Indonesia
NovelToon NovelToon
Suara Yang Tak Pernah Terucap

Suara Yang Tak Pernah Terucap

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Romantis / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:15.5k
Nilai: 5
Nama Author: See You Soon

Seorang kurir yang lelah oleh hiruk-pikuk jalanan menemukan jeda tak sengaja di sebuah perpustakaan kota.

Di tempat yang sunyi itu, ia bertemu dengan seorang gadis pemalu. Dia yang berbicara sedikit, namun berpikir terlalu banyak.

Pertemuan mereka dipenuhi salah paham kecil, kecanggungan, dan dialog yang tak pernah diucapkan.

Di balik sikap luar yang tampak biasa, kepala mereka dipenuhi suara-suara lain. Kadang pikiran yang berdebat, menyesal, dan ingin dipahami.
Dan saat kata-kata gagal terucap, perasaan justru tumbuh diam-diam.

Dan di antara rak buku, senyum canggung, serta keheningan yang terlalu panjang, dua insan belajar bahwa terkadang, cinta dimulai bukan dari apa yang diucapkan, melainkan dari apa yang disimpan.

Note: novel slow burn. visual karakter sering di beberapa bab. bikin pembaca gak lupa siapa aja yang sedang berbicara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berkunjung

Siang hari terasa cukup terik.

Motor Yuda terparkir di depan sebuah minimarket kecil di pinggir jalan. Mesin sudah dimatikan, tapi panas dari aspal masih terasa naik perlahan.

Yuda duduk di jok motornya sambil memegang gelas plastik berisi es kopi. Es batu di dalamnya berdenting kecil setiap kali ia menggerakkan gelas.

Ia meneguk sedikit.

Rasa pahit manis kopi langsung menyegarkan tenggorokannya.

Di depannya, kotak pengangkut paket terpasang di motor. Tutupnya terbuka sedikit, memperlihatkan beberapa paket yang tersusun tidak terlalu rapi.

Paket-paket pelanggan: kardus kecil, plastik hitam, dan amplop tebal, semua bercampur seperti biasa.

Namun di antara tumpukan itu… ada satu yang berbeda.

Sebuah kardus kecil dengan stiker putih yang ia tempel sendiri semalam.

Paket untuk Nazwa.

Ia meneguk lagi es kopinya.

Klek.

Es batu berbunyi pelan di dalam gelas plastik. Pandangannya tidak lepas dari kardus itu. Padahal kalau dilihat orang lain, paket itu tidak ada bedanya dengan paket-paket lain. Tapi bagi Yuda, rasanya seperti benda paling mencolok di dunia.

Ia menaruh gelas kopi di samping jok.

Tangannya menyentuh kardus itu sebentar, memastikan posisinya tidak terjepit oleh paket lain.

"Aman…"

Yuda menarik napas panjang.

Hari ini ia sengaja memasukkan paket itu ke dalam box motor bersama paket pelanggan lain supaya terlihat normal.

Supaya tidak terlalu mencurigakan ketika ia datang ke rumah Nazwa.

Logikanya sederhana.

Ia datang. Mengantar paket. Selesai.

Namun tetap saja… perutnya terasa aneh.

Yuda menggaruk pipinya pelan.

Pandangan beralih ke jalan yang ramai di depannya. Orang-orang keluar masuk minimarket, beberapa motor berhenti sebentar lalu pergi lagi.

Semua terlihat biasa.

Berbeda dengan detak jantungnya yang terasa terlalu cepat.

Yuda mengambil kembali gelas es kopi itu. Meneguk sekali lagi. Lalu menatap kardus kecil itu sekali lagi.

"Oke…"

Ia menarik napas panjang. Menepuk pipinya sendiri pelan.

"Oke."

Lalu bergumam pada dirinya sendiri dengan suara rendah.

"Oke. Gak usah grogi, Yud."

Tangannya mengepal kecil.

"Lu pasti bisa."

Ia mengangguk sekali lagi, seolah benar-benar mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Beberapa detik kemudian, ia menutup box paket di motornya.

Klak.

Gelas es kopi dihabiskan dalam satu tegukan terakhir.

Yuda membuang gelas kosong itu ke tempat sampah di depan minimarket. Kemudian kembali ke motornya.

