Dijodohkan kedua keluarga tanpa rasa cinta.Perlahan perasaan tumbuh diantara Daichi dan Sakura.
Memiliki anak, lalu???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mutiara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Perhatian
Ketika malam hari, sakura terlihat masih sibuk menyisir rambutnya.Kegiatan itu selalu dilakukannya meskipun dia akan tidur. Dia bahkan tidak peduli jika rambut yang telah disisinya itu akan kembali berantakan, setidaknya dia ingin tetap terlihat cantik dihadapan daichi sebelum mereka beristirahat setelah melakukan aktivitas mereka satu harian.
Perlahan pintu kamar itu terbuka dengan diikuti kemunculan daichi yang membawa segala susu ditangannya. Sebuah senyum mengembang diwajahnya sambil berjalan mendekat kearah sakura.
Sakura menatap wajah daichi, dengan hati - hati daichi membantu sakura untuk bangkit berdiri dan menuntunnya ke ranjang tidur mereka. Daichi meletakan gelas yang berisikan susu yang dari tadi dipeganginya di atas meja. Kemudian Dian membantu sakura untuk duduk sambil meletakan bantal di belakang punggungnya agar sakura merasa nyaman. Sakura tak hentinya memandangi wajah daichi, dia merasa begitu bersyukur memiliki suami yang begitu mempedulikan dirinya dan calon anak mereka.
"Terima kasih", ucap sakura.
Daichi hanya tersenyum simpul, dia mengambil gelas yang di atas meja dan memberikannya kepada sakura.
"Minumlah susu nya", pinta daichi.
"Rasanya enak", kata sakura sambil memberikan gelas kosong itu kepada daichi.
Setelah meletakan gelas itu kembali, daichi duduk di samping sakura. Diraihnya kedua tangan sakura yang terasa dingin dan mencoba menghangatkannya dengan mengusap kedua tangan itu.
"Tidurlah, sudah malam", kata daichi.
"Hmmm", jawab sakura.
Daichi kembali membantu sakura, meletakan kembali bantal pada posisi semula.
"Selamat malam", kata daichi, kedua tangannya menarik selimut putih itu untuk menutupi tubuh sakura.
"Kamu tidak tidur?"tanya sakura.
"Sebentar lagi, aku akan menunggu mu sampai tidur dengan pulas", ungkap daichi.
"Tidak, kamu tidak perlu melakukannya", tolak sakura.
"Sudah tidurlah", pinta daichi.
"Baiklah, selamat malam", kata sakura.
"Selamat malam, sayang", jawab daichi, sembari mengecup kening istrinya itu.
Daichi sama sekali tidak beranjak dari tempatnya, dia terus berjaga mengawasi sakura yang terkadang suka gelisah di dalam tidurnya. Sepanjang malam, daichi akan terus membelai - belai kening sakura hingga dia tidur lelap dan tak terlihat kegelisahan di ekspresi wajahnya. Ketika memastikan sakura sudah tidur, barulah dia bisa tidur dengan nyaman di samping sakura.
•
•
•
Sakura masih berada di ranjang antara bangun dan tidur. Matahari telah terbit, tapi entah mengapa dia merasa begitu sulit menggerakkan badannya untuk bangkit dari ranjang. Rasanya seluruh badannya begitu pegal, terutama pinggangnya. Dia bahkan membutuhkan tenaga untuk mengangkat badannya untuk bangun.
"Selamat pagi, sayang", sapa daichi, pria itu baru saja keluar dari dalam kamar mandi.
"Selamat pagi",. jawab sakura, wajahnya terlihat letih.
"Ada apa? Apa kamu sakit?"daichi langsung terlihat panik saat melihat wajah sakura yang pucat.
"Tidak, aku hanya merasa seluruh badanku sangat sakit", ucap sakura, satu tangannya mencoba mengelus pinggang belakangnya.
"Apa kita perlu ke dokter untuk memeriksakannya?"tanya daichi.
"Tidak, itu tidak perlu. Mungkin sebentar lagi rasa sakitnya akan hilang. Jangan khawatir sayang", kata sakura, sebisa mungkin dihadapan daichi dia terlihat kuat, karena tidak ingin membuat suaminya itu cemas dan kepikiran.
"Kamu mau kemana?"tanya daichi.
"Ke kamar mandi",. jawabnya.
