Bab 2: Tas yang Ketinggalan

Hujan perlahan mereda, menyisakan genangan air di mana-mana dan udara yang sejuk menyentuh kulit. Di dalam mobil, suasana kembali hening.

Andre menatap tas kain yang tergeletak berantakan di kursi belakang, lalu menggeleng pelan. Ia sama sekali tidak punya waktu untuk berurusan dengan barang bawaan anak magang yang ceroboh.

Bagi Andre yang terbiasa dengan keteraturan mutlak, menyentuh barang orang lain saja sudah cukup membuatnya tidak nyaman, apalagi barang yang isinya berantakan seperti itu.

Ia menyalakan mesin dan melaju perlahan menuju gedung kantor. Sesampainya di area parkir bawah tanah, Dino sudah menunggu di dekat pintu keluar sambil memegang payung besar. Begitu melihat mobil Andre berhenti, Dino segera membuka pintu pengemudi.

"Selamat sore, Pak. Perjalanannya lancar?" tanyanya sopan, lalu matanya tertuju pada tas kain berwarna biru pudar yang tergeletak di kursi belakang dengan isi yang sedikit tumpah.

Andre keluar dari mobil, merapikan ujung jasnya yang sedikit berkerut, lalu menunjuk tas itu dengan dagu.

"Itu tas anak magang bagian desain. Namanya Rima. Dia salah masuk mobil tadi saat hujan, lalu lupa membawanya pergi," ucapnya singkat dengan nada datar, seolah menceritakan hal yang paling tidak penting di dunia. "Ambil, lalu serahkan ke bagian keamanan."

Dino menahan tawa, tapi tetap berusaha menjaga wajah serius saat mengangkat tas itu. "Baik Pak. Tapi... isinya agak berantakan ya Pak. Saya pastikan tidak ada yang hilang sebelum diserahkan ke satpam."

"Tidak perlu diperiksa. Cukup masukan semua ke dalam tas dan diserahkan saja," jawab Andre sambil melangkah menuju lift. "Saya tidak mau dia datang ke ruangan saya hanya untuk mengurus hal sepele seperti ini."

"Siap, Pak!" Dino mengangguk, lalu saat Andre sudah masuk ke dalam lift, ia akhirnya tertawa pelan sambil menatap tas itu. Wah, benar-benar kejadian langka.

Belum pernah ada yang berani masuk mobil Pak Andre sembarangan, malah ninggalin tas begini.

Sementara itu, Rima baru sampai di depan kostnya dengan tubuh basah kuyup. Ia menyodorkan kantong gorengan yang sudah agak lembek ke Dinda, teman sekamarnya, lalu langsung jatuh terduduk di kursi teras.

"Kenapa hujan-hujanan Rim. Harusnya tunggu reda dulu." kata Dinda kaget sambil memeriksa suhu tubuh Rima.

Rima memegang kepalanya yang terasa pening, lalu bercerita dengan suara yang masih gemetar.

"Din... sial banget nasibku hari ini. Aku kira mobil itu taksi, aku masuk aja, eh ternyata itu mobil pribadi CEO di kantorku! Wajahnya dingin banget kayak es batu, dia suruh aku keluar. Aku panik, lari buru-buru. Dan aku lupa bawa tasku!"

"Apa? Tasmu ketinggalan di mobil CEO kantormu?" Dinda melotot. "Di tas kamu kan ada nota utang di warung juga kan?"

"Nah itu dia!" Rima hampir menangis, matanya berkaca-kaca. "Kalau nota itu dibaca orang, aku malu setengah mati!''

''Belum lagi buku sketsaku yang ada gambar jelek-jeleknya... Aduh Din, aku harus ambil sekarang sebelum dilihat orang banyak!"

Tanpa menunggu keringnya pakaian, Rima langsung berlari kembali ke halte. Ia sampai di gedung kantor sekitar pukul lima sore, saat sebagian karyawan sudah mulai pulang.

Ia berlari menuju ruang keamanan di lobi depan dengan napas terengah-engah.

"Pak Satpam! Pak Satpam!" serunya panik begitu melihat petugas keamanan sedang merapikan meja. "Apa bapak dititipkan tas saya ya?"

Petugas keamanan tersenyum ramah. "Ada, Mbak. Tadi Pak Dino yang bawa ke sini. Katanya punya Mbak Rima ya?"

"Iya iya betul! Terima kasih Pak!" Rima langsung mengambil tas itu dan memeluknya erat, lalu buru-buru membuka resletingnya untuk memeriksa isi.

