Sequel dari novel 'Benci tapi Cinta'
Yang belum baca season pertama dan kedua bisa baca dulu ya, hehe...
Mengisahkan kehidupan perjalanan cinta Alisya, putri bungsu dari pasangan Arvin dan Alina.
Pernah dikecewakan oleh seseorang dan akhirnya dipertemukan kembali? Lantas, bagaimana Alisya harus bersikap?
Ikuti kisahnya😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iLmaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 22
Ray menatap Alisya dari kejauahan lalu tersenyum padanya. Begitu pula dengan Alisya. Ray berjalan mendekati Alisya. Ia duduk di samping Alisya dengan santai.
"Bagaimana keadaanmu? Apa masih takut?" tanya Ray. Alisya menggeleng pelan. Wajar jika Alisya takut. Ini baru pertama kalinya.
"Lapar? Biar aku ambilkan makanan." Tawar Ray.
"Tidak Ray, kau istirahatlah juga. Kau pasti lelah kan?" tanya Alisya. Ray merangkul Alisya dari samping. Alisya tak menolaknya.
"Haih, sebaiknya kalian segera pacaran sana! Jangan hanya marah-marahan gak jelas seperti itu. Cha, aku tinggal dulu ya," ucap Laura yang beranjak pergi dari sana. Membuat Alisya malu dan canggung.
Ray dan Alisya sama-sama terdiam. Merasa canggung satu sama lain. Ray yang merasa jika ia bersikap berlebihan akan membuat Alisya tak nyaman hanya memilih diam saja. Sedangkan Alisya canggung dengan perasaannya. Ia telah meyakinkan dirinya untuk membuka hatinya pada Ray.
Ray menggenggam tangan Alisya. Mereka saling pandang lalu tersenyum tipis.
"Dingin tidak?" tanya Ray. Alisya menggeleng pelan.
"Ayo semua kumpul dulu!" seru Nico setelah selesai mendirikan tenda. Peserta makrab tersebut langsung berkumpul. Begitu juga dengan Ray dan Alisya.
"Selamat siang semuanya. Habis ini kita istirahat sebentar ya. Silakan menempati tendanya masing-masing. Nanti malam kita baru seru-seruan. Jangan pergi jauh-jauh. Saya tidak ingin ada masalah. Mengerti?" ujar Nico.
"Mengerti kak!" seru mereka secara kompak.
Selepas itu, semua berhambur menuju ke tenda masing-masing. Sedangkan Ray dan teman lainnya menyiapkan untuk api unggun nanti malam. Tak hanya Ray, Alisya dan Laura juga ikut membantu.
"Bagaimana kaki kamu? Aku dengar kamu tadi sempat terjatuh?" tanya Nico pada Ray.
"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja," balas Ray lalu tersenyum. Nico menepuk bahu Ray. Ia kembali dengan kegiatannya.
***
Dinginnya malam itu tak membuat semangat mereka surut. Api unggun telah mereka nyalakan. Setelah sharing selama hampir dua jam tentang keorganisasian mereka, kini waktunya untuk bersenang-senang menikmati indahnya dari ketinggian itu.
Meskipun hanya sebuah acara yang sederhana, keakraban inilah yang membuat mereka bahagia. Tertawa bersama dan tentunya bersenang-senang bersama. Melupakan sejenak beban masing-masing.
Mereka bersenandung bersama. Sedangkan Alisya dan yang lainnya menyiapkan makanan untuk mereka makan malam ini. Ini adalah pengalaman terindah yang pernah Alisya rasakan. Bercanda tawa bersama mereka sungguh hal yang paling membahagiakan baginya.
Waktu semakin larut. Pukul 22.00, Nico mengharuskan acara tersebut selesai. Semua harus segera istirahat ditenda masing-masing. Sedangkan Alisya dan beberapa temannya yang mengordinasi kegiatan ini berkumpul sejenak.
"Terima kasih untuk waktunya. Saya sangat berterima kasih pada kalian semua yang sudah mau menjadi panitia dalam acara ini. Sejauh ini apakah ada yang dikeluhkan? Icha? Ada keluhan?" ujar Nico.
"Tidak ada kak. Kalau dari Icha sendiri tidak ada keluhan sama sekali. Mungkin dari teman-teman yang lain, silakan." Alisya memberikan kesempatan pada teman-temannya.
Setengah jam berlalu. Mereka kembali ke tenda masing-masing. Saat Alisya berdiri dan ingin beranjak dari sana, Ray memegang tangan Alisya yang seketika membuat Alisya menatap Ray. Ia mengernyitkan dahinya. Menatap Ray dengan tatapan bingung.
"Aku ingin bicara sama kamu Cha," ujar Ray. Alisya nampak berpikir. Ini hampir tengah malam. Bahkan hanya tinggal mereka berdua yang berada di luar tenda.
"Besok saja Ray. Aku mau istirahat," tolak Alisya dengan halus sambil melepas genggaman tangan Ray.
"Beri aku waktu lima menit saja, aku mohon," ucap Ray kekeh. Alisya menghela napasnya sejenak. Ia mengangguk. Ia lakukan ini karena tidak ingin teman-temannya tahu jika ia belum masuk ke tendanya. Dan agar ia bisa segera istirahat.
Ray membawa Alisya ke tempat yang lebih sepi. Tempat yang cukup gelap dan tentunya itu membuat Alisya takut. Ia takut akan kegelapan.
"Ray, kenapa kau membawaku ke sini? Aku tidak mau!" Alisya ingin pergi dari sana. Namun Ray segera menarik Alisya kembali.
"Hanya tempat ini yang nyaman untuk kita mengobrol. Duduklah dulu," ujar Ray. Alisya memutar tubuhnya dan langsung duduk di sana.
"Cha... Aku tahu kamu masih membenciku. Tapi, berikan aku kesempatan untuk membuktikan jika aku serius denganmu," ucap Ray dengan serius.
Alisya terdiam. Sebenarnya ia juga ingin membuka hatinya. Namun ia malu mengakuinya lebih dulu.
"Icha..." ucap Ray dengan nada pelan.
"Haaahh..." Alisya menghela napasnya sejenak.
"Seperti yang kamu katakan tadi. Aku akan memberimu satu kesempatan." Lanjut Alisya yang akhinya Alisya membuka suara dan mengakuinya juga. Meski Alisya terlihat gugup. Ray tersenyum lebar. Ia begitu senangnya dan langsung memeluk Alisya.
"Aku janji... Aku akan buktikan keseriusanku Cha," bisik Ray.
"I-iya... Tapi lepaskan dulu pelukan ini Ray." Alisya mulai melepaskan pelukan tersebut. Ray masih tersenyum karena begitu senangnya.
Ia mendekatkan keningnya dengan Alisya. Menatap Alisya dengan dalam. Ray meraih tangan Alisya dan mengecupnya dengan lembut. Ray kembali memeluk Alisya dengan erat. Ia mengecup kening Alisya sedikit lebih lama.
"Ayo, kita kembali," ujar Ray. Alisya mengangguk. Mereka kembali ke tenda bersama dengan bergandengan tangan. Meski Alisya masih malu-malu, namun ia mencoba untuk terbiasa dengan Ray mulai saat ini.
Hatinya bahagia, begitu pula dengan Ray. Serasa beban yang selama ini mengganggunya kini lenyap sudah. Ketakutannya akan penolakan Ray di masa lalu kini telah hilang bersamaan dengan hadirnya kembali cinta darinya. Berdamai dengan masa lalu adalah cara terbaik darinya.