Hanya karena menolong seorang pria Zuraida difitnah sampai diusir dari desa dan dinikahkan dengan pria itu. Pria yang menjadikannya seorang ibu bagi kedua anak laki-laki.
Bagaimana Zuraida yang dari desa menjalani hidup di kota di tengah rasa tidak suka anak-anak tiri dan pihak keluarga suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Sena sedang berusaha menepati janjinya pada Zuraida. Memegang semua ucapannya. Dengan langkah gontai memasuki kelas saat bel berbunyi.
"Kamu kenapa lemes, Sen?." Tanya Sheren.
Sena tak merespon, ia langsung duduk berbarengan dengan tas yang ditaruhnya di meja.
"Teman-temanmu tadi ke sini mencarimu, Sena." Lanjut Sheren.
"Aku nggak main lagi sama mereka."
"Bagus," Sheren mengacungkan jempolnya.
Sena hanya memasang wajah datar saja.
Sebagai murid yang pintar, tak susah bagi Sena memahami dengan cepat apa yang diterangkan guru. Mengerjakan soal latihan pun di papan tulis cepat, benar dan tepat. Ibu Guru sampai dibuat kagum.
Jam istirahat pun Sena duduk manis di kelas. Menyendiri. Tiba-tiba saja ruangan kelas ditutup. Kakak kelas Sena menghampiri Sena.
"Udah nggak zaman takut sama orang tua, Sen." Akbar memegangi pundak Sena.
Sena diam.
"Kamu main cantik aja. Ke club lagi kalau situasi udah aman. Tapi minum masih bisa di kantin kan?."
"Tapi aku..."
"Arian menunggumu di kantin."
Sejenak Sena terdiam.
"Arian bawa yang baru, kamu pasti suka."
Kemudian Sena mengangguk. Berjalan diapit kanan kiri depan belakang oleh kakak kelas. Menjadikannya terasa seperti orang yang sengat penting.
Sena anak baru kemarin yang belum tahu apa-apa. Masih gampang dibodohi, diajak tanpa paksaan. Sena kembali minum dengan minuman yang rasa dan aromanya sangat tajam.
Sena melupakan janjinya pada Zuraida. Tak takut pada apa dan siapa pun. Ini kesenangannya dan teman-temannya.
Mobil Zuraida sudah terpakir di depan gerbang. Datang setengah jam lebih awal. Ia mau memastikan Sena tak lagi main dengan teman-temannya. Sampai Sena pulang, benar Sena pulang tepat waktu. Menaiki mobilnya.
"Aku nggak main sama mereka, Zuraida." Kata Sena mengartikan tatapan Zuraida.
"Aku juga nggak minum," katanya lagi.
"Ini kan sekolah, mana berani aku." Kemudian Sena memalingkan wajahnya ke arah jendela.
Zuraida tak bisa percaya begitu saja tapi ia juga tak bisa langsung mengiyakan pengakuan Sena. Zuraida hanya tersenyum sembari melajukan mobilnya.
Mereka sudah tiba di rumah. Sena langsung ke kamar. Zuraida ke kamarnya. Zuraida duduk di sofa, menempelkan punggungnya pada badan sofa. Pikirannya terus saja sibuk, Sena dan Sena.
Saat ini sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Zuraida dan Arfan masih di ruang keluarga setelah bicara santai dengan Sean dan Sena. Zuraida tak melihat ada yang aneh dengan Sena. Anak itu biasa saja.
"Kamu mikirin apa sayang?," tanya Arfan menaruh tangannya pada pangkuan Zuraida.
"Aku perhatian kamu lebih banyak diam." Mengelus lembut kulit tangan istrinya.
Sambil tersenyum samar Zuraida menggeleng. Rasanya berat untuk bicara jujur pada suaminya tentang Sena.
"Bener nggak ada yang kamu pikirkan?."
"Nggak ada, Mas." Zuraida buka suara.
"Aku siap mendengarkan kalau kamu mau cerita apa pun."
"Iya, Mas, terima kasih."
"Dan aku juga mau bilang, kedua orang tuaku mau liburan di sini sama kita."
Tak tahu harus merespon apa dengan kata-kata Zuraida hanya mengangguk pelan. Ini akan menjadi pertemuan pertama mereka. Dan Zuraida tak mau berharap banyak, yang ada orang tua suaminya tak akan menyukainya.
"Mereka sangat rindu sama Sena dan Sean."
"Iya, Mas."
Malam semakin larut, Zuraida dan Arfan bergelung dalam selimut yang sama. Arfan memeluk istrinya sangat erat. Zuraida menatap jam pada dinding. Ia harus bangun dan memastikan Sena.
Perlahan Zuraida menuruni tempat tidur, berjalan dengan pelan menuju kamar si kembar.
"Hooeeekkk..."
