Indonesia
NovelToon NovelToon
Maaf.. Kukira Ini Taksi

Maaf.. Kukira Ini Taksi

Status: tamat
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:17.2k
Nilai: 5
Nama Author: arrasy

Di tengah guyuran hujan deras yang membasahi jalanan Jakarta, Rima masuk ke mobil mewah yang baru saja ia buka dengan tergesa-gesa. Wajahnya memancarkan kaget luar biasa. Mata terbelalak lebar, mulut terbuka melongo. Saat baru menyadari bahwa ia salah masuk kendaraan, bukan taksi yang sudah dipesannya. Pantulan di kaca spion memperlihatkan Andre yang duduk di kursi pengemudi dengan wajah dingin kaku, tatapan tajam tanpa senyum, seolah tak percaya ada kejadian seaneh ini. Butiran air menetes di kaca jendela dan bodi mobil hitam mengkilap, memperkuat suasana yang canggung sekaligus kocak di pertemuan pertama mereka. Kontras jelas antara ekspresi Rima yang panik lucu dan sikap Andre yang tenang kaku langsung menyiratkan kisah pertemuan tak terduga yang penuh kekacauan manis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Berkunjung ke Rumah Andre

Hari itu jadwal rapat penting dengan klien besar dimulai pukul sepuluh pagi. Namun tepat pukul delapan lewat lima belas menit, Andre baru menyadari satu hal yang membuatnya terbangun dari kursi kerja.

Berkas kontrak asli yang harus ditandatangani bersama ternyata tertinggal di meja kerjanya di rumah.

Ia lupa memasukkannya ke dalam tas kerja saat berangkat tadi pagi karena terlalu memikirkan isi rapat.

"Dino, kamu bisa ambil berkas itu ke rumah sekarang?" tanyanya cepat.

Dino terlihat canggung sejenak. "Maaf Pak, tadi Bu Tia sudah menitahkan saya mengantar dokumen darurat ke kantor cabang di ujung kota.''

''Itu harus segera sampai sebelum jam sembilan, kalau tidak urusannya akan tertunda."

Andre menghela napas pelan. Ia melihat jam di dinding. Waktunya sangat mepet. Saat itulah matanya menangkap sosok Rima yang sedang berjalan membawa tumpukan map di ujung lorong. Sebuah ide muncul di benaknya.

Andre memanggil Rima. "Rima, kamu bisa bantu saya sebentar?"

Rima segera menghampiri dengan langkah cepat. "Bisa sekali Pak! Ada yang bisa saya bantu?"

"Saya ketinggalan berkas penting di rumah. Dino sedang tidak bisa ke sana. Kamu mau mengambilkannya? Alamatnya tidak jauh dari sini, di perumahan Bukit Cempaka.''

''Kamu naik taksi saja, biayanya nanti kantor yang tanggung," pinta Andre dengan nada sedikit khawatir.

"Tentu saja Pak Andre! Tidak masalah sama sekali," jawab Rima antusias tanpa ragu sedikit pun. "Saya ambil berkasnya terus langsung kembali ke sini ya Pak?"

"Betul sekali. Ini kunci ruang kerja saya. Ruang kerjanya ada di lantai dua. Berkasnya ada di atas meja kerja, sampulnya berwarna biru tua bertuliskan nama proyek 'Cempaka Residence'. Hati-hati di jalan ya."

"Siap Pak! Saya berangkat sekarang," Rima menerima kunci itu dengan hati-hati, lalu berjalan menuju halte taksi di depan kantor.

Perjalanan memakan waktu sekitar dua puluh menit. Rima sampai di depan gerbang tinggi berwarna hitam yang terlihat sangat megah namun dingin.

Sebelum ia sempat menekan tombol bel, gerbang samping sudah terbuka perlahan. Dua orang satpam berbadan tegap keluar dengan senyum ramah. Mereka sudah diberi kabar lewat pesan singkat dari Andre.

"Selamat pagi Neng Rima," sapa pria berkumis tebal yang mengenakan seragam satpam. "Saya Pak Jaya, dan ini rekan saya Pak Eko. Tuan Andre sudah berpesan kalau Neng datang mengambil berkas."

"Selamat pagi Bapak berdua!" Rima menyapa balik dengan sopan sambil membungkuk sedikit. "Maaf mengganggu pagi Bapak. Saya diminta mengambil berkas yang tertinggal."

