“Ketika satu kejahatan dimusnahkan maka akan muncul kejahatan baru lainnya,” kata Kapten Batara getir.
Iya, kejahatan tidak akan pernah hilang dari muka bumi. Selama langit masih terbentang. Selama keserakahan masih dimiliki manusia. Selama itu pula kejahatan tidak akan pernah sirna.
Banyak misi yang sudah dilaksanakan oleh Kapten Batara, sang Srigala Hitam. Menghancurkan tirani di REON adalah salah satunya. Sayangnya misi itu gagal karena ada penghianatan yang dilakukan oleh orang yang seharusnya menjadikan misi itu sukses.
Perang dan perang selalu dijalani. Jebakan demi jebakan selalu dilakukan. Dengan tujuan untuk membongkar maksud dari penghianatan itu. Romance mewarnai kisah pencarian Kapten Batara dengan Dokter cantik Anastasya, sang ahli Virus.
Misi yang awalnya sederhana menjadi berliku. Pelik. Akibat kegagalan itu, ia bersama teamnya menjadi target untuk dihabisi, agar skandal itu bisa ditutupi. Merekapun berubah untuk diburu... atau sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bregas S., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH. 22 PENYUSUPAN 2
Kapten Batara tersenyum tipis di sudut bibirnya. Ia melirik Serda Bajang yang berjalan di sampingnya. Ada ketegangan tersirat di wajah Sersan Bajang. Baginya, misi sekarang inilah yang paling gila dia lakukan. Tidak tanggung – tanggung, langsung menusuk ke jantung pertahanan musuh. Benar, semua misi taruhannya adalah nyawa. Namun tidak sedekat seperti sekarang ini. Membayangkan apa yang terjadi bila ketahuan, Serda Bajang bergidik ngeri. Tidak sadar ia menoleh ke arah Kapten Batara, yang masih fokus pada jalannya.
Sepanjang perjalanan menuju laboratorium dr. Anastasya suasananya terasa sangat dingin. Kaku. Semua tenggelam dalam alam pikirannya masing – masing.
Pada sebuah gedung, Hans Jatmiko berhenti. Matanya tajam menatap gedung. Ia teringat di gedung itulah dia melakukan operasi plastiknya yang dilakukan oleh Dr. Bu Yie. Mulutnya bergetar mengingat semua kejadian itu.
“Dr. Bu Yie ada?” tanyanya kepada prajurit REON yang mengawalnya.
“Siap..! Ada pak Presiden.” Jawabnya tegap.
Mendengar jawaban itu, Hans Jatmiko nampak geregetan. Rasanya seperti ingin membalas atas perbuatan yang dilakukan terhadap dirinya itu saat itu juga.
Melihat hal itu, buru – buru Kapten Batara menyenggol Hans Jatmiko, mengingatkan untuk kembali ke rencana awal. Persoalan dengan Dr. Wang Bu Yie bisa diselesaikan sambil berjalan. Syukur – syukur bisa dilakukan saat setelah menyelesaikan memusnahkan virus hasil penelitian dr. Anastasya. Virus Q.
Merasa diingatkan, Hans Jatmiko kembali fokus pada tujuan dan rencana awal yang sudah disepakati. Mantap, ia melanjutkan langkah kakinya menuju gedung laboratorium dr. Anastasya.
Hanya berlangsung beberapa menit mereka sudah sampai di gedung itu. Segera security itu membukakan pintu utama dengan kunci kartu aksesnya. Dr. Anastasya segera menyambut kedatangan mereka. Mengajaknya memasuki ruang kerjanya. Memperhatikan sekeliling, Kapten Batara hanya mengernyitkan keningnya. Banyak peralatan yang tidak dia pahami maupun dia mengerti. Asing dan aneh.
Security Pusat Riset itu mengantarkan sampai ke dalam ruangan. Belum sempat ia berkata untuk berpamitan, satu pukulan tiba – tiba yang dilakukan Kapten Batara menghantam tengkuknya. Seketika laki – laki itu menggelosor jatuh. Pingsan. Hans Jatmiko segera menarik security itu ke dalam gudang yang ada di samping ruang kerja dr. Anastasya.
