Maaf.. Kukira Ini Taksi

Maaf.. Kukira Ini Taksi

Bab 1: Salah Masuk Mobil di Tengah Hujan

Langit Jakarta sore itu seolah tiba-tiba runtuh. Hujan turun bukan lagi seperti butiran air, melainkan seperti disiram dari atas dengan ember raksasa, memukul aspal dengan bunyi gemuruh yang menutupi suara kendaraan lain.

Angin kencang menyapu basahi apa saja yang lewat, membuat suhu udara yang biasanya panas menyengat seketika berubah dingin menusuk tulang.

Di trotoar yang mulai banjir setinggi mata kaki, Rima berlari tergesa-gesa. Satu tangannya menekan erat tas bahu kain yang warnanya sudah agak pudar, sementara tangan lainnya sibuk melindungi kantong kertas cokelat yang digenggam erat di dada.

Itu adalah gorengan pesanan teman sekamarnya. Bakwan sayur dan pisang goreng yang baru saja ia beli di pinggir jalan sebelum hujan turun tiba-tiba.

"Jangan sampai basah, jangan sampai dingin, jangan sampai hancur..." gumamnya sendiri sambil terus berlari, matanya menyapu kiri dan kanan dengan panik. "Kalau sampai dingin, Dinda pasti ngambek seharian! Dia udah nunggu dari tadi!"

Rima sebenarnya berniat menunggu angkutan umum, tapi melihat hujan yang makin menjadi-jadi dan belum ada satu pun taksi yang lewat, ia mulai putus asa.

Kakinya sudah basah kuyup sampai ke mata kaki, sepatu kets putihnya kini berubah warna menjadi cokelat lumpur. Ia menggigil kedinginan, dan rasanya setiap detik yang berlalu semakin menyiksa.

Saat itulah, sebuah mobil sedan hitam berkilauan melambat dan berhenti tepat di pinggir jalan, beberapa langkah di depannya. Bentuknya persis seperti mobil taksi eksekutif yang sering ia lihat di jalan.

Bodi besar, warna gelap, dan berhenti persis di sampingnya. Rima tidak sempat lagi melirik pelat nomor, tidak sempat melihat logo di bagian depan, apalagi mengintip siapa yang ada di dalam. Yang ada di pikirannya cuma satu, dapat juga taksinya!

Tanpa berpikir panjang, ia mempercepat larinya, menarik gagang pintu belakang dengan gerakan cepat, lalu menyelipkan tubuhnya masuk ke dalam kabin yang hangat dan berbau wangi segar.

Pintu ditutup dengan bunyi ''duk" yang agak keras, memotong suara hujan yang gaduh di luar.

"Ah, lega!" serunya sambil menyeka air hujan dari wajah dengan punggung tangan. Ia belum menoleh ke depan, bahkan belum melihat siapa yang menyetir.

"Pak, tolong cepetan ya nyetirnya! Hujannya deras banget, nanti gorengan ini dingin dan alot nih! Saya harus antar ke rumah teman sekarang!"

Rima menaruh tas bahunya di kursi sebelah, lalu membetulkan posisi duduknya. Kantong gorengan masih ia peluk erat di dada, seolah itu barang paling berharga di dunia.

Karena tidak kunjung terdengar suara mesin menyala atau gerakan setir, ia baru mengangkat kepalanya menatap ke arah kursi pengemudi sambil tersenyum canggung.

"Eh, Pak? Kenapa belum jalan?"

Kalimat itu terhenti di tenggorokan. Senyumnya perlahan menghilang, digantikan ekspresi bingung yang makin lama makin besar.

Di kursi pengemudi tidak duduk sopir taksi dengan seragam rapi. Di sana duduk seorang pria muda yang terlihat sangat berkuasa.

Jas hitam yang ia kenakan terlihat sangat mahal, kemeja putih di dalamnya bersih tanpa satu pun kerutan, dasi bergaris halus diikat dengan sempurna.

Wajahnya tampan dan tegas, rahangnya menegang kaku, namun yang paling membuat Rima membeku adalah tatapan matanya lewat kaca spion tengah, dingin, tajam, dan seolah tidak percaya melihat keberadaan Rima di sana.

Pria itu adalah Andre. Direktur Utama perusahaan tempat Rima baru saja mulai magang tiga hari yang lalu.

Orang yang hanya berani ia lihat sekilas dari jauh saat rapat pembukaan, orang yang semua karyawan sebut sebagai sosok yang tegas, perfeksionis, dan tidak suka keributan sama sekali.

Detik itu Rima merasa jantungnya berhenti berdetak sesaat. Ia salah masuk mobil. Bukan taksi, melainkan mobil pribadi CEO-nya sendiri!