"Tidak mengganggu sama sekali Neng. Silakan masuk, Bu Ani dan Bu Siti sudah menunggu di depan pintu," ucap Pak Eko sambil mempersilakan jalan.

Rima melangkah masuk dengan rasa takjub. Rumah itu luas sekali, halamannya tertata rapi dengan rumput hijau segar dan pohon bunga kamboja yang sedang mekar. Bangunannya kokoh dan elegan, terlihat sangat tenang.

Sesampainya di beranda depan, dua wanita paruh baya menyambutnya dengan senyum lebar.

Yang satu gemuk ramah bernama Bik Ani, yang satu lagi kurus ceria bernama Bik Siti. Mereka sudah bekerja di rumah Andre sejak Andre masih kecil.

"Wah ini dia Neng Rima yang sering diceritakan Pak Herman," kata Bik Ani sambil menggandeng tangan Rima masuk ke dalam. Pak Herman, supir pribadi Pak Andre.

"Silakan masuk Neng, jangan sungkan seperti di rumah sendiri saja."

"Terima kasih Bik Ani, Bik Siti," Rima tersenyum malu-malu. "Saya cuma sebentar kok, ambil berkas langsung pulang."

"Minum dulu air dinginnya," Bik Siti menyodorkan gelas berisi air putih segar. "Pak Andre sudah bilang Neng pasti kehausan kena panas matahari. Jangan buru-buru, berkasnya aman di sana."

Sambil menunggu Rima minum, mereka berdua memperhatikan gadis itu dengan tatapan penuh rasa suka.

Selama bertahun-tahun, sangat jarang sekali Andre mengizinkan seseorang dari kantor masuk ke rumah pribadinya, apalagi meminta mengambil barang di ruang kerjanya sendiri.

"Pak Andre jarang sekali mempercayakan kunci rumah pada orang lain Neng," bisik Bik Ani pelan.

"Biasanya beliau sendiri yang pulang atau menyuruh Pak Dino saja. Jadi berarti Neng sudah sangat dipercaya sekali sama beliau."

Rima matanya terbelalak kaget. "Wah... begitu ya Bik? Saya hanya berusaha tidak mengecewakan kepercayaan beliau."

Bik Siti tertawa kecil. "Iya neng. Sudah banyak karyawan yang bekerja puluhan tahun di kantornya, belum tentu dipercaya seperti Neng. Pak Andre kalau sudah percaya, beliau tidak melihat pangkat atau jabatan Neng."

Setelah cukup istirahat, Rima dipandu naik ke lantai dua menuju ruang kerja Andre.

Ruangan itu luas dan tertata sangat rapi, persis seperti ruang kerjanya di kantor. Di atas meja tepat seperti yang dikatakan Andre, tergeletak berkas bersampul biru tua itu.

Rima mengambilnya dengan hati-hati, memastikan tidak ada yang terlewat, lalu berjalan turun kembali.

Sebelum berangkat, Bik Ani menyelipkan dua bungkus kue di tas Rima. "Ini kue talam kesukaan Pak Andre, kebetulan masih banyak. Neng bawa ya. Ini satu bungkus buat Neng. Satu bungkus lagi saya titip buat pak Andre. Jangan ditolak ya, rezeki tidak boleh ditolak."

"Terima kasih banyak Bik. Saya suka sekali kue ini." Rima tersenyum lebar matanya berbinar bahagia.

Saat berpamitan di gerbang, Pak Jaya dan Pak Eko juga mengangguk sopan. "Hati-hati di jalan Neng Rima!"

Rima kembali ke kantor tepat waktu, napasnya teratur meski sempat terburu-buru. Ia langsung menuju ruangan Andre.

"Pak Andre! Berkasnya sudah saya ambil," lapornya sambil menyerahkan map itu.

Andre yang sedang memeriksa persiapan rapat segera menoleh. Matanya menyapu wajah Rima, memastikan tidak ada yang kurang atau menakutinya di rumah.

"Terima kasih banyak Rima. Kamu aman saja kan? Tidak ada kendala apa pun di jalan?"

