Indonesia
NovelToon NovelToon
Terpikat Kenikmatan 1 Semalam

Terpikat Kenikmatan 1 Semalam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Dikelilingi wanita cantik / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta / Identitas Tersembunyi
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ahmad soleh

Tuan muda sang pewaris tunggal dari keluarga kaya raya dengan kepribadian keras dan sifat dingin melekat pada dirinya.
Hingga pada suatu hari sang pewaris tunggal itu harus di usir dari keluarga nya karena banyak nya kasus kekerasan yang harus mengakibatkan dirinya di penjara.

Lalu bagaimana nasib Draka tirta raksa di penjara ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad soleh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Strategi pertempuran

Draka Membawa Tawanan ke Mansion

Malam itu, setelah interogasi yang menguras emosi dan tenaga, Draka memutuskan untuk tidak menyerahkan tawanan pada pihak luar. Kepercayaannya sudah tergores terlalu dalam—bahkan polisi sekalipun bisa dibeli oleh keluarga Subroto. Maka, ia memberi perintah tegas.

“Bawa dia ke mansion. Jangan biarkan ada satu pun orang asing tahu keberadaannya. Kalau sampai bocor…” tatapannya menusuk para anak buahnya, “…aku sendiri yang akan menanggung jawabannya dengan darah kalian.”

Zifan, Guntur, dan Adrian langsung bergerak. Tawanan yang masih terikat itu digiring keluar ruangan, wajahnya tertutup kain hitam agar tak ada yang mengenali. Dua mobil khusus dengan kaca gelap sudah menunggu.

Konvoi berangkat malam-malam, menembus jalanan kota yang masih basah oleh hujan. Lampu jalan berkilauan di permukaan aspal, menciptakan bayangan panjang yang mencekam. Selama perjalanan, Draka hanya diam, duduk di kursi belakang, menatap keluar jendela. Sorot matanya kosong, tapi di balik itu pikirannya berputar cepat—mengingat perkataan ayahnya, wajah ibunya yang pucat, juga kebiadaban Silvia dan Bambang.

Mansion pribadinya berdiri megah di pinggir kota, tersembunyi di balik pepohonan rindang dan pagar tinggi. Begitu mobil memasuki gerbang besi besar, suara gesekan rantai dan desisan motor listrik menandai pintu terbuka.

Begitu tiba, tawanan segera dikurung di ruang bawah tanah mansion. Ruangan itu terbuat dari dinding baja tebal, tanpa jendela, hanya satu pintu dengan sistem kunci ganda. Di dalamnya ada kursi besi, lampu redup, dan kamera pengawas.

“Pastikan dia tetap hidup,” kata Draka dingin. “Tapi jangan beri kesempatan untuk kabur. Dia kunci kita.”

Berbalik badan draka memandang zifan "Tolong urus semua urusan bisnis yang belum selesai, aku lelah"

"Baik bos" Mendengar itu zifan segera mengangguk lalu bergegas menuju laptop dan tas berisi berkas milik nya.

 

Istirahat Sebelum Badai

Sudah lewat tengah malam ketika Draka akhirnya masuk ke kamarnya. Di meja kerjanya, berkas-berkas menumpuk, sebagian laporan bisnis, sebagian catatan keamanan. Tapi kali ini ia tak punya tenaga untuk membukanya.

Ia duduk di kursi, menatap foto keluarga yang terpajang di rak. Foto lama—ia bersama Riena dan Agung saat ia masih remaja. Wajah ibunya di foto itu terlihat begitu lembut, begitu berbeda dengan wajah penuh ketakutan yang baru saja ia lihat hari ini.

“Bajingan… Keparat…,” Terlintas kejadian yang telah ia alami seketika membuat draka Menunduk menggerutkan gigi gumamnya lirih, suaranya penuh racun. “Kalian pikir kalian bisa mengambil segalanya dariku? Aku akan menunjukkan pada kalian arti kehilangan sebenarnya.” Tegas draka kepada Silvia dan bambang

Rasa lelah akhirnya menguasai tubuhnya. Ia berbaring di ranjang, meski tidur yang datang bukanlah tidur damai. Bayangan ibunya yang dikejar, suara tawa dingin Silvia, dan tatapan penuh amarah Agung Tirta Raksa terus menghantuinya dalam mimpi.