"Semoga aman... semoga nggak ada yang hilang... semoga nota utangnya nggak dilihat orang..."

Saat sedang memeriksa satu per satu barang, terdengar suara langkah kaki mendekat. Dino baru saja turun dari lantai atas untuk mengambil barang pribadinya, lalu berhenti di dekat meja keamanan begitu melihat Rima.

"Lagi cari apa, Mbak Rima?" tanyanya sambil tersenyum geli.

Rima mendongak kaget, lalu langsung berdiri tegak dengan wajah memerah. "Ah Pak Dino! Saya mau ambil tas saya yang ketinggalan tadi. Maaf ya Pak, merepotkan Bapak..."

"Enggak kok. Tadi tas mbak Rima dititipkan pak Andre ke saya.''

"Tadi beliau yang ketemu tas ini di kursi belakang mobilnya," Dino menahan senyum melihat ekspresi Rima yang makin panik. "Beliau sendiri yang menyuruh saya bawa ke sini."

Wajah Rima seketika berubah pucat lalu memerah lagi. Ia meremas ujung tasnya dengan kuat. "Ya ampun. Maaf ya pak jadi merepotkan."

"Semoga tidak ada yang hilang ya. Karena isinya tumpah di kursi. Pak Andre pasti melihatnya." jawab Dino berusaha menenangkan. "Tenang saja, beliau bukan tipe orang yang suka mengurusi hal pribadi orang lain kok."

"Tapi kan Pak! Itu memalukan banget!" Rima mulai berbicara panjang lebar tanpa henti, tangannya bergerak-gerak menekankan ucapan.

"Baru hari ketiga magang, eh udah bikin masalah! Salah masuk mobil, ninggalin tas berantakan, ada bukti utang pula... Pasti Pak Andre mikir aku ini anak magang yang ceroboh banget, nggak bisa diandelin!''

''Nanti kalau aku dikasih tugas, pasti beliau nggak percaya sama aku! Padahal aku udah berusaha belajar dari awal, cuma kadang mulutku lari lebih cepet dari otakku, dan kakinya juga suka lari ke mana aja tanpa dipikir dulu..."

Rima menghela napas panjang, lalu menunduk dalam-dalam seolah sedang meminta maaf pada lantai.

"Saya bener-bener minta maaf ya Pak Dino, udah bikin Bapak dan Pak Andre repot. Saya janji deh, mulai sekarang saya bakal berhati-hati banget!''

''Nggak bakal asal masuk mobil lagi, nggak bakal lupa barang, nggak bakal bawa gorengan berminyak ke mana-mana... pokoknya saya bakal lebih rapi, lebih tenang, lebih sopan, pokoknya saya ubah semuanya!"

Dino mendengarkan omelannya dengan sabar, lalu akhirnya tertawa kecil melihat gadis itu yang sibuk menyusun janji sambil menunjuk-nunjuk ke arah langit.

"Santai saja Mbak Rima. Pak Andre memang kelihatan dingin dan tegas, tapi beliau nggak marah buat hal sepele begini kok," ucap Dino menghibur.

"Asal mulai sekarang lebih teliti saja ya. Ingat, di sini batasan antara pimpinan dan karyawan harus dijaga baik-baik."

"Iya Pak! Saya ingat banget!" Rima mengangguk kencang sampai rambutnya berantakan.

"Saya nggak akan berani mendekat sembarangan ke Pak Andre lagi. Saya kerja saja dengan tenang, selesai tugas pulang. Pokoknya aman!"

"Bagus kalau begitu," Dino menepuk bahunya pelan. "Sudah dapat tasnya kan? Pulanglah sekarang, hari sudah sore."

"Terima kasih banyak ya Pak Dino! Maaf sekali lagi ya!" Rima membungkuk berkali-kali sebelum berjalan keluar lobi dengan langkah tergesa-gesa.

Setelah Rima pergi, Dino kembali menuju lift sambil tersenyum sendiri. Sesampainya di lantai ruangan CEO, ia mengetuk pintu ruang kerja Andre.

"Masuk."

Dino melangkah masuk. "Pak, Mbak Rima sudah mengambil tasnya tadi di ruang keamanan."

Andre sedang menandatangani berkas tanpa menoleh. "Dia banyak bertanya?"

"Banyak sekali Pak," jawab Dino sambil menahan tawa. "Dia panik sekali takut isinya dilihat orang lain, apalagi nota utang di warung. Dia minta maaf berkali-kali dan berjanji bakal lebih berhati-hati mulai sekarang."

