Indonesia
NovelToon NovelToon
Terlempar Ke Tahun 1970 Berbekal Game Pertanian

Terlempar Ke Tahun 1970 Berbekal Game Pertanian

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Kainara Seroja Putri tidak pernah menyangka kematian akan membawanya kembali ke tahun 1972, terbangun dalam tubuh Seroja Ningsih, gadis desa lemah yang baru saja dibuang oleh ayah kandungnya sendiri.

Dengan bekal sistem game pertanian dan pengetahuan dari masa depan, Seroja harus menghidupkan tanah kapur tandus yang dianggap tidak berguna, mencari jalan untuk bertahan hidup, serta mengembalikan harga diri ibunya yang telah diinjak-injak.

Namun, ketika tanah buangan itu perlahan berubah menjadi sumber kekayaan, Seroja justru menarik perhatian orang-orang yang selama ini menyembunyikan rahasia kelam keluarganya. Sebuah rahasia yang dapat mengubah hidupnya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Jadi Tanggung Jawabku

"Mulai pagi ini, urusan jalan aspal kota kabupaten jadi tanggung jawabku, Seroja."

Bagas menepuk gagang lori tebu modifikasinya dan menyeka peluh di dahi dengan punggung lengan. Roda lori yang sudah ia ganti pakai ban karet bekas truk itu kini melaju mulus melindas jalanan berbatu.

Tak terasa tahun sudah berganti, dan 1972 kemarin benar-benar mengubah nasib keluarga mereka. Lahan kapur gersang itu sekarang rutin memanen ratusan kilogram sayur dan tomat segar setiap minggunya.

Seroja berdiri di ambang pintu gubuk dan menyodorkan tas kain berisi buku catatan pengiriman. Ia tersenyum melihat dada sepupunya membusung bangga.

"Mas Bagas kepala pengiriman kita sekarang," ucap Seroja menatap lurus mata pemuda itu. "Hari ini kita mulai membangun Koperasi Angkutan Tani Mandiri. Jaga barang kita, tapi ingat, pakai akal sehat kalau menghadapi orang kota."

Bagas mengangguk mantap. Pemuda yang dulu gampang minder itu kini punya tanggung jawab besar. Seroja melompat naik ke bak belakang lori, ikut mengawasi langsung pengiriman perdana mereka ke pasar induk kabupaten.

Perjalanan memakan waktu satu jam di bawah sengatan matahari terik. Lori itu ditarik sepeda yang dikayuh Bagas sekuat tenaga. Angin kencang membawa debu dan asap solar dari truk-truk besar yang melintas.

Suasana bising pasar induk langsung menyambut mereka. Udaranya berbau campuran ikan asin, sayur busuk, dan keringat para pekerja. Bagas mengarahkan lori merapat ke gudang berdinding papan kayu. Lapak kecil itu mereka sewa minggu lalu dari hasil menjual melon ke restoran Pak Subroto.

Seroja turun membantu Bagas mengangkat keranjang bambu berisi tomat dan sawi. Diam-diam, ia menyemprotkan cairan Formula Penyegar Daun dari botol kaca kecil yang disembunyikan di balik lengan kebayanya. Cairan itu langsung bekerja membuat daun sawi tetap renyah dan tomat tidak layu. Sayuran mereka mengkilap segar, jauh mengalahkan dagangan tengkulak di los sebelah.

Baru saja keranjang ketiga menyentuh lantai gudang, tiga pria mendekat. Tato memudar mengintip dari balik kerah kemeja mereka, sementara asap rokok kretek mengepul dari mulut. Pria terdepan yang punya luka sayat di dagu langsung menendang ban lori Bagas dengan keras.

"Pemain baru berani buka lapak tanpa lapor paguyuban?" Pria itu mendecak lidah, menatap Bagas meremehkan. "Kalian masuk wilayah paguyuban pasar. Aturannya jelas. Bayar keamanan harian lima puluh rupiah. Kalau menolak, sayur kalian kami jadikan kayu bakar."