Mesin dinyalakan.

Brrmmm.

Motor itu mulai bergerak meninggalkan minimarket, membawa tumpukan paket pelanggan… dan satu paket kecil yang membuat jantung Yuda berdetak jauh lebih cepat dari biasanya.

...----------------...

Sore mulai turun perlahan.

Langit yang tadi biru cerah kini berubah lebih hangat, bercampur warna jingga yang menyebar tipis di antara atap-atap rumah.

Motor Yuda berhenti di depan sebuah rumah sederhana. Ia menurunkan satu kardus kecil dari box motornya. Dari dalam rumah, seorang ibu paruh baya keluar untuk menemuinya.

"Ini paketnya, Bu."

"Iya, sini."

Serah terima berlangsung singkat. Setelah tanda terima di aplikasi selesai, Yuda mengangguk sopan.

"Terima kasih."

Motor kembali menyala.

Brrmmm.

Yuda melirik ke dalam box motornya saat berhenti sebentar di ujung jalan.

Sekarang hanya tersisa satu paket.

Kardus kecil dengan stiker putih yang ia tempel sendiri.

Paket itu terbaring sendirian di dalam box, tidak lagi tersembunyi di antara paket lain.

Tujuan terakhir hari ini.

Rumah Nazwa.

Yuda menelan ludah.

Tangannya menutup box perlahan.

Klik.

Motor kembali melaju.

Angin sore mulai terasa lebih sejuk di wajahnya, tapi itu tidak cukup untuk menenangkan degup jantungnya. Setiap tikungan yang ia lewati terasa seperti langkah menuju sesuatu yang besar.

Belok kiri—jantungnya berdegup lebih cepat.

Belok kanan—perutnya mulai terasa tidak nyaman.

Belok lagi ke gang yang lebih sempit.

Yuda menarik napas panjang di balik helmnya.

"Tenang…"

Motor terus bergerak perlahan menyusuri gang itu.

Rumah-rumah di kanan kiri mulai terasa familiar. Ia pernah melewati daerah ini sebelumnya saat mengantar paket pelanggan lain.

Namun hari ini rasanya berbeda. Karena hari ini ia ada tujuan khusus.

Gang itu berakhir pada sebuah tikungan kecil.

Yuda memutar setang.

Dan di ujung pandangannya, sebuah rumah muncul.

Pagar dengan cat putih bersih.

Di samping gerbang terdapat papan kecil dengan tulisan hitam.

No. 17

Motor Yuda melambat dengan sendirinya. Tangannya terasa sedikit kaku di setang.

Itu dia.

Rumah Nazwa.

Jantungnya berdetak semakin keras, sampai-sampai ia bisa merasakannya di telinga. Tangannya tanpa sadar menggenggam setang motor lebih erat. Jari-jarinya menegang sedikit.

Motor berhenti perlahan di depan pagar putih itu.

Mesinnya dimatikan.

Klik.

Suara mesin yang tadi berdengung perlahan menghilang, digantikan oleh suara sore yang lebih tenang—angin yang menggesek daun tanaman dan suara televisi samar dari rumah tetangga.

Yuda turun dari motor.

Ia berdiri beberapa detik di samping kendaraannya, memandangi rumah di depannya.

Rumah itu cukup luas untuk ukuran rumah satu lantai. Cat dindingnya bersih, halaman depannya terbuka dengan paving yang rapi. Di beberapa sudut terlihat pot-pot tanaman hias—ada bunga kertas, monstera, dan beberapa tanaman kecil yang ditata dengan cukup apik.

Yuda mengangguk kecil.

"Yes!"

Ia mengepalkan tangan pelan.

"Nazwa kayaknya ada di rumah."

Ia menatap pintu utama yang terbuka.

"Gue harus buru-buru tekan bel rumahnya."

Yuda membuka box motornya. Tangannya masuk ke dalam, mengambil kardus kecil yang sejak pagi membuat pikirannya tidak tenang.

Paket itu kini berada di tangannya.

Namun saat ia menutup box motor dan kembali menoleh ke arah rumah… pandangannya tiba-tiba tertahan.

Di halaman depan, sedikit di samping pintu garasi, terparkir sebuah motor.