Dari luar kamar Zuraida mendengar suara seseorang yang muntah. Sena atau Sean?. Zuraida berlari ke arah pintu, membukanya lebar. Menatap Sean yang tidur pulas. Berarti Sena. Zuraida mendatangi kamar mandi. Sena sedang muntah-muntah.
Zuraida membantu mengusap-usap punggung Sena. Sena tak menolak, rasa nyaman menjalar tubuhnya.
"Perutku sakit, Zuraida." Keluhnya sembari memegangi perutnya. Tubuhnya merosot ke lantai.
Tubuh lemas itu digendong Zuraida lalu ditaruhnya di atas tempat tidur.
"Saya balur minyak hangat, Sena." Zuraida menyingkap piyama tidur Sena, mengambil minyak hangat lyang ada di tempat penyimpan obat-obatan.
Tangan Zuraida yang sudah basah oleh minyak langsung diusapkan merata pada permukaan perut Sena. Terus berulang-ulang, Sena merasakan hangat dan nyaman para perutnya. Rasa sakitnya tersamarkan.
Tak berselang lama Sena mengeluh lagi.
"Perutku sakit, Zuraida." Keringat dingin mulai memenuhi tubuh Sena. Menjadikan pakaian Sena basah.
"Kita ke dokter ya, Se." Zuraida menyiapkan pakaian baru untuk Sena. Membantu menggantinya.
"Perutku sakit banget," Sena menarik tubuhnya meringkuk memegangi perut.
"Aku bangunkan daddymu dulu," Zuraida melangkah mendekati pintu namun suara rintihan Sena menahannya.
"Jangan...Zuraida..."
Zuraida menoleh.
Kepala Sena menggeleng.
"Kamu aja yang bawa aku ke dokter, jangan daddy." Suara itu nyaris hilang karena rintihannya.
Tak berlama-lama lagi Zuraida memapah Sena sampai ke mobil. Mobil Zuraida membelah pekatnya malam dengan suara rintihan Sena yang semakin menjadi.
Sena sudah tidur di ranjang pasien ruang IGD. Wajahnya pucat pasi, keringat terus saja memenuhi tubuhnya. Dokter langsung memeriksa perut Sena. Sesekali menanyai Zuraida.
Perawat datang memasang infus pada tangan Sena. Memberi obat melalui selang infus tersebut untuk meredakan rasa sakit pada perutnya.
"Sakit, Zuraida." Tubuh itu meringkuk lagi sembari memegangi tangan Zuraida. Terasa dingin.
"Obatnya lagi bekerja, Sen." Mengusap punggung bawah Sena.
"Sakit...sakit...Zuraida..." air mata Sena menetas. Mengenai tangan Zuraida.
Setelah satu jam setengah rasa sakit pada perut Sena tak juga kunjung membaik. Sena pun terus merintih kesakitan sambil menangis tak bisa menahannya. Zuraida menghampiri dokter yang berjaga.
"Dokter."
"Iya, Bu, ada apa?."
"Perut putra saya masih sakit."
"Baik, Bu."
Dokter mendatangi ranjang pasien yang diikuti Zuraida. Dokter kembali memeriksa perut Sena, menekan beberapa tempat di sana dan terasa sakit semuanya.
Dokter mengintruksikan perawat untuk memberi obat lagi melalui suntikan. Beberapa menit ke depan perut Sena harus di USG dan cek darah lengkap.
"Saya harus mengabari daddymu, Sen."
Kepala Sena menggeleng.
"Pagi kita masih di sini, apalagi sakit kamu belum juga membaik."
Sena kembali menggeleng. Zuraida tetap mengabari suaminya melalui pesan singkat tanpa Sena tahu. Ia mengatakan apa yang terjadi pada Sena.
Sampai pagi datang rasa sakit pada perut juga mereka. USG dan cek darah lengkap sudah dilakukan. Sena masih di ruang IGD. Tinggal menunggu hasilnya.
Makan minum tak masuk ke perut Sena selain cairan infus. Sena tak bernafsu makan. Tubuhnya tiba-tiba saja menggigil.
Zuraida memanggil dokter. Perawat memberi lagi obat melalui selang infus. Zuraida mengelap tubuh basah Sena.
"Zuraida..."
"Iya, Sena, saya di sini."
"Perutku sakit."
"Sudah diobati dokter, Sen. Kamu yang sabar."
"Tapi ini sakit banget, Zuraida, seperti ditusuk-tusuk pisau. Sakit banget."
"Iya, Sen, dokter juga udah tahu. Kamu sedang diobati."
Dokter memanggil Zuraida. Zuraida meninggalkan Sena yang masih mengerang kesakitan. Duduk di hadapan dokter.
"Bagaimana, Dok?."
"Lambung Sena mengalami luka parah karena alkohol yang dikonsumsinya."
"Alkohol?," tanya Arfan.
Bersambung