"Baiklah, aku akan membantu mu", katanya, dia membantu sakura dengan hati - hati. Dia menuntun sakura sampai ke depan kamar mandi.
"Sudah, aku bisa sendiri ke dalam", ucap sakura.
"Kamu yakin?"daichi kembali memastikan kondisi sakura.
"Hmmm", jawab sakura.
Daichi masih berdiri di depan kamar mandi, menunggu sakura yang masih di dalam. Ketika sakura keluar dari kamar mandi, dia terlihat kaget saat melihat daichi yang masih berdiri disana.
"Kamu tidak pergi dari tadi?"tanya sakura, bingung.
"Aku takut jika terjadi apa - apa dengan kamu di dalam", ungkap daichi.
"Aku baik - baik saja, percayalah", kata sakura.
"Hari ini jangan pergi ke kantor, beristirahatlah dirumah", perintah daichi, wajahnya terlihat serius. Terlihat tidak ada negoisasi untuk perintah yang diberikannya kepada sakura.
"Baik, tuan Daichi Tama", kata sakura, untuk pertama kalinya tak ada bantahan yang diberikannya dan memilih untuk menuruti perintah yang diberikan daichi
"Aku akan secepatnya kembali dari kantor, setelah itu kita akan pergi bersama kerumah sakit untuk memeriksakannya", kata daichi.
"Itu tidak perlu", tolak sakura, kali ini dia tidak sependapat dengan daichi.
"Sakura, bisakah kali ini saja kamu menuruti suami mu ini?"tanya daichi.
Permintaan daichi itu sungguh membuah hatinya bergejolak, dia justru saat ini merasa jika selama ini bukanlah seorang istri yang penurut melain seorang istri yang pembangkang.
"Apa selama ini aku tidak pernah menuruti mu?"tanya sakura, wajahnya terlihat sedih saat menatap wajah daichi.
"Bukan..., bukan seperti itu. Aku mohon jangan salah paham sayang", sergah daichi.
"Lupakan itu. Aku akan meminta Kimi menemaniku ke rumah sakit. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku, lebih baik sekarang ku berangkat ke kantor. Aku tidak ingin kamu terlambat", ucap sakura.
"Sayang, biarlah aku yang menemani mu ke rumah sakit", pinta daichi.
"Itu tidak perlu, aku akan mengabari mu jika kondisiku tidak baik", ucap sakura.
Dia berusaha menerima opsi yang dimilikinya karena pilihan yang dimilikinya cukup terbatas.Sesungguhnya, dia sebenarnya tidak menyetujui apa yang telah diputuskan oleh sakura.Dia hanya memilih mengalah karena tidak ingin berdebat panjang dengan istrinya itu. Merasa tidak puas, tapi dia juga merasakan semacam kelegaan karena sakura setuju untuk memeriksakan kondisi kehamilannya ke rumah sakit.
"Kalau begitu aku berangkat. Beristirahatlah, jika terjadi sesuatu segera hubungi aku", kata daichi
"Tentu saja", jawab sakura.
"I Love you", kata daichi, sambil mencium kening sakura, lalu membungkukkan badannya untuk mencium perut sakura
"I love you too", jawab sakura.
Selepas kepergian daichi, dia kembali berbaring di ranjang tidurnya, setelah menahan rasa sakit yang dirasakannya dari tadi. Menahan dirinya agar tak membuat rasa khawatir untuk daichi, hingga membuat suaminya itu tak bekerja. Bagaimanapun dia tentu memahami betul sifat daichi, dia pasti akan lebih memilih menemani dirinya dari pada berangkat ke kantor, bahkan dia sama sekali tidak peduli dengan pertemuan penting yang telah diatur jauh-jauh hari.
"Aku harus menelepon Kimi",gumamnya, diambilnya ponsel yang terletak di atas meja untuk meminta sekertaris pribadinya itu menemaninya ke rumah sakit.
📱Hallo Kimi
📱Selamat pagi, nona sakura. Saya sedang dijalan, sebentar lagi saya tiba di apartemen anda."
📱Tidak Kimi, hari ini aku tidak ke kantor."
📱Ada apa nona? Apa ada masalah?"
📱Hmm, seluruh badan ku terasa sakit. Aku ingin meminta mu mengantar ku kerumah salut."
📱Tentu saja, nona. Sebentar lagi saya sampai."
📱Baiklah, hati-hati."
