Mireya Ananta diceraikan suaminya karena tubuhnya yang gemuk.
Terusir tanpa harta, ia hanya memiliki uang dua puluh ribu rupiah dan terpaksa mencari pekerjaan.
Sebuah lowongan membawanya ke kediaman Arven Zarreti, tuan tanah bengis yang memiliki perkebunan luas di sebuah desa.
Arven membutuhkan seseorang untuk mengasuh Elden, putranya yang berusia lima tahun dan menolak sekolah karena takut bertemu orang lain.
Awalnya, Arven menguji Mireya terlebih dahulu, apakah benar di bisa membuat Elden makan tanpa harus dipaksa. Ternyata, berbekal pengalaman mengasuh anak kakak iparnya, Mireya dengan mudah membuat Elden menikmati makannya.
Keesokan hari, Penghulu datang ke rumah itu.
"Kita menikah!"
Jadi lah, beberapa hari usai cerai, Mireya langsung menjadi istri pria bernama Arven.
Mireya menjadi ibu sambung bagi Elden, dan mengurus lahan pertanian milik Arven. Bagaimana kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Kiat Orang Kelaparan
Mireya baru saja melangkahkan kaki ke dalam rumah ketika suasana di depannya mendadak berubah.
Seorang pria berdiri di ujung lorong.
Tinggi.
Tegap.
Kemeja hitam yang dikenakannya memiliki beberapa kancing bagian atas yang terbuka, memperlihatkan sedikit bagian lehernya. Rambut hitamnya tertata rapi, sementara wajahnya nyaris tanpa ekspresi.
Namun bukan itu yang membuat Mireya menelan ludah.
Tatapan pria itu.
Dingin.
Tajam.
Seolah-olah satu tatapan saja cukup untuk membuat seseorang mengakui kesalahannya.
Mireya refleks berhenti berjalan.
Pria itu tidak mengatakan apa pun.
Matanya justru tertuju kepada seorang bocah yang sejak tadi bersembunyi di belakang Pak Can.
“Elden.”
Hanya satu kata. Namun tubuh kecil Elden langsung menegang. Kedua tangannya mencengkeram pakaian Pak Can.
Kepalanya menggeleng kuat-kuat. “Tidak mau...”
Bahkan mulutnya ikut ditutup dengan kedua tangan.
Mireya mengernyit.
Anak itu tadi masih mau berbicara dengannya. Mengapa sekarang ketakutan?
Pria itu menghela napas pendek. Ia sama sekali tak marah, bahkan tak ada bentakan. Namun justru ketenangan itu membuat suasana terasa semakin berat.
Barulah tatapannya beralih kepada Mireya. Alisnya sedikit terangkat. Jelas dia baru menyadari keberadaan perempuan asing tersebut.
Pria itu tidak bertanya. Tatapannya berpindah kepada dua anak buah yang mengiringi Mireya.
Salah satu dari mereka segera memahami maksudnya.
“Ini, Tuan. Nona Mireya datang untuk melamar sebagai ibu tiri Tuan Muda Elden.”
Pria itu menatap Mireya sekali lagi.
Tidak ada pertanyaan.
Tidak ada basa-basi.
Hanya gerakan kepala kecil yang mengisyaratkan agar Mireya mengikutinya.
Mireya menunjuk dirinya sendiri. “Saya?”
Pria itu sudah berbalik.
Mireya terpaksa mengikuti. “Orang ini benar-benar tidak banyak bicara,” gumamnya pelan.
Dia tidak tahu bahwa pria di depannya mendengar gumamannya. Namun, Arven tidak menoleh.
Mereka melewati sebuah ruang keluarga yang luas. Kemudian masuk ke ruang makan.
Mireya langsung berhenti.
Matanya tertuju pada meja makan yang dipenuhi berbagai hidangan. Nasi. Telur. Sup. Buah-buahan. Roti. Bubur. Dan beberapa jenis lauk lainnya.
Mireya berkedip. Kemudian tanpa sadar memegang perutnya.
Krucuk!
Suara itu terdengar cukup jelas.
Mireya mengernyitkan wajah. 'Aduh, semoga gak ada yang dengar.'
Pak Can menoleh. Arven juga berhenti berjalan.