Serda Bajang segera bergegas menghampiri kamera pengawas yang terpasang di sudut ruangan. Seperti yang diceritakan dr. Anastasya tadi pagi, kamera itu hanya mengarah dan mengawasi kerja para laboran. Mengingat hari ini sudah jam 5 sore, membuat para petugas sudah pulang kerja. Suasana terlihat sepi, hanya ada dr. Anastasya sendiri. Sebentar ia mengotak – atik beberapa kabel yang ada di belakang kamera itu, menyambungkan dengan monitor kecil yang sekarang ada dalam tangannya.
Beberapa saat kemudian dia mengacungkan jempolnya ke arah Kapten Batara, menandakan bahwa kamera itu sudah tidak bisa memantau apapun yang terjadi di ruangan itu.
Sementara itu di ruangan monitor pantau, beberapa saat terjadi kehebohan. Monitor yang mengawasi ruang laboratorium mengalami gangguan signal. Tidak terkoneksi. Salah satu pengawas yang ada dalam ruang itu sibuk mencari penyebabnya. Sementara yang lain, menarik – narik sambungan kabel menuju monitor dan membolak – balik recaivernya. Tak lama kemudian monitor itu kembali menyala. Menayangkan gambar pada sudut pantau kamera, seperti semula. Pengawas itu menarik nafas lega.
Di dalam ruang laboratorium terjadi kesibukan yang luar biasa. Ke empat orang itu tengah memusnahkan beberapa sample virus yang tengah dikembangkan ataupun baru dalam proses pembiakan. Beberapa bahan virus dimasukkan ke dalam mini incenerator untuk di bakar. Sisanya dibiarkan begitu saja tanpa ditaruh dalam suhu yang dibutuhkan untuk bertahan hidup
Ketika sampai pada box berpendingin khusus dengan sistem pengaturan digital, Kapten Batara berniat untuk menghancurkannya. Belum sempat niatnya tersampaikan, dr. Anastasya menahannya.
“Yang itu jangan..!” teriaknya. Segera ia menghampiri. “Ini harus kita bawa..” katanya memohon.
Kapten Batara mengerutkan keningnya. Tidak mengerti.
“Kita harus membawa bukti bahwa Presiden Sularso berkeinginan untuk menciptakan tentara super,” katanya menjelaskan menjawab ketidakmengertian Kapten Batara.
Kapten Batara hanya mengangguk. Membiarkan dr. Anastasya mengambil alih merapikan virus Q. Terlihat dokter sangat hati – hati meletakkan tabung virus kedalam lubang dudukan yang ada di dalam box itu.
“Kita harus hati – hati untuk membawanya. Tabung itu sangat rentan untuk pecah. Karena ada senyawa kimia dari virus itu yang membuat kaca setebal apapun mudah pecah,” katanya lagi menjelaskan.
“Kenapa bisa begitu??!” tanya Kapten Batara keheranan.
“Karena bukan inangnya. Pada suhu lebih dari 38 derajat celcius, virus itu akan bereaksi. Ia akan menghancurkan apapun yang menghalanginya.”
“Makanya virus itu ditanamkan pada tubuh manusia, sebab suhu tubuh manusia ideal untuk kehidupan virus Q.”
“Sayangnya virus Q itu belum stabil pada suhu di atas 38 derajat celcius, meski berada dalam tubuh manusia.”
“Nah, untuk mengendalikan itulah diperlukan senyawa mexocarboneferat, yang fungsinya melambatkan atau me’moderat’kan reaksi virus Q diatas suhu tubuh ideal.”
Kapten Batara hanya sedikit mengerti dengan apa yang dijelaskan oleh dr. Anastasya. Ia menggaruk – nggaruk rambutnya yang tidak gatal.
