𝐄𝐭𝐡𝐞𝐥 𝐝𝐞 𝐆𝐚𝐥𝐢𝐚𝐝𝐧𝐞 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐏𝐮𝐭𝐫𝐢 𝐊𝐞𝐤𝐚𝐢𝐬𝐚𝐫𝐚𝐧 𝐄𝐫𝐞𝐛𝐮𝐬 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐦𝐢𝐧𝐭𝐚 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐢𝐬𝐭𝐫𝐢 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐑𝐚𝐣𝐚 𝐩𝐚𝐫𝐚 𝐕𝐚𝐦𝐩𝐢𝐫𝐞 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐦𝐢𝐥𝐢𝐤𝐢 𝐬𝐨𝐬𝐨𝐤 𝐢𝐛𝐥𝐢𝐬 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐞𝐫𝐬𝐞𝐦𝐚𝐲𝐚𝐦 𝐝𝐢 𝐭𝐮𝐛𝐮𝐡𝐧𝐲𝐚.
❝𝐒𝐚𝐦𝐩𝐚𝐢 𝐤𝐚𝐩𝐚𝐧𝐩𝐮𝐧, 𝐤𝐚𝐮 𝐭𝐞𝐭𝐚𝐩 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐈𝐛𝐥𝐢𝐬, 𝐍𝐚𝐫𝐤.❞
❝𝐘𝐚. 𝐃𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐦𝐩𝐚𝐢 𝐤𝐚𝐩𝐚𝐧𝐩𝐮𝐧, 𝐤𝐚𝐮 𝐭𝐞𝐭𝐚𝐩 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐝𝐮𝐧𝐢𝐚𝐤𝐮.❞
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yourpisces, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Epilogue I : [Part] Lord pf Spirits
Gadis itu tidak sadarkan diri dalam dekapan hangat Nark, pria itu tersenyum penuh kemenangan. Ia melirik pada orang yang berdiri di sampingnya. "Kerja bagus, Constantine." ujar Nark.
Pria dengan tangan yang dipenuhi darah itu hanya diam menundukkan kepalanya menatap kedua tangannya yang penuh darah dan aroma yang membuatnya muak.
"Bukankah anda terlalu terobsesi padanya, Yang Mulia. Jika para petinggi tahu, anda akan tewas terbunuh oleh mereka." Ujar Constantine.
"Jika itu dalam artian mati bersama dengannya, mengapa tidak?"
Usapan terasa lembut di kepala Constantine, Nark mengusap sejenak sebelum benar-benar meninggalkannya sendirian di ruangan itu. "Kau sudah bekerja keras, Aedion. Beristirahatlah. Katanya?" Constantine bergumam.
Tubuh itu jatuh dengan kedua lututnya yang menjadi tumpuan tubuhnya, kepala itu mendongak menatap langit-langit ruangan. "Semua karena manusia.."
✤
Sebuah ruangan yang jarang digunakan terbuka lebar dengan hawa dingin menyerbu tubuh mereka yang membuka, di depan mereka sesuatu sedang duduk di kursi yang bersinar layaknya kristal.
"Kau datang ke sini tanpa persembahan? Berani sekali makhluk rendahan sepertimu."
Sebuah patung kristal yang menduduki kursi di ruang tahta itu berbicara menciptakan sebuah angin yang menerpa mereka. "Aku ada permintaan yang ingin kuminta darimu, Deimos."
"Lancang sekali, makhluk kecil sepertimu datang dan meminta permintaan padaku tanpa membawa sesuatu yang berguna." Patung kristal itu hancur dan seorang pria berjalan turun dari tahtanya.
Seorang pria tampan dengan surai putih dan manik mata biru. "Jadi, apa yang ingin kau minta dariku, Nark si Raja
Vampir."
"Hidupkan anak ini, itulah permintaanku." Ujar Nark menunjuk tubuh anak kecil yang berada di dalam dekapannya.
Jiwa dan roh yang sudah tiada dalam raga yang rusak dan penuh luka. Deimos selaku penguasa para roh dan jiwa itu menatap dalam tubuh anak laki-laki yang membuatnya mengukir senyuman.
"Berikan anak itu dan kau akan kujadikan abadi di dunia ini, bagaimana?"
Keningnya mengernyit. Sebuah penawaran yang tidak diinginkan diucapkan oleh Sang Penguasa para Roh. "Tidak, aku tidak menginginkan keabadian yang tidak berguna. Aku hanya meminta kau untuk menghidupkan anak ini." Sahut Nark cepat.
"Hm, kurasa tempat ini sangat terlarang sehingga tidak sembarang orang dapat memasukinya. Tapi gadis di belakangmu cukup menarik, apa dia budak darahmu?" Ujar Deimos.
"Deimos, aku tidak bercanda. Jangan buang waktuku dan kembalikan jiwa serta roh anak ini." Ujar Nark penuh penekanan.
