Bab 4: Berkas yang Tertukar

Pagi itu, ruang arsip di lantai dua terasa sunyi dan sejuk. Rak-rak besi setinggi langit-langit berjejer rapi, dipenuhi kotak berlabel warna-warni yang berisi dokumen perusahaan selama lima tahun terakhir.

Rima duduk di tengah ruangan, dikelilingi tumpukan map berwarna biru dan kuning setinggi pinggang. Tugas pertamanya di tim khusus.

Menyusun ulang arsip proyek lama agar sesuai dengan sistem pengkodean baru yang ditetapkan Pak Andre.

"Baiklah Rima, jangan salah nomor, jangan tertukar tahun, jangan sampai ada halaman yang hilang," gumamnya pelan sambil memegang pulpen dan buku catatan kecil.

Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak melakukan kesalahan sedikit pun hari ini. "Kalau selesai rapi, Pak Andre pasti nggak akan marah. Pasti."

Ia bekerja dengan tekun. Setiap map dibuka, jumlah halaman dihitung satu per satu, lalu dicatat nomornya sebelum dimasukkan ke kotak yang tepat.

Saking fokusnya menghitung, Rima lupa waktu. Keringat dingin menetes di pelipisnya, dan karena tangannya terasa pegal, ia mengambil buku sketsa kecil yang selalu ia bawa.

Tempatnya mencoret-coret ide atau sekadar membuat gambar sederhana saat istirahat. Lalu meletakkannya di tumpukan map kosong di sebelahnya.

Saat sedang memeriksa laporan keuangan proyek tahun lalu, ia teringat ide gambar kucing yang lucu yang baru saja terlintas di pikirannya.

Dengan gerakan cepat, ia menyobek satu lembar kertas dari buku sketsa, menggambar kucing berbulu tebal dengan kacamata baca yang sedang memegang kalkulator, lalu tersenyum puas.

"Lucu banget," bisiknya sendiri sambil menaruh kertas gambar itu di samping tumpukan berkas yang sudah selesai diperiksa. "Cocok buat logo proyek kedepan kali ya?"

Tanpa sadar, saat ia mengangkat tumpukan berkas untuk diserahkan ke meja administrasi, kertas gambar itu ikut terselip di antara lembaran laporan keuangan setebal lima puluh halaman.

Rima tidak menyadarinya sama sekali. Ia menyerahkan tumpukan itu pada petugas administrasi, lalu kembali melanjutkan tugasnya dengan perasaan lega.

Siang harinya, di ruangan kerja lantai atas, suasana hening seketika. Andre sedang duduk di meja kerjanya, menatap layar komputer dengan serius.

Di sebelahnya ada tumpukan berkas laporan yang baru saja dikirim dari bagian arsip. Ia mengambil laporan keuangan itu, membuka halaman pertama, dan mulai membaca satu per satu dengan teliti.

Namun saat sampai di halaman ketiga puluh, matanya berhenti berkedip.

Di antara lembaran tabel angka dan grafik keuangan yang serius, terselip selembar kertas gambar kasar.

Di sana tergambar seekor kucing gemuk dengan kacamata, sedang duduk di atas tumpukan uang kertas sambil memegang kalkulator.

Andre menatap gambar itu lama sekali. Dahinya berkerut samar. Ia membalikkan kertas itu, tidak ada tulisan nama, hanya coretan warna biru dan hitam.

"Dino!" panggilnya dengan suara tenang namun tegas.

Tak lama kemudian pintu terbuka. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?"

Andre menyodorkan kertas gambar itu. "Cari tahu siapa yang mengerjakan penyusunan arsip laporan ini. Dan panggil staf administrasi ke sini."

"Baik Pak."

Beberapa menit kemudian, Bu Tia datang bersama Rima yang dipanggil karena namanya tercatat sebagai yang terakhir memegang berkas tersebut.

Rima berjalan dengan langkah gemetar, tangannya meremas ujung seragam. Jantungnya berdegup kencang seolah mau meledak.

Kenapa dipanggil ke ruangan Pak Andre? Padahal tadi pagi aku sudah berusaha hati-hati banget!

"Silakan masuk," ucap Dino pelan sambil menahan senyum melihat wajah pucat Rima.

Rima melangkah masuk dengan hati-hati. Ruangan itu sangat luas, sangat rapi, dan berbau wangi buku serta kopi hitam.