“Reaksi tubuh manusia berbeda – beda terhadap pengaruh virus Q. Dari hasil penelitian selama ini, rata – rata manusia akan mati ketika dimasuki virus Q. Memang ada jeda untuk menemui ajal. Tidak seketika begitu saja. Tergantung kekebalan tubuh penerimanya. Paling lama ia hanya 8 jam untuk bisa bertahan. Lebih dari itu manusia penerimanya akan mati dengan rasa yang sangat menyakitkan.”
Mendengar penjelasan itu, Kapten Batara hanya tersenyum kecil. Baginya, selama hidupnya ini kematian sepertinya sudah akrab dengan dirinya. Garis kehidupan dengan kematian hanya tipis untuk dirasakan. Untuk saat ini kematian bukan hal yang menakutkan bagi dirinya. Sudah sangat sering ia melihat sebuah kematian. Setiap mendapatkan misi, kematian selalu mengikuti kemanapun dia pergi. Tidak perduli menimpa teman atau musuhnya. Jadi, tidak aneh mendengar cerita dr. Anastasya itu. Apalagi disebut hal yang sangat mengerikan, sangat jauh dari bayangannya. Ia pernah melihat sesuatu yang lebih mengerikan dari apa yang disebutkan oleh dr. Anastasya.
“Kep, kita harus segera pergi dari sini..” Serda Bajang berkata mengingatkan.
Kapten Batara segera menuruti omongan Serda Bajang. Ia pun mulai melakukan pemasangan mini bomb dibeberapa titik. Ada 4 buah yang terpasang di ruang laboratorium itu. Sesuai rencana benda itu akan diledakkan saat kedatangan Presiden Sularso nanti.
“Oke..!” jawab Kapten Batara.
Bergegas mereka segera keluar laboratorium. Belum sampai di depan pintu, Kapten Batara celingukan mencari Hans Jatmiko.
“Pak Hans mana?!” tanyanya terkejut.
Serda Bajang dan dr. Anastasya saling berpandangan.
“Barusan dia keluar duluan...” dr. Anastasya menjawab dengan tatapan khawatir.
“Jangan – jangan...” Kapten Batara menimpali.
Spontan mereka berlari ke luar. Dalam jarak beberapa puluh meter terlihat sosok Hans Jatmiko berjalan cepat menuju gedung laboratoriumnya Dr. Wang Bu Yie.
“Sialan..., bikin berantakan aja itu orang..” gerutu Serda Bajang kesal.
Secepatnya dia menyusul Kapten Batara dan dr. Anastasya yang berlari mengejar Hans Jatmiko.
Hans Jatmiko sendiri, semenjak melihat gedung tempat dia disekap dulu, perasaan hatinya berkecamuk sedemikian rupa. Rasa sakit hati, geram, kesal, jengkel dan lain sebagainya berbaur menjadi satu. Inginnya dalam kesempatan ini dia bisa membunuh Dr. Wang Bu Yie. Membalas dendam terhadap apa yang telah dilakukan Dr. Bu Yie kepada dirinya. Makanya, ketika ada di dalam laboratorium secepatnya dia membereskan tugas yang dibebankan kepada dirinya. Untuk selanjutnya bisa pergi ke laboratoriumnya Dr. Bu Yie. Diam – diam dia mengambil pistol dan kartu akses milik security yang dibuat pingsan oleh Kapten Batara. Ia menyelipkan pistol itu dibalik punggungnya.
Sesampainya di gedung itu, Hans Jatmiko memasukkan kartu akses milik security itu, dan menekan beberapa nomor dial seperti yang dilakukan oleh security tadi saat mengantarnya. Ia masih hapal dengan nomor – nomor yang ditekan oleh security tadi.
Tanpa kesulitan ia berhasil memasuki gedung itu dan mencari ruang kerja Dr. Wang Bu Yie. Ia bertekad, hari ini dendamnya harus tuntas.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
Vote, vote dan vote dong... itu kalo suka
Jangan lupa commentnya..
rr44rsfr