Mireya buru-buru mengatupkan bibir.
“Maaf,” ucapnya menahan malu.
Sejak kemarin dia belum makan. Setelah perceraian, uang dua puluh ribu yang dimilikinya terlalu berharga untuk sekadar membeli makanan. Lima ribu sudah hilang untuk ongkos tadi, sekarang hanya tersisa lima belas ribu lagi.
Sejak kemarin dia hanya minum air yang langsung diteguk dari keran mesjid.
Sekarang di hadapannya ada satu meja penuh makanan.
Mireya menelan ludah berkali-kali.
'Tenangkan dirimu Mireya. Jangan bikin malu. Yang penting dapat pekerjaan dulu.'
Arven menarik salah satu kursi dan duduk. Tatapannya mengarah kepada Mireya.
“Kau akan diterima kalau berhasil membuatnya makan.”
Mireya mengerutkan kening. “Elden?”
Arven tidak menjawab.
Tatapannya justru beralih ke arah pintu. Mireya baru menyadari sesuatu. Elden sudah tidak ada.
“Bukankah tadi dia di sini?”
Pak Can menghela napas. “Dia kabur lagi.”
“Lagi?”
Pak Can mengangguk. “Kalau sudah melihat makanan, dia pasti selalu mencoba untuk kabur. Sejak kecil, Elden memang susah dibujuk makan."
Pak Can langsung bergerak mencari bocah itu. Tidak lama kemudian, suara langkah kaki kecil terdengar. Pak Can berhasil membawa Elden kembali.
"Anda bukan orang yang pertama datang ke sini untuk melamar pekerjaan itu. Dan, semuanya gagal," terang Pak Can.
Anak itu langsung memalingkan wajah begitu melihat meja makan. “Ngga mau.”
Pak Can mencoba membujuk. “Elden, ayo sarapan. Biar kamu kuat main lagi.”
“Nggak mau. Makanannya ngga ada yang enak."
“Sedikit saja.”
“Nggak!”
“Makan tiga sendok?”
“Nggak!”
Mireya memperhatikan dari samping. Anak itu benar-benar keras kepala. Namun ketika matanya menyapu meja, pandangannya berhenti pada satu hidangan.
Nasi goreng.
Mireya menelan ludah. Matanya berbinar.
'Wah... bisa nih.'
Dia berjalan mendekati meja. Tanpa banyak bicara, Mireya mengambil piring. Satu sendok nasi goreng. Dua. Tiga. Empat. Lima. Enam.
Tangannya terus bergerak sampai nasi goreng membubung tinggi melebihi ukuran piring yang ada.
Arven yang sejak tadi memperhatikannya akhirnya mengangkat alis.
'Itu bukan porsi anak lima tahun.'
'Itu porsi orang dewasa yang kelaparan.'
Namun, Arven tidak berkata apa-apa.
Mireya mengambil dua sendok makan menaruhnya di kedua sisi piring. Kemudian berjalan mendekati Elden.
Pak Can langsung menatap piring di tangannya dengan mata terbelalak. “Nona...”
Mireya duduk di lantai, tepat di depan Elden yang masih menutup mulutnya.
“Elden.”
Anak itu menatapnya curiga.
“Ayo makan.”
Elden menutup mulut. Geleng-geleng kepala.
Mireya tidak memaksa. Dia hanya mengangkat sendok.
Lalu...
"Hap." Nasi goreng masuk ke mulutnya sendiri.
Pak Can membeku. Arven mengernyit.
Mireya mengunyah dengan lahap. Suap kedua. Ketiga. Keempat. Matanya bahkan terpejam sebentar karena menikmati makanan. Pipinya sampai menggembung karena mulutnya sangat penuh.
Pak Can akhirnya tidak tahan. “Nona Mireya?”
Mireya terus melahap makanannya. “Ya?”
“Bukankah Anda seharusnya menyuapi Elden?”
Mireya menunjuk Elden dengan sendok. "Kan dia nggak mau.”
“Tapi—”
“Kalau dia nggak mau, ya sudah.” Mireya kembali melahap nasi goreng itu.
Elden yang sejak tadi menutup mulut mulai tertarik melihat begitu lahapnya manusia besar di hadapannya. Matanya mengikuti setiap gerakan sendok.