Andre duduk tegak di kursi besarnya, tatapannya tajam menatap kertas di atas meja.

"Siapa yang bertugas menyusun arsip laporan keuangan proyek Q2 tahun lalu?" tanyanya tanpa melihat ke arah mereka.

"Saya, Pak," jawab Rima pelan sambil menunduk dalam.

Andre mengangkat kertas gambar itu dan menunjuknya dengan ujung pulpen. "Lalu siapa yang taruh gambar kucing ini di tengah laporan keuangan resmi perusahaan?"

Wajah Rima seketika berubah merah padam. Rima sangat terkejut. Ia mengenali gambar itu. Kucing gemuk dengan kacamata buatannya tadi pagi! Ia bingung bagaimana bisa kertas itu sampai di sana.

"Saya... saya yang buat gambar itu Pak," akuinya dengan suara gemetar, lalu mulai berbicara panjang lebar tanpa sadar.

"Tapi saya nggak sengaja Pak! Tadi pagi saya sedang menghitung halaman, mata saya capek, jadi saya gambar sebentar buat melepas lelah.''

''Saya taruh di meja sebelah, saya pikir sudah saya simpan lagi di buku sketsa. Saya nggak tahu kok bisa ikut masuk ke dalam berkas laporan.''

''Maaf banget Pak, saya nggak bermaksud bercanda di dokumen resmi, saya cuma terbiasa coret-coret kalau sedang berpikir, dan tangan saya kadang bergerak sendiri sebelum otak saya bilang berhenti..."

Rima berhenti sebentar untuk menarik napas, lalu kembali menjelaskan dengan antusias berlebihan karena gugup.

"Sebenarnya gambar ini saya buat karena tadi saya lihat grafik keuangannya banyak angka kecil, jadi saya bayangkan ada kucing yang sedang menghitung uang dengan teliti supaya nggak salah hitung Pak! Maksudnya bagus kok Pak, biar pekerjaannya teliti kayak kucing yang sabar mengintai sarang tikus..."

Baru setelah itu ia sadar sudah bicara terlalu banyak. Mulutnya tertutup tangan, matanya melotot kaget. "Aduh... maaf Pak! Saya ngomong sembarangan lagi..."

Bu Tia di sebelahnya menunduk menahan tawa, sementara Dino yang berdiri di dekat pintu hampir saja tertawa keras.

Andre menatap Rima tanpa berkedip. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak, tidak ada teriakan. Hanya diam yang cukup lama, membuat suasana ruangan makin canggung.

"Kamu pikir dokumen perusahaan ini buku catatan pribadimu?" tanyanya akhirnya dengan nada datar dan dingin. "Kamu pikir ini tempat untuk meletakkan coretan sembarangan?"

"Bukan Pak! Saya minta maaf sekali lagi," Rima membungkuk dalam-dalam. "Saya janji tidak akan mengulanginya lagi."

"Di sini, ketelitian adalah hal utama," ucap Andre sambil menaruh gambar itu di sudut meja.

"Satu lembar kertas yang tidak pada tempatnya bisa membingungkan tim audit. Bukan soal lucu atau tidak, bukan soal maksud baik atau tidak. Ini soal tanggung jawab."

Ia menatap Rima tajam. "Karena kesalahan ini, kamu harus menyusun ulang seluruh arsip tahun lalu dari awal.''

''Periksa satu per satu, pastikan urutannya benar, tidak ada yang tertukar, tidak ada yang terselip barang lain. Kerjakan di ruang arsip sampai selesai."

Rima terkejut sebentar, tapi segera mengangguk patuh. "Siap Pak. Saya kerjakan sekarang juga."

"Dan satu lagi," tambah Andre singkat. "Simpan buku sketsamu di tas. Jangan dibawa ke meja kerja saat sedang mengurus dokumen penting."

"Baik Pak! Terima kasih sudah memberi tahu," jawab Rima sopan, lalu berjalan mundur perlahan sebelum berbalik keluar ruangan.

Setelah pintu tertutup, Dino akhirnya tidak tahan lagi. "Pak, kucingnya lucu lho Pak. Kelihatannya teliti sekali."

Andre melirik gambar itu sekilas, lalu tersenyum tipis yang hampir tak terlihat. "Anak itu punya imajinasi berlebihan. Harus dilatih fokus dulu."