Otaknya mendadak kosong, tapi mulutnya malah bergerak sendiri tanpa perintah. Bahkan tangannya refleks menyodorkan kantong gorengan berminyak itu ke arah Andre.

"Eh... Bapak mau satu nggak?" tanyanya dengan suara gemetar, mata berkedip-kedip bingung. "Masih hangat kok, ini bakwan sayur. Enak lho, isinya banyak wortelnya..."

Andre hanya melirik sekilas ke arah kantong kertas yang sedikit lecek itu, lalu kembali menatap Rima dengan wajah datar tanpa ekspresi.

"Keluar."

Satu kata itu diucapkan dengan nada rendah dan tenang, tapi cukup membuat bulu kuduk Rima meremang seketika.

Namun karena gugup yang melanda, ia malah menyandarkan punggung ke kursi kulit empuk itu sambil menggeleng pelan.

"Iya bentar Pak... hujannya gila banget di luar. Nanti saya basah kuyup, nanti kalau sakit saya nggak bisa masuk magang..."

"Saya bilang, keluar!" Kali ini nada suara Andre sedikit lebih tegas, matanya menatap tajam lewat pantulan kaca. "Ini bukan taksi."

Kata-kata itu seperti petir di siang bolong. Kesadaran penuh menghantam kepala Rima seketika. Wajahnya seketika memerah padam, dari ujung rambut sampai ke leher, rasanya ingin sekali menghilang ditelan bumi saat itu juga.

"Ma—maaf Pak Andre!" cicitnya buru-buru, tangan gemetar mencari pegangan pintu. "Saya kira ini taksi! Hujannya deras banget, saya nggak lihat pelat nomor, saya nggak sengaja masuk... Maaf banget Pak!"

Dengan tangan yang gemetar hebat, ia membuka pintu mobil secepat mungkin, melompat keluar tanpa menoleh lagi, bahkan lupa menutup pintu dengan rapi.

Ia berlari kembali ke pinggir jalan sambil memeluk kantong gorengan erat-erat, menghilang di balik tirai air hujan yang tebal secepat kemunculannya tadi.

Di dalam mobil, suasana hening sejenak. Andre menatap pintu yang terbuka sedikit itu, lalu perlahan ia menunduk melihat apa yang tertinggal di kursi belakang.

Tas bahu kain milik gadis itu tergeletak di sana, resletingnya terbuka lebar, dan isinya tumpah ruah menutupi permukaan kursi kulit yang bersih.

Andre menghela napas panjang, lalu membuka pintu dan menutupnya rapat sebelum berbalik menatap kekacauan itu.

Di sana terlihat dompet tipis berwarna merah muda yang jahitannya sudah mulai lepas, isinya terlihat hanya uang receh beberapa ribu rupiah dan kartu identitas magang.

Di sebelahnya ada buku sketsa sampul karton yang sudah digambar coretan warna-warni, sebatang lipstik kemasan plastik murah berwarna merah terang, gantungan kunci boneka kucing yang bulunya sudah rontok di beberapa bagian, dan di paling atas tergeletak selembar kertas buram yang terlipat rapi.

Andre mengambil kertas itu dengan ujung jari seolah takut kotor, lalu membacanya sekilas. Itu adalah nota utang di warung depan kostnya: "Rima: 1 bungkus indomie rebus, 2 gelas es teh manis, total 12.000 rupiah. Belum bayar."

Pria itu menatap nota itu sebentar, lalu menaruhnya kembali di atas tumpukan barang dengan gerakan hati-hati.

Ia menyandarkan punggung ke kursi pengemudi, menatap ke arah jalan yang penuh air, lalu perlahan menggelengkan kepala.

Sepanjang masa jabatannya sebagai direktur utama, belum pernah ada hal seaneh ini yang terjadi. Belum pernah ada orang yang berani masuk ke mobilnya sembarangan, menyuruhnya menyetir cepat, menawarkan gorengan berminyak, lalu pergi dengan meninggalkan bukti utang warung di kursi belakangnya.

Belum lagi tatapan bingung dan wajah memerah gadis itu tadi. Entah bagaimana, hal itu membuat suasana hatinya yang biasanya tenang dan teratur seolah sedikit berantakan, sama seperti isi tas yang tertinggal itu.

Andre mengeluarkan ponselnya, menekan satu nomor cepat. Hening sejenak sampai terdengar suara dari seberang.

"Halo Pak Andre?"

"Dino," ucap Andre datar sambil menatap tas kain di kursi belakang. "Siapkan kendaraan pengganti.

Dan... tolong cari tahu alamat lengkap Rima, anak magang baru di bagian desain. Dia meninggalkan tasnya di sini."

