Indonesia
NovelToon NovelToon
Wanita Pengganti

Wanita Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Contest
Popularitas:67.5k
Nilai: 5
Nama Author: Alfian Syafa

Menjalani lika-liku kehidupan yang menyakitkan sejak kecil dan harus di dewasakan oleh keadaan. kehilangan sosok ibu yang hanya dia miliki satu-satunya. Lalu gadis itu memilih untuk pergi ke kota, mencari keberuntungan di sana. Berkat kegigihan dan kemampuannya dia pun mendapatkan apa yang dia mau. Keberhasilan mampu menampar orang-orang yang dulu telah memandangnya sebelah mata.

Saat berada di puncak kebahagiaan, harus terhempas begitu saja karena dia harus menikah dengan lelaki asing atas permintaan orang yang selama ini dia cari.

Takdir apa yang sedang Lisa Larasati jalani? mari kita simak kisahnya.

Tolong baca berurutan ya. Hargai penulis!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alfian Syafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Karin membuka pintu ruang rawat milik Lisa. Dimana pemandangan pertama yang dia lihat adalah Lisa yang sedang duduk di atas ranjang pesakitan itu sambil berkutat dengan layar laptopnya. Lisa menatap Karin sejenak sambil tersenyum. Memperlihatkan wajah sendunya. Mata itu masih membengkak, duka yang mendalam masih Lisa rasakan. Karin ikut prihatin dengan keadaan sahabatnya ini.

"Pagi, cantik!" sapa Karin sambil meletakkan paper bag di atas meja.

"Pagi. Tumben Lo udah bangun jam segini?" tanya Lisa tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya.

Meski dalam suasana berkabung tapi Lisa tetap harus bekerja. Mau bagaimana lagi kan? Tanda tangan kontrak sudah dia lakukan jauh sebelum bertemu Anisa dan Lisa harus bertanggung jawab. Meski tiga hari itu Lisa telah absen tak apa. Selama ini Lisa tak pernah absen dari dunia pernovelan.

"Demi Lo! Gue tahu kalau Lo itu nggak suka makanan rumah sakit. Makanya gue bela-belain bangun pagi bikin bubur ayam buat Lo!" jelas Karin sambil mengeluarkan rantang dari paper bag tersebut.

Jangan salah, meski hobby shopping, tapi Karin ini juga bisa masak. Dalam rantang itu sudah terisi paket lengkap. Bubur ayam, potongan buah dan salad sayuran yang tentu saja untuk Karin. Wanita itu sangat menjaga berat badannya supaya tetap ideal. Berbeda dengan Lisa yang mau makan sebanyak apapun tidak akan membuatnya gemuk.

"Iiih makasiiii banget ya. Lo emang sahabat terbaik gue!" Lisa merentangkan kedua tangannya.

Karin mendekat dan memeluk tubuh Lisa. Meski dalam hati Karin bersedih. Karin berdoa supaya Lisa akan mendapatkan kebahagiaan setelah ini.

"Makan dulu, baru nanti kerja lagi!" Karin menyingkirkan laptop milik Lisa. Meletakkan di meja dan memberikan mangkuk yang sudah berisi bubur ayam lengkap dengan toppingnya.

"Gue juga bawa jasmine tea kesukaan Lo!"

Lisa mengangguk. Dia benar-benar rindu masakan Karin. Kalau sedang tidak enak badan pasti Karin langsung membuatkan bubur dan mengantarkan ke kostan.

Tolong katakan dimana ada lagi stok sahabat seperti Karin ini? Zaman sekarang susah sekali mencari sahabat seperti Karin yang selalu ada dalam suka maupun duka.

"Tadi Dion nelpon gue. Kebetulan gue lagi mau otw. Dia bilang ada kuliah pagi dan nggak bisa bolos?" tanya Karin.

Lisa mengangguk, "Ya, gue suruh dia berangkat. Kasian kan kalau kena hukum nanti. Lo tahu sendiri gimana tuh dosen killer."

Karin mengangguk. Meski dalam hatinya dia sedikit janggal dengan alasan Dion yang tidak bisa menemani Lisa hari ini.

"Gimana enak nggak?" tanya Karin mengalihkan pembicaraan.

"Selalu enak bubur buatan Lo. Kenapa Lo nggak jualan aja?" ucap Lisa memberi saran.

Karin tertawa, selalu saja Lisa menyarankan untuk berjualan. Padahal ya Karin ini anak konglomerat yang hartanya nggak akan pernah habis tujuh turunan dan tanjakan. Semua milik Karin karena kedua kakaknya sudah merintis perusahaan masing-masing dan terbilang sukses di usia muda.

"Buka kafe kali ya?"

"Pinggir jalan aja biar laku."

"Lo ada-ada aja, Lis!" Karin menggeleng pelan.

