Tujuh tahun Cynthia Dewi mencintai YB dengan seluruh hatinya. Namun di hari yang seharusnya menjadi bahagia bagi mereka berdua, YB justru melamar Karen — wanita yang selama ini selalu ia anggap adik. Cynthia melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri, dan hatinya hancur seketika. Di saat ia merasa sudah tak memiliki siapa pun, Aloy datang menolongnya. Ia bukan hanya teman lama, tetapi juga sosok yang menyimpan rahasia besar dari masa lalu Cynthia. Mampukah Cynthia membuktikan jati dirinya, membalaskan dendam, dan menemukan cinta sejatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefin Eka Ramana Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Sentuhan yang Mengubah Segalanya
Setelah momen hangat dan penuh perasaan antara dirinya dengan Aloy berakhir, Cynthia pun berpisah dari pria itu dengan hati yang jauh lebih tenang dan penuh keyakinan. Aloy pergi meninggalkan tempat itu dengan senyum tulus yang tak pernah pudar dari wajahnya, meninggalkan Cynthia yang perlahan berusaha menenangkan jantungnya yang masih berdegup kencang hebat di dalam dadanya. Wanita itu pun segera kembali melanjutkan pekerjaannya dengan sekuat tenaga, membereskan berkas-berkas persiapan pertunangan yang sempat berantakan berserakan di atas meja tertiup angin kencang yang menerpa jendela ruangan tadi. Namun takdir seakan belum selesai menyusun rencananya yang penuh cobaan bagi hati Cynthia. Karena tak lama setelah kepergian Aloy, sosok pria yang tak pernah benar-benar hilang dari pikiran dan perasaannya itu tiba-tiba datang kembali melangkah masuk ke ruangan itu dengan langkah perlahan dan tatapan mata yang penuh kerinduan sekaligus penyesalan yang mendalam. Itu adalah YB. Pria itu datang berniat menanyakan kabar sekaligus menyampaikan sesuatu yang selama ini tertahan di kerongkongannya dan tak pernah sempat terucap.
Mereka berdua pun akhirnya berdiri berhadapan di ruangan yang sepi itu tanpa ada orang lain yang hadir di antara mereka. YB menatap wajah Cynthia lekat-lekat dengan pandangan mata yang seakan tak ingin berpaling sedetik pun, seakan sedang menyusun kata-kata yang tepat untuk diucapkan namun terasa begitu berat untuk diutarakan. Tanpa mereka sadari sama sekali, saat YB perlahan bergerak maju sedikit demi sedikit untuk mendekatkan diri demi menyampaikan sesuatu yang tertahan di ujung lidahnya, jarak di antara mereka pun perlahan menyempit hingga terasa begitu dekat. Wajah mereka berdiri begitu berdekatan, napas mereka beradu lembut membelai wajah yang dulu begitu mereka kenal dan cintai dengan segenap jiwa. Di saat yang begitu mendebarkan dan penuh keheningan itu, tanpa sengaja lengan YB menyentuh lengan Cynthia seakan menahan tubuh wanita itu agar tak menjauh darinya. Dan seketika... tanpa disengaja sama sekali oleh kedua belah pihak, bibir YB menyentuh lembut bibir Cynthia.
Waktu seakan berhenti berputar sepenuhnya di tempat itu. YB tertegun diam tak bergerak sedikit pun, seakan terpaku oleh sentuhan yang begitu lembut dan tak disangka-sangka itu. Dan karena terbawa suasana serta melayang kembali ke masa-masa indah masa lalu yang tiba-tiba menyeruak memenuhi pikirannya... Cynthia pun tak segera menjauh. Ia merasakan sentuhan hangat itu menyebar perlahan ke seluruh tubuhnya, dan tanpa sadar hatinya yang sempat tenang kembali bergetar hebat tak menentu. Untuk sesaat yang terasa begitu panjang... ia seakan menikmati sentuhan itu, terhanyut sepenuhnya dalam getaran perasaan yang tak pernah benar-benar hilang dan pudar dari hatinya selama ini meskipun ia berusaha menyembunyikannya rapat-rapat.
Namun kehangatan dan keheningan yang penuh perasaan itu seketika luruh seketika bagai disambar petir di siang bolong ketika suara langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar mendekat, disusul suara tawa yang penuh amarah dan kebencian yang membelah keheningan ruangan itu seketika. Pintu ruangan itu terbuka lebar dengan kasar tanpa diketuk terlebih dahulu. Sosok wanita berdiri mematung di ambang pintu dengan napas yang memburu hebat dan mata yang membelalak lebar tak percaya memandang pemandangan di hadapannya. Wajahnya pucat lalu seketika memerah padam menahan amarah yang meledak-ledak. Itu adalah Karen. Wanita itu datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, berniat memeriksa langsung sejauh mana persiapan yang dikerjakan Cynthia sesuai dengan segala permintaannya yang berubah-ubah. Namun alangkah meledaklah kemarahannya saat melihat tunangannya berdiri begitu dekat dengan wanita yang paling ia benci di dunia ini, bahkan bibir mereka bersentuhan seakan tak ingin berpisah selamanya. Darahnya seketika mendidih dan membakar seluruh akal sehatnya dalam sekejap. Cemburu buta seketika menyelimuti pandangan matanya dan menutup hatinya rapat-rapat.
"Jadi begitulah..." suaranya melengking tajam disertai getaran amarah yang tak tertahankan dan air mata yang mulai jatuh membasahi pipinya seketika. "Selama ini kau berpura-pura menderita, bersikap lemah dan tulus di hadapan semua orang, padahal kau sengaja mendekati tunanganku secara diam-diam di belakang punggungku! Kau sengaja berdiri begitu dekat, sengaja menyentuhnya... bahkan berani menciumnya di ruangan sepi ini tanpa rasa malu sedikit pun! Kau wanita tak tahu malu yang tak pantas dikasihani!"