Sementara itu, Rima kembali ke ruang arsip dengan semangat yang tak surut. Meski harus mengerjakan ulang, ia justru merasa lega karena tidak dimarahi dengan keras.

"Oke Rima, mulai sekarang fokus!" ucapnya sambil merapikan tumpukan berkas. "Nggak ada gambar kucing dulu. Nanti kalau sudah selesai semua, baru boleh menggambar lagi. Semangat!"

Ia mulai menyusun ulang berkas dengan lebih teliti, sesekali bergumam sendiri sambil menghitung halaman, berjanji dalam hati untuk tidak lagi membiarkan coretan kecilnya mengganggu pekerjaan serius.

Terpopuler

Comments

❀ ⃟⃟ˢᵏ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ

❀ ⃟⃟ˢᵏ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ

aku kalau jadi rima sih bakal sama tegang nya 🤣🤣

2026-07-20

2

fawza

fawza

cerobohnya rima. untung aja ga galak bosnya

2026-07-11

2

Key

Key

Andre : Kamu ngejek saya dengan gambar kucing itu?!

Rima : Nggak kok Pak, cuma mirip aja kalo pas bapak ruarr ruarrrr

Thor adegan ini gemas banget sih😀😀😀🤍

2026-08-12

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Salah Masuk Mobil di Tengah Hujan
2 Bab 2: Tas yang Ketinggalan
3 Bab 3: Pengenalan
4 Bab 4: Berkas yang Tertukar
5 Bab 5: Dino yang Memberi Peringatan
6 Bab 6: Terlambat Mengantar Dokumen
7 Bab 7: Kesalahpahaman di Kantin
8 Bab 8: Tugas Memeriksa Data
9 Bab 9: Payung yang Tertukar
10 Bab 10: Salah Masuk Ruangan
11 Bab 11: Membantu Angkat Barang
12 Bab 12: Bertemu di Halte
13 Bab 13: Kopi yang Salah Antar
14 Bab 14: Mengobati Luka Kecil
15 Bab 15: Pertemuan dengan Teman Lama
16 Bab 16: Cerita di Telepon
17 Bab 17: Undangan Makan Malam Keluarga
18 Bab 18: Lupa Membawa Dompet
19 Bab 19: Clara Memperhatikan Rima
20 Bab 20: Payung dan Senyum yang Tertinggal
21 Bab 21: Obrolan di Ruang Dokumen
22 Bab 22: Berkunjung ke Rumah Andre
23 Bab 23: Undangan ke Rumah Clara
24 Bab 24: Rima Bercerita Masa Magang
25 Bab 25: Jamuan Makan di Rumah Clara
26 Bab 26: Pembicaraan di Rumah
27 Bab 27: Laporan Akhir
28 Bab 28: Berita Kepulangan ke Jogja
29 Bab 29: Berpamitan
30 Bab 30: Andre Datang ke Tempat Kost
31 Bab 31 Keraguan Rima
32 Bab 32: Keputusan yang Dihargai
33 Bab 33: Berangkat ke Jogja
34 Bab 34: Yogyakarta
35 Bab 35: Memulai hari
36 Bab 36: Kesibukan Andre
37 Bab 37: Rima dan Skripsi
38 Bab 38: Keteguhan Hati Andre
39 Bab 39: Percakapan yang Membuka Pikiran
40 Bab 40: Inspirasi yang Mengalir
41 Bab 41: Kesulitan Dana
42 Bab 42: Kejutan dari Jauh
43 Bab 43: Langkah Berdua di Malioboro
44 Bab 44: Janji di Tengah Senja
45 Bab 45: Perpisahan dan Janji
46 Bab 46: Semangat di Balik Kalung
47 Bab 47: Garis Akhir yang Semakin Dekat
48 Bab 48: Wisuda
49 Bab 49: Menuju Jakarta
50 Bab 50: Kabar Bahagia
51 Bab 51
52 BAB 52
53 BAB 53
54 BAB 54
55 Bab 55: Bayang-bayang yang Mengganggu Hati
56 Bab 56: Perhatian itu
57 Bab 57
58 Bab 58: Patah Hati Dalam Diam
59 Bab 59: Nasib yang Menemukan
60 Bab 60: Langkah Yang Sama
61 Bab 61: Keputusan yang Berat
62 Bab 62: Ikatan Suci
63 Bab 63: Kabar Mengejutkan
64 Bab 64: Kebiasaan Baru
65 Bab 65: Hati yang Mulai Berbicara
66 Bab 66: Senja, Ombak, dan Rasa yang Berubah
67 Bab 67: Pulang Membawa Hati
68 Bab 68: Hari‑hari yang Lebih Indah
69 Bab 69: Langkah Pertama
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72: Jejak Masa Lalu yang Menyatukan
73 Bab 73
74 Bab 74: Pintu itu Terbuka Sedikit
75 Bab 75: Restu yang Akhirnya Datang
Episodes