Mireya pura-pura tidak melihat. Suap lagi. Elden menelan ludah. Mireya tersenyum dalam hati. Dapat.
Namun dia tetap berpura-pura tidak peduli. “Hmm... enak.”
Elden menatapnya.
Mireya mengambil satu suap lagi. “Sayang sekali kalau aku makan sampai habis.”
Elden akhirnya tidak tahan. Tangannya bergerak mengambil satu sendok yang tergeletak di sisi lain piring itu.
“Aku nggak pernah bilang aku nggak mau.”
Mireya menoleh. “Bukannya tadi kamu bilang nggak mau?”
“Nggak.”
“Kamu bilang nggak mau.”
“Nggak bilang.”
Mireya menahan senyum. “Kalau begitu, silakan dimakan.”
Dia meletakkan piring di lantai. Elden langsung duduk di hadapannya. Tangannya mengambil sedikit nasi goreng. Masuk ke mulut.
Mata Pak Can membulat.
Satu suap. Dua suap. Tiga.
Arven yang duduk di ujung meja tidak mengatakan apa pun. Namun tatapannya semakin lama semakin sulit disembunyikan.
Terkejut.
'Sudah berapa lama Elden tidak makan sebanyak itu?'
Mireya kembali menyuap makanannya sendiri. “Kalau kamu lambat, nasi gorengnya aku habiskan.”
Elden langsung mempercepat gerakannya. “Jangan!”
Mireya mengambil satu suap besar. “Aku lapar.”
“Jangan habiskan nasi gorengku!”
“Kalau begitu makan.”
Elden menyendok lagi. “Aku makan!”
Mireya tersenyum. “Nah.”
Pak Can hanya bisa melongo.
Selama sekian tahun di sini, dia tak pernah berpikir cara seperti ini lah yang paling efektif membuat Elden makan.
Apapun yang dilakukan untuk membujuknya makan banyak, selalu saja tak berhasil.
Namun perempuan yang baru datang beberapa menit lalu... malah berhasil membuat Elden makan hanya dengan pura-pura merebut makanannya.
Arven akhirnya menghela napas. Sudut bibirnya bergerak sedikit. Nyaris membentuk senyuman. Namun, segera ia sembunyikan.
Kemudian memberi isyarat kecil kepada Pak Can. “Biarkan.”
Pak Can mengangguk, dan akhirnya pergi.
Arven berdiri. Namun sebelum meninggalkan ruangan, dia sempat menoleh. Mireya sedang sibuk berebut nasi goreng dengan Elden.
“Ini punyaku!”
“Yang itu punya kamu.”
“Yang ini juga!”
“Kalau begitu jangan ambil punyaku.”
“Aku mau yang itu!” Mireya memeluk piringnya.
“Tidak boleh.”
Arven menggeleng pelan.
Entah mengapa... ruang makan yang biasanya sunyi kini terdengar sedikit berbeda.
Dan Arven belum menyadari satu hal.
Perempuan yang baru datang ini, lulus sebagai ibu tiri putranya.
Saat di luar ruangan, dengan wajah datar ia menatap Pak Can yang berdiri di sisi pintu.
"Siapkan segera. Dia lolos menjadi Ibu bagi Elden. Cari penghulu."
*bersambung*
Ditunggu cerita selanjutnya
ini cerita tee realistis yg pernah aku baca di sepanjang baca pernovelan si.
kenapa?
karena untuk bahagia itu sebenarnya sederhana.
kita ga perlu merubah orang lain atau memaksa keadaan yg penuh problematika biar lepas dr masa lalu.
cukup jadi diri sendiri dan merubah mindset kita sendiri si.
terimakasih atas cerita indah nya Thor.
mungkin Se savage aku mesti belajar jadi orang woles yaa🤣🤣
kalau aku udah bertanduk itu...
tapi ga bikin puas ya
kalau begini mereka yg malu sendiri
Sekarang kalau mereka tahu Mireya hamil....bakalan heboh.
kira² gmn reaksi keluarga mantan jika tau mireya hamil?
bahagia itu sederhana ya ven
gaya hidup lu yg dulu,yg bebas bisa ga ngasih kebahagiaan kyk gini?