Di sisi lain

Zifan yang sedang duduk di ruang tamu memandang laptop di depan nya dengan tumpukan berkas di samping laptop. Aruna nita keluar dari salah satu kamar di mansion tersebut.

"zifan bagaimana dengan ibu riena... ibu baik-baik saja kan." tanya Aruna berjalan menghampiri zifan

"Mbak Aruna belum istirahat.. ya ibu riena baik-baik saja dan sekarang sudah aman bersama pak agung" Menoleh ke arah suara, zifan memandang Aruna nita

"syukur lah.. " Aruna mengusap dada merasa lega lalu kembali menuju kamar istirahat nya.

 

Pagi yang Mencekam

Mentari pagi muncul dengan sinar pucat. Udara dingin menusuk, seakan ikut merasakan ketegangan yang menggantung.

Di aula besar mansion, Draka memerintahkan semua orang untuk berkumpul. Zifan, Guntur, Adrian, Aruna serta belasan orang kepercayaannya sudah duduk melingkar. Beberapa di antaranya masih muda, wajah penuh semangat; sebagian lain berwajah keras, mantan tentara bayaran yang kini bersumpah setia pada Draka.

Di ujung ruangan, tawanan yang semalam diinterogasi didudukkan kembali dengan pengawalan ketat. Wajahnya pucat, tapi matanya tetap menyimpan ketakutan bercampur nekat.

Draka masuk dengan langkah mantap. Semua orang otomatis berdiri, memberi hormat.

“Duduk,” katanya singkat.

Ia berdiri di tengah ruangan, sorot matanya menyapu satu per satu wajah orang-orangnya. “Semalam, kita mendapat kebenaran yang tidak bisa diabaikan. Silvia dan Bambang adalah dalang dari serangan pada ibuku dan Aruna. Dan kita punya saksi ini—” ia menunjuk tawanan, “—yang tahu di mana bukti bisa ditemukan.”

Ruangan hening. Semua menunggu.

Draka melanjutkan, suaranya dalam dan mantap. “Barang bukti itu ada di rumah saudara ipar si tawanan. Sebuah ponsel lama dengan rekaman percakapan Bambang Subroto. Jika rekaman itu jatuh ke tangan kita, permainan mereka berakhir. Kita bisa menyeret nama mereka ke lumpur yang mereka buat sendiri.”

“Dan kalau mereka tahu kita akan mengambilnya?” tanya Adrian.

“Itulah yang membuat misi ini berbahaya,” jawab Draka. “Silvia dan Bambang tidak bodoh. Mereka pasti menyadari salah satu orangnya telah ditangkap. Bisa jadi saat ini mereka sudah bergerak untuk menghancurkan bukti itu.”

Tawanan akhirnya bersuara. “Rumah itu ada di pinggiran kota. Saudara iparku tinggal di sana bersama anak-anaknya. Mereka tidak tahu apa-apa. Tapi… kalau orang-orang Subroto lebih dulu datang, nyawa mereka dalam bahaya.”

Semua menoleh ke Draka.

Draka mengepalkan tangan. “Kita tidak hanya akan merebut bukti. Kita juga akan melindungi orang-orang yang tidak bersalah. Aku tidak ingin lebih banyak korban berjatuhan.”

 

Strategi Perang

Zifan menggelar peta kota di meja panjang. “Rumah yang dimaksud ada di kawasan pemukiman padat. Jalan masuknya sempit, hanya bisa dilalui dua mobil. Kita harus hati-hati agar tidak menarik perhatian.”

Adrian menunjuk jalur lain. “Kita bisa menyusup lewat gang belakang. Tapi risikonya, kalau ada pengintaian dari pihak Subroto, kita bisa terjebak.”

Guntur menambahkan, “Kita butuh dua tim. Tim pertama fokus menyelamatkan keluarga si saudara ipar. Tim kedua mengambil ponsel itu. Jika musuh datang, kita berperang di luar, jangan sampai keluarga sipil jadi tameng mereka.”

Draka mengangguk setuju. “Bagus. Tapi dengar ini baik-baik: Silvia dan Bambang punya banyak mata-mata. Bisa saja ada yang menyusup di antara kita. Jadi hanya orang-orang paling terpercaya yang ikut misi ini.”