Membayangkan dirinya mendorong gerobak sambil berjualan keliling.

"Ih yang ada kulit gue item!" Karin bergidik ngeri. Nggak bisa kayaknya kalau dia harus jualan di pinggir jalan.

Lisa tertawa lepas, kesedihan yang tadi dia rasakan hilang begitu saja.

"Iya juga ya. Perawatan Lo lebih mahal dari hasil jualan bubur," ucap Lisa, tanpa sadar bubur miliknya sudah habis.

Sementara Karin bangkit dari duduknya dan mengambilkan segelas Jasmine tea yang tadi sudah dia tuang pada gelas yang tersedia.

"Gue yang masak Lo yang jualan aja gimana?" saran Karin.

Lisa menyeruput teh yang masih hangat itu. Pagi ini dia merasa jika tubuhnya sudah segar. Demam juga sudah turun. Lisa harap bisa keluar dari rumah sakit hari ini.

"Boleh, nanti hasilnya buat gue semua tapi!" Lisa menaik turunkan alisnya.

Karin mendesah pendek. "Rugi dong gue, Nyet!" protes Karin.

Lisa dan Karin pun tertawa bersama, tapi tawa itu tidak berlangsung lama saat ponsel Karin berdering. Karin segera mengambilnya di dalam tas yang dia letakkan di meja.

"Gue angkat telpon dulu ya, Lis."

"Oke, siap!" Lisa mengacungkan jempolnya sembari mengambil kembali laptop yang baru saja Karin sodorkan.

Karin berjalan cepat untuk keluar dari ruangan Lisa. Tidak ingin sahabatnya itu mendengar obrolannya dengan seseorang.

"Nggak di kampus? Terus kemana dia?"

Karin sangat terkejut mendengar berita yang orang itu sampaikan. Karin menyuruh seseorang untuk membuntuti Dion pagi ini. Sejak mendengar obrolan Dion dan entah siapa itu juga suara anak kecil yang memanggil Papa, Karin sangat mencurigai Dion. Bahwa ada rahasia besar yang Dion sembunyikan.

"Arah Bogor? Lo ikutin terus dia nanti Lo kirim alamat lokasi dan kirim foto kegiatan dia hari ini!" titah Karin pada orang yang menelponnya.

Karin pun memutus sambungan teleponnya dan kembali ke ruang rawat Lisa.

Namun, langkahnya terhenti saat melihat dari kejauhan seorang wanita dan laki-laki tampan itu.

"OMG ... itu kan oppa Korea yang semalam itu!" Karin menutup mulutnya.

Karin belum tahu siapa Arka. Saat berada di rumah Anisa Karin hanya melihat sesekali karena harus menenangkan Lisa. Dia juga lupa menanyakan hal itu kepada Lisa.

"Lis, Lo di cari!" kata Karin yang tergesa-gesa.

Membuat Lisa yang sedang menulis pun terkejut.

Lisa melempar bantal ke arah Karin. "Lo ngagetin aja__"

Bugh

Bantal tersebut mengenai wajah Arka yang baru saja masuk. Sebab Karin menghindar. Karin menutup mulutnya dan segera mengambil bantal yang saat ini tergeletak di lantai.

"M-maaf, ganteng. Sahabat aku ini lagi ngambek," kata Karin sambil meringis.

Sementara Tante Dini mengulum senyum. Dia langsung bergegas memeluk Lisa. Rasanya rindu kepada Anisa pun terobati.

"Sayang, bagaimana kabarmu? Udah mendingan?" tanya Tante Dini setelah melepas pelukannya.

Karin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Rasanya Karin banyak ketinggalan berita. Dia langsung menatap ke arah Lisa penuh intimidasi karena tidak menceritakan apapun soal Tante Dini dan Arka.

Lisa meringis sambil melirik Karin yang berdiri di belakang Tante Dini.

"Aku sudah sehat, Tante," jawab Lisa, tapi wajahnya tidak memperlihatkan demikian.

"Oh, iya. Kenalin ini Karin sahabat aku, Tante." Lisa menunjuk ke arah Karin.

"Eh, Hay. Saya Tante Dini. Mamanya Arka. Nah, ini putra semata wayangnya." Tante Dini mengulurkan tangannya dan juga memperkenalkan Arka yang masih bermuka datar.

Arka masih bergeming dengan tatapan yang tertuju ke arah Lisa. Dalam lubuk hatinya dia sangat merindukan Anisa. Sudah dua hari Anisa pergi meninggalkan Arka untuk selamanya. Arka hanya melirik Karin sebentar.

"Karin, Tante."

"Jadi kamu yang jaga Lisa?"

Karin menggeleng lalu menjelaskan apa yang terjadi. Obrolan basa-basi itu berlangsung. Sementara Arka memilih duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.

