Jika memang nanti semesta hanya mengizinkan mu singgah kepadaku, maka aku akan membiarkan mu pergi mencari tempat pulang sesungguhnya. Tapi paling tidak aku sudah menjadi bagian cerita yang akan selalu kamu ingat. Meski kamu berusaha untuk melupakannya, akan ku suruh takdir mengikatmu dengan belenggu kenangan. Aku egois bukan?
Benar, kemarilah, akan aku ajari kau arti menunggu.
Kapan terakhir kali kamu dapat tertidur lelap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emie_lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21 terimakasi: Book story
Dua hari kemudian
"bajunya kakak, silahkan dibeli bajunya untuk orang tersayang."
Benar sekali, empat jam sebelum kepulangan kami ke daerah asal, bapak kepala sekolah memberi hadiah berupa jalan-jalan serta berbelanja, katanya karena kami aktif dalam mengikuti acara yang diselenggarakan.
"pilih lah mau beli apa."
"widihhh, bapak belanja?"
"iya."
"yey, cair kita."
Kami tertawa, manusia mana tidak bahagia ketika mendengar ada barang gratis disekitar mereka.
"tapi." suara beliau mulai terdengar lirih.
"jangan banyak-banyak, satu saja ya perorang." beliau, bapak kepala sekolah kami maksudnya, memukul bagian saku celana dimana bank pusat sedang berada.
"alah pak, bank pusat masih berbunyi duit kok."
"ini sudah kurang setengah, Mentri keuangan negara tidak mencairkan banyak dana."
Kami kaget, sambil spontan tertawa geli, tidak menyangka bahwa kepala sekolah kami adalah pria takut istri.
"oh, siap, siap, aman pak."
"hati-hati pak, Ana memang ngambil satu, tapi paling mahal." cetus ketua OSIS kami.
"elu kira gua ga tau malu kayak orang didepan ini? Gua mikir juga tau."
"dih, apaan malah gua."
Jadi acara yang sedang kami hadiri itu namanya ajang keakraban bersama gubernur. Pada awal acara diselenggarakan mereka ingin acara ini sebagai wadah inspirasi dari generasi muda, dimana sekaligus mereka ingin mencari tunas unggul putra-putri daerah.
Dari perwakilan sekolah kami ada empat orang siswa beserta siswi yang dikirim dalam memenuhi acara keakraban bersama gubernur, terdiri dari aku, Ana, ketua OSIS kami beserta wakilnya, disini tidak lupa kami juga didampingi oleh kepala sekolah dan dua orang kaki tangan beliau.
Acaranya kurang menarik jujur, hanya mendengarkan cerita kalau kuliah itu penting, lalu motivasi dan tanya jawab, lebih akrab dengan apa yang kita kenal sebagai acara seminar, hanya saja agak direnovasi agar lebih keren jadi acara keakraban bersama gubernur.
"mau beli apa?" senggolan Ana menghamburkan lamunanku.
"eh, eummm...aku bingung."
"mau couple sama adik gemas mu?"
Mataku terbelalak, mencari celah agar bisa berbohong kepada Ana.
"alah gak perlu diam gitu, aku tahu kamu memandangi baju itu terus kan? perempuan mana mau memakainya."
"aku, aku perempuannya."
"benarkah?" Ana menautkan kedua alisnya.
"i...iya kok." sedangkan aku, entah kenapa malah gelabaka, padahal tinggal bilang iya saja.
"nah, kamu bohong kan, ketahuan deh."
aku menutup wajah malu. "ga tau deh, aku ingin membelikan dia sesuatu sebagai hadiah ulang tahun."
"hmmm...yang ini bagus kok, beli saja." ucap Ana sambil memegang pakaian di depanku.
"ANA!" perilaku Ana berhasil mencuri pandangan orang-orang disekitar ku.
"wop, untuk siapa itu?" tentu siapa lagi orang disekitar ku selain mereka berlima, baik Ana maupun ketua OSIS kami, semua sama saja, tidak bisa memegang rahasia.
"ga usah kepo kayak perempuan!" jawabku ketus, tidak menghiraukan raut wajahnya sama sekali.
"Ana, aku bingung kalau mama bertanya nanti." aku sedikit berbisik kepada telinga Ana.
"biar aku yang bawa pulang, nanti aku bawakan lagi kesekolahan, gimana mau ga?" Ana juga membalas pertanyaan ku dengan suara berbisik .
"mau." anggukku kemudian.
Bukan sibuk memilih barang untuk dirinya, Ana malah menemani serta membantuku dalam memilih baju serta beberapa ornamen untuk El
"ini aja deh."
"kalau kamu beli yang ini juga pasti lucu, soalnya mirip dengan warna baju El."
