tanya Rita, setengah menggoda.

"Legendaris dari mana, Kak, baru buka empat hari," jawab Reyhan sambil tertawa.

"Nah, ini yang bikin legendaris, Rit" sahut Fajar, menunjuk dirinya sendiri. "Marketing dari mulut ke mulut, andalan banget."

"Mulut kamu doang yang gede, Jar," balas Rita, membuat Reyhan ikut tertawa sambil terus mengaduk wajan.

Setelah selesai, Reyhan menyerahkan piringnya. Rita mencicipi sesendok kecil, matanya sedikit membesar.

"Eh, ini enak beneran, Mas. Jar, buat sekali ini aja kamu nggak bohong."

"Nah, kan! Makanya percaya sama saya," kata Fajar bangga, seolah dialah yang memasak.

"Percaya sih percaya, tapi tetep aja kamu itu tukang bo'ong nomor satu di angkatan, dari jaman maba juga udah gitu," balas Rita, membuat Fajar pura-pura tersinggung sambil memegangi dada.

"Sakit hati saya, Rit. Untung nasi gorengnya enak, jadi obat."

Reyhan menggeleng-geleng melihat tingkah dua sahabat itu, sambil diam-diam mencatat dalam hati: promosi mulut ke mulut ternyata benar-benar bekerja, meski dengan cara yang agak konyol.

Sebelum benar-benar tutup malam itu, Pak Herman mampir sekali lagi, membawa mangkuk kecil kosong dari rumah.

"Mas, jatah saya mana? Katanya kalo rame dikasih gratis satu."

"Lho, Pak Herman serius nagih beneran?"

"Ya iyalah, Mas. Saya kan udah bantuin izin, bantuin cariin tempat pas digeser kemarin. Itung-itung jasa keamanan."

"Wah, Pak Herman ini nagihnya gigih banget kayak debt collector."

"Ya iyalah, saya kan penjaga gerbang, Mas, bukan penjaga amal."

Reyhan tertawa, akhirnya menyerahkan satu porsi gratis untuk Pak Herman yang sudah banyak membantunya sejak hari pertama. "Nih, Pak, spesial buat pahlawan gerbang."

"Nah, gini dong. Enak nih kayaknya," kata Pak Herman sambil mencicipi dengan wajah penuh harap. "Eh, beneran enak, Mas! Kok bisa beda banget sama yang kemarin?"

"Udah ketemu resep pastinya, Pak. Nggak kira-kira lagi."

"Bagus, bagus. Pertahanin ya, Mas. Jangan sampe balik lagi ke jaman keasinan."

"Siap, Pak. Nggak akan."

Setelah Pak Herman dan Rita pergi, tinggal Reyhan dan Fajar yang beres-beres gerobak malam itu.

"Bang, jujur deh, hari ini progresnya gimana? Udah nutup modal belum?" tanya Fajar sambil membantu melipat kursi lipat.

"Udah lebih dari nutup modal, Jar. Tinggal ngejar target aja sekarang."

"Target berapa emang?"

"Rahasia perusahaan, Jar. Nanti kalo saya kasih tau, kamu minta bonus lagi."

"Yah, Bang, pelit banget sih. Padahal saya kan investor moral di sini."

"Investor moral apaan, kamu kan cuma numpang makan gratis tiap malem."

"Itu namanya kontribusi non-materi, Bang. Penting juga lho buat semangat kerja."

Reyhan tertawa, menutup wajannya yang sudah bersih. "Ya udah, makasih ya, Jar, buat kontribusi non-materinya."

"Sama-sama, Bang. Besok saya bawa temen lagi deh, biar makin rame."

"Asal jangan bawa temen yang laper doang tapi nggak beli, ya."

"Tenang, Bang, saya jamin yang saya bawa pasti beli. Kecuali kalo dompetnya lagi tipis kayak saya."

"Dasar," gumam Reyhan sambil tertawa, mendorong gerobaknya pulang malam itu dengan perasaan jauh lebih ringan dibanding malam-malam sebelumnya, ditemani suara tawa Fajar yang terus mengoceh soal rencana promosi "non-materi"-nya untuk besok, sambil sesekali menyelipkan candaan receh yang entah kenapa selalu berhasil membuat Reyhan tertawa meski hari itu sudah cukup melelahkan.

1
Rizky Fadillah
tunggu katanya di awal duit cash di sompet sekitar 357rb dan ga cukup bayar kost lah ini duit di rekening ada juga 357rb jd total nya harus nya banyak dong ane ni atau aku yg salah mohon di koreksi lagi thor alur nya sebelum di upload
RR: siap salah. terimakasih sudah mengingatkan 😁
total 2 replies
Wega Luna
next update Thor
Wega Luna
ceritanya keren beda dari yg lain semoga kedepannya saat kaya jangan terlalu angkuh dan meremehkan orang serta jangan sombong , sesuaikan dengan dunia nyata saja😄
RR
bagi pembaca setia novel ini, yang menjadi peringkat pertama fans nanti. saya bakal masukan namanya jadi salah satu karakter utama pendamping MC 😁
RR
terimakasih yg sudah membaca 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!