"Aman sekali Pak! Rumah Bapak indah dan tenang sekali. Bik Ani, Bik Siti, Pak Jaya, dan Pak Eko juga sangat ramah sekali menyambut saya," cerita Rima antusias. "Mereka orang-orang baik Pak, senang sekali rasanya bertemu mereka."

Andre tersenyum lega sekaligus bahagia. Ia khawatir Rima akan merasa canggung atau takut berada di rumah yang sepi dan besar itu sendirian.

Tapi mendengar Rima berbicara dengan senang hati, rasanya seperti Rima sudah diterima oleh 'keluarga' kecilnya di rumah itu.

"Mereka memang orang-orang yang paling saya percaya," ucap Andre pelan. "Dan saya senang... kamu juga disambut baik di sana."

"Saya juga senang sekali Pak. Oh iya, Bik Ani kasih kue ini," Rima mengeluarkan bungkusan itu. "Bik Ani bilang ini kesukaan Bapak. Boleh saya taruh di sini ya?"

Andre menatap kue itu, lalu menatap Rima. Hatinya terasa hangat membuncah. "Taruh saja di meja tamu. Terima kasih sudah mengantarkannya Rima. Kamu sudah banyak membantu saya hari ini."

"Sama-sama Pak. Kalau ada yang perlu dibantu lagi, panggil saja saya ya," Rima membungkuk sopan lalu keluar ruangan dengan langkah ringan.

Setelah pintu tertutup, Andre duduk sebentar sambil memegang map berkas itu. Ia tersenyum sendiri membayangkan Rima yang berjalan di halaman rumahnya, berbicara dengan Bik Ani dan Pak Jaya.

Rasanya seperti gadis itu sudah menjadi bagian dari lingkungan hidupnya, bukan sekadar orang asing yang bekerja di kantornya.

"Suatu hari nanti..." bisiknya pelan pada diri sendiri. "Aku ingin kamu berkunjung ke sana bukan karena tugas mengantar berkas, tapi sebagai tamu yang paling aku tunggu kedatangannya."

1
Miranda.
bakalan kangen asli.
meskipun udara AC begitu berbeda dengan udara asin khas pesisir, tapi kenangan bersama kawan² kantor memang bisa disandingkan dengan kenangan rumah /Frown//Frown/
Miranda.
ehm kritik dikit kak.
dialognya kurang natural menurutku. dan lebih cocok kalo dimasukkan ke narasi sih /Shy/
꧁𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱𝓡𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲꧂
Tidak mungkin Rima... Karena kamu satu-satunya alasan yang membuat Pak Andre setia menunggu
My_Lucia
hemm... keduanya harus sama" effort kali Tan...
My_Lucia
memang tidak ada manusia yang sempurna
My_Lucia
couple ini sama" ijo neon 🤭
⋆˚𝜗𝜚˚⋆Blue_Sea⋆˚𝜗𝜚˚⋆
wah langsung dong😭
Syahira🌹
keren kamu rima udah bisa dipercaya masuk ke ruang kerja Pak andre. 👍 tapi sama loo dirumahku, juga ada beberapa tanaman kamboja. 🤭
Syahira🌹: yaa bener banget, 🤣
total 2 replies
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
ya Allah aku ikutan mesem mesem sendiri 🤭
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
pak Andre pak andre. si kutub Utara telah mencair juga akhirnya 🤣
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
Baik nya kamu ndre
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
kalau aku sih pasti sedih Andre
Alia Chans
sk sk Andre mah gengsi nya setinggi menara Eiffel
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy: lama2 hilang gengsinya😄
total 1 replies
Miranda.
people come and go Rima. pasti setelah ini, kamu juga bakalan ketemu lagi pada sosok yang sama. meski dengan orang yang berbeda./Frown//Frown/
Miranda.
lampu ijo nih. kalo semisal Rima berniat ngelamar disini lagi🤭🤭
꧁𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱𝓡𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲꧂
Latar belakang bukan alasan lho, Mami. Kalau anaknya udah cinta, mau gimana lagi? Siapa tahu kebahagiaan Andre kelak akan jauh lebih baik daripada yang Mami bayangkan
Alia Chans
benih-benih cinta nya nih kelihatan banget🤭🤭
My_Lucia
Aaahhhh... butterfly era 🤣🤣
My_Lucia
Ehemm 🤭
My_Lucia
Wihhh.. kerennn 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!