Bukan motor matic. Bukan juga motor bebek biasa.

Motor itu tinggi. Ban depannya besar dengan pola kasar. Rangka ramping dengan bodi yang terlihat kokoh.

Motor trail.

Langkah Yuda terhenti di depan pagar.

"Itu…"

Alisnya berkerut.

"Motor siapa?"

Ia memperhatikannya lebih seksama dari luar pagar.

Helm tergantung di setangnya. Tampak seperti helm full face dengan visor gelap. Motor itu jelas bukan motor yang dipakai orang rumah untuk ke pasar atau sekadar jalan santai. Motor seperti itu biasanya dipakai orang yang suka touring atau off-road.

Tangan Yuda yang memegang paket perlahan turun.

Tangannya yang lain hampir menyentuh tombol bel di pagar.

Namun ia berhenti.

Tangannya menggantung di udara. Tatapannya kembali ke motor trail itu. Pikirannya mulai berkelana ke arah yang tidak menyenangkan.

"Apa… Nazwa masih ada tamu ya?"

Ia menelan ludah.

Sore tadi ia sudah membayangkan berbagai kemungkinan ketika datang ke rumah ini.

Gugup. Canggung. Atau bahkan salah bicara.

Namun satu hal yang tidak ia bayangkan… adanya orang lain di dalam sana.

Pandangan Yuda kembali ke motor itu. Matanya menyipit sedikit, seolah mencoba membaca pemiliknya hanya dari bentuk kendaraan itu.

Dan sebuah pikiran yang tidak ia sukai perlahan muncul di kepalanya.

"Dan juga…"

Ia menelan ludah lagi.

"Motor jenis itu…"

Yuda menggaruk pelipisnya.

Biasanya yang pakai motor seperti itu…

Ia bergumam pelan.

"Biasanya jenis itu, biasanya yang make…"

Yuda menatap paket di tangannya. Lalu menatap motornya sendiri.

Satu langkah mundur hampir ia ambil.

Di dalam rumah bernomor 17 itu, suasananya jauh lebih hidup dibanding yang terlihat dari luar.

Di ruang tamu yang cukup luas, sebuah meja dipenuhi beberapa lembar kertas, buku catatan, dan sebuah laptop yang layarnya masih menyala.

Nazwa duduk di salah satu kursi, tubuhnya sedikit condong ke depan. Jari-jarinya bergerak cepat di atas keyboard laptop, sesekali berhenti untuk membaca ulang apa yang baru saja ia tulis.

Di seberangnya duduk seorang pemuda dengan postur cukup tinggi. Bahunya lebar, rambutnya agak berantakan seperti baru saja melepas helm.

Pemuda itu memegang pulpen, menggambar sesuatu di atas kertas sambil sesekali mengerutkan dahi.

"Kalau bagian ini kita ganti jadi dua poin aja gimana, Kak?" ujarnya sambil menunjuk salah satu paragraf.

Nazwa melirik sebentar.

"Hmm…"

Ia mendekatkan wajahnya ke layar.

"Boleh sih. Tapi nanti kesimpulannya harus diperkuat."

Pemuda itu mengangguk.

"Oke."

Ia mencoret beberapa kalimat, lalu menulis ulang dengan cepat. Beberapa detik kemudian ia mengangkat kepalanya lagi.

"Eh tapi Kak… kalau bagian metodologi kita taruh sebelum pembahasan, dosen galak itu bakal protes gak?"

Nazwa terkekeh kecil.

"Dosen galak yang mana dulu?"

"Yang alisnya tebal itu."

Nazwa langsung tertawa lebih jelas.

"Oh… Pak Rendra."

"Iya itu!"

Pemuda itu ikut tertawa.

"Dia tuh kalau ngeliat format laporan beda dikit aja langsung kayak detektif."

Nazwa menutup mulutnya sambil menahan tawa.

"Ya makanya jangan aneh-aneh, Van."

Kevan mengangkat kedua tangannya menyerah.

"Iya, iya. Saya nurut."

Mereka kembali menatap kertas masing-masing. Suasana kembali serius beberapa saat. Hanya terdengar suara ketikan laptop dan goresan pulpen di atas kertas.