Setelah selesai menghubungi Kimi, waktunya dia untuk bersiap-siap meskipun dia masih merasakan sakit di seluruh badannya. Dengan hati - hati dia turun dari ranjang tidurnya dan melangkah menuju kamar mandi. Didalam kamar mandi, dia melihat dirinya di sebuah cermin. Ditatapnya wajahnya yang terlihat begitu pucat dengan matanya yang sayu, penampilannya sungguh berantakan. Dia baru menyadari beginilah penampilannya tadi saat masih ada daichi, sungguh memalukan. Membiarkan suaminya melihatnya dengan penampilannya yang berantakan, ketakutan akan kehilangan itu kembali mengusik pikirannya karena kecerobohan yang dilakukannya sendiri.
"Kau sangat menyedihkan, sakura", gumamnya, wajahnya menggambarkan kemarahan kepada dirinya sendiri.
•
•
Ting...Tong..Ting..Tong...
"Sebentar", teriak bibi mori.
Wanita paru Bayah itu langsung berjalan membuka pintu.
"Nona Kimi", ucapnya
"Selamat pagi bibi mori", sapa kimi.
"Mau menjemput sakura?"tanya bibi mori.
"Benar, nona sakura meminta saya untuk mengantarnya ke rumah sakit", kata Kimi.
"Ia daichi juga tadi sudah meminta bibi untuk memastikan apakah sakura benar - benar pergi ke rumah sakit. Dia sangat khawatir mengenai kesehatan sakura", kata bibi mori.
"Bibi sudah bisa mengatakan kepada tuan daichi nanti, dia tidak perlu khawatir karena aku yang akan mengantar nona sakura ke rumah sakit", ucap Kimi.
"Ia, bibi akan menghubunginya nanti setelah kalian pergi. Bibi tidak mau sakura menyangka bahwa suaminya tidak mempercayai dirinya", ungkap bibi mori.
"Baiklah bi", kata Kimi.
"Astaga, dari tadi kita begitu asik berbicara sampai bibi lupa menyuruh mu masuk kedalam ",. ucap bibi mori, tertawa.
"Aku juga dari tadi menunggu kapan bibi mempersilahkan ku masuk", goda Kimi, tertawa.
"Masuklah kalau begitu", ucap bibi mori.
Kimi muncul dihadapan sakura saat dia baru saja keluar dari kamarnya dan kemunculannya yang tiba - tiba langsung mengagetkan sakura. Dia tergagap dan berhenti, tak mampu bicara.
"Nona sakura", panggi Kimi.
"Kimi, kamu mengagetkan saja", keluh sakura.
" Saya mengagetkan anda, ya? Maaf nona, saya hanya ingin menyapa anda tadi", ucap Kimi.
"Hmm. Kamu berhasil mengagetkan ku", kata sakura.
"Sekali lagi saya minta maaf nona", Kimi terlihat merasa bersalah dengan sakura.
"Sudah tidak apa-apa. Kalau begitu kita bisa pergi sekarang?"tanya sakura.
"Tentu saja nona", jawab Kimi.
"Bibi mori, kami pergi dulu", kata sakura.
"Ia sayang, semoga semua baik-baik saja", ucap bibi mori.
"Doakan ya bi", pinta sakura.
"Tentu saja, sayang. Bibi yakin semua akan baik - baik saja", jawabnya.
"Baiklah, kami pergi", kata sakura.
"Hati- hati sayang", ucap bibi mori, mengantarkan keduanya kedepan.
Dia langsung buru-buru menutup pintu setelah melihat sakura pergi, dia berjalan meraih telepon untuk menghubungi daichi. Memberikan informasi yang mungkin saja dari tadi ditunggu-tunggu olehnya, dia tahu betul bagaimana daichi. Sepanjang hari dia bisa terus terpikir mengenai keadaan sakura hingga membuatnya sama sekali tak berkonsentrasi terhadap pekerjaannya.
"Aku harus menghubungi daichi", gumamnya, sambil menekan nomor telepon daichi.
Bersambung..
mengingat Luna ternyata teman dekat Sera, ayuk Dsichi suruh pengawalmu menyrludiki sebelum pelskor mengambil kesempatan merusak hubungan Daichi dan Sakura.
Sampai debay lahir Sskura sehat yaaaa
selamat menanti tamu mungilmu Sakura semat terus 🍁🍁🍁🍁🍁🍁