Andre berhenti sejenak, ujung pulpennya berhenti di atas kertas. Ia teringat isi tas yang berantakan itu, lalu bayangan wajah Rima yang memerah panik muncul sekilas di benaknya.

"Hm. Biarkan saja," ucapnya singkat lalu kembali menulis. "Pastikan dia mengerti aturan di sini. Jangan sampai kesalahan sepele menghambat pekerjaannya."

"Siap Pak," Dino tersenyum kecil sebelum menutup pintu.

''Anak magang itu benar-benar aneh.''

Sementara di jalan pulang, Rima memeluk tasnya erat-erat sambil bergumam sendiri.

"Janji Rima, mulai hari ini jadi anak magang paling rapi, paling sopan, paling teliti! Nggak ada lagi salah masuk mobil, nggak ada lagi lupa barang... semoga saja janji ini bisa tepati ya Tuhan..."

Terpopuler

Comments

Moon.

Moon.

ehm... agak plot hole ya kak?
yaitu pada "darimana Rima langsung tahu bahwa tasnya dititipkan pada pos satpam"? mending ditambahin sedikit narasi momen overthinking dari Rima jika dia harus balik lagi bertemu dengan CEO yang dingin itu. terus... pas pikirannya udah kemana².... eh ternyata tasnya malah dititipin ke pos satpam dong. jadi makin WAHH gitu ledakan emosinya 😂😂

2026-07-20

3

ArsyilaQi

ArsyilaQi

jangan ditiru ya, suka bon diwarung

2026-07-17

0

sunaryati jarum

sunaryati jarum

Dari salah masuk mobil hingga tas ketinggalan,nanti bisa hatimu masuk ke jantung Bos Andre , ketinggalan di situ yang tidak bisa diambil lagi 🙃

2026-07-12

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Salah Masuk Mobil di Tengah Hujan
2 Bab 2: Tas yang Ketinggalan
3 Bab 3: Pengenalan
4 Bab 4: Berkas yang Tertukar
5 Bab 5: Dino yang Memberi Peringatan
6 Bab 6: Terlambat Mengantar Dokumen
7 Bab 7: Kesalahpahaman di Kantin
8 Bab 8: Tugas Memeriksa Data
9 Bab 9: Payung yang Tertukar
10 Bab 10: Salah Masuk Ruangan
11 Bab 11: Membantu Angkat Barang
12 Bab 12: Bertemu di Halte
13 Bab 13: Kopi yang Salah Antar
14 Bab 14: Mengobati Luka Kecil
15 Bab 15: Pertemuan dengan Teman Lama
16 Bab 16: Cerita di Telepon
17 Bab 17: Undangan Makan Malam Keluarga
18 Bab 18: Lupa Membawa Dompet
19 Bab 19: Clara Memperhatikan Rima
20 Bab 20: Payung dan Senyum yang Tertinggal
21 Bab 21: Obrolan di Ruang Dokumen
22 Bab 22: Berkunjung ke Rumah Andre
23 Bab 23: Undangan ke Rumah Clara
24 Bab 24: Rima Bercerita Masa Magang
25 Bab 25: Jamuan Makan di Rumah Clara
26 Bab 26: Pembicaraan di Rumah
27 Bab 27: Laporan Akhir
28 Bab 28: Berita Kepulangan ke Jogja
29 Bab 29: Berpamitan
30 Bab 30: Andre Datang ke Tempat Kost
31 Bab 31 Keraguan Rima
32 Bab 32: Keputusan yang Dihargai
33 Bab 33: Berangkat ke Jogja
34 Bab 34: Yogyakarta
35 Bab 35: Memulai hari
36 Bab 36: Kesibukan Andre
37 Bab 37: Rima dan Skripsi
38 Bab 38: Keteguhan Hati Andre
39 Bab 39: Percakapan yang Membuka Pikiran
40 Bab 40: Inspirasi yang Mengalir
41 Bab 41: Kesulitan Dana
42 Bab 42: Kejutan dari Jauh
43 Bab 43: Langkah Berdua di Malioboro
44 Bab 44: Janji di Tengah Senja
45 Bab 45: Perpisahan dan Janji
46 Bab 46: Semangat di Balik Kalung
47 Bab 47: Garis Akhir yang Semakin Dekat
48 Bab 48: Wisuda
49 Bab 49: Menuju Jakarta
50 Bab 50: Kabar Bahagia
51 Bab 51
52 BAB 52
53 BAB 53
54 BAB 54
55 Bab 55: Bayang-bayang yang Mengganggu Hati
56 Bab 56: Perhatian itu
57 Bab 57
58 Bab 58: Patah Hati Dalam Diam
59 Bab 59: Nasib yang Menemukan
60 Bab 60: Langkah Yang Sama
61 Bab 61: Keputusan yang Berat
62 Bab 62: Ikatan Suci
63 Bab 63: Kabar Mengejutkan
64 Bab 64: Kebiasaan Baru
65 Bab 65: Hati yang Mulai Berbicara
66 Bab 66: Senja, Ombak, dan Rasa yang Berubah
67 Bab 67: Pulang Membawa Hati
68 Bab 68: Hari‑hari yang Lebih Indah
69 Bab 69: Langkah Pertama
70 Bab 70
71 Bab 71
72 Bab 72: Jejak Masa Lalu yang Menyatukan
73 Bab 73
74 Bab 74: Pintu itu Terbuka Sedikit
75 Bab 75: Restu yang Akhirnya Datang
Episodes

