Direkrut menjadi pasukan paling berbahaya dari seluruh penjuru planet. Bahkan, galaksi. Itulah Adara Folkvhore, ia direkrut menjadi bagian dari Askazh Special Guards Units.
Namun, serangan tak dikenal dari luar dunia Askazh Universe yang membuat semua garda terdepan dan para petinggi organisasi pelindung dunia Askazh Universe yaitu Askazh Defend Field langsung melakukan serangan balik dan mencari tahu asal dari serangan tersebut.
Dikarenakan serangan yang kuat membuat energi dari dunia Askazh Universe menjadi tidak terkendali dan membahayakan dunia itu sendiri.
Dari peristiwa dan konflik berantai yang terjadi apakah Askazh Defend Field dapat menyelesaikan semua yang telah terjadi?
*Saya meminta maaf jika bab 1 - 5 masih acak-acakan tata bahasanya, saya usahakan revisi jika memiliki waktu luang di luar jam produktif (update chapter)*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HousingAmoeba45, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang Bawah Tanah
Memasuki ruang bawah tanah itu bersama empat prajurit, kondisi ruang bawah tanah sangat gelap membuat mereka harus menyalakan senter dan mencari saklar listrik untuk menyalakan lampu. Setelah beberapa saat mencari saklar listrik, salah satu prajurit bernama Finn menemukannya dan langsung menyalakan saklar yang seketika semua lampu langsung menyala terang.
Setelah lampu menyala mereka terkejut karena ruang bawah tanah ini berisi peralatan dan kendaraan tempur canggih milik salah satu perusahaan teknologi swasta di Tontavi. Setiap ruangan dipenuhi oleh kendaraan, peralatan tempur canggih, robot tempur, persenjataan dan amunisi juga sangat lengkap. Namun, masih ada satu jalan lurus di antara ruangan kanan-kiri yang berisi peralatan canggih.
Adara memiliki firasat aneh, ruang bawah tanah ini berarti telah dikuasai oleh GDR dan mereka meletakkan GPS di dalam ruang bawah tanah dan mengatur GPS seolah tempat ini adalah markas GDR yang berada di Tontavi.
Adara dan para prajurit semakin dalam memasuki ruang bawah tanah memeriksa setiap ruangan yang diisi dengan peralatan tempur. Namun, saat sedang berjalan mereka mendengar suatu langkah kaki yang terdengar keras dan seperti berbahan metal. Saat mereka berbalik ke belakang ternyata suara yang mereka dengar adalah enam robot berwarna putih yang sedang berlari ke arah mereka sembari tangan mereka yang yang dilengkapi semacam pedang yang langsung terhubung ke tangan mereka, mereka berlari bersiap untuk menusuk Adara dan para prajurit.
Adara dan para prajurit melompat ke samping menghindari tusukan robot-robot tersebut. Setelah dapat menghindari serangan dari robot-robot itu, keenam robot itu berhenti dan berbalik lalu menundukkan kaki seolah sedang mengambil ancang-ancang untuk berlari. Benar saja robot-robot itu berlari sembari melakukan gerakan menusuk ke depan.
Para prajurit menghindari serangan para robot. Namun, tidak dengan Adara yang justru maju dan menghadang robot-robot itu hanya dengan kedua tangan kosong di saat semua lawan menggunakan senjata. Adara meninju semua robot yang berlari maju ke arah mereka dan robot itu semua langsung terjatuh satu per-satu dari depan ke belakang.
Adara mengambil pedang yang merupakan senjata para robot itu, “Robot ini adalah robot petarung jarak dekat, ambil pedang mereka!” Adara melemparkan kepada prajuritnya pedang yang ia cabut dari lengan para robot.
Para prajurit menangkap pedang robot yang dilemparkan oleh Adara pada mereka, sementara itu robot lain aktif dan keluar dari ruangan lalu para robot langsung mengambil ancang-ancang untuk berlari dan menyerang menggunakan pedang.
Robot-robot tersebut mulai berlari menyerang dan menebaskan pedang mereka kepada prajurit dan Adara. Namun, Adara dan prajurit dapat menangkis tebasan robot-robot itu dan berusaha untuk tetap tidak terkena serangan para robot.
Gerakan demi gerakan dilakukan dengan lincah oleh Adara dan prajuritnya untuk menghindari dan menangkis tebasan pedang robot. Sementara dua prajurit yang diperintahkan untuk berjaga di luar langsung turun ke bawah tanah kemudian membantu menembak robot yang menyerang Adara dan prajuritnya.