"boleh, boleh, aku juga suka."
Ulang tahun El memang masih lama, tapi aku sangat antusias mencari hadiah untuk dia. Ditambah ini kali pertama aku mencari barang istimewa, untuk orang istimewa pula.
"Pia, hadiah ulang tahun milik El sudah ada, kamu gak mau buat satu karya hanya ditujukan pada dirinya?"
Aku sempat berpikir sejenak, ide yang bagus dari Ana, El bisa saja lupa jika baju ini adalah pemberianku, namun El tidak akan lupa jika aku memberikan sebuah karya spesial, spesifik hanya untuk dia.
Maka dari itu, aku bertekad untuk membuat sebuah karya "tapi apa?"
"ini bagus, lagi trend juga." mengejutkan Ana bisa mendengar suara hatiku yang terdalam, kayaknya tebakanku jika Ana punya indra keenam adalah benar.
Aku melihat sebuah video "tutorial book story buat ayang" begitu isi judulnya, sebenarnya tidak ada hal spesial pada buku itu, buku yang dimaksud hanya sekedar buku catatan kecil pada umumnya, namun setelah dibuka buku tersebut akan menunjukkan keindahan dirinya , cerita lawas yang dikemas dengan puisi bertabur akan majas, sketsa -sketsa unik penuh dengan ornamen autentik, menjadikan buku itu tidak ternilai harganya. Semoga, El juga menafsirkan seperti apa yang seharusnya.
Aku pulang dengan langkah yang dipenuhi semangat, seolah setiap pijakan menyimpan denyut harapan. Di sepanjang perjalanan, pikiranku menari-nari, merangkai gagasan-gagasan hebat yang berkilau seperti cahaya liar pagi hari. Ada desir tak sabar di dadaku untuk menebarkan serbuk-serbuk makna, benih yang tak akan layu meski kemarau panjang datang menguji, tak akan runtuh meski waktu berusaha meminta ia pergi. bunga milikku akan tumbuh diam-diam, berakar dalam ingatan, lalu mekar pada saat yang tepat, menjadi jejak yang tak mudah dihapus oleh usia dan lupa.
"hay, apakah ada orang di sana?" Pesan dari El senantiasa menemani malam-malamku, berdiam lembut di sela sunyi yang merayap pelan. Bahkan ketika waktu kian larut dan dunia mulai meredup, kata-katanya tetap hadir, dalam konsonan kecil namun setia.
"tes, ada nih." sedangkan aku, kini menadah tangan dalam berdoa, semoga orang belakang tidak membaca isi pesan kami.
"kakak sudah diperjalanan pulang?"
"sudah, ini lagi otw."
"kakak, kakak, kakak."
"iya, iya, iya."
"El takut."
"ehhh...kenapa, ada apa El?"
"ga bisa liat kakak."
"Oalah, buaya mana lah ini lepas dari penangkaran."
"El gak bohong kok, sudah lama El tidak melihat kakak."
"baru juga empat hari pak."
"tapi itu lama bagi El."
Matilah kita, lihat ketikan manis milik El itu, belum lagi emoji memelas diakhir kalimatnya.
"halo, benar dengan penangkaran buaya? Pak ini buayanya lepas ya pak? tolong diamankan pak, bahaya kalau keliaran begini."
"halo, buaya yang itu hanya mau ditangani oleh ibu, karena kuncinya kan ada bersama ibu."
Dengan nada pura-pura mengeluh, namun hati diam-diam menghangat.
“Gombal terusss,” ucapku kemudian.
"ehhh, mana ada gombal."
"tau deh."
"iya, iya, maaf kakakkk." ada tawa yang kutahan, ada rasa yang tak sepenuhnya ingin kusembunyikan,
"maafin ga ya?"
"plisss maafinnn."
"enggak deh."
"kakakkk Sophia yang cantik, maafinnn plis."
"okedeh."
Kalimat itu meluncur sederhana, namun menghantam hatiku tanpa sisa. Siapa yang sanggup bertahan dari kelembutan yang ia suguhkan dengan cara sesenyap itu? Aku luluh, sepenuhnya. Aku mencintaimu dengan rasa yang tak lagi pandai menyembunyikan diri. Cinta yang membuatku ingin sedikit egois, ingin menetapkan dengan keyakinan yang nyaris abadi bahwa kau adalah milikku. Bahwa tak ada satu pun yang boleh mengusik, tak ada nama lain yang layak menyela, sebab seluruh ruang dalam hatiku telah kuserahkan padamu, dan hanya padamu.
"Ana kamu kenapa?"
"gak papa kok, aku mau tidur dulu ya."
"oh oke."
Beberapa saat kemudian
.
.
.
"kak, aku putus sama kak Ana."
"HAH APA?!"