Namun beberapa detik kemudian, Kevan tiba-tiba berhenti menulis. Matanya mengarah ke jendela depan rumah. Alisnya sedikit naik.

Ia menyipitkan mata. Seolah melihat sesuatu yang bergerak di luar pagar.

"Kak?"

Nazwa masih mengetik.

"Hmm?"

Kevan memiringkan kepalanya sedikit.

"Di depan kayaknya ada tamu deh?"

Jari Nazwa berhenti di atas keyboard.

"Hah?"

Ia menoleh. Kevan menunjuk ke arah jendela.

"Tadi ada orang kayak ngintip ke dalam."

Nazwa langsung menegakkan badan. Laptopnya didorong sedikit menjauh.

"Eh iya deng."

Ia berdiri dari kursinya.

"Coba ku cek."

Nazwa merapikan rambutnya sedikit sambil berjalan ke arah pintu depan. Namun sebelum benar-benar pergi, ia menoleh lagi ke arah meja.

"Kamu tolong lanjutin ini ya, Van!"

Kevan mengangguk santai sambil mengangkat pulpen.

"Siap, Kak."

Nazwa membuka pintu rumah lebih lebar. Dan melangkah keluar menuju halaman depan—tanpa tahu bahwa seseorang di balik pagar sedang berusaha menenangkan jantungnya sendiri.

Yuda masih berdiri di depan pagar.

Tatapannya sesekali kembali ke motor trail di halaman rumah itu. Semakin lama ia memandanginya, semakin banyak kemungkinan yang muncul di kepalanya.

Semakin tidak menyenangkan.

Tangannya yang tadi hampir menekan bel akhirnya turun perlahan. Ia menghela napas pelan.

"Keknya…"

Bahunya sedikit turun.

"Gue harus dateng besok deh."

Ia menunduk melihat paket di tangannya.

"Nazwa lagi sibuk sekarang."

Logika sederhana langsung terbentuk di kepalanya.

Ada motor orang lain di halaman, berarti ada tamu. Dan kalau dia tiba-tiba masuk sekarang… rasanya seperti mengganggu.

Yuda memutar tubuhnya pelan. Langkahnya terasa lebih berat dibanding saat datang tadi. Paket yang ia genggam juga tidak lagi dipegang seerat sebelumnya. Jari-jarinya mulai mengendur, seolah tenaga yang tadi ia kumpulkan sejak pagi perlahan luntur.

Setiap pikiran yang muncul seperti menarik semangatnya turun satu per satu.

Mungkin dia lagi ngobrol sama temannya.

Mungkin lagi sibuk.

Mungkin…

Mungkin gue datang di waktu yang salah.

Beberapa langkah lagi ia akan sampai ke motornya.

Tinggal naik. Nyalakan mesin. Pergi

1
Tio Buki
Ikut meramaikan ya thor🙏🙏🙏🙏
Tio Buki: Oke dek. Ikut meramaikan juga tempat aku ya🙏🙏🙏 Alhamdulillah. Moga lancar
total 2 replies
Tio Buki
Iya, masama🙏🙏
Tio Buki
Mengapa begitu
Tio Buki
Sore juga
Tio Buki
ya Iyalah. Itu namanya perpustakaan
Tio Buki
Lah, hendak kemana
Tio Buki
Kenapa ya.
Tio Buki
Punya siapa itu. Soalnya aku ngak pesan paketnya
Miss Europa.
dilempar dong😭
Moon.: tumben mampir kak/Curse/
total 1 replies
COER
sehat² dah para kurir
Writer_lynn
Tempat terbaik untuk merenung☺️
kenzi moretti
perpustakaan memang semenenangkan itu
kenzi moretti
"di di"/Slight/
kenzi moretti
apakah namanya benar² rahasia/Sly/
kenzi moretti
klo diganti "sudut bibirnya terangkat" pasti lebih bagus😌
Pengabdi Uji
km jutek jg kali jd org2 tktduan😭😭
Pengabdi Uji
ooohh si cewe di omelin bosnya ya
Pengabdi Uji
wkwk enggak lg ngulek itu bk. fashion show🤣
Mingyu gf😘
hahaha😆😆emang suka gitu kalau mengikuti maps yang banyak belokan
Mingyu gf😘
hayoo nazwa🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!