"Baik Pak. Kenapa bisa tas Rima ada di mobil bapak?" tanya Dino dengan nada penasaran yang tak bisa disembunyikan.

Andre terdiam sebentar, melirik nota utang yang tergeletak di atas buku sketsa.

"Tidak ada masalah serius," jawabnya pelan, ujung bibirnya bergerak sedikit membentuk garis tipis yang hampir tak terlihat. "Hanya ada sedikit kekacauan yang harus dirapikan."

Setelah mematikan sambungan telepon, ia kembali menatap keluar jendela. Hujan masih turun deras, seolah tak ada tanda akan berhenti dalam waktu dekat.

Dan entah kenapa, ia merasa hari ini bukan hari biasa sejak gadis ceroboh itu membuka pintu mobilnya tadi, segalanya terasa sedikit berbeda.

Terpopuler

Comments

❀ ⃟⃟ˢᵏ Eʀᴛɪ 🇮🇩

❀ ⃟⃟ˢᵏ Eʀᴛɪ 🇮🇩

mampir kak er baca ya karena tertarik judulnya dan kepo akhir nya bagaimana🤭
buat happy end ya kak hess
kalau bisa nanti andree yang bucin sama rima gitu ya karena kesel baca sikap andree yang sok jijik sok apalah apa pokoknya ini bisa dibilang antara andree dan rima bagaikan langit dan bumi
lope lope kak hes jangan berhenti ditengah jalan ya nopelnya🫶

2026-07-11

3

Key

Key

Haha seru seru, begini ya cara Tuhan mempertemukan jodohnya, eh kira-kira bakal jodoh nggak nih, Andre sama Rima? jadi penasaran sama lanjutannya. Semangat ya Author🤍

2026-08-07

1

Tulisan__mawar

Tulisan__mawar

Kocak benget pak Andre sampai terheran-heran 🤣
Panik sampai kelupaan mana mobil mana taksi🤣🙏
seru banget ceritanya, semangat Thor sampai end yah.

2026-07-15

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Salah Masuk Mobil di Tengah Hujan
2 Bab 2: Tas yang Ketinggalan
3 Bab 3: Pengenalan
4 Bab 4: Berkas yang Tertukar
5 Bab 5: Dino yang Memberi Peringatan
6 Bab 6: Terlambat Mengantar Dokumen
7 Bab 7: Kesalahpahaman di Kantin
8 Bab 8: Tugas Memeriksa Data
9 Bab 9: Payung yang Tertukar
10 Bab 10: Salah Masuk Ruangan
11 Bab 11: Membantu Angkat Barang
12 Bab 12: Bertemu di Halte
13 Bab 13: Kopi yang Salah Antar
14 Bab 14: Mengobati Luka Kecil
15 Bab 15: Pertemuan dengan Teman Lama
16 Bab 16: Cerita di Telepon
17 Bab 17: Undangan Makan Malam Keluarga
18 Bab 18: Lupa Membawa Dompet
19 Bab 19: Clara Memperhatikan Rima
20 Bab 20: Payung dan Senyum yang Tertinggal
21 Bab 21: Obrolan di Ruang Dokumen
22 Bab 22: Berkunjung ke Rumah Andre
23 Bab 23: Undangan ke Rumah Clara
24 Bab 24: Rima Bercerita Masa Magang
25 Bab 25: Jamuan Makan di Rumah Clara
26 Bab 26: Pembicaraan di Rumah
27 Bab 27: Laporan Akhir
28 Bab 28: Berita Kepulangan ke Jogja
29 Bab 29: Berpamitan
30 Bab 30: Andre Datang ke Tempat Kost
31 Bab 31 Keraguan Rima
32 Bab 32: Keputusan yang Dihargai
33 Bab 33: Berangkat ke Jogja
34 Bab 34: Yogyakarta
35 Bab 35: Memulai hari
36 Bab 36: Kesibukan Andre
37 Bab 37: Rima dan Skripsi
38 Bab 38: Keteguhan Hati Andre
39 Bab 39: Percakapan yang Membuka Pikiran
40 Bab 40: Inspirasi yang Mengalir
41 Bab 41: Kesulitan Dana
42 Bab 42: Kejutan dari Jauh
43 Bab 43: Langkah Berdua di Malioboro
44 Bab 44: Janji di Tengah Senja
45 Bab 45: Perpisahan dan Janji
46 Bab 46: Semangat di Balik Kalung
47 Bab 47: Garis Akhir yang Semakin Dekat
48 Bab 48: Wisuda
49 Bab 49: Menuju Jakarta
50 Bab 50: Kabar Bahagia
51 Bab 51
52 BAB 52
53 BAB 53
54 BAB 54
55 Bab 55: Bayang-bayang yang Mengganggu Hati
56 Bab 56: Perhatian itu
57 Bab 57
58 Bab 58: Patah Hati Dalam Diam
59 Bab 59: Nasib yang Menemukan
60 Bab 60: Langkah Yang Sama
61 Bab 61: Keputusan yang Berat
62 Bab 62: Ikatan Suci
63 Bab 63: Kabar Mengejutkan
64 Bab 64: Kebiasaan Baru
65 Bab 65: Hati yang Mulai Berbicara
66 Bab 66: Senja, Ombak, dan Rasa yang Berubah
67 Bab 67: Pulang Membawa Hati
68 Bab 68: Hari‑hari yang Lebih Indah
69 Bab 69: Langkah Pertama
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72: Jejak Masa Lalu yang Menyatukan
73 Bab 73
74 Bab 74: Pintu itu Terbuka Sedikit
75 Bab 75: Restu yang Akhirnya Datang
Episodes

