Di panti asuhan negara Foxi, tiga anak yatim piatu—Hox, Luff, dan Yusa—diasuh oleh para prajurit pilihan. Mereka dipersiapkan untuk menjadi pelindung perbatasan dunia dari serangan monster orc. Saat menemukan catatan usang di gudang tua, mereka mengungkap rahasia ilmu tubuh dewa, kekuatan kuno yang dapat mengubah mereka menjadi pejuang tak terkalahkan.
Namun, kekuatan besar datang dengan tanggung jawab besar. Hox, Luff, dan Yusa harus menguasai ilmu ini, untuk menghadapi para monster, dan melindungi dunia dari kegelapan. Akankah mereka berhasil atau menjadi korban dari kekuatan yang mereka coba kendalikan?
"Prajurit Perbatasan: Kebangkitan Ilmu Tubuh Dewa" adalah kisah epik tentang keberanian, persahabatan, dan penemuan jati diri di tengah ancaman yang mengerikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Sanjaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebangkitan Ilmu Tubuh Dewa
Saat Yusa disiksa dengan kejam oleh jendral orc, tubuhnya mulai tak kuat lagi dan akhirnya tak sadarkan diri. Melihat temannya terkapar tanpa daya di tanah, Luff dan Hox's merasa hancur dan tak berdaya.
Luff: "Yusa... tidak, ini tidak bisa terjadi..."
Hox's: "Kita harus melakukan sesuatu, Luff, tapi apa?"
Luff menatap Yusa yang tergeletak dengan ekspresi penuh kesedihan. Meskipun mereka merasa putus asa, mereka tahu bahwa mereka tak mampu melawan kekuatan monster orc yang begitu besar.
Luff: "Kita... kita tak bisa berbuat apa-apa, Hox's. Kita tak cukup kuat..."
Hox's: "Tapi Yusa... kita harus menyelamatkannya..."
Dengan hati yang hancur, Luff dan Hox's meratapi nasib tragis teman mereka. Meskipun mereka ingin melindungi Yusa, mereka merasa terpaku di tempat, tidak mampu bergerak atau melakukan apa pun untuk menyelamatkannya.
Luff: "Maafkan kami, Yusa... kami tak bisa melindungimu..."
Hox's: "Kami akan membalaskan ini, Yusa. Kami janji..."
Dengan perasaan yang campur aduk antara kesedihan dan kemarahan, Luff dan Hox's merasa tidak berdaya di tengah-tengah kekuatan yang mengintai mereka. Mereka tahu bahwa mereka harus melakukan sesuatu untuk membalas atas penderitaan yang dialami Yusa, namun mereka juga tahu bahwa mereka tak bisa melakukannya sendiri.
Dengan kejam, jendral orc melangkah mendekati Luff dan Hox's yang terhuyung-huyung, masih terpaku dalam keputusasaan dan kesedihan atas nasib Yusa. Monster orc lainnya mengikuti langkahnya, mengelilingi mereka dengan kekuatan dan keganasan yang menakutkan.
Jendral orc: "Sekarang giliran kalian, manusia lemah. Kalian akan membayar atas perbuatan kalian."
Suara mengaum jendral orc memenuhi udara malam yang sunyi, menciptakan aura ketakutan yang menggigilkan di sekitar mereka. Luff dan Hox's, meskipun lemah dan tak berdaya, menatap jendral orc dengan tekad yang masih menyala di dalam mata mereka.
Luff: "Kami tidak akan menyerah begitu saja, monster keji! Meskipun kami lemah, kami akan melawanmu sampai akhir!"
Hox's: "Kami adalah sahabat Yusa, dan kami tidak akan membiarkanmu melukai kami tanpa perlawanan!"
Meskipun hati mereka dipenuhi dengan ketakutan dan keputusasaan, Luff dan Hox's bersumpah untuk bertahan dengan segala kekuatan yang mereka miliki. Dengan napas tersengal-sengal, mereka menggenggam senjata mereka dengan erat, siap untuk menghadapi serangan yang akan datang.
Sementara itu, di alam bawah sadarnya, Yusa merasakan dirinya terseret ke dalam dunia yang gelap namun penuh dengan cahaya yang memancar. Di tengah kegelapan, seorang lelaki bersinar dengan gemerlap yang memikat, seperti bintang di malam yang sunyi.
Lelaki itu menghampiri Yusa dengan langkah yang ringan namun pasti, dan senyum hangat terukir di wajahnya yang bersinar. Yusa merasa terpesona oleh kehadiran lelaki itu, namun juga merasa takut dan bingung dengan apa yang sedang terjadi.
"Selamat datang, Yusa. Aku adalah Dewa Kecepatan, panggilanmu yang terpanggil dalam keputusasaan. Aku datang untuk membantumu."
Yusa menatap lelaki itu dengan kagum dan kebingungan yang tak terkatakan. Dia tidak pernah membayangkan bahwa dia akan bertemu dengan dewa dalam alam bawah sadarnya, apalagi dewa yang begitu kuat dan berpengaruh seperti Dewa Kecepatan.