Adara dan prajuritnya menebas setiap robot sembari menghindari dan menangkis tebasan balik dari para robot. Setelah sebagian robot berhasil dihancurkan, Adara memerintahkan Finn untuk mencari sumber masalah para robot yang tiba-tiba menyerang mereka sembari Adara menebas robot yang menyerangnya.
Finn menjauh dari pertarungan di tempat sempit itu, lalu ia berlindung di belakang dua prajurit yang membantu menembak robot. Finn mencari tahu apa yang salah dari para robot, dan tak perlu waktu lama ia langsung menemukan masalah dari para robot tiba-tiba menyerang mereka.
Adara berhasil menghabisi seluruh robot dengan sedikit bantuan prajuritnya. Adara lalu menghampiri Finn dan bertanya apakah dia sudah menemukan sumber masalahnya, “Apa kamu sudah menemukan masalahnya?” Tanya Adara berjalan ke belakang Finn lalu menepuk bahu Finn.
“Ya! Aku sudah menemukannya! Robot-robot itu menyerang kita karena mereka telah diretas oleh seseorang dan membuat mereka diprogram untuk menghabisi kita semua!” Seru Finn.
“Ini pasti perbuatan para hacker dari GDR..., sudah kamu deteksi sistem keamanan di sini?” Tanya balik Adara.
“Belum! Akan segera kuperiksa!” Finn kembali mengetik sesuatu di laptop militer dengan bentuk yang minimalis. Namun, penuh teknologi canggih di dalamnya.
“Sistem keamanan di sini semuanya telah diretas oleh GDR kapten! Termasuk CCTV yang ada di sini!”
“Kita tidak bisa berlama-lama di sini, kita harus kembali ke markas! Kemungkinan GDR akan mengirim pasukan bantuan kemari.”
Waktu telah menjelang malam dan suasana gelap pun mulai menyelimuti kota Gehavo. Adara dan prajuritnya langsung kembali menuju kendaraan tempur mereka dan tancap gas pergi dari area itu lalu kembali ke markas.
Sesampainya di markas, robot yang menjaga gerbang depan membukakan gerbang untuk Adara dan para prajurit di dalam mobil tempur. Mobil berhenti di dalam markas, Adara dan prajuritnya keluar dari mobil. Adara dan para prajurit langsung berjalan menghadap Gustiano untuk melaporkan hasil misi mereka.
“Aku sudah melihat rekaman kalian melawan musuh-musuh yang muncul di hadapan kalian, sepertinya GDR telah menipu kita....”
“Ya, mereka membuat seolah ruang bawah tanah itu adalah markas mereka padahal bukan.”
“Ini berarti selain licik mereka juga memiliki teknologi yang lebih mutakhir dibandingkan kita. Kita harus lebih licik dari mereka....”
Para prajurit diperintahkan oleh Gustiano untuk keluar, kemudian Gustiano memanggil Raska dan Partiasari untuk mendiskusikan hasil misi Adara....
Adara, Gustiano, Partiasari, dan Raska berkumpul di ruangan yang bisa disebut sebagai "kantor". Mereka membahas apakah mereka bisa mengambil persenjataan dari ruang bawah tanah di lapangan kota Gehavo, mereka khawatir jika mereka mengambil salah satu dari senjata di sana, akan ada alat yang mendeteksi perilaku dan pembicaraan rahasia mereka. Tim Harphera juga merencanakan untuk lebih melakukan misi yang tidak membuat pertempuran besar. Gustiano memutuskan untuk memerintahkan Adara kembali untuk menjalankan misi. Namun, kali ini Adara tidak sendirian ia ditemani oleh Raska dan hanya mereka yang akan menjalankan misi tanpa bantuan prajurit, dikarenakan Gustiano memiliki rencana untuk mengirim sebagian prajurit elit yang akan dipimpin oleh Partiasari untuk segera menguasai distrik Henaya yang saat ini sedang kosong agar setidaknya Tim Harphera dapat memperluas wilayah dan dapat bergerak lebih leluasa.
Tiga hari kemudian Adara dan Raska melakukan persiapan untuk menjalankan misi mereka di kota Gehavo. Kali ini tujuan mereka adalah memancing prajurit GDR untuk menyerang mereka.
Adara dan Raska pergi menggunakan mobil. Namun, mereka menggunakan rute yang berbeda dari rute awal Adara..., Adara berpikir bahwa dengan mengambil rute yang berbeda ini akan membuatnya dilacak, apalagi mobil tempur tersebut telah dilengkapi alat untuk menangkal deteksi radar musuh.