Ia menunjuk beberapa nama: Zifan, Guntur, Adrian, dan 7 pria bayaran yang sudah bersama mereka bertahun-tahun. “Kalian ikut aku. Yang lain, tetap di mansion menjaga mbak Aruna dan tawanan.”

Ruangan kembali hening. Aura ketegangan makin terasa. Semua sadar, misi ini bukan sekadar penyelamatan barang bukti—ini bisa menjadi pertempuran yang menentukan nasib mereka semua.

 

Suasana Semakin Tegang

Setelah rapat usai, semua orang bersiap. Senjata diperiksa, kendaraan disiapkan, dan jalur komunikasi diamankan. Draka berdiri di balkon atas, menatap orang-orangnya yang sibuk di halaman.

Ia tahu taruhan kali ini sangat besar. Kalau mereka gagal, Silvia dan Bambang akan semakin berkuasa. Tapi kalau berhasil, itu berarti awal kejatuhan musuh.

Tawanan yang masih dijaga ketat sempat menoleh ke arah Draka. “Aku sudah beri tahu segalanya. Tolong… pastikan keluargaku selamat. Mereka tidak bersalah.”

Draka menatapnya lama. “Kalau kau jujur, keluargamu akan aman. Tapi kalau ternyata ini jebakan…” ia mendekat, suaranya rendah tapi penuh ancaman, “…aku akan pastikan kau yang pertama mati.”

Pria itu gemetar, tapi ia mengangguk cepat. “Tidak… tidak, aku bersumpah!”

 

Penutup Babak Ini

Saat matahari naik lebih tinggi, konvoi kecil Draka akhirnya bersiap berangkat. Enam mobil hitam dengan kaca gelap meluncur keluar gerbang mansion, masing-masing berisi pria bersenjata lengkap.

Draka duduk di mobil depan bersama Zifan, wajahnya datar tapi matanya menyala penuh tekad.

“Sekarang permainan dimulai,” gumamnya lirih.

Di kejauhan, kota tampak tenang, tapi semua orang tahu—di balik ketenangan itu, badai besar sedang menunggu untuk meledak.

1
Disini bagus
semangat torr💪💪💪
MarteL: baik kk 👍👍👍👍🙏
total 1 replies
Disini bagus
secerah aku kak torr🤭🤭
MarteL: siapp👍👍👍
total 1 replies
Disini bagus
ini aku suka bangt
MarteL: mksih loh kk terus tunggu update nya yh💪💪💪
total 1 replies
Disini bagus
👍👍👍
MarteL: mkasih kk🙏
total 1 replies
Disini bagus
politik ribet pasti ya kak torr🤭👍👍👍
MarteL: hehe ga juga kok cuma ga banyak paham aja👍👍👍
total 1 replies
Disini bagus
asyik ketangkap juga 😍😍
MarteL: iya kk🙏🙏
total 1 replies
Disini bagus
ini juga bapaknya ikut ikutan jahat😄😄🤭
MarteL: iya kak biar tambah greget😄😄
total 1 replies
Disini bagus
jangan sampai keluar itu Silvia bambang jahat👍👍👍
MarteL: siap kak 🙏🙏🙏
total 2 replies
Disini bagus
👍👍👍
Disini bagus
😍😍😍😍
Disini bagus
👍👍👍
Disini bagus
siap kak torrr💪💪💪 semangat
MarteL: baik mksh 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Disini bagus
👍👍
Disini bagus
penuh konflik mantap torr👍👍👍👍
MarteL: siapp🙏🙏🙏
total 1 replies
Disini bagus
👍👍👍👍👍
Disini bagus
karya yang sangat bagus aku suka
MarteL: mkasih banget ya👍👍👍👍
total 1 replies
Disini bagus
aku suka ceritanya ini draka super power banget keren💪
MarteL: mkasih 🙏🙏🙏
total 1 replies
Disini bagus
🤣draka nakal
MarteL: hehe iya 😄😄
total 1 replies
Disini bagus
😄💪 up
MarteL: siap🙏🙏🙏
total 1 replies
Haikal Haikal
wow menegangkan 😂
MarteL: 💪👍👍👍👍👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!