Manik biru milik pria itu menyala, tangannya terangkat ke atas udara tepat di depan Nark sehingga tubuh pria itu terpental cukup jauh hingga dinding ruang tahta itu hancur. "Berani sekali kau berbicara penuh penekanan kepadaku, sepertinya para petinggi harus mengetahui bahwa salah satu Raja dari ketiga bangsa telah melanggar hal tabu."
"Ugh, kau ternyata memihak pada para petinggi." Sarkas Nark.
"Tentu, mereka yang memberiku kehidupan. Untuk apa aku memihak pada kau yang bahkan lebih rendah dariku."
Pria yang terluka itu terdiam dengan kepala yang menunduk, dalam sekejap mata auranya berubah semakin mengganas. "Kau terbangun ya," Deimos berceletuk
"Isaac." Sahut Deimos.
"Petinggi brengsek. Sudah kukatakan untuk tidak menyerang, berani sekali kau menyerang tubuh yang kutempati." Isaac menggeram.
Ia melangkah tanpa memikirkan tubuh yang terluka. "Hidupkan anak itu, Deimos."
Sebuah tekanan menekan Deimos sehingga ia berlutut di hadapan Isaac. "Dasar pemaksa, kau itu sudah di usir dari The realm of the rulers, tapi masih berani mengeluarkan auramu agar bisa membuatku berlutut padamu."
"Anak itu tidak bisa dihidupkan." Ucap Deimos. Tubuh Ethel menegang. Jantungnya berdetak jauh lebih cepat
daripada biasanya, dengan suara yang bergetar, ia pun bertanya,
"Kenapa?"
"Jiwa dan Roh anak itu berada di alam yang berbeda. Jika roh manusia maka akan berada di tempat di mana para roh manusia berkumpul, tapi aku tidak merasakan aura roh anak ini di alam para roh manusia."
"Tapi kita tidak akan tahu jika tidak melihatnya, kan?" Ujar Ethel diselingi isak tangis yang melirih.
Helaan napas terdengar keras, Deimos bangkit dan membuka pintu ruang tahta. "Kau ingin melihat roh adikmu kan? Akan kutunjukkan di mana roh itu berada."
Mereka berjalan di tengah jembatan gantung di mana di bawah jembatan itu adalah lautan api yang siap kapan saja membakar tubuh mereka. Jauh di depan mereka sebuah alam yang indah di penuhi pepohonan dan hawa sejuk menanti.
[Ascaphon, alam para roh manusia]
"Ini adalah alam para roh manusia, biasanya roh dan jiwa manusia yang telah mati akan langsung berada di sini. Tapi aku tidak merasakan aura anak kecil yang kau bawa kepadaku."
Sebuah cahaya membentuk tubuh manusia itu jalan ke sana dan kemari tanpa ada satu orang pun yang melihat mereka. "Faktor apa yang membuat anak itu tidak memasuki alam ini?"
"Roh serta jiwa yang tidak bisa memasuki dan menempati Ascaphon adalah roh yang berisikan rasa balas dendam, kebencian. Setengah makhluk, seperti setengah iblis maupun vampir. Dan yang paling iba adalah karena terbunuh oleh makhluk yang tidak lain dan tidak bukan adalah vampir dan iblis, membuat mereka harus menempati tempat yang buruk."
Manik mata gadis itu membesar. William yang tewas karena terbunuh oleh Constantine yang merupakan bangsa vampir. "Kalau begitu tunjukkan tempat mana yang seharusnya ia berada." Titah Isaac.
Deimos menuntun mereka ke sebuah tempat yang cukup buruk untuk di tinggali, tidak ada sesuatu yang sejuk dan menghangatkan.
Melainkan hanya ada udara dingin dan tanah yang tidak subur dan retak serta pepohonan yang sudah rusak dan
mengering. "Morrigan, alam para roh yang terbuang. Di sinilah mereka para roh yang terbuang dan tidak suci." ujar Deimos.
Tangan putih itu menggenggam sebuah sinar yang terselimuti aura merah, ia berkata, "Roh dan jiwa anak itu sudah menjadi vampir. Apa kau yakin akan tetap menghidupkannya? Ini terakhir kali aku bertanya, apa kau benar-benar yakin?"
"Adik kesayanganmu bisa saja memberontak dan membunuhmu suatu saat nanti mengingat dirinya bukan lagi manusia." ujar Deimos.
"Jika itu aku bisa membuatku melihatnya lagi, maka tidak apa." ujar Ethel.
Deimos menghembuskan napasnya, mengambil serpihan roh dan jiwa itu dari tempat yang buruk ke ruang tahtanya. "Manusia memang selalu merepotkan. Beberapa waktu lalu, ada sekumpulan manusia yang tewas dan
menempati alam Morrigan." gumam Deimos.
"Seperti telah dibantai."
Bersambung..
plot twist nya benar-benar tidak diduga. semangat terus dalam menulis cerita!! /Kiss/