Cynthia buru-buru melangkah mundur menjauh dengan wajah yang seketika memerah padam karena malu sekaligus kaget yang luar biasa. Napasnya masih memburu hebat, dadanya bergemuruh tak karuan menahan rasa bersalah dan kebingungan yang bercampur menjadi satu. Ia berusaha menenangkan diri secepat mungkin dan mencoba menjelaskan dengan suara yang masih bergetar hebat agar kesalahpahaman ini tidak berlarut-larut dan menimbulkan masalah yang lebih besar lagi.
"Karen, dengarkan aku dulu... apa yang kau lihat ini bukan seperti yang kau kira sama sekali. Itu terjadi tanpa sengaja, kami tidak bermaksud demikian..."
"Cukup!" potong Karen dengan kasar sambil menunjuk-nunjuk wajah Cynthia dengan jari gemetar penuh amarah dan kebencian yang mendalam. "Aku sudah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri dengan begitu jelas! Kalau bukan karena ada niat buruk dan perselingkuhan yang berlangsung lama di antara kalian berdua di belakang punggungku, mengapa kalian berciuman dengan begitu mesra? Jangan berpikir kau bisa menipuku dengan alasan-alasan manis dan pembelaan yang penuh kebohongan itu! Aku tahu betul siapa dirimu sebenarnya!"
YB yang sedari tadi masih tertegun mematung belum pulih sepenuhnya dari keterkejutan akhirnya mencoba membela Cynthia dengan suara yang tampak masih belum stabil. "Karen, tolong jangan menuduh sembarangan. Ini semua hanyalah kesalahpahaman yang terjadi tanpa sengaja..."
Namun pembelaan YB justru semakin memperparah keadaan dan membakar kemarahan Karen menjadi berkali-kali lipat lebih hebat. Karen berbalik menatap tunangannya itu dengan pandangan yang penuh luka, kecewa, dan air mata yang mengalir deras tanpa sanggup ia tahan lagi. "Kau pun membela wanita ini? Jadi apa yang aku lihat tadi memang benar adanya dan bukan sekadar khayalanku saja? Kalian berdua..." Karen tak sanggup melanjutkan ucapannya karena tangis yang mulai mencekik suaranya. Dengan hati yang hancur lebur dan penuh kebencian yang mendalam, wanita itu berbalik perlahan lalu berlari keluar ruangan meninggalkan mereka berdua yang masih terpaku diam mematung di tempatnya tanpa sanggup berbuat apa-apa.
Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut dari siapa pun, Karen langsung melangkah menuju kediaman Keluarga Hutapea dengan langkah tergesa-gesa dan napas yang terus memburu hebat sepanjang jalan. Ia menemui Ibu kandungnya dan Nyonya Hutapea yang sedang menantikan kabar persiapan pertunangan mereka dengan penuh harap. Dengan suara yang penuh tangis dan seakan menjadi korban ketidakadilan yang paling menyakitkan di dunia, Karen melaporkan segala apa yang dilihatnya tadi kepada kedua wanita itu secara berlebih-lebihan. Ia menuduh Cynthia sengaja merayu dan mendekati tunangannya secara licik, berciuman dengannya secara diam-diam di ruangan sepi, serta berusaha merebut tunangan orang lain dengan cara yang tak tahu malu dan tercela.
Mendengar laporan yang begitu memalukan dan penuh emosi itu, Ibu kandung Karen seketika ikut meledak dalam kemarahannya seakan api disiram minyak. Wanita itu segera menambahkan tuduhan-tuduhan lain yang memperburuk nama baik Cynthia di hadapan Nyonya Hutapea, seakan segala kejahatan dan keburukan di dunia ini dilakukan oleh Cynthia seorang wanita. Sementara itu, Nyonya Hutapea hanya terdiam mendengarkan segala laporan itu dengan wajah yang tampak serius dan penuh keraguan yang tak kunjung hilang. Di dalam hatinya, keraguan yang sempat tumbuh perlahan kini semakin membesar dan menimbulkan tanda tanya besar. Namun di saat ini, di hadapan air mata dan tuduhan yang bertubi-tubi datang silih berganti, Nyonya Hutapea memilih untuk menahan segala keraguannya dan tidak langsung menarik kesimpulan apa pun sebelum membuktikannya sendiri.
Di ruangan itu, YB masih berdiri mematung di tempatnya dengan perasaan yang hancur berkeping-keping tak mampu lagi disatukan. Ia menatap Cynthia yang berdiri tertunduk diam sambil menahan air mata agar tak jatuh membasahi pipinya yang pucat. Rasa bersalah kembali meremukkan hatinya hingga terasa nyeri yang tak terlukiskan. Andai saja ia tidak mendekat... andai saja ia menjaga jarak... mungkin wanita itu tak akan pernah dituduh berbuat kesalahan yang tak pernah ia sengaja lakukan. Namun kini, kesalahpahaman itu telah terjadi dan tak bisa dihapus begitu saja dengan kata-kata penjelasan. Cynthia pun masih terdiam mematung dengan jantung yang berdegup kencang hebat, merasakan sisa sentuhan hangat yang sempat terjadi sesaat tadi masih terasa membekas di bibirnya. Di dalam hatinya yang paling dalam, ia menyadari satu hal yang menyakitkan namun harus ia terima: semakin banyak kebohongan yang ditumpuk untuk menutupi satu kebohongan lain, semakin cepat pula hari di mana semuanya akan runtuh seketika. Dan saat hari itu akhirnya tiba... tak ada satu pun kebohongan yang mampu bertahan di hadapan kebenaran yang sesungguhnya.