Updated 75 Episodes

1
Bab 1: Salah Masuk Mobil di Tengah Hujan
2
Bab 2: Tas yang Ketinggalan
3
Bab 3: Pengenalan
4
Bab 4: Berkas yang Tertukar
5
Bab 5: Dino yang Memberi Peringatan
6
Bab 6: Terlambat Mengantar Dokumen
7
Bab 7: Kesalahpahaman di Kantin
8
Bab 8: Tugas Memeriksa Data
9
Bab 9: Payung yang Tertukar
10
Bab 10: Salah Masuk Ruangan
11
Bab 11: Membantu Angkat Barang
12
Bab 12: Bertemu di Halte
13
Bab 13: Kopi yang Salah Antar
14
Bab 14: Mengobati Luka Kecil
15
Bab 15: Pertemuan dengan Teman Lama
16
Bab 16: Cerita di Telepon
17
Bab 17: Undangan Makan Malam Keluarga
18
Bab 18: Lupa Membawa Dompet
19
Bab 19: Clara Memperhatikan Rima
20
Bab 20: Payung dan Senyum yang Tertinggal
21
Bab 21: Obrolan di Ruang Dokumen
22
Bab 22: Berkunjung ke Rumah Andre
23
Bab 23: Undangan ke Rumah Clara
24
Bab 24: Rima Bercerita Masa Magang
25
Bab 25: Jamuan Makan di Rumah Clara
26
Bab 26: Pembicaraan di Rumah
27
Bab 27: Laporan Akhir
28
Bab 28: Berita Kepulangan ke Jogja
29
Bab 29: Berpamitan
30
Bab 30: Andre Datang ke Tempat Kost
31
Bab 31 Keraguan Rima
32
Bab 32: Keputusan yang Dihargai
33
Bab 33: Berangkat ke Jogja
34
Bab 34: Yogyakarta
35
Bab 35: Memulai hari
36
Bab 36: Kesibukan Andre
37
Bab 37: Rima dan Skripsi
38
Bab 38: Keteguhan Hati Andre
39
Bab 39: Percakapan yang Membuka Pikiran
40
Bab 40: Inspirasi yang Mengalir
41
Bab 41: Kesulitan Dana
42
Bab 42: Kejutan dari Jauh
43
Bab 43: Langkah Berdua di Malioboro
44
Bab 44: Janji di Tengah Senja
45
Bab 45: Perpisahan dan Janji
46
Bab 46: Semangat di Balik Kalung
47
Bab 47: Garis Akhir yang Semakin Dekat
48
Bab 48: Wisuda
49
Bab 49: Menuju Jakarta
50
Bab 50: Kabar Bahagia
51
Bab 51
52
BAB 52
53
BAB 53
54
BAB 54
55
Bab 55: Bayang-bayang yang Mengganggu Hati
56
Bab 56: Perhatian itu
57
Bab 57
58
Bab 58: Patah Hati Dalam Diam
59
Bab 59: Nasib yang Menemukan
60
Bab 60: Langkah Yang Sama
61
Bab 61: Keputusan yang Berat
62
Bab 62: Ikatan Suci
63
Bab 63: Kabar Mengejutkan
64
Bab 64: Kebiasaan Baru
65
Bab 65: Hati yang Mulai Berbicara
66
Bab 66: Senja, Ombak, dan Rasa yang Berubah
67
Bab 67: Pulang Membawa Hati
68
Bab 68: Hari‑hari yang Lebih Indah
69
Bab 69: Langkah Pertama
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72: Jejak Masa Lalu yang Menyatukan
73
Bab 73
74
Bab 74: Pintu itu Terbuka Sedikit
75
Bab 75: Restu yang Akhirnya Datang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!