Updated 75 Episodes

1
Bab 1: Salah Masuk Mobil di Tengah Hujan
2
Bab 2: Tas yang Ketinggalan
3
Bab 3: Pengenalan
4
Bab 4: Berkas yang Tertukar
5
Bab 5: Dino yang Memberi Peringatan
6
Bab 6: Terlambat Mengantar Dokumen
7
Bab 7: Kesalahpahaman di Kantin
8
Bab 8: Tugas Memeriksa Data
9
Bab 9: Payung yang Tertukar
10
Bab 10: Salah Masuk Ruangan
11
Bab 11: Membantu Angkat Barang
12
Bab 12: Bertemu di Halte
13
Bab 13: Kopi yang Salah Antar
14
Bab 14: Mengobati Luka Kecil
15
Bab 15: Pertemuan dengan Teman Lama
16
Bab 16: Cerita di Telepon
17
Bab 17: Undangan Makan Malam Keluarga
18
Bab 18: Lupa Membawa Dompet
19
Bab 19: Clara Memperhatikan Rima
20
Bab 20: Payung dan Senyum yang Tertinggal
21
Bab 21: Obrolan di Ruang Dokumen
22
Bab 22: Berkunjung ke Rumah Andre
23
Bab 23: Undangan ke Rumah Clara
24
Bab 24: Rima Bercerita Masa Magang
25
Bab 25: Jamuan Makan di Rumah Clara
26
Bab 26: Pembicaraan di Rumah
27
Bab 27: Laporan Akhir
28
Bab 28: Berita Kepulangan ke Jogja
29
Bab 29: Berpamitan
30
Bab 30: Andre Datang ke Tempat Kost
31
Bab 31 Keraguan Rima
32
Bab 32: Keputusan yang Dihargai
33
Bab 33: Berangkat ke Jogja
34
Bab 34: Yogyakarta
35
Bab 35: Memulai hari
36
Bab 36: Kesibukan Andre
37
Bab 37: Rima dan Skripsi
38
Bab 38: Keteguhan Hati Andre
39
Bab 39: Percakapan yang Membuka Pikiran
40
Bab 40: Inspirasi yang Mengalir
41
Bab 41: Kesulitan Dana
42
Bab 42: Kejutan dari Jauh
43
Bab 43: Langkah Berdua di Malioboro
44
Bab 44: Janji di Tengah Senja
45
Bab 45: Perpisahan dan Janji
46
Bab 46: Semangat di Balik Kalung
47
Bab 47: Garis Akhir yang Semakin Dekat
48
Bab 48: Wisuda
49
Bab 49: Menuju Jakarta
50
Bab 50: Kabar Bahagia
51
Bab 51
52
BAB 52
53
BAB 53
54
BAB 54
55
Bab 55: Bayang-bayang yang Mengganggu Hati
56
Bab 56: Perhatian itu
57
Bab 57
58
Bab 58: Patah Hati Dalam Diam
59
Bab 59: Nasib yang Menemukan
60
Bab 60: Langkah Yang Sama
61
Bab 61: Keputusan yang Berat
62
Bab 62: Ikatan Suci
63
Bab 63: Kabar Mengejutkan
64
Bab 64: Kebiasaan Baru
65
Bab 65: Hati yang Mulai Berbicara
66
Bab 66: Senja, Ombak, dan Rasa yang Berubah
67
Bab 67: Pulang Membawa Hati
68
Bab 68: Hari‑hari yang Lebih Indah
69
Bab 69: Langkah Pertama
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72: Jejak Masa Lalu yang Menyatukan
73
Bab 73
74
Bab 74: Pintu itu Terbuka Sedikit
75
Bab 75: Restu yang Akhirnya Datang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!