Melihat video dan foto bersama Anisa. Melihat Lisa sebenarnya sedikit mengobati rasa rindunya kepada Anisa. Akan tetapi tidak menggantikan posisi Anisa dalam hatinya.

***

"Jadi ... Tante kemari juga sekalian membicarakan tentang pesan terakhir Anisa. Kapan lagi kan Arka ada waktu."

Suasana mendadak hening. Setelah mereka bertiga tertawa dan membahas apa saja. Karin merasa ada sesuatu yang penting dan dia memilih untuk pergi sejenak. Takut untuk ikut campur.

"Gue keluar dulu ya, Lis."

"Kamu ... tetap di sini saja. Temani Lisa," kata Tante Dini.

Merasa jika Lisa butuh seseorang yang dekat dengannya. Jadi membiarkan Karin untuk tetap tinggal.

Tante Dini menoleh ke arah Arka yang masih santai di sofa.

"Arka," panggilnya sambil mengangguk memberi isyarat.

Arka segera bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat. Semakin dekat semakin membuat pikiran Arka tertuju kepada Anisa. Dimana dia selalu menemani Anisa di saat terbaring lemah. Mirip sekali seperti Lisa saat ini.

Ah, rasanya Arka tidak sanggup lagi. Sejak tadi dia menahan isak tangisnya agar tidak terlihat oleh orang lain. Hanya Tante Dini yang bisa melihat kerapuhan Arka.

"Ma, langsung aja. Aku ada rapat sebentar lagi," kata Arka sambil melihat jam tangannya.

Tentu hanya sebuah alasan karena dia tidak sanggup lama-lama berada di sana.

"Lisa, jadi Tante mau mengatakan kalau__"

Suara pintu terbuka, memperlihatkan dokter yang hendak memeriksa Lisa masuk. Ucapan Tante Dini pun menjadi terpotong.

"Pagi," sapa dokter muda itu.

"Pagi, dokter," jawab Lisa.

"Kita lakukan pemeriksaan sebentar ya, Lisa," ucap dokter itu ramah.

Lisa mengangguk. Tante Dini, Arka dan Karin memilih untuk keluar saja. Membiarkan Lisa diperiksa oleh dokter.

Sementara Arka langsung terduduk lemas. Tante Dini tahu jika Arka masih terbayang Anisa. Apalagi wajah Lisa begitu mirip. Tante Dini tahu Arka masih teringat saat-saat mereka menghabiskan waktu di rumah sakit.

Tante Dini mengusap punggung Arka untuk menenangkannya.

"Apa besok saja?" lirih Tante Dini.

Arka menggeleng, "Lebih cepat lebih baik. Tidak ada waktu lagi, Ma."

Tante Dini mengangguk paham. Dia lalu melirik ke arah Karin yang kebetulan duduk di sebelahnya.

"Karin, boleh Tante tanya sesuatu sama kamu?"

Bersambung....

1
falea sezi
apa isinya
Alaish Karenina: apa ya kira"
total 1 replies
falea sezi
ciee belah duren
Alaish Karenina: wkwkwk iya
total 1 replies
falea sezi
panas panass
falea sezi
Hanum bkin kena hiv biar tau rasa
falea sezi
kasih lisa cwok tulus donk bkin cerai aja lah kasian lisa arka lom.move on pdhl nisa dah mati
falea sezi
Q kasih hadiah bunga thorr
Alaish Karenina: hehe, terima kasih ☺️
total 1 replies
falea sezi
Hanum bener benerr jalang sejati
falea sezi
kaka adek. sama sama. jahat erik sama.hanum
Alaish Karenina: 😁😁😁😁😁
total 1 replies
Juariah Nurbaiti
memang orang yg sama
Juariah Nurbaiti
nah begitu lupakan masa lalu yg menyakitkan fokus pada masa kini dan masa depan
Alaish Karenina: hehe iya, Bun ☺️
total 1 replies
Juariah Nurbaiti
siapa lg tuh sintia
Juariah Nurbaiti
love
Juariah Nurbaiti
semoga cepat sembuh
Syah Hara
ayo ka lanjuttttttttttttt
Alaish Karenina: Hay, Kak ... terima kasih sudah mampir ya. Bab selanjutnya segera tayang hari ini.
total 1 replies
Alisya Yeppeumnida
murahan lisa nya
Alaish Karenina: 😊😊 otak sama hati tidak sinkron kak.
total 1 replies
Syah Hara
lanjuttttt
Syah Hara
lanjut dong udah gak sabar ini
Alaish Karenina: udah ada lanjutannya ya kak, tinggal nunggu review dari noveltoon.
total 1 replies
Syah Hara
lanjut dong
Syah Hara
lanjut lagi ka
Juariah Nurbaiti
sapa y belum kebayang tuh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!