Wajah Bagas langsung memerah. Ia teringat pesan Danu untuk pantang tunduk pada pemerasan. Bagas mengepalkan tangan dan memajukan dada menantang preman itu.

"Kami nyewa gudang ini resmi ke mantri pasar! Kami tidak ada urusan sama preman jalanan!" balas Bagas lantang.

Preman itu tertawa meremehkan. Ia menggeser jaket, memamerkan gagang celurit di balik sabuk pinggang. "Mantri pasar tidak punya kuasa di lorong ini, Bocah. Kang Supri yang pegang kendali distribusi sayur ke kabupaten. Kalian pikir keluarga buangan bisa dagang tenang di sini?"

Mendengar nama Supri, Seroja melangkah maju. Musuh lama mereka ternyata punya kaki tangan di pasar induk. Supri jelas ingin mematikan bisnis mereka sebelum sempat berkembang.

Seroja menyentuh lengan Bagas, menekan pelan agar sepupunya menahan diri. Berkelahi di hari pertama cuma akan memberi alasan pamong praja menyegel tempat usaha mereka.

"Kami butuh waktu merapikan barang dan menghitung sisa uang sewa, Bang," ucap Seroja tenang dengan raut wajah polos. "Beri kami waktu sampai jam istirahat siang."

Preman itu tersenyum puas, mengira gertakannya berhasil menciutkan nyali gadis desa itu. Ia menepuk pipi Bagas dengan punggung tangan, isyarat terang-terangan merendahkan. "Jam dua belas siang uangnya harus siap. Kurang satu rupiah, lapak kalian rata dengan tanah."

Ketiga preman itu berbalik pergi mencari mangsa lain di deretan los sayur.

Bagas menatap sepupunya kecewa. "Kita mau tunduk sama cecunguk Supri itu, Nduk? Tenagaku masih sanggup meremukkan rahang mereka bertiga."

"Kita tidak akan bayar sepeser pun ke mereka, Mas," jawab Seroja dingin. Insting manajernya berputar cepat membaca situasi pasar. "Siang ini juga, kita beli pelindung yang jauh lebih kuat dari preman bayaran Supri."

Seroja berjalan ke sudut lori, lalu mengangkat dua keranjang bambu berisi sayur sisa sortiran. Daun sawinya berlubang dan bentuk tomatnya tidak rata. Barang itu ditolak katering kelas atas, tapi kesegarannya masih sangat layak konsumsi.

"Bantu aku angkat ini, Mas. Ikut aku," perintah Seroja sambil memanggul satu keranjang.

Bagas menurut tanpa bantahan. Ia mengangkat keranjang kedua, menyusul Seroja melewati lorong pasar yang kotor. Mereka menuju pangkalan belakang, tempat puluhan kuli panggul dan sopir truk duduk istirahat beralaskan koran bekas.

Pekerja-pekerja itu tampak kelelahan, keringat membasahi kaus lusuh mereka. Beberapa sedang menyantap nasi bungkus berlauk garam dan tempe kering seadanya. Di pasar ini, kuli kasar sering cuma dianggap mesin angkut murah oleh para tengkulak.

Seroja mendekati kelompok pekerja itu dan meletakkan keranjang ke tanah. Ia mengambil beberapa ikat sawi dan tomat besar, lalu menyodorkannya ke kuli tua yang sedang mengunyah nasi.

"Bapak-bapak, kami baru buka gudang di los depan," sapa Seroja hangat. "Ini ada sayur sisa panen kami. Bentuknya memang jelek, tapi rasanya manis dan masih renyah. Silakan ambil gratis buat tambahan lauk makan siang."

Para kuli panggul berhenti makan. Mereka menatap bingung. Selama bertahun-tahun memanggul beban di sini, belum pernah ada pedagang yang sudi membagi makanan segar. Tengkulak biasanya lebih memilih membuang sayur jelek ke tempat sampah daripada memberi percuma.