Yusa: "Dewa Kecepatan... Mengapa kau ada di sini? Dan bagaimana kau bisa membantuku?"
Dewa Kecepatan tersenyum lembut, seolah memahami kebingungan yang dirasakan Yusa. Dia mengangguk dengan bijaksana, lalu menjawab dengan suara yang hangat dan menenangkan.
Dewa Kecepatan: "Aku ada di sini karena panggilan hatimu, Yusa. Ilmu tubuh dewa yang telah kau latih telah membangkitkan kehadiranku dalam alam bawah sadarmu. Aku datang untuk memberimu kekuatan dan bimbingan yang kau butuhkan untuk melawan kejahatan yang mengintai."
Yusa merasa hatinya dipenuhi dengan perasaan yang campur aduk. Dia merasa bersyukur atas bantuan yang diberikan oleh Dewa Kecepatan, namun juga merasa takut dengan tanggung jawab yang kini dipikulnya.
Yusa: "Aku bersedia menerima bantuannya, Dewa Kecepatan. Aku akan melakukan apa pun yang diperlukan untuk melindungi teman-temanku dan membasmi kejahatan dari dunia ini."
Dewa Kecepatan mengangguk mengerti atas tekad Yusa untuk melindungi teman-temannya dan membasmi kejahatan. Dengan suara yang penuh kebijaksanaan, dia melanjutkan penjelasannya.
Dewa Kecepatan: "Ilmu tubuh dewa adalah ilmu yang memungkinkan seseorang menggunakan tubuhnya sebagai wadah bagi kekuatan dewa. Kekuatan ini memancar dalam berbagai bentuk, namun dalam kasusmu, Yusa, aku telah memilih untuk memberimu kekuatan kecepatan."
Yusa mendengarkan dengan seksama, merasa terhormat karena dipilih oleh Dewa Kecepatan untuk menerima kekuatannya. Namun, dia juga merasa bertanya-tanya bagaimana kekuatan kecepatan ini akan membantunya dalam pertarungan.
Yusa: "Apa yang bisa aku lakukan dengan kecepatan ini, Dewa Kecepatan? Bagaimana kekuatan ini akan berguna dalam melawan musuh?"
Dewa Kecepatan tersenyum dan menjelaskan dengan sabar, "Kekuatanmu adalah kecepatan yang luar biasa, Yusa. Dalam pertarungan, kamu akan mampu menghindari serangan musuh dengan cepat, dan menyerang mereka dengan kecepatan yang mematikan."
Yusa merasa terkesan namun juga bertanya-tanya apakah kecepatan saja sudah cukup untuk melawan kekuatan monster orc yang begitu besar.
Yusa: "Apakah hanya kecepatan sudah cukup untuk melawan musuh sekuat mereka?"
Dewa Kecepatan menggeleng, "Tidak, Yusa. Kekuatanmu akan lebih efektif jika kamu menggunakan senjata yang sesuai. Aku merekomendasikan pedang pembelah gunung, senjata yang memungkinkanmu memanfaatkan kecepatanmu untuk melancarkan serangan yang mematikan."
Yusa, merasa penuh semangat dengan kepercayaan yang diberikan oleh Dewa Kecepatan, masih memiliki pertanyaan yang tersisa.
Yusa: "Tetapi, Dewa Kecepatan, di mana aku bisa menemukan pedang pembelah gunung? Apakah aku harus mencarinya sendiri?"
Namun, sebelum Yusa mendapat jawaban, cahaya gemerlap di sekelilingnya mulai memudar, dan Dewa Kecepatan tampaknya menghilang tanpa jejak. Yusa merasa terbangun dari alam bawah sadarnya, kembali ke dunia nyata dengan cepat.
Tubuhnya bangun dengan cepat, dan dengan refleks yang tajam, dia meraih sebilah pisau yang tergeletak di pahanya. Dengan gerakan yang cepat dan terlatih, dia berputar menghadap serangan monster orc yang datang.
Tanpa ragu, Yusa melancarkan serangan balasan yang cepat dan mematikan. Dengan kecepatan yang luar biasa, dia meluncur di antara para monster orc, menebas dan memotong dengan gesit, meninggalkan belasan monster orc terkapar di tanah dalam sekejap.
Jendral orc, yang tadinya yakin dengan kemenangannya, kini merasa bingung dan terkejut melihat keberanian dan kecepatan Yusa. Mereka berusaha mencari Yusa di antara kekacauan pertempuran, namun Yusa telah menyamar dengan kecepatan yang tak terlihat, menjadikannya hampir tidak terlihat di antara gemerlapnya pertempuran.
Di saat jendral orc menoleh kesekitar pandangannya tiba tiba turun ke bumi, tanpa sadar lehernya telah terpotong, Yusa pun melesat membawa Luff dan Hox's menghilang dalam kegelapan.