Updated 75 Episodes

1
Bab 1: Salah Masuk Mobil di Tengah Hujan
2
Bab 2: Tas yang Ketinggalan
3
Bab 3: Pengenalan
4
Bab 4: Berkas yang Tertukar
5
Bab 5: Dino yang Memberi Peringatan
6
Bab 6: Terlambat Mengantar Dokumen
7
Bab 7: Kesalahpahaman di Kantin
8
Bab 8: Tugas Memeriksa Data
9
Bab 9: Payung yang Tertukar
10
Bab 10: Salah Masuk Ruangan
11
Bab 11: Membantu Angkat Barang
12
Bab 12: Bertemu di Halte
13
Bab 13: Kopi yang Salah Antar
14
Bab 14: Mengobati Luka Kecil
15
Bab 15: Pertemuan dengan Teman Lama
16
Bab 16: Cerita di Telepon
17
Bab 17: Undangan Makan Malam Keluarga
18
Bab 18: Lupa Membawa Dompet
19
Bab 19: Clara Memperhatikan Rima
20
Bab 20: Payung dan Senyum yang Tertinggal
21
Bab 21: Obrolan di Ruang Dokumen
22
Bab 22: Berkunjung ke Rumah Andre
23
Bab 23: Undangan ke Rumah Clara
24
Bab 24: Rima Bercerita Masa Magang
25
Bab 25: Jamuan Makan di Rumah Clara
26
Bab 26: Pembicaraan di Rumah
27
Bab 27: Laporan Akhir
28
Bab 28: Berita Kepulangan ke Jogja
29
Bab 29: Berpamitan
30
Bab 30: Andre Datang ke Tempat Kost
31
Bab 31 Keraguan Rima
32
Bab 32: Keputusan yang Dihargai
33
Bab 33: Berangkat ke Jogja
34
Bab 34: Yogyakarta
35
Bab 35: Memulai hari
36
Bab 36: Kesibukan Andre
37
Bab 37: Rima dan Skripsi
38
Bab 38: Keteguhan Hati Andre
39
Bab 39: Percakapan yang Membuka Pikiran
40
Bab 40: Inspirasi yang Mengalir
41
Bab 41: Kesulitan Dana
42
Bab 42: Kejutan dari Jauh
43
Bab 43: Langkah Berdua di Malioboro
44
Bab 44: Janji di Tengah Senja
45
Bab 45: Perpisahan dan Janji
46
Bab 46: Semangat di Balik Kalung
47
Bab 47: Garis Akhir yang Semakin Dekat
48
Bab 48: Wisuda
49
Bab 49: Menuju Jakarta
50
Bab 50: Kabar Bahagia
51
Bab 51
52
BAB 52
53
BAB 53
54
BAB 54
55
Bab 55: Bayang-bayang yang Mengganggu Hati
56
Bab 56: Perhatian itu
57
Bab 57
58
Bab 58: Patah Hati Dalam Diam
59
Bab 59: Nasib yang Menemukan
60
Bab 60: Langkah Yang Sama
61
Bab 61: Keputusan yang Berat
62
Bab 62: Ikatan Suci
63
Bab 63: Kabar Mengejutkan
64
Bab 64: Kebiasaan Baru
65
Bab 65: Hati yang Mulai Berbicara
66
Bab 66: Senja, Ombak, dan Rasa yang Berubah
67
Bab 67: Pulang Membawa Hati
68
Bab 68: Hari‑hari yang Lebih Indah
69
Bab 69: Langkah Pertama
70
Bab 70
71
Bab 71
72
Bab 72: Jejak Masa Lalu yang Menyatukan
73
Bab 73
74
Bab 74: Pintu itu Terbuka Sedikit
75
Bab 75: Restu yang Akhirnya Datang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!