Kuli tua itu menerima sawi dari tangan Seroja. Jemari kasarnya menyentuh helaian daun hijau tebal itu. Matanya berkaca-kaca. "Ini beneran buat kami, Nduk? Sayur sebagus ini gratis?"

"Ambil sebanyak yang Bapak mau," sahut Bagas yang mulai paham rencana Seroja. Pemuda itu tersenyum lebar, membagikan isi keranjangnya kepada sopir truk yang ikut mendekat. "Bawa pulang buat anak istri di rumah juga boleh, Pak. Tiap hari kami pasti punya sisa panen segar di gudang depan. Mampir saja kalau butuh."

Sikap Seroja menyentuh nurani para pekerja kasar itu. Mereka yang selama ini diabaikan mendadak merasa dihargai layaknya manusia. Seroja tidak menyewa otot mereka dengan uang, tapi memenangkan kesetiaan lewat empati dan perut yang kenyang.

Di kehidupan lamanya, Kainara mengikat kesetiaan karyawan dengan bonus liburan perusahaan. Di pasar induk ini, sayur segar adalah bayaran perlindungan yang nilainya tak tertandingi.

Jam dua belas siang tiba. Matahari terasa membakar atap seng pasar.

Tiga preman tadi kembali mendatangi los Seroja. Kali ini mereka membawa balok kayu tebal, siap menghancurkan lapak karena yakin keluarga miskin itu tidak akan sanggup membayar tepat waktu.

Preman berjaket kulit itu berjalan arogan. Ia mengayunkan balok, memukul tiang-tiang los kosong di sepanjang jalan untuk menebar ancaman.

"Waktunya habis, Bocah! Kasih uangnya atau lori rongsokanmu ini aku hancurkan!" teriaknya dari jarak sepuluh meter.

1
Night Watcher
setauku, tahun 80an aja lampu patromak itu termasuk barang mewah, bahkan untuk menyalakannya kalo gak punya cadangan minyak yg banyak orang bakal berfikir ulang untuk menyalakannya. jadi menurutku kurang singkron.🙏
Night Watcher
coba mampir, walau agak bertanya2 tentang "carik", setauku itu kalo sekarang sekretaris desa. kok jadi pilot dokar? apakah hardiman kades, sehingga dia diperintah oleh kades?🤭
Dandelion
next ka
Dandelion
wahhh sptnya bu siti anak pengusaha...
Dandelion
si nenek ningrum marah2 aja ...ntar cepat tua loh 🤣
Dandelion
hadehhh apa lagi sih ningrum medusa iñ mau bikin gara2 lgi...
Dandelion
jd ikut terbawa dag dig dug nya 🤣
Dandelion
ada2 saja halangannya...
Dandelion
😢😢😢😢
Dandelion
wahhh alamat bakal dpt kontrak eksekutif dan dagangan tomatnya di borong semua oleh pak subroto 😁
Dandelion
bener2 perjuangan bunga seroja begitu berat...semoga saja bisa lolos dr si supri...
Dandelion
seru...seru...😁
Dandelion
Duhhh...pasti nanti jd masalah buat bunga seroja...kalo pada gagal panen...
Dandelion
benar2 hidup bunga seroja begitu sulit...
seroja nggak bisa bela diri kah...?
Dandelion
kenapa selalu ada part sedih2nya ...
Dandelion
😢😢😢😢
Dandelion
benar2 hidup yg penuh perjuangan..
Dandelion
sptnya ....sptnya ...pemuda yg akan membawa bunga seroja menuju kesuksesan dan permasalahan 😁
Dandelion
terlalu baik bunga seroja...hrsnya biarin aja tuh jgn di tolong si kardinya...😁
Dandelion
ada mengandung bawangnya 😢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!